Wednesday, May 14, 2014


 Materi class review yang ke-11 ini masih seputar spekulasi, wacana dan gambaran mengenai kondisi sosio kultural dan politik historis yang sedang terjadi di papua Barat. Wacana ini pada dasarnya diimplikasikan untuk memenuhi tugas akhir semester dalam writing class. Wacana kali ini bernafaskan argumentative essay, setelah sebelumnya telah berjibaku mengenai spekulasi benua Amerika dalam kritikal review.
 Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa Argumentative Essay adalah genre atau model penulisan yang mensyaratkan (maha)siswa untuk menginvestigasi suatu topik, mengoleksi fakta-fakta, mengevaluasi bukti-bukti dan membangun pondasi thesis dalam cara yang ringkas.
Menurut penulis sendiri Argumentative Essay adalah suatu proses penulisan yang disamping menyertakan opini, juga wajib melakukan penelitian atau analisis mendalam (deep reasearch) bahkan observasi lapangan. Tipe penulisan yang seperti ini biasa diaplikasikan dikalangan akademisi, seperti ketika membuat Skripsi (S1), Thesis (S2) dan Disertasi (S3), atau data penelitian lainnya. Ruang lingkup atau kajian didalamnya berupa penelitian dengan menggunakan metode-metode dan pendekatan-pendekatan yang sangat variatif. Tahapan ini terbilang cukup rumit, pasalnya, disamping membutuhkan waktu yang relatif lama, juga membutuhkan pemikiran kritis-sistematis dan faktual-actualis. Hal itulah yang dapat menciptakan paradigma baru dan mengubah suatu fenomena yang biasa disebut dengan data.
Hal tersebut senada dengan statement yang dicetuskan oleh saudari Laily Mughibbah, yang saya kutip dari blog kelas “REPRESSO”, yakni Layaknya mutiara yang di hasilkan sang kerang dari dalam tubuhnya, yang membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat terbentuk kuat dan indah. Semakin dalam letak mutiara tersebut, maka semakin berharga dan bernilailah pula. Hal ini seperti halnya pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang juga disebut sebagai data, sebagai hasil dari proses research yang diperoleh dari berbagai objek dan informan, tidak begitu saja muncul kepermukaan dengan sendirinya. Si penyelam (researcher) harus siap dengan segala peralatan untuk sampai ke dasar lahan penelitiannya. Dia harus bersusah payah melawan arus yang kapan saja bisa menghempaskan mereka menjauh dari apa yang ingin mereka dapatkan. Semua itu dilakukan demi mendapatkan si "mutiara" yang merupakan hasil dari proses panjang penelitian. Begitu berharga dan sulitnya pengetahuan tersebut di dapat karena tidak hanya dengan mendengar dan menulisnya, tapi dibutuhkan proses yang sangat menguras energi tubuh dan otak. Jadi seperti itulah gambaran mengenai penyelaman argumentative essay.
Dalam menulis argumentative essay seseorang harus mempersuasikan pandangannya terhadp audien, walaupun boleh jadi mereka tidak setuju atau tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Hal ini tentunya membutukan kecermatan, ketelitian dan skill. Seseorang butuh untuk menampilkan respect terhadap pandangan yang berbeda. Selain itu dalam penulisannya, harus memilih diksi yang pass, memilih vocab dengan hati-hati, dan pastinya tulisan tersebut harus jelas arahnya dan logis.
Sebuah argumen itu membutuhkan suatu penelitian yang sangat mendalam. Sebab apa yang kita ungkapkan harus sesuai dengan fakta realita yang ada. Artinya argumen harus dibangun dan diperkuat dengan sekumpulan data-data valid, fleksibel, yang layak untuk disampaikan, sebagai referensi mengenai fenomena tersebut. Mengapa demikian ? karena Sebuah data dalam argumentative dapat membuktikan apa yang kita ungkapkan, tanggapi kemudian simpulkan. Itulah mengapa data disebut sebagai konsep sistemisasi budaya (Debate=exposition=research)
Membuat argumentative essay harus disertai dengan bangunan atau fondasi alasan (reason) dan evidence. Kita tidak diperkenankan untuk mengekspresikan sikap personal yang idealis, pengekspresian opini yang semata-matab berasal dari emosi , rasa tidak suka dan hal-hal subjektifitas lainnya yang mengganggu nafas teks, karena hal tersebut hanya akan membuat suatu wacana menjadi kurang tepat sasaran tembaknya. Argumentative essay merupakan praktek penulisan akademisi yang syogyanya harus diekspresikan secara objektif, profesional dan profesional.
Selain itu, Perlu dipahami pula bahwa dalam menggunakan atau mengambil eviden, kita harus terus mengkonsep ulang, mereview atau mengkaji ulang apakah eviden yang kita gunakan tersebut layak pakai atau tidak ?,, Hal tersebut berguna untuk memperkuat alasan yang kita bangun. Juga memperlayak kajian yang sedang kita dalami.
Sebelum membuat keputusan final mengenai pengekspresian opini, akan lebih baik jika kita kembali mengevaluasi alasan yang kita bangun. Hal itu tidak lain supaya opini kita kuat dan tingkat memiliki validitas tinggi. Opini yang kuat yakni opini yang relevan, penting dan dapat dipercaya. Nah untuk mengecek kuat tidaknya opini yang kita gunakan, kita bisa bertanya terhadap diri kita sendiri, seperti : Apakah opini yang kita gunakan itu benar? Apakah opininya berkaitan dengan topik ? kemudian konsekuensinya bagaimana ? Dan lain-lain.
Opini, pemikiran, pendirian, pandangan, prespektif dan anggapan merupakan suatu pembenaran yang sifatnya masih dalam sirkulasi mind-set otak (benak) dan perasaan. Bisa menjadi valid jika ia didukung dengan sejumlah bukti fisik yang berupa data. Implikasinya bahwa suatu kejadian dikatakan valid jika sudah dibangun dan dibuktikan dengan sejumlah data.
Kadang menurut kita benar, menurut orang lain salah. Menurut orang lain  benar menurut kita salah. Itulah gambaran realitas mengenai perspektif atau pandangan. Ia datang terkadang membawa kebijaksanaan dan terkadang juga kontroversial. Realia seperti itu terjadi seiring dengan dinamika zaman yang makin kencang.


0 comments:

Post a Comment