Sunday, April 6, 2014

Makna Merdeka Bagi Papua
Perjalanan menulis masih panjang. Tenaga, pikiran dan hati harus terus disiapkan. Mata pun harus siap siaga untuk bertempur dengan setiap kata, kalimat dan paragraf pada suatu teks. Memaknai mereka, kemudian menulis kembali apa yang kita pandang dan kita maknai dari mereka. Sungguh perjalanan yang begitu membutuhkan tenaga ekstra dan ketelitian.
Minggu ini merupakan reading time. Bukan hanya membaca dan sekedar membaca. Akan tetapi, kita harus begitu tilik memaknai setiap kata, kalimat, dan paragraf. Kemudian, mencari tahu apa maksud dari setiap kalimat dalam teks tersebut. Fokus harus diutamakan. Dan fokus itu berat. Berbicara mengenai reading time, teks yang akan dicerna yaitu sebuah artikel yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow”, oleh S. Eben Kirksey.

Pada pertemuan sebelumnya, dibentuk reading club. Setiap kelompok harus membaca artikel “Don’t Use Your Data as a Pillow” dan memahami serta memaknai isi artikel tersebut. Diawali dengan memaknai judulya terlebih dahulu. Kemudian, dilanjutkan ke paragraf pertama dan paragraf selanjutnya. Dimaknai setiap kalimatnya kemudian didiskusikan pemahaman dari setiap anggota kelompoknya atas suatu kalimat yang telah dibaca.
Jika kita amati, artikel yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow” itu tersimpan teka-teki yang perlu pembaca ungkap maknanya. Bahkan, judul artikelnya pun masih menjadi misteri dan masih dipertanyakan apa maknanya. Kata yang perlu digaris bawahi pada judul artikel tersebut yaitu, “Data” dan Pillow.
Di sini terdapat beberapa penafsiran data dan pillow yang telah didiskusikan pada setiap kelompok di reading club, diantaranya:
>Data
·         Data merupakan ilmu.
·         Data merupakan fakta.
·         Data merupakan sandaran.
·         Data merupakan bukti yang berharga (valuable).
·         Data itu tidak hanya tumpukan, tetapi infomasi, juga merupakan research/ penelitian.
·         Data merupakan informasi/kasus-kasusnya.
>Pillow
·         Pillow merupakan benda yang diam yang tidak bisa digunakan untuk sesuatu.
·         Pillow merupakan kejadian/event.
·         Pillow merupakan tempat peristirahatan/ kuburan.
·         Pillow merupakan sandaran.
·         Pillow merupakan sesuatu yang tersebunyi dan ditutup-tutupi (hidden).
Menurut Mr. Lala Bumela, makna yang paling mengena tentang data yaitu Data itu tidak hanya tumpukan, tetapi infomasi, juga merupakan research/ penelitian. Pillow pun dimaknai sebagai sandaran/alas. Sehingga, makna judul dari artikel Don’t Use Your Data as a Pillow yaitu jangan jadikan informasi atau research yang ada sebagai sandaran atau alas. Kemudian muncul pertanyaan, apakah sebuah informasi itu bisa dijadikan data? Lalu, ketika konteks apa informasi dijadikan data? Di ambil dari kata research itu sendiri, research itu menjawab pertanyaan yang belum diketahui dan sumbernya yaitu data. Adapun pembahasan yang dicantumkan Lehtonen dalam bukunya “Cultural Analysis of Texts” (hal. 77), yaitu “The work itself is an abstract produced from a concrete text by a researcher. Often, another equivalent construction ‘the qualified reader’ sets to reading it. ‘Qualified’ readers, in turn, appear to be those who attempt to obey the instructions formed by the system of unchanging qualities that the text contains. Therefore, ‘a qualified reader’ is able to see what ‘the work itself’ is. Again, the touchstone of qualification is expressly this ability to see ‘behind’ the text. When a reader is capable of recognizing the being of some text, s/he becomes ‘qualified’. The circle is complete: a qualified reader defines ‘the work itself’, which in turn defines the qualified reader.”
Data itu dalam bentuk teks. Menurut Lehtonen dalam bukunya, “Cultural Analysis of Texts” (hal. 48), menyebutkan bahwa:
“Text can mean any form of signification: writings, photographs, movies, newspapers and magazines, advertisements and commercials; all and all, every kind of human signification practice.”
