Thursday, April 17, 2014



8th Class Review
Written by Muhammad Saefullah

            Bagaikan seorang Jose Morinho yang selalu punya target untuk tim asuhannya. Ceruk-ceruk baru harus diteroka oleh kita sebagai kaum akademisi di Pendidikan Bahasa Inggris, jangan sampai pemain sekuat asuhan Mr.Lala dangkal akan informasi. Setengah musim yang sudah dijalani ini memberikan tamparan yang sangat keras untuk merebut gelar ‘The Winner’ dalam kompetisi Writing & Composition 4. Selaku pelatih, Mr.Lala ingin timnya ini bisa melenggang bebas dan menyelesaikan permainan yang tinggal menghitung bulan lagi. Setengah musim kedepan pemain digadang-gadang akan diuji dengan sejarah dilematis yang ada di Negara Indonesia hingga sekarang.
            Jum’at 04 April 2014 menjadi saksi bisu dalam janji kebangkitan setengah musim nanti. Berbagai puing-puing inspirasi bertebaran untuk memberikan suntikan semangat kepada para pemain, sorotan mata begitu tajam terfokus kepada pelatih yang baru datang dari tournya musim ini. Beberapa hal yang perlu disimpan dalam memori pemain ketika berlaga di lapangan ialah salah satunya focus. Dengan kekuatan yang on fire pemain dalam Writing & Composition 4 harus bisa mengatur konsentrasinya saat berlaga, disamping itu juga menurutnya tidak ada pemain bintang writing yang sukses tanpa adanya commitment dalam sesi latihan maupun sesi pertandingan. Pemain yang siap menghadapi laga yang begitu ekstim pastilah harus tahan banting (perseverance) untuk menghadapi berbagai tantangan, satu hal yang harus diperhatikan ialah teamwork. Tidak pernah ada club yang sukses menyabet gelar jaura tanpa adanya teamwork dari pemain, hal ini juga berlaku dalam Writing & Composition 4. Buat apa banyak pemain bintang yang bertaburan dalam menulis sedangkan kerjasama antar timnya itu tidak ada, lebih baik melatih pemain yang biasa-biasa saja tapi punya teamwork dan semangat yang tinggi.
            Jemari terus melenggang bebas di arena lapangan yang siap akan ide-ide. Tak henti-hentinya teriakan diberikan untuk semua pemain yang siap berlaga, sesi latihan yang ke-8 kemarin nampaknya menjadi buih yang brilliant untuk mengembangkan wawasan kita terhadap tanah air Indonesia. Dialah Papua yang menjadi warming up dalam setengah musim nanti dan diprediksi akan menjadi trending topic di kalangan akademisi bahasa Inggis. Kita akan mengungkap wilayah paling ujung dari Negara Indonesia ini yang begitu kaya dengan alamnya.
            Group-group kecilpun dibagi oleh Mr.Lala untuk meneliti salah satu artikelnya S. Eben Kirksey yang berjudul Don’t Use Data as a Pillow. Artikel ini mengungkap Papua yang dilihat dari berbagai sudut pandang berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh pengarang. Judul yang tersemat di atas paragraf pertama ini terlihat begitu elegant dan penuh arti, berbagai ekspektasi dari setiap group mewarnai tentang judul dari artikel Eben. Divisi atas yang berjumalah 7 group ini sangat spektakuler dalam memprediksi sebuah judul yang sulit, tak heran jika artikel tentang Papua ini telah menjelma menjadi sosok yang menghipnotis dan membuat penasaran pembaca untuk mencari tahu lebih lanjut.
