Thursday, April 10, 2014



“Papua, Pelukanmu Untuk Indonesia”


Awal bulan ini merupakan awal kembali peperangan terhadap penelusuran pemahaman mengenai suatu artikel yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow” yang ditulis oleh S. Eben Kirksey. Tidak cukup jika hanya membaca satu artikel, karena sumber yang akan didapat kurang lengkap. Dalam artikel tersebut, dijelaskan mengenai perjalanan Kirksey sebagai salah satu bentuk laporan penelitiannya menelusuri seluk-beluk yang terjadi di Papua Barat dan Irian Jaya.

Salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh seorang reader dalam menanggapi teks ialah “ATTITUDE”. Attitude sangat penting karena menggambarkan baik atau tidaknya cara atau sikap reader dalam menyerap teksyangn telah dibaca. Hal lain yang perlu dimiliki  seorang reader ialah pengalaman membacanya, apakah reader membaca extensive atau sekedar intensive. Dan factor lain yang diperlukan ialah do’a, focus, komitmen, tahan banting dan team work.

Untuk mendapatkan pemahaman lebih, dapat dilakukan dengan cara team work karena dengan cara ini, akan membantu reader apabila tersesat pada kata atau kalimat tertentu yang kurang dipahami olehnnya. Kali ini artikel “Don’t Use Your Data as a Pillow” akan sedikit dikupas berdasarkan bantuan dari beberapa sumber yang akan sedikit membantu perihal kebimbangan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di tanah papua?

Eben Kirksey menuliskan judul artikel tersebut berawal dari tanggapan Waropen seorang narasumber yang diwawancarai oleh Kirksey yang berasal dari Wasior, dan beliau mengatakan pada Kirksey : “Jangan gunakan data anda hanya sebagai bantal dan pergi tidur ketika anda kembali ke Amerika”. Dapat diambil dua kata dari kalimat yang diungkapkan oleh Waropen yaitu “data” dan “bantal”, dimana data merupakan suatu research yang sistematik, data selalu dalam bentuk teks (verbal), visual, audio, dan kombinasi. Sedangkan terdapat kata bantal yakni suatu benda yang berfungsi apabila digunakan sesekali saja jika diperlukan (dibutuhkan).

Ada beberapa poin yang saya pahami dan kurang saya pahami, karena posisi saya masih pada tahap reader pemula untuk memahami serangkaian paragraph yang ada di artikel Kirksey tersebut. Alur yang digunakan Kirksey ialah mundur-maju. Pada paragraph pertama Beliau langsung mengungkapkan apa yang dilakukan masyarakat Papua sebagai bentuk penghormatankepada Kirksey tehadap hari terakhir penelitiannya yaitu dengan adanya pesta yang cukup besar bagi masyarakat Papua itu sendiri. Kirksey juga melibatkan beberapa tokoh terkait dalam proses penelitiannya, yakni Denny Yomaki dan Waropen  (selaku Aktivis KOMNAS HAM), dan John Rumbiak (seorang pembela HAM).

Kirksey sangat berantusias untuk menelusuri secara tuntas konflik apa yang sebenarnya terjadi di Papua? Dan beliau mencoba melakukan pendekatan metodoligis dasar dan prinsip-prinsip yang dijadikan suatu tantangan baginya. Sebelum Kirksey mengakhiri penelitian di bagian ujung Merauke tersebut, beliau disuguhi jamuan pesta oleh masyarakat sekitar yang ditujukan sebagai bentuk penghormatan kepada Kirksey dan diharapkan dapat membantu Papua dalam memetakan sejarah yang terjadi di sana.

 Ketertarikan Kirksey (seorang mahasiswa pasca sarjana di New College of Florida) terhadap Papua ialah untuk menelusuri fakta kekeringan El-Nino yang melanda wilayah tersebut, dan penelitian itu dilakukan pada tahun 1998. Rasa penasaran Kirksey terhadap niat Papua yang memisahkan diri dari NKRI yang akhirnya membuat ia harus semakin berhati-hati untuk mendapatkan informasi lebih banyak mengenai Papua. Sedikit demi sedikit ia mulai memahami kenapa Papua ingin memisahkan diri dari NKRI, salah satu factor penyebabnya ialah banyaknya ratusan bahkan ribuan warga Papua bahkan mahasiswa sekalipun yang ditembak oleh militer Indonesia, dan pada saat itu adalah masa pemerintahan Soeharto (reformasi).

