Sunday, April 6, 2014

7th Class Review
Seharusnya Critical Review
Pada minggu yang lalu, banyak teman-teman yang tidak menggunakan generic structure dalam menulis critical review nya, mereka menulisi free, bukan menulis academic. Memang susah dalam menulis yang benar apalagi academic writing, terdapat hal-hal yang harus diperhatikandalam menulis, dan ketentuan-ketentuan yang harus dilalui.
Minggu lalu membahas tentang menulis yang disertakan referensi, ini adalah menulis academic. Sebagai penulis pemula tahapan pertama dalammenulis adalah emulate atau meniru, ini yang dikatakan dengan copy-paste, tetapi copy-paste yang dilakukan harus disertakan sumber referensinya. Kemudian setelah emulate adalah discover yakni menemukan, menginterpretasi pemahaman penulis, dan terakhir adalah create atau menciptakan, di sinilah proses menulis dengan segala gagasan sendiri.
Pada class review sebelumnya saya membahas tentang ideology, independen, dan neutral. Ketiganya sangat rumit dijelaskan karena bersifat absurd, tetapi bukan berarti tidak penting, bahkan inilah yang penting karena ketiganya saling berkaitan.
Ideology, neutral ataupun independen terdapat pada linguistic, history dan poet. Ideology akan mempengaruhi dan menjadi background atau landasan dalam pola pikirnya. Linguistic, history dan poet persamaannya terdapat pada nilai, nilai merupakan tujuan dari ketiga bagian tersebut. Nilai linguistic akan mengajarkan etika, estetika dalam berbahasa, berbicara dengan benar, kemudian nilai history akan mengajarkan pengalaman, penegtahuan dan proses kehidupan yang panjang agar dapat diambil manfaatnya untuk manusia sekarang. Nilai poet atau sastra akan memberikan kritik terhadap sastra, kritik sastra sangat baik untuk membangun karya sastra yang lebih indah.
Reading and writing adalah semiogenesis, yakni hal yang perlu dilakukan secara bersamaan bukan tingkatan atau strata atau hierarki, karena proses keduanya manuju meaning atau mening making practice.
Proses reading and writing itu akan mengembangkan kualitas diri dan terjaganya sebuah karya. Reading and writing mempengaruhi ideology, seperti yang telah dijelaskan pada class review sebelumnya. Aspek politik, social, budaya, pendidikan dan keagamaan yang menjadi dasar ideology. Untuk itu, ketika menulis, orang akan membawa ideologinya dalam tulisan itu. Karena ideology yang sudah dan tinggal dalam dirinya sehingga kemanapun ideology akan selalu dibawa.
Ideology yang dibawa atau yang berada dalam diri seseorang akan menjadi cirri khas seseorang. Ideology is never neutral, karena ideology dipengaruhi oleh aspek-aspek kehidupan sehingga ideology tidak pernah netral, ada juga istilah balance atau seimbang tetapi bukan netral.
Jika demikian ideology terbentuk dari pengalaman seorang dalam hidupnya. Yah, experience is the best teacher, pengalaman tidak bisa dilupakan dalam terbentuknya ideology seseorang begitupun pengetahuan, keduanya sangat mempengaruhi ideology, jika pengetahuan bisa sama antar satu dengan yang lain tetapi pengalaman tidak akan sama karena pengalaman adalah proses hidup yang setiap orang akan berbeda-beda.
Ideology terdapat pada linguistic, history, dan poet. Ketiga ini adalah sama dan berkaitan. Ketika pada minggu kemaren mengatakan hanya dua yaitu linguistic dengan history saja, dan minggu sekarang ditambah poet, jika digabungkan ketiganya akan menjadi literat, aspek literat ketika seorang itu mampu menulis indah seperti sastrawan-sastrawan yang pandai membolak-balikkan kata, atau seorang linguist yang pandai dengan ilmu-ilmu bahsa atau kebahasaan, dan juga seorang sejarawan, yang bisa membuat kebenaran dalam sejarah, sehingga yang kita ketahui sejarawan dapat membalikkan sejarah.
Ketiganya seperti “endless process of human creation”, atau proses penciptaan manusia yang tidak pernah selesai. The relationship between poet, history and linguist adalah sama-sama mempunyai kritik terhadap kehidupan. History linguist contohnya, sudah ada dan mempelajari tentang sejarah linguistic kemudian sejarah sastra pun sudah ada sebagai pengetahuan tentang sejarah berkembangnya sastra, dan sastra terdapat ilmu linguistic yang harus ada.
Semua itu cabang dari bahasa, bahasa sangat kompleks pembahasannya sehingga melahirkan cabang-cabang ilmu. Begitu uniknya bahasa, sehingga bahasa bukan hanya sebuah bahasa yang kita ketahui.

Kesimpulannya, seharusnya critical review tetapi free writing yang dikerjakan. Ini adalah kesalahan dalam pemahaman terhadap arti academic writing dengan free writing. Untuk itu, perlu adanya pemahaman yang tepat seperti halnya dalam history, linguist dan poet agar tetap berada dalam jalan yang lurus.

0 comments:

Post a Comment