            Berawal dari group kecil pertama yang diwakili oleh Ms.Qori, mereka berpendapat bahwa istilah yang digunakan pengarang yaitu kata “Data” diibaratkan sebagai suatu kuburan dan “Pillow” berperan sebagai hal yang menutupi. Dianalogikan data merupakan suatu kebenaran yang terkubur selama ratusan tahun, tidak ada satu orangpun yang mengetahuinya. Hal ini disebabkan karena tertutupinya oleh sebuah sandungan yang abadi menutupi semuanya. Kemudian menurut group kedua “Data” ini diibaratkan sebuah informasi yang tidak pernah terungkap, sedangkan “Pillow” sendiri telah menghalangi informasi untuk dipublikasikan kepada masyarakat yang belum tau apa-apa. Group ketiga menduga bahwa “Data” itu sebenarnya  sesuatu yang bisa menguntungkan (evidence) sekelompok yang bersifat kecil maupun besar, kemudian tidak bisa memberi manfaat kepada orang disekitarnya karena tertutupi oleh sebuah hal “Pillow”. Kemungkinan yang selanjutnya datang dari group keempat, mereka berasumsi bahwa “data” yang digunakan di dalam judulnya Eben itu merupakan sebuah informasi, namun informasi itu lagi-lagi tidak dapat diketahui oleh banyak orang karena ada faktor kata-kata “pillow” yang dalam bahasa Indonesia berarti bantal. Data itu ilmu, dugaan itu datang dari group lima yang menganalogikannya dengan kata “pillow”. Menurut group enam “data” itu sumber segala hal yang memberi banyak manfaat namun tidak bisa diambil manfaatnya karena terhalang oleh “pillow”. Dugaan terakhir yaitu dari kelompok tujuh yang berasumsi “data” itu merupakan sebuah fakta.
            Semua dugaan yang telah muncul dari pemain Mr.Lala itu memang benar dan hampir mencapai arti yang hakiki dari judul “Don’t Use Your Data as a Pillow ini. Logika untuk memahami judul artikel ini bantal itu diibaratkan sesuatu yang bersifat opsional, dalam kehidupan sehari-hari kita tidak mungkin kerap kali ingin tidur selalu menggunakan bantal/pillow. Bahkan, ada beberapa orang yang hanya bisa tidup nyenyak tanpa adanya alas kepala yaitu pelatih kita sendiri. Begitu juga dengan bukunya Eben ini, berbagai data yang dikumpulkan dari Papua itu hanya digunakan sewaktu-waktu saja tidak selalu digunakan dalam berbagai alasan. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang mubadzir, buat apa banyak data tentang Papua tetapi jarang digunakan, percuma. Melihat sebuah Research “data” itu merupakan sesuatu yang bersifat obligation atau wajib ada dalam penelitiannya, sedangkan judul tersebut mengungkap data-data itu bersifat opsional.  Jangan sampai data/penelitian itu menggunakan ornamen-ornamen saja untuk eksistensinya.
            Warming up untuk membahas Papua pada trivia quiz kemarin memang sudah menggugah hasrat para pemain writing untuk meneliti lebih lanjut. Mendiskusikan wilayah ini sangatlah kompleks dan perlu hati-hati untuk menelaah berbagai sumber, karena banyak pihak-pihak yang menuliskan Papua dengan perspektif yang berbeda-beda. Papua Barat atau West Papua merupakan sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Australia dan merupakan bagian dari wilayah timur Indonesia. Sebagian besar daratan Papua masih berupa hutan belantara, pulau ini merupakan pulau terbesar ke-dua di dunia setelah Greenlad. Sekitar 47% wilayah pulau Papua merupakan bagian dari Indonesia, yaitu yang dikenal sebagai Netherland New Guinea. Papua memiliki luas area sekitar 421.981 kilometer persegi dengan jumlah populasi penduduk hanya sekitar 2, 3 juta. Lebih dari 71% wilayah Papua merupakan hamparan hutan hujan tropis yang sulit ditembus, karena terdiri dari lembah-lembah yang curam dan pegunungan tinggi, dan sebagian dari pegunungan tersebut diliputi oleh salju. Perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini ditandai dengan 141 garis Bujur Timur yang memotong pulau Papua dari utara ke selatan.