Kekhawatiran yang dirasakan Kirksey terhadap warga Papua, yang ternyata Papua sangat membenci bangsa berkulit putih. Akan tetapi, itu semua tidak mematahkan semangatnya untuk menggali informasi sedalam-dalamnya tentang Papua. Konflik terbesar yang dialami Papua ialah adanya konflik kampanye teroryang dipicu oleh “Dracula”, dan juga konflik penyiksaan kerja paksaterhadap warga Papua yang dilakukan oleh bangsa berkulit Putih, khususnya Belanda, dan adanya peran AS dlam mendukung persenjataan pendudukan militer Indonesia, juga mengenai perihal riuh gempita keinginan Papua untuk merdeka dan memisahkan diri dari NKRI.

Ketika Kirksey harus berupaya untuk meyakinkanperihal kedatangannnya kepada warga Papua, yaitu Ia berusaha untuk mewawancarai seorang tokoh KOMNAS HAM di Papua yang dijadikan sebagai narasumber dan dijanjikan aman identitasnya dalam jurnal yang akan dibuat Kirksey nanti. Dan ada beberap alas an kenapa warga Papua menerima kedatangan Kirksey, di antaranya ialah:
o   Dapat berupaya dalam membantu kemiliteran Papua
o   Dapat membantu meneliti kasus kampanye terror oleh pasukan keamanan Indonesia
o   Dapat membantu Papua untuk mencapai kebebasan

Kirksey meminta Waropen untuk diwawancarai. Setelah beberapa penjelasan yang disampaikan oleh Waropen, tiba-tiba Waropen mengatakan bahwa tidak cukup apabila hanya mengandalkan data-data yang sudah ada karena belum tentu kebenarannya berdasarkan fakta yang ada.

Di sela waktu yang lain, Kirksey juga berhasil mewawancarai salah satu Papua double-agen yang menjelaskan mengenai kebenrannyaperihal bantuan dukungan logistic dan intelijen dari militer Indonesia, dan juga mengaku bahwa mereka sangat ingin membunuh para perwira polisi Indonesia. Niat tersebut muncul karena warga Papua merasa terganggu dengan adanya penjagaan ketat dari para polisi Indonesia dan mereka menginginkan zona damai untuk wilayahnya.

Berbicara mengenai penelitian yang dilakukan oleh S. Eben Kirksey yang berkaitan dengan berbagai kasus konflik yang terjadi di Papua. Sedikit akan dijelaskan mengenai latar belakang konflik yang terjadi di sana. Berdasarkan beberapa sumber yang didapat, maka ada beberapa poin penting yang akan dijelaskan di sini, yaitu :
·         Papua? Di mana lokasinya?
·         Perbedaan Papua dan Irian Jaya?
·         Tahun berapa Papua barat masuk dalam NKRI?
·         Trikora? Apa isi Trikora?
·         Apa upaya Soekarno untuk mengintegrasikan Papua ke dalam NKRI?
·         Apa yang dilakukan Belanda terhadap Papua?
·         Konflik apa yang terjadi di Papua?
·         Organisasi Pepua Merdeka (OPM) dan siapa yang terlibat di dalamnya?

Papua Barat merupakan wilayah bagian barat dari wilayah Papua yang terbagi ke dalam dua provinsi Indonesia, yaitu provinsi Papua dan Papua Barat. Wilayah ini juag sering hanya disebut sebagai wilayah Papua Barat (West Papua) oleh berbagai media Internasional. (baca : “Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat” ditulis oleh H. Dr. Subandrio)

Wilayah Papua merupakan wilayah jajahan Belanda, maka dari itu warga Papua sangat tidak menyukai bangsa kulit putih di tanah Papua. ntang Papua dijajah kurang lebih selama 63 tahun. Awalnya Papua menginginkan untuk memisahkan diri dari NKRI dan membuat Negara sendiri dengan alasan karena mereka tidak tahan terus-menerus diawasi oleh pasukan Polri atau militer Indonesia.

