Sunday, April 6, 2014

PAPUA: SURGA DI UFUK TIMUR INDONESIA





Pertambangan ini telah mengasilkan 7,3 JUTA ton tembaga dan 724,7 JUTA ton emas. Jika dicoba meng-uangkan jumlah tersebut dengan harga per gram emas sekarang, saya anggap Rp. 300.000. dikali 724,7 JUTA ton emas/ 724.700.000.000.000 Gram dikali Rp 300.000= Rp.217.410.000.000.000.000.000 rupiah. saya sendiri bingung membaca angka tersebut. Itu hanya emas belum lagi tembaga serta bahan mineral lain-nya. Lalu siapa yang mengelola pertambangan ini? bukan negara ini tapi AMERIKA. Prosentasenya adalah 1% untuk negara pemilik tanah dan 99% untuk amerika sebagai negara yang memiliki teknologi untuk melakukan pertambangan disana. Bahkan ketika emas dan tembaga disana mulai menipis ternyata dibawah lapisan emas dan tembaga tepatnya di kedalaman 400 meter ditemukan kandungan mineral yang harganya 100 kali lebih mahal dari pada emas, ya dialah URANIUM. Bahan baku pembuatan bahan bakar nuklir itu ditemukan disana. Belum jelas jumlah kandungan uranium yang ditemukan disana, tapi kabar terakhir yang beredar menurut para ahli kandungan uranium disana cukup untuk membuat pembangkit listrik tenaga Nuklir dengan tenaga yang dapat menerangi seluruh bumi hanya dengan kandungan uranium disana.
Lantas bagaimana kehidupan penduduk disana, apakah dengan kekayaan sebegitu melimpahnya mereka hidup dalam ketentraman? Jawabannya adalah tidak. Dari dulu hingga sekarang kekisruhan tak kunjung pergi dari daerah ini. Dari mulai Negara asing yang berebut mendapatkan daerah ini hingga konflik dengan Negara sendiri pun tak dapat terhindari. Gerakan Papua Merdeka sudah digalahkan sejak soeharto lengser hingga kini, padahal Soekarno mati-matian mempertahankannya. Sebenarnya apa yang membuat papua ingin melepaskan diri dari NKRI.
PAPUA adalah nama yang sudah melekat pada daerah bagian barat Indonesia sejak dulu. Nama Papua hampir 2 abad lama nya di gunakan berkisar antara abad 17-19 selanjut nya pada awal tahun 1940 an, Residen J.P. Eechoud meminta untuk mengganti nama Papua dengan Irian yg di pelopori oleh Frans Kaisiepo dengan menganbil artian dari 3 bahasa daerah di Papua antara lain dalam bahasa Biak “iri “artinya tanah “an” artinya panas , jd tanh yg panas sedangkan dalm bahsa serui “iri” arti nya tanah “an” bangsa jd ting bangsa, sementara dalm bahsa merauke “iri” artinya tempat di angkat tinggi, “an” artinya bangsa yg diangkat tinggi
Nama Irian secara umum di gunakan setelah 1 mei 1963 oleh Soekarno dengan sebutan Irian Barat dan pada tgl 1 maret 1973 dengan peraturan No 5 1973 nama Irian Barat di ganti oleh Soeharto menjadi Irian Jaya.
Namun berjalan nya waktu sebagian besar rakyat Papua mengganggap bahwa nama Irian adalah pelecehan jati diri sebuah bangsa, dimana nama Irian di plesetkan sebagai Ikut Republik Indonesia Anti Netherland.
Memasuki era reformasi sebagian besar rakyat Papua menuntut pengembalian nama Irian Jaya menjadi Papua sebagai wujud jati diri sebuah bangsa, di awal 1 januari 2000 adalah Presiaden Indonesia Abdurrahmad Wahid atau Gus Dur yg dengan bijaksana memaklumkan kembalinya nama Papua hingga saat ini.
