Sunday, April 6, 2014




Don’t make something error / mistake / ignorance although just a little. Setiap pekerjaan pastinya mengharapkan hasil yang baik, begitu pula pada pembelajaran writing ini. Kegiatan menulis tentu bukanlah proses yang mudah melainkan perjalanan yang sangat panjang sehingga menimbulkan rasa lelah baik luar maupun dalam. Perjalanan pada setengah musim semester  ini pun terasa lelah, butuh tambahan energi supaya progress kedepannya bisa lebih baik dari pada sebelumnya. Ketika ada suatu kesalahan, tentu itu hal yang mengecewakan karena kemampuan yang ditunjukan belum sepenuhnya maksimal. Tugas utama disini adalah menjadi multilingual writer (and reader) yang dalam prosesnya akan mengalami perpindahan pengalaman yang berkelanjutan dari L1 ke L2.
Proses menulis yang melibatkan lebih dari satu bahasa mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan hanya satu bahasa. Bila diibaratkan seperti orang yang tadinya terbiasa menyetir mobil lokal lalu menggunakan mobil luar negeri yang memang memiliki fitur-fitur yang berbeda. Maka dibutuhkan latihan untuk menyesuaikan dengan dengan keadaan yang berbeda tersebut. Ketika seseorang terbiasa menulis dalam bahasa Indonesia, akan terdapat kesulitan ketika harus menulis dalam bahasa lain (misalnya bahasa inggris).
Setelah setengah musim pembelajaran sudah terlewati, ada harapan agar lebih meningkatkan kualitas seperti yang tercantum dalam slide power point pak lala diantaranya mengenai sikap (attitude), keharusan untuk tetap focus, komitmen, tahan banting dan kerja tim ( teamwork ditulis sebanyak 7x). tidak  dapat dipungkiri bahwasanya kerja tim ini sangat dibutuhkan, khususnya dalam melatih kepekaan diri juga seperti membantu memberikan bimbingan pada teman yang belum memahami materi yang sedang dibahas.
Dalam pertemuan ini, tugas utamanya adalah membaca dalam suatu kelompok kecil yang membahas artikelnya s. eben kirkskey yang berjudul “Setiap anggota kelompok tidak langsung memahami makna per paragraf tetapi per kalimat terlebih dahulu kemudian berbagi pemahaman dengan anggota yang lainnya. Ternyata, setelah melakukan diskusi seperti ini banyak pemahaman yang berbeda dari setiap anggota kelompok. Dari sini dapat diperoleh pemahaman yang beragam, sehingga semakin mempermudah  dalam menemukan inti pokok tulisan. Berbeda halnya jika pemahaman dilakukan sendiri, maka akan lebih sulit memahami tulisan tersebut.
Untuk mengawali pembahasan mengenai artikel S. Eben Kirkskey yang berjudul “don’t use your data as pillow”.Mendengar kata papua barat, pikiran seseorang seolah-olah tertuju pada wilayah  Indonesia sebelah  timur yang terpencil dan pelosok. Papua barat merupakan wilayah bagian barat dari pulau papua yang terbagi kedalam 2 provinsi, yaitu provinsi papua dan papaua barat. Willayah  ini juga sering disebut sebagai papua barat (west papua) oleh brebagai media internasional.
Papua bagian barat dikenal sebagai provinsi irian barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Kemudian berganti nama menjadi irian jaya oleh presiden soeharto ketika meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport. Nama provinsi ini diganti menjadi papua sesuai UU No. 21 Tahun 2001 tentang otonomi khusus papua. Pada tahun 2004,disertai berbagai protes Papua menjadi dua provinsi yaitubagian timur tetap memakai nama papua, sedangkan bagian barat menjadi provinsi irian jaya barat ( sekarang papua barat.