            Lika-liku wilayah Papua ini begitu rumit dari jaman dahulu, begitu juga dengan penamaannya. Awalnya wilayah ini bernama Irian Barat yang diberikan oleh presiden pertama yaitu Soekarno. Irian mempunyai kepanjangan Ikut Republik Indonesia Anti Nederland, penamaan ini bertahan dari tahun 1969-1973. Kemudian nama Irian Barat diganti oleh Presiden Soeharto menjadi nama Irian Jaya, ketika meresmikan tambang tembaga emas dan emas Freeport, nama itu tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002. Nama provinsi tersebut itu diganti lagi menjadi Papua sesuai dengan Undang-Undang Khusus Papua Nomor 21 Tahun 2001 pada tahun 2004. Berbagai aksi protes mewarnai povinsi ini. Papua kemudian dibagi dua provinsi oleh pemerintah. Wilayah bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian Barat bernama provinsi Irian Jaya Barat (kini Papua Barat). Penduduk asli Papua Barat merasa bahwa merka tidak memiliki hubungan sejarah dengan Indonesia maupun dengan Negara Asia lain.
            Ada beberapa hal yang bisa kita lihat dari nama Irian Jaya dengan Papua. Nama Irian Jaya yang dicetus oleh presiden Soekarno beberapa orang berpendapat bahwa nama itu merupakan keinginan penguasa, sehingga untuk meminimalisasi hal tersebut maka diganti dengan dengan nama Papua Barat. Perubahan tersebut menurut Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno penamaan pemekaran provinsi sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Otnus tentu saja akan menyamakan penamaan provinsi seperti Papua Barat, Papua Selatan, Papua Tengah.
            Permasalahan Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah terjadi sejak permulaan integrasi Papua ke dalam NKRI. Penyelesaian Papua Barat berlarut-larut bahkan tidak selesai hingga 1961, sampai terjadi pertikaian antara Indonesia-Belanda untuk memperebutkan wilayah tersebut. Melalui perjanjian New York, disepakati Papua Barat diserahkan kepada PBB melalui United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA). Kemudian pada tangal 1 Mei 1963 Papua Barat diserahkan sepenuhnya kepada Indonesia, kedudukan papua Barat menjadi lebih pasti setelah diadakan sebuah referendum act of free choise pada tahun 1969. Proses integrasi yang diadakan melalui penentuan pendapat rakyat (PEPERA) di tahun 1969 ini telah menghasilkan bahwa Papua itu termasuk ke dalam wilayah Indonesia.
            Sosok presiden Soekarno dalam mempertahankan Papua sebagai satu kesatuan NKRI tidak bisa terlepaskan. Peranan Ir.Soekarno pada tanggal 19 Desember 1961 telah mencetuskan operasi TRIKORA yang bertempat di alun-alun Utara Yogyakarta. Isi TRIKORA yaitu:
1.      Gagalkan pembentukan Negara Papua oleh Belanda
2.      Kibarkan merah-putih di Irian Barat tanah air Indonesia
3.      Bersiap untuk mobilisasai umum
Trikora merupakan sebuah operasi yang bertujuan untuk mengembalikan wilayah Papua Barat ke NKRI. Trikora muncul karena adanya kekecewaan dari pihak Indonesia yang selalu gagal dalam perundingan dengan Belanda untuk mengembalikan Irian Barat yang secara sepihak diklaim sebagai salah satu provinsi kerajaan Belanda. Soekarnopun berhasil mengadakan perjanjian jual beli senjata dan peralatan tempur buatan Amerika, dengan berhasilnya mendatangkan peralatan militer yang banyak Indonesia menjelma menjadi Negara yang memiliki angkatan udara terkuat di bumi bagian selatan. Soekarno juga membentuk komando MANDALA yang dikomandani oleh Mayjen. Soeharto yang bertugas untuk merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian Barat dengan Indonesia. Untuk melakukan tugas tersebut Mayjen. Soeharto menerapkan strategi Infiltrasi (penyusupan), Eksploitasi, dan Konsolidasi.
            Kolonialisasi yang telah dilakukan Belanda terhadap Papua telah menyebabkan konflik hingga saat ini. Bahkan suatu organisasi yang ada di Papua yaitu Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang ingin memisahkan diri dari NKRI telah banyak berperan salah satunya sebagai pendukung dari kemerdekaan Papua. Organisasi Papua Merdeka mencoba memproklamirkan kemrdekaan Republik Papua Barat namun tidak berhasil. Kemudian pada tanggal 14 Desember 1984 Republik Melanesia Raya diproklamirkan tapi pemimpinnya ditangkap aparat Indonesia.
