Tuesday, May 27, 2014

12:15 AM



 11th Class Review

            Minggu kemarin kita telah mengetahui apa itu esay argumentatif. Namun nampaknya esay yang satu ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang karena itu berupa opini kita, tetapi susah atau sulit karena yang menjadi topiknya adalah Papua Barat. Kita disudutkan pada dua pilihan mengenai Papua Barat, apakah Papua tetap menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), atau haruskah Indonesia membiarkan Papua lepas begitu saja.
            Sebelum membuat esay argumentatif tentang Papua, kali ini Mr. Lala Bumela menugaskan untuk membuat outline dari argumentatif esay. Outline argumentatif esay ini hampir mirip seperti ketika kita akan membuat karangan, maka harus ada kerangkanya terlebih dahulu. Outline ini merupakan fondasi, karena outline ini yang nantinya akan dikembangkan dalam menulis esai argumentatif.
            Pada pembuatan outline argumentatif yang pertama, Mr. Lala Bumela tidak dapat hadir dikarenakan anaknya sedang sakit. Maka yang memeriksa outline kita adalah teman dari reading club kita masing-masing. Kemudian pada outline yang kedua diperiksa oleh beliau. Layaknya konsultasi saja mengenai apa yang harus ditulis dalam esai argumentatif kita mengenai Papua tersebut. Dalam memulai konsultasi ini, kita semua berhitung dari 1-10 orang, kemudian 10 orang harus maju ke dapan secara bergantian. Sama seperti halnya Mid test bulan lalu. Kita harus mengetahui dan menguasai apa yang kita tulis, kemudian Mr. Lala Bumela akan mengomentarinya serta memberika masukan pada esai kita tersebut.
            Meskipun pada dua pekan terakhir ini kita telah membuat dua outline mengena Papua, namun tetap saja masih banyak yang harus dikoreksi dan direvisi. Dalam hal ini saya mendukung Papua untuk tetap menjadi bagian dari NKRI, namun yang salah dalam argumen saya yakni hanya mengenai sumber daya alamnya saja, justru hal yang penting malah tidak dibahas. Mr. Lala Bumela pun menyarankan agar mengambil sudut pandang dari kaca mata sejarah.
            Setelah selesai 10 orang maju ke depan, hampir semuanya disarankan untuk mengambil dari sudut pandang sejarah yakni sejarah Papua sebagai aset negara. Kita harus mempertahankan Papua sebagai bagian dari NKRI dikarenakan sejarah, bukan hanya dari kekayaan alam semata. Mengapa sejarah itu merupakan alasan yang kuat? Karena jika Papua memisahkan diri dari Indonesia, maka itu akan mencacati sejara. Untuk itu sejarah harus dipertahankan keasliannya sampai kapanpun. Meskipun banyak sejarah yang kono katanya telah dimanipulasi dan dirubah naskah aslinya, namun kita harus pandai-pandai mengolah suatu informasi. Contohnya saja seperti orang-orang Papua yang kontra dengan NKRI, maka banyak sekali pemberitaan-pemberitaan yang miring mengenai Indonesia. Bahkan media massa pun telah banyak membuat manusia tercuci otaknya.
            Menurut Noam Chomsky, fakta di media massa hanyalah hasil dari rekonstruksi dan olahan para pekerja redaksi. Walaupun mereka telah bekerja dengan menerapkan teknik-teknik jurnalistik yang presisi, tetapi tetap saja kita tidak dapat mengatakan bahwa apa yang mereka tulis adalah fakta yang sebenarnya. Maka dalam hal ini yang namanya rekonstruksi tentunya sangat bergantung pada bagaimana orang-orang dibalik media dalam melakukan kerja-kerjanya.
            Mr. Lala Bumela pun mengatakan bahwa kita harus jeli membaca atau mengambil suatu informasi. Kita harus mengetahui tentang bagaimana media asing tersebut memutar balikkan fakta-fakta, dan bagaimana media asing memperlakukan kita, apakah itu adil atau tidak, menguntungkan atau tidak, atau justru malah menjebak kita dalam mencari evidence.
            Untuk itu, demi menghindari kesalahan informasi pada argumentatif esay kita tersebut, terdapat tiga point penting yang harus ada dalam argumentatif esay kita nantinya. Tiga point penting tersebut yaitu:
1.      Reasoning and Evidence
Dalam sebuah argumentatif esay, tentu tidak akan terlepas dari reason atau alasan yang menyebabkan seseorang berargumen. Terdapat kriteria dalam memberikan suatu alasan yang kuat, antara lain dapat diterima oleh akal (logis), dapat dipercaya, dan sebagainya. Selain itu pemberian bukti. Bukti yang banyak dapat memperkuat alasan yang dipaparkan dan dapat lebih meyakinkan pembaca.
2.      Definite Evidence
Sebuah argumentatif esay harus banyak didukung oleh adanya bukti yang ersifat fakta. Fakta-fakta tersebut dapat diperoleh dengan berbagai cara seperti melalui bahan bacaan (buku, majalah, surat kabar, dan lainnya), wawancara atau angket, dan penelitian atau pengamatan langsung melalui observasi. Argumentatif esay yang baik biasanya mengemukakan alasan, contoh, dan bukti yang kuat, serta meyakinkan. Alasn-alasan, bukti dan sejenisnya digunakan penulis untuk mempengaruhi pembaca agar mereka menyetujui pendapat, sikap dan keyakinannya. Keberadaan data, fakta, dan alasan sangat mutlak dalam argumentatif esay. Bukti-bukti tersebut dapat berupa benda-benda konkret, angka statistik, dan rasionalisasi penalaran dari penulis.
3.      Working Thesis
Thesis statement berisi topik, klaim, dan alasan. Thesis statement ini sebenarnya selalu ada dalam sebuah tulisan. Bentuk thesis statement ini dapat tersurat atau tersirat. Hal tersebut dibutuhkan karena topik, klaim, dan alasan harus dibuktikan pada tubuh suatu paragraf dan pembuktiaan itu bida ditulis secara ringkas didalam kesimpulan.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebuah argumentatif esay sangat terkait dengan adanya alasan, bukti, fakta yang kuat, dan working thesis yang tepat. Hal tersebut dimaksudkan agar argumen kita dapat diterima oleh orang lain.
           

0 comments:

Post a Comment