Tantangan semakin besar ketika belanda melantik “dewan papua” berikut bendera dan lagu kebangsaan papua. Itu berarti tidak lama lagi akan terbentuk Negara papua. Oleh karena itu, presiden sukarno berpidato mengeluarkan maklumat / mendeklarasikan trikomando rakyat (trokora) yang berisi:
1.      Gagalkan pembentukan Negara boneka papua buatan belanda
2.      Kibarkan sang merah putih di irian barat tanah air Indonesia
3.      Bersiaplah untuk mobilisasi umum mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.
Sesuai dengan persetujuan new York pada tahun 1969, Indonesia mengadaka penentuan pendapat rakyat (pepera) yang disaksikan oleh wakil-wakil Negara asing. Setelah mencapai persetujuan, irian diserahkan sementara kepada PBB atau UNTEA (united nation temporary executive authority) kemudian pada tanggal 1 mei 1963, UNTEA menyerahkan irian barat ke pemerintah Indonesia. Sejak saat iti nama irian barat berubah menjadi irian jaya.
Namun, setelah bersatu selama beberapa tahun dengan Indonesia, Penduduk Papua pun perlahan-lahan merasa bahwa mereka tidak memiliki hubungan sejarah dengan bagian Indonesia. Penyatuan wilayah papua ke dalam Indonesia sejak tahun 1963 merupakan buah perjanjian antara Belanda dengan Indonesia dimana pihak Belanda menyerahkan wilayah tersebut yang selama ini dikuasainya kepada bekas jajahannya yang merdeka yaitu Indonesia. Perjanjian tersebut oleh sebagian masyarakat Papua tidak diakui dan dianggap sebagai penyerahan dari tangan satu penjajah kepada yang lain. Sehingga pada tahun 1965, beberapa nasionalis Papua bagian barat membentuk Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai sarana perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan dari Indonesia dan membentuk negara sendiri.
Organisasi sEparatis yang mendapatkan dana dari pemerintah Libya pimpinan Muammar Gaddafi dan pelatihan dari grup gerilya New People's Army beraliran Maois yang ditetapkan sebagai organisasi teroris asing oleh Departemen Keamanan Nasional Amerika Serikat tersebut dianggap tidak sah di Indonesia. Perjuangan meraih kemerdekaan di tingkat provinsi dapat dituduh sebagai tindakan pengkhianatan terhadap negara. Sejak berdiri, OPM berusaha mengadakan dialog diplomatik, mengibarkan bendera Bintang Kejora, dan melancarkan aksi militan sebagai bagian dari konflik Papua. Para pendukungnya sering membawa-bawa bendera Bintang Kejora dan simbol persatuan Papua lainnya, seperti lagu kebangsaan "Hai Tanahku Papua" dan lambang nasional.
Seorang antropolog kebangsaan amerika serikat, S. Eben Kriksey pada tahun 1998 datang ke tanah papua untuk meneliti kebudayaan dan kehidupan masyarakat dipedalaman papua yang masih primitif, namun setelah lima tahun meneliti dia pun akhirnya menemukan suatu fakta yang mencenngangkan soal kasus pelanggaran HAM berat yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap masyarakat papua yang ditulis lewat bukunya yang berjudul “Freedom in Entangled Worlds : West Papua and the Architecture of Global Power” serta artikelnya yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow”, yang dengan gamblang menyebutkan hal-hal apa saja yang dialami masyarakat pribumi, mulai dari penindasan hingga aksi genosida yang dilakukan dengan sistematis. Berikut isi singkat setiap paragraf dalam artikelnya :  
Paragraf pertama, menuliskan tentang pesta kecil yang diadakan oleh masyarakat papua untuk melepas Kriksey sebelum kembali ke negeri asalnya Amerika Serikat. Pesta itu bisa dikatakan sebagai bentuk penghormatan kepada Kriksey yang telah melakukan penelitian di tanah papua.           
 Paragaraf kedua, menjelaskan saat Kriksey datang pertama kali ke indonesia untuk melakukan penelitiannya, secara tidak sengaja  dia tiba saat bertepatan dengan masa reformasi pasca jatuhnya kepemimpinan soeharto dengan maraknya aksi para separatis yang ingin membebaskan diri dari negara kesatuan, salah satunya adalah papua. Dia merasa heran dengan maraknya aksi tersebut dan sebenarnya apa yang menyebabkan aksi tersebut marak tejadi di negeri ini?
