Sunday, June 1, 2014

           
Pada pertemuan yang kesembilan ini penulis merasa menemui babak baru dalam writing & composition 4 ini. Penulis harus lebih banyak mengetahui apa yang terjadi di Papua. Mengapa papua ingin memisahkan diri dari NKRI. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak penulis. Ingin mengetahui dan mempelajari lebih dalam sebenarnya apa yang terjadi di papua. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang datang ke tanah Papua. Salah satunya adalah British Petroleum.
            Birtish Petroleum adalah investor asing terbesar di Indonesia yang bergerak dalam bidang minyak bumi. Birtish Petroleum telah beroperasi selama 35 tahun. Birtish Petroleum sebuah perusahaan minyak bumi yang bermarkas di London yang merupakan salah satu dari 4 besar perushaan minyak bumi di seluruh dunia. Birtish Petroleum juga memproduksi berbagai macam oli seperti castrol. Jadi bisa dipastikan BP merupakan perusahaan berskala internasional dan tidak hanya beroperasi di Indonesia tetapi di perkirakan lebih dari 880 negara lainnya.
Kegiatan didominasi oleh eksplorasi dan bisnis produksi, terutama LNG Tangguh di Papua Barat. BP juga memiliki kepentingan di hilir petrokimia san pelumas BP Indonesia saat ini mempekerjakan lebih dari 1200 orang, yaitu sebagian besar bekerja di sekitar ibukota jakarta atau dekat dengan aset utamanya di Papua Barat. Britis Petroleum adalah bisnis yang paling substansial di Indonesia. Ini melibatkan pengembangan dari 6 ladang gas di PSC Wriagar, Berau, dan Muturi di Teluk Bintani, Papua Barat. Diproduksi melalui platform lepas pantai, gas dibawa ke darat, diolah menjadi has alam cair (LNG) dan dimuat untuk pengiriman ke Asia Timur dan Amerika Utara pasar. Tangguh menyajikan BP dengan kesempatan yang luar biasa dan tantangan besar. Cadangan gas di bawah Teluk Bintuni dapat memberikan sumber berharga energi, tetapi untuk mencapai dan mengekstrak energi kita harus mengatasi berbagai isu lingkungan dan sosial karena daerah teluk bintuni yang kaya keanekaragaman hayati dan merupakan salah satu yang kurang dikembangkan di daerah Indonesia.
            Ada beberapa konflik yang terjadi di Papua Brat di perushaan Beyond Petroleum. Pihak yang terlibat dalam konflik tersebut harus saling cerdik menutupi keburukan mereka dengan berbagai cara dan spekulasi agar tidak menjadi pihak yang salah. Konflik yang melibatan polisi dan militer indonesia serta rakyat papua sudah berlangsung cukup lama namun jarang sekali terekspos oleh media nasional. Sehingga kasus ini berlarut-larut hingga kini.
            Konflik ini diawali dari pembukaan lahan sebuah perusahaan minyak asal inggris yang membangun tambangnya di papua yaitu Beyond Petroleum. Rakyat papua yang mendengar hal itu marah melihat tanah mereka di eksploitasi dan lagi-lagi oleh pihak asing. Sedangkan dari pihak militer dan polisi indonesia malah menganggap pembukaan perusahaan asing di tanah papua tersebut bisa saja menjadi pemasukan tambahan bagi mereka. Polisi dan militerpun akhirnya saling berlomba untuk menyususn siasat agar perusahaan tersebut memilih mereka sebagai pasukan pengamanan pertambangan tersebut dengan kontrak yang tinggi.
            Tanpa menunggu lama pihak militer langsung menjalankan siasat buruk mereka. Pada suatu malam dia membantai puluhan polisi secara brutal di dekat daerah perusahaan tambang tersebut. Saat pihak BP menyadari terjadi sesuatu hal yang tidak biasa terjadi, militerpun datang ke BP dan menawarkan sebuah kesepakatan. Militer mengatakan bahwa papua sangat tidak aman., di tengah hutan para pemberontak bersembunyi dan suatu saat mereka menyerang, pembantaian polisis pun dituduhkan kepada masyarakat papua sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Militerpun kemudian menawarkan diri agar dikontrak dengan harga yang tinggi. Menyadari bahwa keamanan adalah faktor penting bagi suatu perusahaan akhirnya perusahaan BP mengiyakan apa yang militer inginkan.
