Sunday, June 8, 2014

10:44 PM


12th Class Review

Written by Muhammad Saefullah

            Perjuangan ini hampir sampai di tepi kebahagiaan. Mutiara hitam (Papua) yang membungkam pejuang dalam writing telah menjadi trending topic dan menghantarkan hingga garis finish, perjuangan yang tak bisa ditukar dengan apa pun. Tanpa disadari begitu besarnya pemikiran-pemikiran yang berhasil dikuras dan dituangkan dalam tulisan, hati yang menjadi kemudi untuk membolak-balikkan segalanya telah berhasil dikendalikan. Kerja keras mungkin menjadi stimulus dari awal perjanjian, seandainya tidak ada keinginan yang dibarengi dengan usaha sudah dipastikan penulis out dari kelas writing.
            Begitu fokusnya mata ini melihat bola panas info Papua. Wilayah yang penug kontroversi dari Indonesia menjadi incaran semua mata penguasa, sehingga fokus pencarian bukti-bukti kebenaran hampir mencapai titk jenuh. Untungnya, hati ini dibentengi dengan dua penasihat yang mana ayat-ayatnya selalu memberi bimbingan dan batasan-batasan dalam proses writing, dialah Om Hyland dan Om Lehtonen. Kedua sosok ini lewat bukunya selalu setia menemani dalam pencarian jati diri di writing, termasuk dalam class review kali ini mencoba mengungkapkan masehat umat oleh Ken Hyland tentang writing.
            Sebelum membahas lebih jauh, sebagai makanan pembuka alangkah nikmatnya kalau mencicipi materi terakhir. Pengawasan yang intens telah menghantarkan jalan writing ini menuju tiga pengawasan yaitu tentang judul argumentative essay, working thesis, dan generic structure. Sebenarnya untuk judul sendiri tidka ada masalah yang begitu penting, rata-rata penulis sudah jitu dalam menentukan akses awal ini, namun untuk batu loncatan selanjutnya sedikit terhamabt pada working thesis. Langkah kedua ini sebagian besar tersesat dan perlu diluruskan, wajib hukumnya untuk membenarkan working thesis karena sebagai kunci awal. Akan tetapi, angin segar muncul dari susunan generic structure yang sudah benar pada sebagian besar.
            Menyinggung bukunya Ken Hyland pembelajaran telah sampai di writing process. Dituliskan bahwa writing process sendiri menganut lima sistem sebagai kiblatnya, yaitu problem solving, generative, recorsive, colaborative, dan developmental. Kelima aspek ini menyangkut tentang materi pada pertemuan terakir. Semua aspek tersebut penting untk menjadi talak ukur dalam menulis, tidak terkecuali untuk pembahasan tentang Papua ini, perlu sekiranya dikaitkan dengan lima hal ini.
            Pertama, problem-solving. Dalam proses menulis ini pastilah ada pemecahan masalah yang dibuat sebagai altrenatif, problem solving sendiri mempunyai dua penandaan saat pemecahannya. Tanda pertama itu istilah invention strategies, pemecahan ini berdasarkan analisis penemuan-penemuan yang sudah didapat di lapangan, strategi penemuan juga bisa terkait dengan kasus Papua ini yang mana bisa memberikan pemecahan masalah setelah melihat kasusnya. Tanda yang kedua yaitu extensive planning, dengan perencanaan luas yang meliputi semua aspek diharapkan problem solving akan muncul dari analisis yang menyeluruh ini.
            Kedua ialah generative. Writing proses biasanay akan dapat menghasilkan suatu hal, hasil ini tak luput pula dipengaruhi oleh dua hal yang masing-masing beracuan pada ide-ide. Pertama dipengaruhi oleh orang yang menemukan kemudian dikembangkan penemuan tersebut sebagai langkah kedua, semuanya harus berorientasi pada ide-idenya.
            Ketiga yaitu recorsive. Sebuah tulisan ditulis secara recorsive atau berulang-ulang. Dengan adanya banak revisi-revisi dari reviewer maka akan memebrikan hasil yang lebih baik, pengulangan secara constant atau practice dalam pengoreksian. Oleh karena itu, recorsive ini harus ada dalam proses menulis.
            Keempat yaitu colaborative, writing process haus bekerja sama dengan penulis lain. Maksud dari bekerja sama di sini ialah berkumpul untuk mengoreksi hasil dari reviewer. Sebelum proses colaborative ini, plenulis sudah melewati proses recorsive yang mana merupakan proses masukan-masukan dari reviewer, berbagai coretan dari reviewer ini akan menjadi modal untuk bahan diskusi dengan teman sejawat mana saja yang harus diperbaiki. Colaborative ini akan terfokus pada umpan balik dari diskusi kevil tersebut, dari umpan balik itu maka akan menambah hasil argumentative yang lebih baik.
            Kelima yaitu developmental, proses ini merupakan proses yang terakhir dari semuanya. Dari cara satu hingga cara keempat semuanya ditutup dengan pengembangan dari hasil-hasil diskusi dengan penlis maka akan menghasilkan ide-ide atau gambaran abru. Gambaran ini akan mengembangkan pengetahuan-pengetahuan dari kedalaman materi yang ditulis, satu hal yang harus ingat yaitu semuanya butuh proses. Sudah menjadi hal yang umum jika ingin menghasilkan master piece yang bagus, proses sangat dibutuhkan dengan banyaknya revisi-revisi, pembahasan dengan teman sebaya maka akan menghasilkan tulisan yang berkualitas dan semuanya itu butuh proses.
            Kelima proses tersebut menjadi makanan wajib dalam menulis argumentative essay. Menulis jenis teks ini butuh ide-ide dan proses yang intensive karena sifat-sifatnya yang kompleks, penulis harus mencari bahan-bahan dan infornasi aygn akan ditulis sebanyak mungkin. Pengetahuan dari materi-materi yang ditulis merupakan modal awal untuk membuat argumentative essay, seperti tugas terakhir ini yang menganalisis sisi gelapl dari negari Cendrawasih.
            Papau sampai sekarang masih menjadi santapan empuk bagi negara-negara penguasa. Dengan bermodalkan artikel dari S. Eben Kirksey berbagai analisis telah dilakukan dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui sejarah yang mengungkap Papua. Untuk mengungkap dalang dibalik mega proyek Papua ini butuh ketelitian karena sifatnya yang kompleks, bahkan sekelas bapaknay linguistik pun ikut berbicara tentang skandal besar ini.
            Jadi, dapat disimpulkan bahwa dari class review yang hampir menjadi penutup ini ada lima pembahasan utama. Dalam menulis argumentative essay hal-hal yang harus dilakukan ialah pertama proses memberikan pemecahan masalah, kedua ialah generative/menghasilkan suatu hal, ketiga recorsive, keempat colaorative, dan yang terakhir ialah developmental.

0 comments:

Post a Comment