Sunday, April 6, 2014


Papua; Dimakan Mabuk Dibuang sayang
Setelah masa hibernasi selama satu minggu, tanpa tugas dan class review. Kini, kita mempunyai proyek yang tidak tanggung-tanggung menantangnya. Proyek ini akan menjadi proyek pertama kami tentang argumentative essay. Akan tetapi sebelum menuju proyek tersebut, kami diwarming up untuk menjadi seorang intensive reader. Sebuah artikel dari S. Eben Kirksey berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow” kami baca melalui sebuah grup kecil atau semacam reading club yang terdiri dari 5 orang anggota. Disana kami sharing satu persatu kalimat yang Eben tulis. Dimulai dari judul yang menurut kami mempunyai sebuah pesan yang besar. “Don’t Use Your Data as a Pillow” menceritakan tentang penelitian Eben di Papua Barat. Ditinjau dari judulnya seperti terdapat dua fokus disana yaitu data dan pillow. Data sendiri bisa dimaknai sebagai informasi, data didapatkan ketika seseorang melakukan research.  Dan bantal adalah benda yang biasa dijadikan alas untuk menyanggah kepala. Sehingga apa yang bisa disimpulkan kami kemarin dari “Don’t Use Your Data as a Pillow” seperti sebuah larangan untuk menggunakan data sebagai alas atau dasar, yang membuat nyaman dan terlena.  Apa yang kami lakukan diakui oleh Lehtonen dalam bukunya (The Cultural Analysis of : 77) :
‘The work itself’ is an abstract produced from a concrete text by a
researcher. Often, another equivalent construction ‘the qualified reader’
sets to reading it. ‘Qualified’ readers, in turn, appear to be those who
attempt to obey the instructions formed by the system of unchanging
qualities that the text contains. Therefore, ‘a qualified reader’ is able to see
what ‘the work itself’ is. Again, the touchstone of qualification is expressly
this ability to see ‘behind’ the text. When a reader is capable of recognizing
the being of some text, s/he becomes ‘qualified’. The circle is complete: a
qualified reader defines ‘the work itself’, which in turn defines the qualified
reader.
Menjadi qualified reader adalah dengan membaca secara detail, tanpa melewatkan satu katapun. Dimana kami harus membaca secara detail dan membuat meaning negotiation bersama teman-teman satu grup
Eben menulis tentang penelitiannya di Papua Barat, dimana Papua Barat adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian barat Pulau Papua. Ibukotanya adalah Manokwari. Mendengar Papua Barat langsung terbersit dibenak tentang apa yang terjadi di provinsi ini, dari dulu hingga saat ini Papua Barat selalu penuh dengan masalah yang kompleks. Kompleksitisitas permasalahan yang terjadi di Papua Barat seperti mengendap bagai api dalam sekam. Heterogenitas etnik yang tinggi, kebudayaan dan kompleksitas adat yang ada, serta gerakan sosial di tanah Papua memiliki sejarah yang komplek membuat penuh ketegangan dan konflik. Belum lagi dengan etnik, bahasa, kepercayaan/agama, struktur sosial, tradisi, dan kondisi geografis yang berbeda-beda.
            Kompleksitas permasalahan yang terjadi ditanah Papua semakin pelik. Percikan-percikan ekspresi rakyat Papua terus-menerus muncul sebagai reaksi atas ketidakadilan, kekerasan, dan pengingkaran akan kemanusiaan. Salah satu momen penting pentas kekuasaan terhadap tanah Papua terjadi pada tahun 1940-an hingga 1960-an.  Saat itu terjadi perang dunia II yang berimplikasi kepada proses penyerahan kedaulatan Belanda terhadap Indonesia termasuk di dalamnya Papua. Proses peralihan kekuasaan ini berujung pada Penentuan Pendapat Rakyat (Perpera) Juli-Agustus 1969 yang menyatakan Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, pasca Perpera tersebut terjadi konflik yang berkepanjangan.
Berikut adalah 26 poin dari 26 paragraf artikel “Don’t Use Your Data as a Pillow” hasil diskusi reading club:
1.      Pesta  perpisahan sebagai bentuk penghormatan rakyat Papua (terutama Denny Yomaki) kepada S. Eben Kirksey dan diadakan dengan sangat tradisional
2.      Berawal dari Eben yang hendak meneliti kekeringan di Papua namun berubah jadi meneliti kehidupan orang Papua, terutama keadaan politiknya yang pada saat itu masa reformasi. Salah satunya sikap penasaran ia terhadap perubahan nama dari Papua Barat menjadi Irian Jaya.
3.      Konflik yang ada di Papua menjadi seperti sebuah peristiwa genosida, pembunuhan dengan mudahnya bisa terjadi.
4.        Tentang AS yang mendukung adanya dukungan terhadap militer, dan menginginkan Papua merdeka.
5.      Eben merasa dirinya sebagai sekutu dalam gerakan yang dilakukan oleh masyarakat Papua yang kebanyakan ingin merdeka, dan memisahkan diri dari Indonesia.
6.      Telys Waropen seorang pembela dan anggota Komnas HAM namun lebih dianggap sebagai penghasut muda.
7.      Penelitian Eben di Wasior, ketika militer pemerintah Indonesia melakukan Operasi Penyisiran dan Penumpasan)
8.      Penelitian Eben dibawah pengawasan semua pihak
9.      Eben dan Denny Yomako mencoba mewawancari shaman namun urung dilaksanakan karena tidak berani mengambil resiko
10.   Eben mulai melihat Waropen sebagai sumber yang penting untuk penelitiannya
11.   Eben meminta Waropen agar bisa ia wawancarai, namun Waropen mengatakan bahwa yang mewawancarainya harus merahasiakan namanya. Atau dengan kata lain menjadikan Waropen sebagai sumber anonim
12.   Ketika sumber anonym bisa diperhitungkan
13.  Namun, sumber anonym selalu dicurigai
14.  Data menjadi andalan dibanding dengan wawasan dari budaya kritis
15.  Disana terdapat hak asasi manusia karenanya mengapa saksi harus dilindungi. Itu sebabnya, jangan hanya menggunakan data sebagai bantal, sebagai pendukung untuk profesi sendiri. Tapi gunakanlah untuk yang sebenanya harus diluruskan.
16.  Eben melalui Waropen yang memprovokasi dirinya, untuk melihat lebih detail terhadap kaum yang termarjinalkan
17.  Warophen memprovokasi Eben, dengan meminta meninjau balik apa itu “data” dalam penelitian anthropology
18.  Waropen memberi penyadaran kepada Eben, bahwa ia harus melakukan aksi nyata. Tidak hanya lewat kata-kata
19.  Pertanyaan besar mengenai hubungan Beyond Petroleum (BP), provokasi militer, korban polisi, dan kemerdekaan Papua?
20.  Menguhubungkan kekerasan di Wasior dengan BP
21.  John Rumbiak (pembela HAM di Papua) meminta Eben untuk datang ke London untuk membicarakan tentang BP dan iklim HAM di Papua. Bersama Dr Byron Grote
22.  Eben bertemu dengan Rumbiak sebelum pergi ke kantor BP. Rumbiak, seorang pria yang murah senyum
23.  Berhadapan dengan orang yang berkuasa di Eropa membuat Eben terpacu adrenalinnya. Byron Grote dan O’ Reilly adalah orang penting BP, dimana sebelumnya bekerja di BP Colombia perusahaan yang terlibat kontroversi paramiliter yang membunuh aktivis lingkungan
24.  Pernyataan jelas Rumbiak bahwa BP dengan kebijakan keamanan telah menghasut kekerasan
25.  Akan tetapi Grote tetap yakin bahwa perusahaan berbasis keamanan ini akan terus bekerja, jika tidak maka akan ada perusahan ladang gas lain yang akan masuk ke Papua
26.   Rumbiak meminta Eben untuk berbicara tentang penemuannya di Wasior bahwa ada tidaknya peran BP dalam kisruh di Papua

