Saturday, April 26, 2014

11:52 PM


Eben, Penulis Sekaligus Aktivis
Pada class review kal;I ini, saya akan mencoba membahas lanjutan dari artikel Eben Kirksey. Pulau papua (mutiara hitamnya) Indonesia, pulau yang dikenal oleh banyak orang asing sebagai harta karun yang sarat dengan nuansa bisnis uang dan kekuasaan. Pulau papua memiliki sumber daya manusia yang melimpah, tidak heran kenapa banyak para investor asing menginginkan hak kepemilikan di tanah papua. Akibat adanya para investor asing itulah, melahirkan masalah bagaimana economic-drive yang berujung pada rusaknya system politik pemerintahan. Permasalahan tersebut disebabkan oleh kehadiran perusahaan-perusahaan asing yang memonopoli tanah papua dengan menyuap para pejabat daerah, dan juga kehadiran militer Indonesia yang menambah penghasilan mereka dengan memeras berbagai perusahaan yang ada di pulau papua dalam pertukaran untuk keamanan, perusahaan besar dan kecil, local maupun internasional, ada atau tidak adakah resiko keamanan disana.
                Pulau yang dulunya damai, pulaua yang penuh dengan nuansa kesakralan dari penduduknya dan keindahan alamnya, kini berubah menjadi pulau yang bernuansa politik bahkan benda yang tidak ergerak pun juga bernuansa politik. Hingga saat ini saja, banyak berbagai perusahaan asing maupun local mengeksplotasi tanah papua, dari mulai lautan hingga pegunungan semuanya dieksploitasi. Ambil saja contoh eksploitasi pegunungan di pulau papua. Potensi sumber daya mineral dan energy di pulau papua telah mendapat status yang baik pada era otonomi khusus. Status izin kuasa melakukan pertambangan umum ditandatangani oleh gubernur provinsi papua pada waktu itu.
No.
Perusahaan atau Kode Wilayah
Lokasi
Bahan Galian
Luas (Ha)
Tahap Kegiatan
Ket.
1
PT. Benliz Pasific
Kab. Sarrni
Pasir Besi
20.000
Eksplotasi
10-05-2004
2
PT. Batan Pelei Mining
Kab. Raja Ampat
Nikel, Chrom dan Platina
15.250
Eksplotasi
14-10-2004
3
PT. Kawei Sejahtera Mining
Kab. Raja Ampat
Nikel, Chrom dan Platina
6.953
Eksplotasi
14-10-2004
4
PT. Walofi Mining
Kab. Raja Ampat
Nikel, Chrom dan Platina
30.891
Eksplotasi
16-02-2004
5
PT. Sentani Mineral Perdana
Kab. Jayapura
Nikel, DMP
4.618
Penyelidikan Umum
25-02-2004
6
PT. Kqeb Krisnian Berkati
Kab. Mimika
Pegunungan Lemaire
Emas, Perak, dan Tembaga
Blok I; 25.000
Blok II; 6.000
Penyelidikan Umum
11-08-2004
7
PT. Interwana Minerindo Irja
Kab. Jayapura
Pasir Besi di distrik demta
10.000
Penyelidikan Umum
08-12-2003
8
PT. Papua Pasific Minerals
Kab. Jayapura Distrik Sentani
Emas, DMP
4.726,28
Penyelidikan Umum
08-12-2003
9
PT. Papua Pasific Minerals
Kab. Keerom Distrik Sangigi dan Web
Emas, DMP
Blok A; 79.339,42

Blok B; 61.697,33
Penyelidikan Umum
08-12-2003
10
PT. Papua Pasific Minerals
Kab. Sorong Selatan Distrik Aifat
Batubara
62.950,28
Penyelidikan Umum
08-12-2003
11
PT. Papua Pasific Minerals
Kab. Sorong Distrik Seget
Batubara
27.655,99
Penyelidikan Umum
08-12-2003
               
