Sunday, April 6, 2014



Menulislah, dengan semua cahaya. Menulis itu sebuah pencerahan cahaya yang ada didalam hati. Menulislah, karena menulis itu merupakan obat saat semua persoalan kesal, gundah, marah, benci, tenang, terharu, dapat melebur dan meluap dalam kata-kata. Menjadi satu dalam bentuk tulisan. Menulislah, dan biarkan tulisan-tulisan itu menjadi syair bait-bait yang istimewa dalam lingkaran sebuah tulisan.
Tulisan dapat berkata jauh lebih indah dari pada sebuah lisan. Tulisan itu bisa menuangkan pada sebuah kertas. Karena tulisan itu bisa merekam sejarah. Menulis dengan indah itu sama persis seperti membuat nama yang terang dibuku. Menulis itu seperti menyalakan lilin kecil. Lilin-lilin kecil ini dalam satu ruangan yang gelap. Menulis bisa memberikan sebuah cahaya bagi orang lain, sebuah cahaya ilmu yang tidak akan padam.
Menulis bak sebuah khazanah cahaya terang. Seperti artikel Howard Zinn  yang mengulik tentang Columbus, ternyata lewat artikel Howard Zinn kita mendapat pencerahan pikiran bahwa kita tidak akan lagi berpikir bahwa Columbus adalah seorang super hero. Melalui pencerahan yang kita dapat, kita bisa menghubungkan dengan orang literat, atau sudah berliterasi karena kita mendapat sebuah cahaya yang akan dijadikan sebuah The love of knowledge.
Karena banyak menulis dan membaca pasti akan mencerahkan pikiran, dengan membaca dan menulis sebagai suatu yang mencerahkan dan inilah yang bisa disebut sudah berliterat karena sudah menaklukan aktivitas membaca dan menulis dengan kualitas yang tinggi.
Penulis itu adalah seorang yang intelek yang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Dengan realitas yang sudah ada. Ia bisa tergelitik dan tergerak bila melihat dan menyaksikan sebuah fenomena yang menyimpang dari kaidah dan tata nilai yang ada. Ia ingin bisa agar orang lain itu juga tahu penyimpangan tersebut sehingga bisa mampu menangkalnya.
Untuk itu menjadi seorang penulis harus bisa membuka panca indera dengan lebar. Mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Lalu memantapkan dengan hati. Kira-kira sesuai dengan norma yang ada. Putarlah pikiran untuk mencari solusi yang mungkin bisa diterapkan atau dituangkan ide itu dalam sebuah tulisan agar orang lain bisa mengaksesnya.
Menurut Fowler (1996:10) yang mengatakan seperti linguis kritis sejarawan yang bertujuan untuk memahami nilai-nilai yang mendukung formasi sosial, ekonomi, dan politik dan diakronis,perubahan nilai.
Dan menurut Fowler (1992:12) “ideology itu tentu saja bisa dalam bentuk alat media dan alat sebagai proses sejarah. Hal ini tidak keluar dari dunia bahwa menjadi tercerahkan dengan masuk ke dunia, dengan mendapatkan begitu diatur bahwa kita bisa naik gelombang keberadaan kita dan tidak pernah melemparkan karena kita bisa menjadi gelombang. 
Menulislah dalam waktu yang produktif. Pagi hari adalah waktu yang cocok untuk menulis karena keadaan otak yang masih fresh, itu tidak tentu juga karena tergantung dari kondisi penulis itu sendiri. Tandai waktu untuk dijadikan waktu untuk menulis. Buat kerangka tulisan juga itu penting untuk mempermudah kita menulis. Jika pedoman tersebut bisa diikuti, tulisan akan selesai dengan cepat. Kita juga bisa atur timer kita untuk meluangkan waktu dalam menulis.