Peran Soekarno dalam integrasi papua kedalam NKRI adalah setelah kemerdekaan RI presiden Soekarno  melobi ke PBB pada tahun 1946 untuk mengambil papua barat namun hal ini tidak mendapat dukungan karena belanda secara diam-diam menjanjikan ingin melepaskan Papua barat sebagai negara merdeka. Disinilah awal konflik indonesia dan Belanda, namun Soekarno terus berusaha untuk mendapatkan Papua dengan menyelenggarakan Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Hag, Belanda. Namun nyatanya KMB tidak berjalan secara maksimal sesuai keinginan pemerintah RI, Soekarano terus berjuang pada tingkatan lobi international seperti pada Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika di Bandung tahun 1950 dan forum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Jengkelnya disaat pemerintah indonesia berusaha untuk mengambil papua di Hollandia sekarang Jayapura, pada tanggal 1 desembar 1961, anggota Niuw Guinea Raad bersidang dan memproklamirkan kemerdekaan bangsa Papua barat dengan seluruh perangkat kebangsaan dan kenegaraan seperi nama bangsa yaitu Papua, dengan ibukota negara Port Numbay, lagu kebangsaan Hai tanah ku Papua, bendera kebangsaan Bintang kejora,lambang negara burung mambaruk dengan motto “One People ,One Soul” di dukung oleh tentara Papua atau Papoea Vrijwilleger Korps (PVK).
Alih-alih berusaha membebaskan mereka dengan segala cara, mereka malah membalas dengan cara licik seperti itu, namun alam kemerdekaan itu tidak di rasakan lama oleh rakyat dan bangsa Papua karena pemerintah RI merasa bergerak cepat, Soekarno mendesak segera menggagalkan pembentukan negara boneka papua dengan mengumandangkan “TRIKORA” tiga komando rakyat.
Awalnya Belanda menanamkan kaki nya di Tanah Papua barat sejak tahun 1828-1848, belanda bukan hanya memperluas wilayah nya namun mereka juga menyebarkan agama kristen, dan mencari di mana letak nya pulau emas, karena keinginan yg kuat dari belanda untuk menjadi kan Papua Barat menjadi wilayah nya maka diam2 belanda memasukkan nama Netherland Niuw Guinea nama Papua barat pada saat itu menjadi bagian dari kerajaan belanda bersama kep.Antilen Belanda dan Suriname.
Ternyata tak hanya Belanda yang tergiur akan surga Indonesia ini, Freeport America hingga ilmuan-ilmuan lain seperti Forbes Wilson dan S. Eben Kirskey datang ke papua untuk meneliti apa yang ada di papua ini. Seperti hasil penelitian S. Eben Kirskey yang menerbitkan buku Freedom in Entangled Worlds West Papua and the Architecture of Global Power dan artikel yang berjudul Don’t Use Your Data as a Pillow.

Dari teks S. Eben Kirksey yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow” kelompok saya merumuskannya sebagai berikut:
Ina      : don’t use your data as a pillow means kenyamanan ketika kita mengetahui kebenaran suatu data.
Laela: don’t use your data as a pillow means bagaikan ilmu yang kita miliki hanya sebatas didapatkan kemudian disimpan begitu saja tanpa dikembangkan.
Neneng: don’t use your data as a pillow means ketika kita mengetahui sesuatu lantas itu kita diamkan saja tanpa di share kepada yang lain.
Khani: don’t use your data as a pillow means sesuatu yang kita ketahui hanya dijadikan sandaran.
Nofi: don’t use your data as a pillow means data is ilmu, sedangkan pillow adalah benda yang tidak begitu berarti dan hanya dijadikan sandaran.
            Jadi dari meaning negosiation yang kami lakukan, didapatkan kesimpulan bahwa data adalah ilmu dan pillow adalah benda mati atau statis sedangkan don’t use your data as a pillow adalah ilmu yang dimiliki hanya dijadikan sandaran tanpa dikembangkan. Kami menyimpulkan bahwa sebetulnya don’t use your data as a pillow itu use your data as a sword. Sesuatu yang kita ketahui baik berupa ilmu, data atau kebenaran informasi harusnya digunakan untuk menyerang (to attack) karena posisi kami disini adalah kritikus.
            Diakhir evaluasi hasil diskusi kelompok, mr.Lala meriview dan meluruskan hasil diskusi tadi bahwa dont’t use your data as a pillow, data disini berarti informasi, fakta-fakta, dan bukti-bukti, dimana informasi ini selalu hidup dalam bentuk tulisan atau teks (Lehtonen:2000) . Sedangkan pillow disini bersifat sangat opsional. Pillow hanya diperlukan untuk tidur dan kadang-kadang tidak diperlukan sama sekali. Data bisa diperoleh dalam bentuk verbal, writen, visual, dan lain-lain. apabila data-data sebanyak itu dikumpulkan dan hanya dijadikan sandaran, data itu tidak berguna. Data menjadi berguna dan penting apabila masuk dalam konteks (diperlukan).