Yang kemudian Lehtonen mengkategorikan teks ke dalam bentuk verbal dan non-verbal. Bentuk verbal yaitu speech dan writing. Writing pun merupakan jenis visual text, dan speech merupakan jenis auditory text. Kemudian, yang termasuk non-verbal yaitu music dan picture. Music pun merupakan jenis auditory text, dan picture merupakan visual text. Sehingga dapat kita cermati bahwa, data itu bisa berupa verbal, non-verbal, visual, maupun audio.
Dalam artikelnya Eben, pembahasan yang dijadikan pusat yaitu mengenai Papua Barat. Papua Barat adalah bagian barat dari pulau New Guinea. Berbatasan langsung dengan Negara merdeka Papua Nugini dan menjadi bagian dari Indonesia setelah melalui sebuah proses yang didiskreditkan, dikenal sebagai ‘Act of Free Choice’ (Tindakan Pilihan Bebas) pada tahun 1969. Ia terletak persis di sebelah selatan khatulistiwa antara benua Asia dan Australia.
Pada tahun 1961 pemerintah Belanda melakukan persiapan-persiapan untuk membentuk negara Papua yang terpisah dari NKRI dan puncaknya pada tanggal 1 Desember 1961, bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan negara Papua Barat, bendera Bintang Kejora dikibarkan dan lagu Hai, Tanahku Papua dikumandangkan untuk pertama kalinya. Inilah awal mula benih fanatisme ke-Papua-an yang dengan sengaja disemaikan oleh Belanda dan masih tumbuh berkembang sampai dengan sekarang, pemerintah Belanda hanya ingin tetap menancapkan cengkramannya saja di bumi Papua yang pada waktu itu belum pengakuai kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.
Pada tanggal 19 Desember 1963 di Yogyakarta, sebagai reaksi atas pengingkaran Belanda terhadap integritas Papua dalam bingkai NKRI maka Presiden RI Bung Karno menggalang dukungan dari negara-negara Asia-Afrika, bahkan hingga ke Uni Sovyet. Sukarno membuat pidato yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Trikora, atau Tri Komando Rakyat, mengumumkan:
“..tekad pemerintahannya: (a) bubarkan pembentukan negara boneka Irian Barat buatan Belanda; (b) kibarkan bendera Sang Merah Putih di Irian Barat; dan (c) persiapkan mobilisasi umum untuk mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan bangsa.”
Dia juga membentuk pasukan Komando Mandala guna merebut Papua dari Belanda. Panglimanya yang ditunjuk kelak jadi diktator Indonesia, Mayor Jenderal Suharto. Kekuatan militer Komando Mandala tak terlalu mengancam administrasi Belanda tapi sudah cukup memengaruhi perkembangan geopolitik. Amerika Serikat secara khusus khawatir atas kesediaan Sukarno minta dukungan Uni Soviet dalam bentuk bantuan dana dan senjata. Itu memengaruhi Perserikatan Bangsa-Bangsa turut campur dalam diplomasi antara Belanda dan Indonesia. Di bawah tekanan AS, sebuah perjanjian diteken pada 15 Agustus 1962. Dikenal New York Agreement, ia mengatur pemindahan kekuasaan sementara atas Papua Barat ke UNTEA, atau United Nations Temporary Executive Authority, dari 1 Oktober 1962 hingga 1 Mei 1963, menyusul kemudian periode di bawah administrasi Indonesia yang lebih panjang. Penduduk Papua diharuskan ‘berpartisipasi dalam tindakan pilhan bebas berdasarkan praktik internasional’ sebelum berakhirnya tahun 1969.
Suatu pemberontakan melawan pemerintahan Indonesia mulai terjadi nyaris seketika, dan pada tahun 1965, beberapa nasionalis Papua bagian barat membentuk Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai sarana perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan dari Indonesia dan membentuk negara sendiri. Usaha-usaha dirancang untuk menaikkan bendera Bintang Kejora tapi selalu dilawan oleh tentara Indonesia. Beberapa serdadu diserang dan dibunuh oleh pegawai pemerintahan Papua Barat selama upacara pengibaran bendera pada 26 Juli 1965. Angkatan Udara Indonesia menyerang kampung-kampung dengan senjata mesin dan bom, menangkap para pembangkang Papua Barat selama waktu yang panjang tanpa pengadilan, dan mereka yang menuntut pemisahan diri disiksa dan dibunuh. Represi militer bersepadan dengan otoritarianisme politik, yang menutup ruang kebebasan dari apa yang disebut “Act of Free Choice,” atau dikenal Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) dalam sejarah versi Indonesia, yang mestinya diadakan ‘berdasarkan praktik internasional’ sebelum pungkas tahun 1969.