            Organisasi Papua Merdeka berdiri pada tahun 1965 dengan tujuan membantu dan melaksanakan penggulingan pemerintahan yang saat ini berdiri di provinsi Papua dan Papua Barat di Indonesia. Orgainisasi ini menggelar kampanye di sejumlah Negara seperti Belanda dan Australia ini menunjukkan keseriusan mereka unutk melepaskan diri dari NKRI. OPM berdalih bahwa “Kami tidak mau kehidupan modern! Kami menolak pembangunan apapun: rombongan pemuka agama, lembaga kemanusiaan dan organisasi pemerintahan. Organisasi ini mendapatkan dana dari pemerintah Libya pimpinan Mammar Gaddafi dan pelatihan dari grup gerilya New People’s Army beraliran Maois yang ditetapkan sebagai organisasi teroris asing oleh Departemen Keamanan Nasional Amerika Serikat, organisasi ini dianggap tidak sah di Indonesia.
            Rakyat papua yang tergabung dalam OPM menyuarakan keadilan di atas tanah Papua dihancurkan secara sistematis. Atas nama keutuhan NKRI, pembunuhan, penghilangan, dan pemerkosaan rakyat Papua dilegalkan. Sumber Daya Alam terutama hasil hutan, laut, tambang, dan minyak bumi dikeruk sampai tidak ada sisa. Eksploitasi sumberdaya alam di tanah Papua terus berlangsung, sementara manusia Papua terabaikan bahkan terlupakan. Akibatnya, penduduk dan orang Papua yang berdiam di tanah ini tercatat sebagai manusia termiskin di Indonesia. Orang papua berteriak karena setelah sekian tahun bergabung dengan Indonesia mereka tidak mengalami kemajuan apa pun. Pembangunan yang dilakukan di Papua dinikmati oleh kaum imigran yang tinggal di kota-kota di Papua. Sementara orang Papua sendiri semakin termarginalkan tidak menikmati apa pun. Namun, setiap gejolak yang muncul selalu ditafsirkan sebagai upaya untuk memisahkan diri dari NKRI. Entah mengapa Indonesia selalu takut  dan alergi terhadap tuntutan orang Papua untuk memisahkan diri, kalau pembangunan berjalan dengan lancar, kalau saja orang Papua diperhatikan, kalau saja orang Papua derajat dan martabat hidupnya dihormati tentu tudak aa suara-suara merdeka/referendum “ngapain orang Papua berteriak merdeka, akalu mereka sudah sejahtera?”.
            Profesor Massachusetts Institute of Technology (MIT) Noam Chomsky juga ikut berpendapat tentang gejolak yang ada di papua. Chomsky menilai Amerika Serikat dan Australia berada di balik Papua Barat, menurutnya kedua Negara itu melakukan skandal besar mengenai masalah papua. “Saya piker perlawanan Papua Barat akan berdiri dengan kasus lainnya dalam perlawanan terhadap terror dan penindasan besar-besaran sebagai inspirasi dari apa yang manusia dapat capai dan itu belum mungkin berhasil. Juka (Negara-negara merah) barat bersedia untuk menghadapi tanggung jawab dan tindakan itu, hal ini dapat berhasil” ungkap Chomsky. AS dan Australia menurutnya ialah sebagai aktor utama dibalik skandal Papua Barat karena kepentingan atas sumber daya alam. Indonesia hanyalah sebuah Negara yang disupport oleh Amerika Serikat unutk menjalankan skandal tersebut. Amerika menurut Chomsky mendukung demokrasi dan kebangsaan bagi semua namun bersekutu dengan organisasi non-demokratis dan represif seperti Chilli di bawah Augusto Pinochet yang merupakan pelanggaran HAM besar-besaran.