            Contoh kasus diatas adalah data yang ada disekitar, tidak langsung menjadi data penting kecuali kita memberi konteks RESEARCH didalamnya, maka akan menghasilkan “data research”. Data research inipun lantas jangan dijadikan ornamen penghias saja, namun dimanfaatkan kembali oleh orang-orang yang membutuhkannya.
            Kemudian berlanjut pada paragraf satu artikel dont’t use your data as a pillow, yang mana gagasan utamanya adalah PARTY. Di awal paragraf penulis menyebutkan makanan-makan khas masyarakat setempat. Semua makanan yang ada di Party ini melambangkan dan digunakan untuk menyematkan ekspektasi atau harapan masyarakat adat akan penelitian yang dilakukan Eben Kirksey agar mampu melepaskan papua melalui data penelitian yang diperolehnya yang ia reveal ke permukaan dunia.
            Di akhir paragraf pertama penulis secara gamblang mengungkap bahwa ia meneliti papua dengan metodologi serta menjadikannya data yang penting bagi penelitiannya. Dibawah ini akan dicoba mengungkapkan per paragraf apa yang sudah dipahami dari proses membaca artikel dont’t use your data as a pillow.
            Paragraf 1 menjelaskan tentang upacara penutup yang yang diadakan oleh Denny Yomaki, dilakukan dan dihadiri warga papua sebagai bentuk penghormatan untuk Eben Kirksey atas penelitian dan penemuannya tentang kekerasan milisi di Wasior. Paragraf 2 menjelaskan saat itu ramai dibicarakan soeharto yang digulingkan oleh gerakan reformasi. Alih-alih merasa merdeka karena soeharto akhirnya turun, papua malah kisruh menyerukan kemerdekaan pelepasan diri dari NKRI karena pada saat itu pemerintahan sedang mengendur. Eben sendiri bingung mengapa mereka repot-repot memisahkan diri, namun dia mulai tahu jawabannya ketika ia melihat sendiri kekejaman militer indonesia terhadap warga papua.
            Paragraf 3 menerangkan bagaimana ketika mahasiswa melakukan protes namun ia lantas ditembak kepalanya dan kemudian dibuang kelaut. Disini Eben mengerti kenapa masyarakat papua ingin melepaskan diri. Sistem genosida telah terjadi terbukti dari satu militer indonesia membunuh 24 warga. Paragraf 4 tentang bagaimana seorang mahasiswa pascasarjana menetap disuatu daerah yang menjadi sumber penelitiannya, ia akan mencari sesuatu yang yang menarik baginya. Dia membaca cerita adat, mendengar seputar amerika yang mendukung pendudukan militer dan rumor keinginan memerdekakan diri. Berubahnya penelitian eben ini juga dikarenakan ia menemukan fakta-fakta baru bagaimana kegiatan untuk memerdekakan papua ini ternyata di pelopori oleh militer indonesia sendiri.
            Paragraf 5 membahas ketika masyarakat papua melihat Eben sebagai sekutu potensial lantas memasukkannya kedalam organisasi “opertion isolate and annililate” untuk membantu di bidang kemiliteran, meneliti teror dracula (genoside) yang dilakukan pasukan keamanan Indonesia, dan membantu membesaskan papua lewat penelitiannya. Paragraf 6 kembali pada pesta perpisahan Eben dan pertemuan pertama Eben dengan Waropen-anggota Komnas HAM yang dulunya merupakan penggerak atau profokator gerakan pembebasan papua dimana Denny juga mengundangnya.
            Paragraf 7 di Wasior, Eben dan Denny menyelidiki rumor seputar agen-agen militer indonesia diam-diam mendukung milisi papua. Mereka mendapatkan informasi seputar polisi indonesia yang melakukan serangan berkelanjutan pada dugaan separatis Operation Isolate and Annihilate itu dari Waropen. Paragraf 8 berisi perjuangan penelitian dari pengambilan informasi tentang kekerasan milisi di Wasior oleh Eben dan Denny dengan menutupi identitas narasumber untuk meminimalisir kemungkinan ketahuan oleh pihak militer. Bahkan mereka rela keluar ditengah malam dan bertemu dengan narasumber.
            Paragraf 9 menjelaskan beberapa shaman terdekat di Wasior diklaim yang menimbulkan gempa bumi di jawa dan menjatuhkan pesawat yang membawa prtinggi militer indonesia. Mereka awalnya berniat mewawancarai shaman tersebut tetapi mereka tak mau mengambil resiko karena ketatnya pengawasan. Paragraf 10 Eben melihat waropen sebagai sumber penting untuk penelitiannya tentang papua karena waropen sudah mempelajari tentang shaman dan berarti ia mempunyai data yang Eben perlukan.