 Paragraf ketiga, menerangkan tentang sebuah kampanye genosida sistematis telah terjadi di tanah tesebut. Terjadinya  serangkaian pembantaian militer indonesia yang menembaki puluhan mahasiswa yang berdemonstrasi lalu dengan kejam dibuangnya mereka ke laut.
Paragraf empat menerangkan bahwa apa yang terjadi di papua seperti cerita tentang penyiksaan oleh pendudukan militer. Penemuan tak terduga itu pun membuat ia memikirkan kembali penelitiannya, dan memberikan dukungan kepada aktivis kemerdekaan papua.
 paragraf kelima, menjelaskan bahwa saat Kriksey meneliti masyarakat papua, dia pernah dianggap sebagai sekutu. Lalu dia diminta masuk kedalam gerakan sparatis mereka dan meminta kepadanya untuk membantu agar terbebas dari teror dan rezim pendudukan Indonesia. Dan hal itu lah yang kemudian mempertemukannya dengan seorang aktivis HAM yang juga merupakan penghasut muda, Telys Waropen.
 Paragraf enam, Waropen berasal dari Wasior, tempat dimana polisi Indonesia saat itu melakukan serangan pada para separator melalui operasi penyisiran dan penumpasan. Dia pun akhirnya mengunjungi tempat tersebut untuk meneliti rumor bahwa polisi indonesia diam-diam mendukung milisi papua.
Paragraf tujuh, menyebutkan telah terjadi operasi p[enyisiran dan penumpasan terhadap orang papua yang menimbulkan rasa tidak percaya terhadap pemerintahan indonesia.
Paragraf delapan,  menyebutkan mengenai Kriksey  yang mewawancarai orang-orang untuk menceritakan kisah mereka dari rumah kerumah di tengah malam agar tidak terlihat polisi Indonesia yang kemungkinan beresiko mengancam jiwa mereka bila mereka ketahuan menceritakan cerita mereka pada peneliti asing.
Paragraf sembilan, menjelaskan bahwa Kriksey sempat berencana akan mewawancarai seorang dukun yang mengklaim telah bertanggung jawab atas gempa yang tejadi di pulau jawa. Kesempatan untuk mendapatkan informasi soal dukun pun, baru dia dapatkan dari Waropen pada sebuah pesta.
Paragraf kesepuluh, Kriksey mengira bahwa waropen bisa jadi merupakan narasumber yang paling penting bagi penelitiannya yang dapat membantunya mendapatkan sumber informasi.
Paragraf sebeleas, Kriksey memulai mewawancarai waropen. Prosedur yang dilakukannya sama seperti saat dia mewawancarai 350 narasumber yang pernah ia tanyai mulai dari politisi, korban kekerasan hingga para aktivis. Dia mempertanyakan apakah identitas narasumber itu tidak penting? Padahal sebuah penelitian akan lebih kuat bila mengutip sumber-sumber yang terpercaya.
Paragraf duabelas,  keterbukaan media pada masa orde lama memang terbilang sangat dikekang. Begitu juga di Papua yang tidak atau kurang terjamgkau oleh media karena kurangnya keterbukaan informasi pada saat itu.
paragraf tigabelas Jurnalis dan editor biasanya menggunakan satu set pedoman ketat untuk menentukan kapan harus menggunakan sumber anonim” ( Boeyink 1990 ). Kriteria ini menjaga terhadap pembuatan cerita oleh penulis tidak etis dan penyebaran informasi yang salah dari sumber yang didapat oleh wartawan.
Paragraf empatbelas, menuliskan soal waropen yang yang menginginkan keadilan, dan ekpektasi dia tentang tanah leluhurnya di masa depan. Waropen menganggap bahwa Eben merupakan salah satu seorang yang potensial yang dapat membantu menyelesaikan masalah ini dengan banyaknya data yang telah ia peroleh.