Untuk menulis dengan baik dan benar, banyak metodanya yang harus kita lakukan yaitu kemauan, karena kita seringkali merasa minder karena tulisan yang jelek. Solusinya kita harus menulis bebas supaya menulisnya tidak terikat oleh susunan. atau bisa menuangkan dalam buku harian. Ketika ada ide-ide muncul, kita bisa menulisnya di catatan harian. Banyak manfaat dari menulis di catatan harian, yang saya rasakan adalah kelancaran dalam mengemukakan pendapat. Membiasakan diri untuk berceloteh. Dengan menulis di catatan harian kita berkomunikasi dengan diri sendiri. Menulislah setiap hari. Intinya adalah sebuah latihan. Dengan terus-menerus berlatih kita akan terbiasa dan bisa
Analisis semiotik biasanya diterapkan pada citra atau teks visual ( Berger, 1987 ;1998). Metode ini melibatkan pernyataan dalam kata-kata tentang citra bekerja, dengan mengartikan mereka pada struktur ideologis yang mengorganisasi. Kalau berkaitan dengan sisi fisik mereka kita dapat berpikir bahwa teks adalah artefak komunikatif.  Dengan kata lain, instrumen manusia yang dihasilkan dari komunikasi. Sebagai artefak teks telah dihasilkan melalui bantuan berbagai teknologis. Bentuk sisi mater teks mencerminkan sifat tersebut. Teknologi awal yang bertujuan untuk menghasilkan teks tertulis yang terhubung ke kapak dan pisau. Dengan tanda-tanda yang terukir di kayu atau batu.
Jangkauan pengetahuan arsitektur memang semestinya lebih dari sekedar pengetahuan tentang dunia praktek pragmatis fungsional dan professional. Jangkauannya bisa sampai ke bidang-bidang yang lebih diskurtif, ideologis, paradigmatic dan badan komoditi. Arsitektur juga merupakan teks tentang manusia, masyarakat, budaya, pandangan hidup dan jamannya lewat konstruksi dan bangunan. Wacana arsitektur adalah wujud kebebasan berpikiran berpendapat mengenai arsitektur. Arsitektur merupakan refleksi artefak manusia dari kemanusiaan.
            Ideologi dan asumsi dasar menyebabkan semangat penulisan wacana teori dan sejarah dalam bentuk apapun berbeda dari satu teks ke teks yang lain. Selain sebagai objek, arsitekturpun dapat dilihat sebagai teks. Sebuah teks tampil dalam performa naratif lewat wacana (discourse) Sebagai wacana semua teks memiliki konteks budaya, konteks situasi dan bahasa yang khas. Selain pengetahuan sebuah wacana dan pewarna perlu didukung oleh logika yang kuat, pengetahuan yang mumpuni, kejelian, kekritisan, serta kepekaan ideologi, banyak membaca belum tentu kaya wacana.
            Ideologi mana-mana disetiap teks tunggal (lisan tertulis, audio visual atau kombinasi dari semua itu. (Fowler 1996) produksi teks tidak pernah netrall (fairclough 1989,1992,1995,2000 : Lehtonen 2000) oleh karena itu, membaca dan menulis selalu termotivasi secara ideologis, ideologi mana- mana disetiap teks tunggal (lisan, tertulis audio visual atau kombinasi dari semua itu, fowler (1996). Produksi teks tidak pernah netral (fairclough 1989 ;1992; 1995;2000;lehtonen 2000). Literasi pernah netral (Alwasilah 2001:2012). Oleh karena itu, membaca dan menulis selalu termotivasi secara ideologis
Writing dalam perguruan tinggi juga sering mengambil bentuk persuasi meyakinkan orang lain bahwa kita memiliki sudut pandang logika pada subjek yang telah kita pelajari. Persuasi adalah keterampilan kita berlatih secara teratur dalam kehidupan sehari-hari. Dipergunakan tinggi juga kursus sering meminta kita untuk membuat kasus persuasive secara tertulis.
Thesis statement ! adalah sebuah topik kita harus diminta untuk meyakinkan pembaca sudut pandang kita. Bentuk persuasi, sering disebut argument akademis, mengikuti pola prediksi secara tertulis. Setelah pengenalan singkat dari topic kita, kita menyatakan sudut pandang pada topic secara langsung dan sering ada dalam satu kalimat. Kalimat ini adalah pernyataan thesis dan berfungsi sebagai ringkasan dari argument kita dalam kertas kita.
Tesis dalam esai adalah ide utamanya. Pernyataan thesis dari esai adalah pernyataan satu atau dua kalimat yang mengungkapkan gagasan utama ini. Pernyataan thesis mengidentifikasi topic penulis dan pendapat penulis memiliki sekitar topik itu.