            Paragraf 11 Eben mewawancarai Waropen sebagai narasumber dengan menjaminnya sebagai anonymous. Tapi waropen yang seorang kritis ia menanyakan mengapa Eben tidak mencantumkan sumber dan bukankah data itu akan lebih kuat apabila sumber data itu ada. komentar Waropen kepadanya menggugah hatinya, membuatnya berpikir bahwa memang benar selama ini ia telah banyak mewawancarai banyak orang dan semuanya ia jadikan anonymous.
            Paragraf 12 alasan mengapa Eben menganonimouskan sumber-sumber data penelitiannya karena selain menghindari omong kosong birokrasi juga demi menyelamatkan kehidupan sang sumber karena kondisi yang terjadi saat itu. Selainitu juga ia mendapat banyak masukan  dan nasehat dari sahabat, pembimbing untuk membuatnya anomymous dalam rangka menyelesaikan penelitiannya saja karena menurut mereka objek manusia tidak bisa diidentifikasi.
            Paragraf 13 rumor menghasilkan ketakutan. Oleh karenanya eben menyembunyikan sumber wawancaranya takut-takut ia membahayakan narasumbernya. Menurutnya ia bisa belajar meskipun sumber itu anonymous ataupun dipalsukan karena beberapa pengalaman teror hidup dan disappeared itu tidak dapat di ungkapkan secara umum ataupun ditulis. Padahal data yang tidak bersumber akan menimbulkan tanda tanya bagi yang membacanya disurat kabar atau lainnya.
            Paragraf 14 Waropen ingin suaranya didengar oleh pemerintah. Bahwasanya masyarakat papua ingin diakui sebgai masyarakat yang mandiri dalam segala hal, dimana mereka tidak mau dicap sebagai orang-orang yang terbelakang. Mereka beralasan bahwa ketika muncul ide pembantukan negara indonesia di wilayah jawa dan sumatera tidak ada satu orang pun dari golongan orang papua yg terlibat. Pada saat tonggak sejarah kepemudaan di wilayah indonesia yang di kenal dengan istilah “Sumpah Pemuda” lagi-lagi tidak satu pun perwkilan dari pemuda Papua atau Jong Papua.
            Paragraf 15 bersitegangnya waropen dan eben muncullah statement Waropen untuk ebendon’t use your data as a pillow”yang mana ia geram akan eben yang hanya mengumpulkan data tanpa disertai sumber dan digunakan hanya untuk memenuhi penelitiannya saja tanpa mengungkapkan fakta tersebut ke permukaan. Tapi  Eben berdalih bahwa ada saatnya HAM dan saksi atau sumber data perlu dilindungi.
            Paragraf 16 alasan paling crusial yang Eben tutup-tutupi adalah karena ia takut speaking turth to the power. Eben takut penelitiannya gagal karena berbenturan  dengan kasus pada saat itu. Paragraf 17 adalah seputar Eben yang ditantang oleh Waropen untuk bersikap lebih kritis. Pikirkan kembali apa data dalam antropologi budaya.
            Paragraf 18: konfrontasi waropen membuat Eben berpikir kembali bukan hanya sekedar menuangkan kata-kata tetapi bagaimana ia membawa data atau informasi atas apa yang ia ketahui dan dapatkan akan papua ke seat of global power. Paragraf 19: Beyond Petroleum and recent violence adalah karena “freedom fighter berkolaborasi dengan militer indonesia. Paragraf 20 menjelaskan bahwa dari seorang freedom fighter, ia mengatakan bahwa ia mendapatkan suntikan logistic dan intelegen dari militer indonesia. Sehingga Eben dapat membuktikan bahwa kekerasan yang terjadi di Wasior untuk proyek BP adalah ulah militer Indonesia sendiri.
            Paragraf 21 Eben menghadiri pertemuan di London  dan berkesempatan memempresentasikan penemuannya tentang kekerasan milisi di Wasior. Paragraf 22 mengungkap Eben dan Rumbiak menuju markas BP. Paragraf 23 tentang Eben bertemu dengan beberapa penguasa Eropa di markas BP. Paragraf 24 tentang Rumbiak yang mengatakan bahwa militer Indonesia tidak akan tinggal diam selama BP (Beyond Petroleum) masih berdiri di papua dan belum memberikan mereka keamanan. Jika BP (Beyond Petroleum) mundur maka dengan sendirinya perusahaan-perusahaan asing lainnya akan mengikuti.