Dari artikel Eben diatas, kita tahu bahwa apa yang Eben tulis menunjukkan siapa dirinya, dan di sisi mana ia berpihak. Akan tetapi, yang ada di artikelnya adalah "analisa".  Sekedar hipotesa, pihak satu mengeluarkan  hipotesa ini, pihak lain juga punya versi lain, sehingga masyarakat hanya bisa menduga-duga, menafsir-nafsir saja. Itu juga mengapa konflik di Papua berkepanjangan. 
Kesimpulannya, selain kompleksitisitas sejarah dan manipulasi status politik, ingatan kekerasan dan ingatan penderitaan rakyat Papua menjadi persoalan paling akut dan membekas.  Ingatan sosial kejahatan  kemanusiaan pemerintah Indonesia melalui aparat TNI/Polri diwariskan secara turun temurun menjadi “ingatan penderitaan bangsa Papua” dan dasar gerakan sosial yang ada. Di tanah Papua, sudah menjadi pandangan umum bahwa aparat TNI/Polri jauh melebihi tenaga pendidikan dan tenaga kesehatan. Wilayah-wilayah dimana kehadiran TNI/Polri amat dominan biasanya rentan mengalami konflik dan bentrokan antar rakyat, dan gerakan perlawanan


 

0 comments:

Post a Comment