            Setelah lama mengontrak militer. BP pun merasa terjadi sebuah pemerasan yang dilakukan oleh militer pada perusahaan mereka di London. Disana pihak BP membeberkan tindakan pemerasan yang dilakukan militer terhadap perusahaan mereka dan kasus pembunuhan polisi yang memngkambinghitamkan masyarakat papua.
            Masalah lain yang terjadi yaitu laporan terbaru LSM.. LSM setempat dan para wartawan yang telah berkunjung ke wilayah itu mengatakan situasi di daerah atau di sekitar wilayah Teluk Bintuni. Begitu tegang meskipun BP sudah melakukan berbagai upaya agar dapat berhubungan baik dengan penduduk setempat. Sedangkan pada saat yang sama, penduduk desa terpecah diantara pihak yang menginginkan agar proyek itu terus berjalan sambil berharap mendapatakan kompensasi tanah, pekerjaan dan keuntungan bagi masyarakat. Sementara pihak lainnya menolak. Meskipun kehidupan mereka akan terpengaruholeh proyek itu, namunn sedikit sekali peluang bagi mereka mendpatkan kompensasi karena instalasi pproyek itu tidak bertempat di lahan mereka.
            Persoalannya adalah sejauh mana mereka memiliki pilihan dan sejauh mana mereka menyadari pengaruh proyek tersebut bagi kehidupan mereka? Para ahli lingkungan mengatakan bahwa penduduk lokal di pedesaan yang terpengaruh proyek itu mendapatkan informasi yang hanya berasal dari Beyond Petroleum atau LSM yang dibayar oleh BP dan pemerintah indonesia. Sedangkan orang lain yang ingin membahas masalah itu dengan rakyat setempat kemungkinan besar akan ditangkap.
            Jarak tempat proyek yang jauh, ini juga yang menjadi alasan mengapa kematian bayi yang tragis 48 bayi di desa Weriagar pada tahun 1996 tidak pernah tersebar luar. Para ahli lingkungan mengatakan bahwa bayi-bayi tersebut meninggal setelah perusahaan, yang kemudian berganti nama menjadi ACCO, mulai melakukan pengeboran gas di sungai yang sebelumnya merupaka sumber daya air masyarakat adat. Ada laporan yang menyatakan bahwa penduduk desa sesungguhnya ingin melaporkan kematia bayi-bayi mereka kepada pemerintah daerah, namun ketika pasukan tiba utnuk melindungi tempat pertambangan, mereka paham bahwa sikap diam mereka merupakan langkah terbaik bagi keselamatan mereka.
            Untuk mencari cara penyelesaian, kemudian dilakukan suatu pertemuan yang diikuti oleh LSM, wakil masyarakat setempat, pejabat BP. Pertemuan ini menyepakati agar kemudian dipilih pihak yang lebih independen yang bertugas melakukan investigasi terhadap peristiwa kematian tersebut. Namun berdasarkan laporan terbaru bahwa langkah itu menemui jalan buntu karena LSM yang bertugas melakukan investigasi tidak memiliki dana dalam menjalankan kegiatannya. Selain itu, penduduk desa keberatan apabila mayat anak bayi mereka di gali kembali untuk kepentingan forensik.
            Menurut Yesaya Koteka Goo, mahasiswa yang menjadi aktifis papua merdeka mengatakan bahwa situasi papuasaat ini yang di perhadapkan oleh bernagai persoalan dalam berbagai segi kehidupan baik dari aspek ekonnomi politik maupun sosial dan kebudayaan tidak terlepas dari sejarah perkembangan kehidupan rakyat papua. Jika kita menyimak bagaimana awal gagasan pembentukan papua oleh kaum intelektual papua pada dekade 1960an tentunya mereka memiliki cita-cita agar rakyat papua dapat membangun bangsa dan tanah airnya dengan baik, lebih demokratis, lebih adil dan lebih manusiawi dan lebih sejahtera negerinya.