Pernyataan thesis ini memiliki dua fungsi yang pertama penulis menciptakan thesis untuk fokus subjek esai yang kedua untuk kehadiran pernyataan tesis yang baik membantu dalam pemahaman pembaca itu sendiri.
Thesis statement itu memberitahu pembaca bagaimana kita akan menafsirkan pentingnya materi pelajaran yang sedang kita bahas yaitu peta jalan untutk kertas dengan kata lain bisa memberitahu pembaca apa yang diharapkan dari sisa kertas dan langsung menjawab pernyataan yang diminta dari kita sendiri. Thesis itu merupakan interpretasi dari pertanyaan atau subjek, bukan subjek itu sendiri, subjek atau topic dari sebuah esai mungkin bisa dilihat dari contoh bacaan “perang dunia”. Thesis ini maka menawarkan cara untuk memahami perang atau novel. Membuat suatu klaim bahwa orang lain mungkin membantah suatu kalimat disuatu tempat di paragraph pertama kita yang menyajikan pendapat kita kepada pembaca. Sisa kertas dalam tubuh esai mengumpulkan dan mengatur bukti yang akan membujuk pembaca logika pada penafsiran kita.
Howard Zinn seorang penulis dalam composition discourse menghasilkan sebuah teks dan konteks itu merujuk dari Hyland dan Lehtonen. Karena konteks banyak aspeknya ada History dan Literacy sebagai praktek sosial atau sebuah religious dan politik.
Hanya orang-orang yang literasi yang bisa menulis sejarah, karena penulitsan itu sejarah butuh kemampuan menulis dan membaca yang tinggi jadi literasi disini berperan penting, menurut lehtonen text itu sebagai artefak teks sebagai semiotik.
Penulisan sejarah selalu berkaitan dengan pemenuhan ideology (sense of belief) tentang value atau nilai dari peristiwa sejarah tersebut. Jadi, pada setiap teks penulisan apa saja seyogyanya akan selalu terinterpolasi motif ideology.
Bahasa merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan sejarah. Dalam penyampaiannya tersebut, sejarah tidak selalu merealisasikan keselarasan dengan realitanya hal itu disebabkan oleh hadirnya subjektifitas atau pemenuhan ideologis sang penulis sejarah. Ideologi merupakan pandangan tentang atau kelompok. Fowler (1996 :120 mengatakan bahwa ideology of course both a medium and and instrument of historical processes. Jadi ideology itu merupakan media dan juga instrument dari proses sejarah. Media itu direalisasikan sebagai perantara sementara instrument direalisasikan sebagai sikap kita dalam menulis.
Jika kita hubungkan dengan artikel Howard Zinn yang menguak keapsahan Cristoper Columbus. Howard Zin menuliskan sejarah terhadap karyanya itu tak lain karena untuk mendapatkan pemenuhan ideologisnya motif dalam diri.
Jadi, Sejarah dapat diartikan sebagai peristiwa atau kejadian yang benar benar terjadi pada masa lampau yang mempunyai pengaruh cukup besar sehingga peristiwa tersebut mendapat andil dalam peradaban kehidupan manusia dalam suatu ruang lingkup tertentu.
Sejarah dapat memberi kontribusi pada kehidupan masyarakat luas pada umumnya dan peserta didik pada khusunya. Sejarah sangat diperlukan bagi proses pendidikan, terutama untuk memberi aspirasi dalam melatih kekuatan pikiran. Dengan cara tersebut peserta didik dapat terbuka pikirannya serta menyadari apa yang telah dilakukan oleh orang. Pendidikan sejarah merupakan bagian integral dari usaha penanaman nilai-nilai yang fungsional untuk menanamkan pengetahuan. Pendidikan sejarah perlu mentransfer nilai-nilai etik dan moral yang mendasari cara berfikir, cara bersikap, dan berperilaku seseorang untuk mewujudkan keharmonisan kehidupan individu, kelompok masyarakat atau bangsa dalam membangun perdamaian, toleransi dan kesediaan menerima perbedaan. Jelas kiranya bahwa sejarah memiliki nilai didaktis yang mengajak generasi berikutnya dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman nenek moyangnya. Lagi pula, agar suri tauladan mereka dapat menjadi model bagi keturunannya.

0 comments:

Post a Comment