Sebuah tuntutan pokok orang Papua Barat ialah ‘merdeka’, secara umum dipahami orang luar sebagai negara merdeka. Namun ada sekurang-kurangnya pandangan yang menyatakan semua rakyat Papua Barat tak selalu mendukung ide kemerdekaan langsung dan bahwa,
Banyak orang yang tinggal di daerah terpencil tak tahu sama sekali apakah kemerdekaan itu diperlukan. Ada orang Papua Barat berpandangan bahwa, jika wilayahnya diizinkan mengendalikan keuntungan dari kekayaan minyak dan mineral yang amat luas, dan menjalankan beberapa bentuk pemerintahan mandiri secara terbatas, dengan skala cukup besar mengurangi kehadiran militer, orang akan merasa puas.
Orang Indonesia sekarang ini memahami ‘Papua merdeka’ sebagai kemerdekaan dari Indonesia. Tapi bagi etnis Papua Barat, ‘merdeka’ mungkin saja mengandung sejumlah maksud, termasuk konsep yang begitu kompleks ketimbang sekadar kemerdekaan. Satu pengertian secara pasti terkait oleh apa yang digambarkan anthropolog Brigham Golden sebagai teologi pembebasan Papua Barat — suatu ‘perang moral bagi terciptanya perdamaian dan keadilan di muka bumi’. Anthropolog lain, S. Eben Kirksey, berpendapat bahwa ‘merdeka’ dapat diartikan sistem pemerintahan baru berdasarkan tata-kelola kewenangan adat (indigenous) yang semestinya mampu dicapai tanpa memisahkan diri dari Indonesia. Dalam pemahaman itu, ‘merdeka’ dan kemerdekaan/ Otonomi Khusus mengandung pengertian yang satu sama lain sangatlah tidak ekslusif.
Sekilas pembahasan di atas mengenai papua, dapat dijadikan pencerahan mengenai papua yang mana dibahas pula dalam artikel Eben yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow”.
Kemudian, di sini akan berbicara mengenai poin-poin yang ada dalam artikel Eben Kirksey yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow”. Pada Paragraf pertama, yaitu mengenai pesta perpisahan sebagai bentuk penghormatan terhadap Eben Kirksey. Paragraf kedua, yaitu mengenai penelitian Eben yang awalnya akan meneliti tentang kekeringan dan munculnya pertanyaan dalam benak Eben terhadap Papua yang ingin membentuk pemerintahan baru dan memisahkan diri. Paragraf ketiga, yaitu pemahaman Eben atas alasan mengapa orang Papua ingin mengambil jalan kemerdekaan. Yaitu terjadi serangkaian pembantaian militer Indonesia. Paragraf keempat, yaitu berita yang ia dengar mengenai konflik yang terjadi membuat Eben memikirkan kembali penelitiannya. Paragraf kelima, yaitu banyak orang Papua meminta Eben untuk bersekutu dengan mereka untuk mendorong gerakan militer mereka. Dan untuk paragraf selanjutnya belum dapat saya cantumkan di sini.
Setelah saya membaca sebagian artikel S. Eben Kirksey yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow”, masih banyak kalimat yang masih belum saya pahami betul. Kemudian, pengetahuan saya mengenai papua masih belum matang sehingga terdapat kebingungan yang saya rasakan ketika membaca artikel tersebut. Juga penerapan makna ketika membaca masih belum kental dalam diri saya. Pembahasan artikel yang setiap paragrafnya berpindah-pindah focus pun membuat saya bingung.  Akan tetapi, setidaknya saya sudah dapat bisa sedikit mengutarakan dengan bahasa sendiri atas artikel yang saya baca. Kemudian pendapat saya mengenai Papua, yaitu Papua meskipun membentuk Negara baru akan tetap diincar kekayaan alamnya oleh Negara lain dan akan menghadapi permasalahan yang lebih parah dari sebelumnya. Sehingga, lebih baik Papua tetap bersama Indonesia untuk tetap berjuang sebagai Rakyat Indonesia.
Jadi, dapat kita lihat begitu rumitnya sejarah yang ada disetiap belahan bumi dunia ini. Semuanya penuh misteri dan penuh tanda tanya. Seperti halnya dengan Papua Barat yang mengalami masalah dan konflik juga tuntutan dari orang Papua untuk mendapatkan kemerdekaan.

0 comments:

Post a Comment