Akibat banyaknya wilayah Papua yang dijajah oleh bangsa Belanda, sehingga harus merubah nama Irian Jaya menjadi Papua Barat. Berdasarkan sumber yang didapat dari Kurdadia, Jayapura—MIO’L yang mengungkapkan bahwa Provinsi Irian Jaya Barat (IJB) telah berubah nama menjadi propinsi Papua Barat. Perubahan nama tersebut telah dideklarasikan oleh Ketua DPR propinsi IJB, Jimianus Ijie dan Gubernur IJB, Abraham Okativianus Ataruri di Manokwari, Ibukota propinsi IJB, selasa (6//2). Tujuan perubahan nama tersebut agar propinsi IJB mendapat nama dalam UU No. 21 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Papua. Papua pun resmi masuk NKRI  pada tanggal 01 Mei 1963.

Begitu banyak usahan yang dilakukan Bung Karno agar Papua berintegrasi dalam NKRI, salah satunya ialah pada tanggal 19-12-1961 di alun-alun Utara Jogjakarta, Presiden Soekarno mengumumkan TRIKORA (Tri Komando Rakyat) untuk mengembalikan Irian Barat ke pangkuan NKRI. Adapun isi Trikora tersebut ialah:
o   Gagalkan pembentukan Negara boneka Papua bikinan colonial Belanda
o   Kibarkan sang merah putih di Irian Barat tanah air Indonesia
o   Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.

Selain Trikora, upaya yang dilakukan oleh presiden Soekarno juga ketika membuat Komando Mandala pembebasan Irian Barat pada tanggal 02 Januari 1962 yang dipimpin oleh Mayjen Soeharto yang berkedudukan di Makassar. (baca: http://nizar-Indonesia.blogspot.com/2013/01/perjuangan-pembebasan-irian-barat.html

Ada salah satu organisai di Papua, yaitu OPM (Organisasi Papua Merdeka) adalah sebuah organisasi yang didirikan tahuan 1965 dengan tujuan membantu dan melaksanakan penggulingan pemerintahan yang saat ini berdiri di propinsi Papua Barat di Indonesia, sebelumnya bernama Irian Jaya, dan memisahkan diri dari Indonesia, yang kemudian menolak pembangunan ekonomi dan modernitas. Organisasi ini mendapatkan dana dari pemerintah Libya pimpinan Muammar Gaddafi dan pelatihan dari grup Gerilya New People’s Army beraliran Maois yang ditetapkan sebagai organisasi terorisasing oleh Departemen Keamanan Nasional A.S. (Baca : Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Oeganisasi Papua Merdeka)



Dari berbagai penjelasan di atas, dapat disimpulakn bahwa bagaimana penelitian dan adanya data yang telah diamati, apabila tidak memiliki pengamat atau reader yang mampu meneruskan, itu semua hanya akan dijadikan sebagai sekedar data sandaran saja. ratusan bahkan ribuan data yang telah terkumpul apabila hanya dipajang saja, itu pun akan sia-sia tanpa disertai fakta yang sebenarnya. Kelemahan reader pada umumnya terletak pada kurang luasnya pengetahuan yang reader serap, sehingga bersusah payah dan terus menggali apa sebenarnya yang diinginkan oleh penulis tersebut. Ada hal penting mengenai kemampuan pemahaman reader terhadap teks, berdasarkan buku “The Cultural Analysis of Texts” karya Mikko Lehtonen :2000: hal. 138, yakni: “Reading can be many different kinds of activity. A reader can read a text word of leap back and forth in the text according to what interests him/her most at the time……………..Each of  these ways of reading produces different meaning”. Dan semua itu kembali lagi terhadap pemahaman suatu makna yang terdapat dalam kelimat yang dimiliki oleh tiap reader.

0 comments:

Post a Comment