Lanjutan dari artikel Eben Kirksey dari Paragraf 27 sampai selesai (Paragraf 49). Pada paragraph 27, menceritakan pria yang bernama O’Relly, dengan kacamata bulat menanyakan peristiwa siapa yang membunuh pejabat polisi yang bersamaan dengan kunjungannya kepada Eben. Eben mencoba mencari dalang dari peristiwa itu, tetapi gagal membuatnya menjadi real.
                Pada paragraph 28, menceritakan tentang John Rumbiak merasa heran kenapa koperasi militer dan gerilyawan papua itu bekerja sama, padahal keduanya diibaratkan double agen dan kolaborator yang mungkin permusuhan diantaranya sudah tidak biasa.
                Pada paragraph 29, eben berpendapat dari hasil wawancaranya, bahwa butuh waktu 2 minggu berjalan kaki dari BP di Wasior. Eben berpendapat bahwa pada bulan Februari 2001 anggota milisi yang sama membunuh pejabat polisi untuk melakukan pengintaian didekat base camp BP.
                Pada paragraph 30-32, menceritakan mengenai John Rumbiak yang ingin atau peristiwa tersebut di Wasior dibawa kepublik. Dr. Grote dating terlambat setelah kejadian itu, dan O’Relly menegaskan untuk membawa fakta-fakta kasus ini lebih dekat dengan atau sarat pihak berwenang Indonesia. Eben yang terhubung dengan editor dari The Sunday Times, mencoba mempublikasikan cerita peristiwa tersebut kedalam bentuk sebuah makalah utama dengan John Rumbiak bersamanya.
                Pada paragraph 33-35, menceritakan tentang Jack Grimston, Asisten Editor Asing Kertas, menelpon eben apakah mau jadi co-penulis artikel dengan dirinya. Di London, eben dan grimston bekerja sama karena Grimston tertarik dengan cerita eben, tetapi Grimston tidak bisa atau belum bisa berkomitmen untuk menerbitkan hasil artikelnya nanti. Selama tiga hari eben dan grimston bekerjasama, mencoba menemukan rahasia rincian kerjasama antara BP dengan pasukan keamanan.
                Pada paragraph 36-38, menceritakan tentang hasil artikel ada hal yang dihilangkan, seperti laporan lengkap dari pelanggaran HAM yang mengerikan di Wasior, konteks yang lebih luas dari pergerakan kemerdekaan papua barat, papua barat bersaing pandangan tentang antara proyek gas BP. Sebagai seorang penulis, eben menulis dengan ditandai dengan otoritas objektif yang memberikan pekerjaan bagi dirinya didunia social dimana orang papua sebagian besar dikecualikan. Sebuah koalisi sedang dipersiapkan eben guna memunculkan kelompok papua, seperti mahasiswa, aktivis lingkungan, dan aktivis hak asasi manusia, yang ingin melihat BP berhenti. Bagi beberapa orang papua, artikel; tersebut mewakili kemenangan terhadap proyek BP itu. Telys Waropen, tidak mengucapkan selamat tentang artikrl eben yang sudah terbit. Eben membayangkan bagaimana cerita ini hanya terjebak pada sempitnya penafsiran, pada jam sebelum cerita dicetak, editor Sunday Times memotong satu-satunya sumber atau kalimat yang dikutip oleh sumber papua. Eben berpendapat bahwa dia mendapat kritikkan dari beberapa cabang dari gerakan kemerdekaan. Banyak orang papua melihat BP, cumin sebagai proyek yang mirip sekutu dalam perjuangan mereka untuk kebebasan.
                Pada paragraph 39-42, menceritakan tentang pengalaman eben setelah menerbitkan artikel pada Sunday Times, eben ikut berpartisipasi dalam percakapan public tentang BP dengan anggota Presidium Dewan Papua. Pada BBC World Service Radio, eben menceritakan bagaimana BP telah mengingkari janji mereka untuk tidak bekerjasama dengan pasukan keamanan Indonesia, meringkas bukti bahwa agen-agen militer Indonesia juga telah memicu kekerasan didekat lokasi proyek BP. Eben juga melakukan pandangan tolakan bahwa aktivis papua menentang proyek gas BP. Konfrontasi yang dilakukan eben mendapat apresiasi dari Viktor Kaisiepo melalui e-mail dengan bahasa dialek papua Indonesia. Viktor melalui e-mail mengharapkan bahwa dia ingin menghentikan kekerasan militer, dan menghentikan proyek gas BP.
                Pada paragraph 43-47, menceritakan tentang eben yang dianggap sebagai sekutu bagi banyak orang di papua. John Rumbiak dan rekan-rekannya mendorong eben untuk melakukann penelitian pada dewan presidium papua dan pemimpin kemerdekaan terkemuka lainnya. Aktivis mengajarkan kepada eben tentang pentingnya kemenangan tambahan dan parsial, dengan mengamankan pertemuan dengan pejabat tertentu, maka pejabat kunci bisa menjadikan eben mendapat prestasi yang signifikan. Mengenakan jas dan dasi eben bergabung dengan aktiis papua selama pertemuan dengan perwakilan pemerintah di Washington, London, dan Jakarta. Eben mengalami masa-masa yang sulit ketika menerjemahkan laporan HAM yang berbahasa Indonesia dengan harapan bahwa pekerjaan-Nya dapat dibaca oleh segelintir pejabat kunci pemerintahan. Eben juga menulis berita singkat untuk distribusi elektronik untuk sekelompok pendukung kecil dari internasional yang aktif berkampanye tentang papua. Selama penelitian dan penulisan, eben mencoba untuk tetap menjaga pertanyaan, membimbing keterbukaan untuk negosiasi ulang dengan para intelektual papua.
                Pada paragraph 48-50, menceritakan mengenai essaynya ini yang terbit pada November 2007, eben mencurahkan persaannya bahwa dia ingin melakukan sebuah penelitian besar-besaran seperti dalam mencoba melakukan keadilan untuk impi yang bernuansa kebebasan di papua barat, eben juga berniat untuk melakukannya lebih dari sekedar menempel fakta-fakta yang sempit penafsirannya. Tetapi bekerja untuk mengetahui hal-hal yang penting dan mengetahui hal-hal yang baik pula, bekerja untuk kerajinan potret etnografi untuk beberapa realittas hidup berdampingan di papua barat. Mencatat tidak terduga, visi harapan dapat menghasilkan kemungkinan politik muncul.

0 comments:

Post a Comment