Wednesday, April 9, 2014



Senin 16 Maret 2014 merupakan pertemuan ke-7 mata kuliah Writing 4, hari itu paper yang kita buat mengenai Howard Zinn dan Columbus dikoreksi oleh teman kita dalam peer review. Paper milik saya dikoreksi oleh teman saya Nurisah, dan tulisan saya masih banyak kesalahan yang harus dibenahi. Inilah beberapa kesalahan tulisan saya yang dikomentari oleh Nurisah:
1.      Terdapat satu paragraph yang sekiranya tidak usah dicantumkan kembali.
2.      Terdapat kata according berulang-ulang dalam beberapa paragraph.
3.      Judul harus sesuai dengan isi tulisan.
Hari itu, kesalahan terbesar kelas PBI.B adalah tidak menuliskan generic structure secara explicit, padahal Mr. Lala sudah mengingatkan berkali-kali tenyang hal itu. Menurut Mr. Lala sebagus apapun tulisan jika generic structure-nya tidak explicit akan percuma. Beliau juga berkata semahal apapun pemain jika tidak mendengarkan pelatih pasti akan disimpan sebagai pemain cadangan.
Pada pertemuan selanjutnya kita diberi tugas untuk merevisi paper yang telah dikoreksi, sebelum dikumpulkan tulisan kita seharusnya “direkayasa” agar hasilnya lebih baik. Kita sebagai penulis, salah satu tugas utama kita adalah mengungkap kemungkinan-kemungkinan pemahaman baru. Menjangkau bentuk-bentuk baru dari pemahaman meliputi tiga tahap penting yaitu:
1.      Emulate (meniru)
2.      Discover (menemukan)
3.      Create (menciptakan)
Menulis adalah masalah menciptakan affordances dan mengeksplorasi potensi makna. Menulis adalag sebuah semogenesis (meaning-making  practice). Pernyataan tesis merupakan tahapan yang sangat penting untuk membuat dialog awal dengan apa yang diharapkan oleh pembaca. Menurut Mr. Lala orang-orang yang memiliki affordances (sumber daya) baru adalah orang-orang yang bisa menciptakan sesuatu yang baru / memiliki potensi tinggi.
Milan Kudeta comments (in l’Art duroman, 1986): ‘to write,means for the poet to crush the wall behind which something that “was always there'' hides.’  Kita dapat menghancurkan dinding dan mencari sesuatu yang tersembunyi di balik dinding itu. Oleh karena itu, kita harus menolak asumsi-asumsi yang telah ada, dengan kata lain kita harus meneroka ceruk-ceruk baru. Kita sebagai manusia tidak akan pernah luput dari sejarah, dan sejarah merupakan proses penciptaan manusia tak pernah putus sehingga discovery pun tak pernah putus.
Historian=Linguist=Poet=> Discovery
Dalam hal ini tugas penyair (poet) tidak berbeda dari sejarawan yang yang menciptakan sejarah, karena penyair juga menemukan kemudian menciptakan sebuah karya.
Untuk pertemuan selanjutnya kita mengumpulkan paper submission yang sudah direvisi dan kita harus memastikan paper kita bebas darikesalahan grammar dan unsur-unsur unity dan coherence, yang paling penting adalah kita harus menuliskan generic structure secara explicit.
Sebagai penulis kita tentunya memiliki tugas, tugas pokok penulis adalah membaca sementara tugas ekstra-nya yaitu menulis. Membaca merupakan tugas utama bagi penulis, karena syarat untuk menulis adalah membaca. Tidak mungkin menulis tanpa membaca terlebih dahulu.
Membaca berarti menyerap, memahami, dan mendalami keadaan yang ada baik di luar diri maupun di dalam diri sendiri. Hasil serapan dan pemahaman itulah sebagai informasi dan pengetahuan baru lahir bagi penulis. Pemahaman keadaan itu pula yang akan menjadi renungan lalu direproduksi kembali menjadi informasi atau pengetahuan baru lainnya dalam wujud tulisan.
Membaca dalam pemahaman luas tentu saja tidak sekedar membaca tulisan (teks) yang sudah ada. Membaca bisa dimaknai dalam bentuk memahami apa yang terlihat dan apa yang terdengar di sekitar kita. Seorang sastrawan terkenal A.A Navis bahkan menyebut seluruh ala mini pada hakikatnya adalah bacaan yang terbaik. Dari apa yang terlihat, terpahami dari alam itulah timbul pandangan dan tindakan lainnya.
Seorang wartawan terlebih dahulu membaca berbagai peristiwa yang berkaitan dengan bidang tugasnya. Mereka membaca terlebih dahulu semua yang akan dituangkannya dalam bentuk karya sastra. Begitu juga sejarawan serta profesi lain yang berkaitan dengan “menulis”.
Penulis menyadari kalau yang dilakukannya adalah member informasi kepada pembaca tentang apa yang seharusnya diketahui dan dipahami pembaca tersebut. Ada misi menyampaikan sesuatu, ada desakan tertentu yang diinginkan penulis kepada pembacanya. Karena itulah Hugo Hartig, seperti dikutip Taringan (1986) bahwa menulis itu memiliki beberapa tujuan seperti:
a.      Untuk memberikan informasi
b.      Untuk meyakinkan
c.      Untuk menghibur atau
d.      Untuk mengekspresikan perasaan dan emsosi yang kuat.
Kesimpulannya, apapun tujuan penulis membuat karya tulisannya sesungguhnya semua itu tidak akan pernah bisa dilaksanakan jika tidak ada ide, gagasan, pikiran dan perasaan yang akan disampaikan dalam tulisan.


0 comments:

Post a Comment