            Orang Papua yang mempuyai pemikiran dan tindakan yang kritis selalu dicap sebagai separatis. Bentuk kecurigaan pemerintah RI terhadap orang Papua termanifestasi dalam dan melalui kehadiran aparat militer yang tidak dapat dihitung. Di mana-mana di tanah Papua dibangun pos-pos militer untuk mengawasi gerak hidup orang Papua. Akibatnya, orang Papua tidak merasa nyaman di atas tanah airnya sendiri. Papua sudah hidup menderita, selalu diawasi, dan diberi aneka stigma negatif, bagaimana rasanya gidup menderita di atas tanah yang kaya raya? Bagaimana menyaksikan orang lain hidup kaya raya sementara para pemilik tanah ini hidup melarat.
            Secara pribadi, jika dari pemerintah Indonesia masih saja membiarkan dan tidak ada tindakan represif apapun untuk Papua, Merdeka memang sudah menjadi harga mati untuk tanah Papua. Pasalnya berbagai aktifitas yang dilakukan oleh para investor-investor asing sudah mengeruk kekayaan yang ada di Papua namun pribuminya sendiri menderita, pantas saja Papua mencari dukungan dari Negara-negara lain untuk merdeka. Akan tetapi, jika para pejabat masih ingin Papua itu menjadi bagian dari NKRI tentu wilayah yang kaya itu tetap akan dipertahankan dengan berbagai cara. Jangan sampai wilayah yang sudah direbut dengan penuh perjuangan lepas begitu saja, pemerintah akan mengadakan konsolidasi dengan OPM untuk mengambil jalan tengah agar terjadi kesepakatan bersama.
            Akhirul Kalam, dapat disimpulakan bahwa dari pembahasan di atas Papua memanglah wilayah yang mutlak milik Negar Indonesia. Berbagai perjuangan telah dilakukan oleh pejuang termasuk sosok Soekarno lewat TRIKORA untuk mempertahankan tanah Papua, jangan sampai orang lain yang menginginkan kekayaan alam mengobok-obok Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika tanah Papua ingin kemerdekaan tentu kita sebagai masyarakat yang sadar akan budaya literasi merenungi kenapa bisa seperti itu, pemerintah juga mesti bertindak represif untuk menyingkapi kemungkinan Papua ke depan bagaimana. Sudah cukup adanya Freeport itu menjadi mimpi buruk bangsa Indonesia yang tak terprediksi entah kapan selesainya.

REFERENCES
https://www.facebook.com/InfoPengetahuanUmum/posts/399973453417669 Diunduh pada tanggal 05 April 2014 jam 13.30 WIB.
            http://www.umaginews.com/2013/06/mengapa-orang-papua-ingin-merdeka.html Diunduh pada tanggal 05 April 2014 jam 13.30 WIB.
http://www.myheritage.com/FP/newsItem.php?s=11319482&newsID=42 Diunduh pada tanggal 05 April 2014 jam 13.30 WIB.

Tanggapan Terhadap Salah Satu Artikelnya Eben Yang Berjudul Don’t Use Your Data as a Pillow:
            Untuk memahami artikelnya Eben memang butuh konsentrasi penuh, salah satu kata yang disematkan pada judulnya yaitu kata “data”. secara linguistik, menurut buku yang dikarang oleh Mikko Lehtonen bahasa dan sistem yang lainnya itu merupakan simbol yang tidak bisa ada di dunia secara abstrak, keberadaan data itu tentunya ditulis dengan bahasa yang tersusun secara benar. Konsep dari bahasa itu sendiri tidak dalam hal tulis menulis dan berbicara saja, namun konsep dari bahasa itu berkembang meliputi gambar dan musik. Salah satu jalan untuk membagi text kedalam verbal and non verbal itu bisa dilihat dari hal yang ditulis atau dibicarakan.
            Pembahasan yang ada di artikelnya Eben ini mempunyai relasi dengan apa yang ada di buku Lehtonen. Menulis dan berbicara tentang data itu ditandai karena verbal mereka, menulis juga bisa dibandingkan sebagai tipe dari teks visual dan berbicara sebagai tipe dari teks pendengaran. Selain itu, pembahasan tentang kualitas pendengaran dan visual ditekankan pada fakta dan teks itu sendiri yang selalu jelas dilihat dari mata dan pendengaran. Data yang dimuat oleh Eben tentang Papua itu juga bisa termuat dalam dua bentuk yaitu verbal dan non-verbal. Data verbal dikategorikan melalui pendengaran itu bisa lewat berbicara, sedangkan lewat visual dilihat dari proses menulisnya. Sedangkan data non-verbal pendengarannya itu meliputi music dan penglihatannya dengan gambar, begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Eben di Papua.
