Sunday, April 6, 2014


Penulis tanpa ideologi adalah penulis tanpa tenaga. Bagaimana mesin bisa bergerak tanpa adanya tenaga. Penulis jika ingin memiliki konteks yang baik harus memiliki ideologi. Ideologi sebagai kumpulan gagasan, ide, keyakinan, kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis yang berhubungan dengan bidang politik, sosial kebudayaan dan agama. Menurut (Soejono Soekanto) penulis yang hebat dan sukses adalah penulis yang bisa memiliki ideologi yang kuat tentang tulisannya dan bisa mengembangkan tulisannya dengan baik. Tulisan tersebut bisa dikembangkan atau dihubungkan dengan politik, sosial, budaya, agama.
Penulis bisa memutarbalikan fakta. Itu adalah salah satu kehebatan penulis. Maka dari itu kebenaran sejarah seharusnya diungkapkan sejelas jelasnya tanpa adanya penyembunyian fakta sedikitpun. Apabila fakta tersebut jelas, contohnya dengan melihat bukti-bukti yang kuat berupa bukti fisik yang jelas seperti artefak, sejarah, dokumentasi dan lain-lain. Maka itu bisa menjadi bukti.
Sejarah selalu berkaitan dengan kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk sejarah selalu melibatkan seluruh pengalamannya (segala aktifitasnya) ia berpartisipasi penuh dalam menjalankan proses kehidupan dari waktu ke waktu, yakni masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Manusia bisa disebut juga makhluk sejarah karena ia bersifat dinamis, berubah dan selalu melakukan evolusi dari waktu ke waktu. Sama halnya dengan teks.
Katanya tugas mereka yang tercerahkan kaum literat adalah meneroka ceruk ceruk 'baru' tempat pengetahuan dan keterampilan yang mereka pungut, kumpulkan dan kuasai dalam perjalanan hidupnya sebagai bagian sederhana dari cinta mereka pada pengetahuan dan pemberi pengetahuan. Mereka yang hanya baru tahu teori ini dan itu dari 'suara-suara penuh kuasa' di bidang yang mereka geluti, belumlah dapat dikatakan yang tercerahkan--literat; mereka baru pada fase awal; peniru. 
Meniru adalah bagian penting dari menemukan lalu menciptakan, dari memahami affordance dan meaning potential tanda tanda yang terserak, yang dibaca dengan teori ini dan itu. Yang berbahaya adalah ketika kita merasa sudah mendesiminasi, pun meneroka padang-padang baru tempat segala teori yang dipahami digunakan, padahal kita baru sampai pada tahap meniru. Lalu kita dengan pongahnya mengatakan 'ini salah itu tak benar", tanpa dasar yang 'tak bergetar' pada mereka yang berada di titik awal menjadi peniru. Kita merasa bahwa hapal saja teori ini dan itu, telah membuat kita menjadi bagian dari "Rejim kebenaran tak terbantahkan". Begitu banyak yang harus dipelajari, dipahami lalu dimaknai; lebih banyak dari alasan menjadi sombong sebab apa yang baru kita sedikit ketahui.
Tulisan diatas merupakan gambaran yang sedang dialami oleh kita, oleh penulis bahwasannya kita harus mengetahui lebih tentang apa yang belum kita ketahui dengan banyak membaca. Sekarang ini penulis masih dalam tahap peniru. Meniru apa yang telah dibacanya. Namun jangan sampai kita sombong bahwa kita bisa menentukan ini benar dan ini salah. Karena kita masih pada tahap meniru dan bahan bacaan kita masih sedikit.
Pak lala mengatakan bahwa banyak penulis yang re-statement. Pada paragraf pertama, seharusnya penulis harus memberikan ide pokoknya apa. Apabila di paragraf pertama sudah menarik untuk dibaca. Maka pembacapun akan penasaran dengan paragraf berikutnya. Maka dari itu kita harus menempatkan hal yang menarik di awal. Pada minggu ini beliau berencana untuk memberikan tugas menulis tentang columbus dan Howard Zinn dalam seribu kata menggunakan bahasa inggris.
Kaum literat haus bisa love of knowledge. Syarat utamanya adalah meniru. Seseorang tidak akan bisa menulis sebelum ia meniru terlebih dahulu (Emulate) kemudian tahap selanjutnya yaitu (discover) menemukan. Kemudian eksekusi terakhirnya yaitu menciptakan (create). Menulis merupakan tindakan yang dapat mencerahkan diri kita. Kita tidak bisa membawa perubahan terhadap orang lain, jika diri kita belum berubah atau belum tercerahkan,
Pada dasarnya, menulis mempunyai sifat persuasif. Berusaha meyakinkan pembaca untuk tertarik pada pendirian logis yang sedang dipelajari. Bentuk dari persuasi berkaitan dengan meyakinkan pembaca tentang pandangan dari penulis yang sering disebut academic argument, mengikuti pola yang dapat diprediksi dalam tulisan. Setelah penyampaian ringkasan topik pada pengantar, pernyataan pandangan penulis terhadap topik tersebut disampaikan secara langsung pada satu kalimat. Kalimat tersebut adalah “Thesis Statement” dan di dalamnya menyajikan sebuah ringkasan dari argumen atas alasan yang ingin dikemukakan oleh penulis dalam tulisannya.
Thesis dalam sebuah karangan bisa disebut juga sebagai ide pokoknya (main idea). Thesis statement dalam sebuah tulisan berisi satu atau dua kalimat pernyataan yang mengekspresikan ide pokok yang terkandung dalam tulisan. Pada thesis statement memperkenalkan topik dari penulis dan pendapat seorang penulis mengenai topik yang sedang dibicarakan.
Adapun fungsi dari adanya thesis statement mencakup dua fungsi yaitu : pertama, penulis membuat thesis statement untuk memfokuskan pada hal atau permasalahan yang sedang dibahas dalam tulisan tersebut. Kedua, adanya kehadiran thesis statement yang bagus agar dapat membantu pembaca dalam memahami tulisan.
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar bisa dimulai dari tahap meniru dahulu, namun bukan berarti plagiat. Selain itu diketahui pula bahwa setiap tulisan tidak pernah netral artinya suatu tulisan akan selalu terkait dengan pandangan dari penulis yang bersifat persuasif. Mengenai thesis statement agar dapat membantu pembaca dalam memahami tulisan , biasanya terdapat dalam satu kalimat di suatu tempat di paragraf pertama yang menyajikan argumen penulis kepada pembaca.


0 comments:

Post a Comment