Paragraf 25 mengungkap ketika Rumbiak mengatakan bahwa BP harus angkat kaki dari papua, tetapi Dr.Grote mengatakan meski mereka angkat kakipun Negara lain pasti akan datang dan mengembangkan ladang gas papua itu. Paragraf 26: anggota milisi papua yang  ketakutan akan hidupnya, dia mengaku membunuh sekelompok  polisi Indonesia dengan bantuan militer Indonesia. Lantas pokisi Indonesia ini menggunakan insiden tersebut untuk meluncurkan Operation Isolate and Annihilate. Keduanya menginginkan kontrak perlindungan (dukungan) BP agar bisa menang.
            Dari penjelasan panjang lebar diatas saya selaku reader don’t use your data as a pillowmenemukan kekurangan dan kelebihan saya dalam membaca artikel tersebut. Strengths antara lain adalah pertama, saya memahami mengapa Ebeb Kirksey diperlakukan dengan sangat baik oleh masyarakat papua, karena mereka menggantungkan ekspekstasi dan harapan besar pada penelitian beliau yang disinyalir akan membongkar kedok pasukan militer Indonesia yang kejam dan mampu membantu papua membebaskan diri. Kedua, mengapa Waropen geram terhadap  Eben yang hanya menjadikan data, informasi dan fakta kebenaran akan papua selama ini sebagai laporan untuk penelitiannya dan mendapatkan gelarnya saja. Eben tidak mencantumkan narasumber dimana dia mendapatkan informasi. Padahal Waropen dan warga papua lainnya ingin dunia mengetahui bahwa papua ingin merdeka menjadi Negara mandiri dalam segala hal karena mereka tidak mau dipandang dan dicap sebagai manusia yang rendah dan terbelakang.
            Disamping ada yang saya pahami, adapula yang saya kurang mengerti dari artikel ini diantaranya pertama, mengapa Eben tertarik mengambil sample data dari shamans. Kedua, saya masih belum mengerti kemunculan BP (Beyond Petroleum) dalam pembahasan. Ketiga, jika militer Indonesia sendiri yang melakukan genosid kepada militan papua berarti hal ini semacam politik adu domba atau pemerintahnya yang salah.

            Kesimpulan

            Bila digali lebih dalam bagi saya yang non-papua sebenarnya ada tangan amerika dibalik gerakan pembebasan papua ini. Perlu diketahui Soeharto bisa naik ke kursi presiden dan berjaya menjadi orang nomer satu di Indonesia adalah karena bantuan Amerika. Militer Indonesia yang dibawahi soeharto di suplai senjata oleh amerika begitupun militan Papua. Jadi praktek adu domba lah yang terjadi diantara orang Indonesia.
            Dimata orang-orang papua dalam artikel yang pernah saya baca, mengapa mereka ingin melepaskan diri dari Indonesia adalah karena “ketika muncul ide pembantukan negara Indonesia di wilayah jawa dan sumatera tidak ada satu orang pun dari kami yang terlibat. Pada saat tonggak sejarah kepemudaan di wilayah indonesia yg di kenal dengan istilah “Sumpah Pemuda” lagi-lagi tidak satu pun perwakilan dari pemuda Papua atau Jong Papua. Karena memang tidak mempunyai hubungan politik dengan indonesia. Jadi jelas konsep pembentukan negara indonesia kami sama sekali tidak tahu” (Engelberth Marien, Aktifis Pemuda Papua).
            Jadi pemerintah seharusnya pelik melihat permasalahan ini. Kami masyarakat biasa tidak mampu berbuat apa-apa, kami hanya bisa bersuara dengan tulisan kami. Seperti Eben Kirksey yang membantu masyarakat papua lewat tulisannya yang ia reveal ke wajah dunia.
            Sejarah lagi-lagi adalah soal ideology dan literacy. Setelah membaca artikel don’t use your data as a pillow Saya sadar betul bahwa Eben Kirksey juga menggunakan ideologinya dalam menulis. Terlihat diawal ketika setelah ia tahu kebenaran akan kekerasan militer Indonesia di Wasior lalu ia akan kembali ke America namun hanya untuk menyerahkan tugas penelitiannya demi mendapat gelarnya. Setelah ia bertemu dengan Waropen dan dikritik, ia kembali memikirkan dan memutuskan membantu papua dengan mengunggap apa yang sebenarnya terjadi di papua kepermukaan.

            Referensi
Don’t Use Your Data as a Pillow by S. Eben Kirksey.

0 comments:

Post a Comment