Paragraf lima belas waropen menambahkan “jangan gunakan data yang anda punya sebagai bantal dan pergi tidur ketika saat anda kembali ke Amerika dan jangan hanya menggunakan ini sebagai jembatan untuk peluang profesional anda sendiri.”
Paragraf enam belas, menyebutkan bahwa pengetahuan menenai orang yang terpnggirkan kurang disorot / ditampilkan dalam ranah umum.
Paragraf tujuh belas dan delapan belas, waropen memprovokasi Eben untuk mengungkapkan fakta sebenarnya yang terjadi di tanahnya. Bicaralah secara penuh dari data yang anda dapat. Jangan takut pada penguasa, karena menguak fakta lebih penting dibandingkan dengan hanya menjadikan penelitian sebagai jembatan untuk peluang profesional sendiri.
Paragraf sembilan belas, konflik itu terjadi karena provokasi yang dilakukan oleh suatu pihak terhadap pihak lainnya melalui perusahaan BP (British Petroleum yang kemudian berganti nama menjadi Beyond Petroleum).
Paragraf dua puluh Kriksey mengungkapan rumor kekerasan yang terjadi.
Paragraf dua puluh satu, Kriksey menulis bahwa ia pernah diminta oleh seorang pembela HAM asal papua lainnya yakni John Rumbiak pada akhir mei 2003 untuk menghadiri pertemuan di markas besar BP di London dengan Dr Byron Grote, CFO dari perusahaan minyak raksasa tersebut.  Dan pada pargraf berikutnya
Paragraf dua puluh dua  dan dua puluh tiga, masih berlanjut menjelaskan soal perjalanan Kriksey dalam menemukan kantor BP di London.
Paragraf dua puluh empat, penemukan fakta baru soal keterlibatan polisi Indonesia atas kekerasan yang terjadi di sekitar perusahaan tersebut di Papua. Pasukan keamanan negara Indonesia membuat sekitar 80 persen dari pendapatan mereka dari konrak adalah untuk melindungi perusahaan. Dan agen rahasia di militer Indonesia memprovokasi kekerasan sampai perusahaan mengalah dan memberi mereka kontrak keamanan.
Paragraf dua puluh lima dan dua puluh enam Eben berspekulasi atas fakta yang ia temukan diatas dengan berfikir bahwa perusahaan ini bisa menjadi kekuatan untuk membantu mengesampingkan militer Indonesia di Papua Barat.
           
Kesimpulan
Persoalan Papua sebenarnya adalah permasalahan ketidakadilan, mulai dari penguasaan sumberdaya alam oleh asing dengan pengelolaan dalam negeri, pemerintah pusat dengan pemerintah daerah serta  elit pejabat daerah dengan masyarakat. Potensi konflik komunal, maupun gangguan keamanan yang dilakukan oleh kelompok kecil bersenjata yang  diduga merupakan gerombolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang diarahkan pada warga sipil maupun sektor industri kadang terjadi dalam skala dan intesitas terbatas di wilayah tertentu. Mendengar keinginan papua untuk memisahkan diri dari NKRI, tentu tidak setuju karena daerah papua tidak terpisahkan dari megara indonesia. Dalam pembukaan UUD 1945 mengandung pengertian bahwa seluruh tumpah darah indonesia adalah keutuhan wilayah indonesia tanpa kecuali dari sabang sampai merauke. Pemerintah harusnya menyikapi kasus dan penanganan dalam terkait Papua ini dengan serius dan sungguh-sungguh. jika saja isu ini ternyata didalangi oleh pihak asing yang ingin mengeksploitasi Papua untuk kepentingan kelompok tertentu, hal tersebut tentunya harus segera diantisipasi dengan mengajak dan merangkul seluruh tokoh di Papua supaya jangan sampai Papua terlepas dari NKRI.


0 comments:

Post a Comment