            Namun kita tahu bahwa Soekarno melancarkan sebuah usaha untuk menanggalkan lahirnya papua yang mana setelah deklarasi kemerdekaan bangsa Papua Barat 1 desember 1961, kemudian pada tanggal 19 Desember 1961. Indonesia melalui Soekarno mengumumkan TRIKORA. Yang diikuti oleh mobilisasi militer dan para militer untuk menguasai papuadari tangan Belanda. Sejak saat itu. Indonesia selalu menggunakan militer sebagai tameng untuk menghadapi perlawanan rakyat papua yang tidak menghendaki kehadiran Indonesia,.
            Hingga saat ini bisa kita lihat bahwa marginalisasi terhadap rakyat Papua dari segi ekonomi terjadi di depan mata kita. Bagaimana perilaku aparat militer Indonesia terhadap rakyat Papua, bagaimana tanah-tanah adat dijdikan investatsi, bagaimana tinnginya kematian di tanah Papua khususnya kematian ibu dan anak, bagaimana lapangan kerja yang ada hanya PNS dan buruh perusahaan milih negara Imperalis, bagaimanana minimnya tenaga guru dan prasarana  pendidikan di daerah-daerah pelosok, dan masih banyak lagi persoalan-persoalan lain yang sedang membelenggu rakyat papua saat ini.
            Terbelenggunya rakyat papua dalam sebuah penjajahan, penindasan dan diskriminasi dikarenakan dihhadapkan pada musuh bersama rakyat papua yang menghambat laju kemajuan dan perkembangan hidup rakyat papua. Yaitu kolonialisme Indonesia artinya kebijakan dari prkatek perluasan kontrol atas masyarakat lemah atau daerah. Tujuan utama kolonialisme adalah menguras habis sumber kekayaan sedangkan kesejahteraan dan pendidikan daerah koloni tidak diutamakan.
            Kolonialisme Indonesia di Papua Barat di mulai pada 1961 TRIKORA dengan pembentukan komando Mandala untuk meluncurkan operasi “Mandala” yang di pimpin oleh Letjen Soeharto  bertujuan untuk perluasan wilayah Indonesia. Ini dilakukan berdasarkan klaim yang tidak logis dari pihak Soeharto, bahwa jauh sebelum Indonesia lahir. Papua adalah bagian dari kerajaan Majapahit dan beberapa klaim lainnya nyatanya ketika dalam Konfrensi Meja Bundar (KMB) meliputi Hindia Belanda (Sabang sampai Ambonia) tidak termasuk Papua Barat.
            Kedua, Imperealisme adalah tahapan tertinggi dalam kapitalisme monopoli. Sedangkan kapitalisme adalah paham yang meyakini bahwa pemilik modal dapat melakukan usahanya untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Tidak hanya menghisap kaum buruh tetapi juga menguasai wilayah-wilayah penghasil bahan mentah bagi industrinya secara tidak langsung. Kepentingan Imperealisme Papua atas papua dengan ciri-ciri konsentrasi produksi dan kapital sehingga menciptakan monopoli yang berperan penting dalam kehidupan monopoli. Konsentrasi produksi hanya berpusat di negara kapitalis. Mereka menguasai pasar dan menentukan harganya, pembentukan kapitalisme monopoli internasional dan pembagian dunia diantara mereka.
            Dari penjelasan ciri-ciri diatas menunjukkan bahwa Papua saat ini sedang berada dalam cengkraman negara-negara Imperalis. Hal ini ditunjukkan dengan masuknya berbagai perusahaan-perushaaan berskala Multy National Coorporation (MNC) seperti BP di Bintuni, Freeport, LNG Tangguh di Sorong Selatan serta pembukaan lahan perkebunan skala luas seperti MIFEE di Merauke. Untuk mengamankan keberlangsungan aktifitas eksploitasi perusahaan milik Imperialisme ini, militer selalu di gunakan untuk menghalau perlawanan rakyat. Nyatanya, perushaan-perushaan tersebut tidak dapat mensejahterakan seluruh rakyat Papua yang berjumlah kurang lebih tiga juta jiwa.
            Dari pemaparann diatas dapat disimpulkan bahwa kita sebagai mahasiswa harus peka terhadap persoalan-persoalan yang ada di Papua. Papua memiliki tanah yang kaya akan sumber daya alam yang dikelola oleh nnegara asing tetapi papua tidak bisa menikmati dan merasakan kesejahteraan disana. Papua selalu terbelenggu diatas tanah yang kaya



0 comments:

Post a Comment