Secara garis besar, artikel yang baru dibaca sampai paragraph 26 ini menceritakan penelitiannya di tanah Papua untuk melengkapi salah satu tugas akhirnya untuk lulus dari pascarjana di salah satu Universitas. Eben datang ke Papua sebanyak dua kali, pertama pada tahun 1998 dan datang lagi pada tahun 2003 di bulam mei. Pada akhir penelitiannya Eben menggelar pesta adat yang dikomandoi oleh Deni Yomaki dengan berbagai persiapa, menurutnya pesta ini hanyalah pesta yang sederhana jika di Amerika. Namun di Papua pesta yang digelarnya sangatlah mewah.
            Eben datang ke tanah Papua sebenarnya untuk meneliti dan berharap datang tepat pada musim panas, tetapi prediksinya meleset karena kebetulan pada saat itu di tanah Papua sedang musim hujan. Secara garis besar, artikelnya ini ingin meneliti tentang seluk-beluk Papua dari berbagai aspek untuk nanti disajukan di siding akhirnya.
            Di tanah Papua, penelitiannya dilakukan dengan datang langsung ke salah satu tempat yang ada di sana yaitu Wasior. Di Wasior Eben bertemu dengan seorang yang bernama Waropen yang bekerja sebagai komnas HAM di Papua. Banyak cerita-cerita yang di dengar oleh peneliti tersebut tentang Papua salah salah satunya tentang kekerasan yang ada. Kekerasan yang ada seperti genosida, penembakan militer kepada mahasiswa yang protes dan yang lain sebagainya. Kekerasan ini justru menimbulkan pertanyaan kenapa dilakukan oleh militer Indonesia sendiri, operasi yang dilakukan oleh militer tentu membuat rakyat Papua merasa gentar dan tidak bebas untuk bergerak di wilayahnya sendiri.
            Jangan gunakan data kamu sebagai bantal memang judul yang membuat penasaran pembaca. Hal ini telah dikutip secara eksplisit bahwa Waropen kurang begitu setuju dengan apa yang dilakukan oleh Eben tentang penelitiannya. Alasan yang diungkapkan menurtu Waropen jangan hanya menggunakan penelitiannya sebagai jembatan untuk peluang professional Eben sendiri. Di sampiing itu ceruk baru yang ditemuakan juga yaitu mewawancarai dukun yang ada di Papua. Ekspektasi yang ada dukun-dukun itu menyebabkan adanya gempa di pusat Jawa unutk menegakkan pesawat militer petingi. Tentulah untuk mendapatkan data yang jelas ini eben tidak serta merta menyebutkan identitasnya, suatu hal yang wajib untuk menyembunyikan identitas yang ada (anonym) agara tidak bisa digugat jika ada yang salah, menurut Eben.
Strengths as a Reader:
1.      Membacanya terasa benar-benar masuk dalam suasana buku sebagai pembaca.
2.      Artikel eben membuat penasaran pembaca khususnya bagi rakyat Indonesia yang masih minim sisi terang dan gelap wilayah Papua.
3.      Untuk memahami tokoh-tokoh sedikit terhambat dalam artikelnya.
Weakness as a reader:
1.      Kata-kata yang digunakan sulit untuk dipahami sehingga butuh pemahaman yang lebih.
2.      Urutan kejadian memaksa kita harus  banyak mencari informasi karena berkaitan dengan sejarah.
3.      Judul yang digunakan itu kaya akan imajinasi, sehingga tidak langsung paham.
4.      Ide-ide terlalu banyak sehingga untuk menggabungkannya harus hati-hati.
5.      Paragraf pertama diawali dengan sebuah pesta, hal ini mengakibatkan saya sebagai reader susah untuk langsung menangkap isi dari artikel.

0 comments:

Post a Comment