Saturday, April 5, 2014

12:53 AM
Judul dari sebuah tekas adalah segalanya, sebelum ‘prima facie principle’ dibaca seorang pembaca cenderung melihat judul dari teks itu sendiri. Dari judul pembaca akan memutuskan apakah ia akan melanjutkan membaca atau tidak, jadi intinya sebuah judul itu harus bisa menarik perhatian pembaca. Selain menarik judul juga harus tepat dan sesuai dengan apa yang diungkapkan di teks karena judul itu sebuah rekonstruksi dari apa yang sebenarnya hendak diungkapan oleh peenulis di dalam teks. Sebagai penulis, kita juga harus mengetahui bahwa kritikan itu dimulai dari judul  apakah judul itu pas untuk mewakili keseluruhan teks atau tidak. Dari pemaparan di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa judul mempertaruhkan nasib sebuah teks, apakah teks itu dapat diterima/diminati banyak orang atau tidak.
Selanjutnya sebagai seorang penulis, kita harus sudah menyadari bahwa tulisannya harus bisa memberikan pemahaman baru bagi pembaca dalam arti penulis harus bisa memenuhi aspek affordance (sanggup merubah) setidaknya satu pandangan seorang pembaca terhadap sesuatu pokok bahsan. Kegiatan menulis adalah semogenesis yang bisa diartikan sebagai meaning making practice, maka dari itu penulis harus bisa menyajikan tulisan yang membangun pengertian antara penulis dan pembaca.
Kemudian hal selanjutnya yang harus diperhatikan oleh penulis yaitu ‘thesis statement’ yang disebut dengan ‘milestone’ (batu loncatan) yang menjadi awal dari semogenesis antara penulis dan pembaca dan menjadi sandaran pertama pembaca tentang apa yang sedang ia pahami di dalam teks.
Milan Kundera dalam artikel ‘Art Du Roman 1986 berkomentar bahwa seorang puitis adalah ia yang bisa menghancurkan dinding yang mana di balik dinding tersembunyi sebuah rahasia. Dalam konsep ini seorang puitis tidak jauh berbeda dengan sejarawan yang mana sejarawan itu sama dengan seorang linguist dan persamaannya itu terletak pada kiprahnya sebgai seorang yang bisa mengungkap seguah persembunyian yang menyimpan rahasia.
Berlanjut pada pembahasan tugas seorang penulis, seorang penulis harus bisa meredam asumsi yang telah beredar di kalangan masyarakat tentang suatu hal. Ini adalah tugas yang besar dan berat bagi seorang penulis dan tugas ini tergantung kepada seberapa pintar ia bersilat lidah di atas sebuah kertas.
Seorang penulis menuliskan sebuah teks berdasarkan ideologinya masing-masing, begitu pula ketika menulis sejarah, seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa tidak ada sebuah teks yang netral. Dalam penulisannya sejarah ini tidak akan pernah putus dan akan terus menerus ada seperti penemuan yang ada pada diri kita (self discovery) yang akan terus ada sesuatu yang baru yang kita temukan dalam hidup kita. Dalam hal ini bisa dianalogikan kepada pengembaraan para nabi yang mana dalam perjalanannya selalu berdakwah kepada umatnya dan di ditulah ditemukan sebuah pembaruan dan continouitas berkesinambungan tentang penyebaran agama Islam dan tidak akan pernah putus hingga akhir dari kehidupan dunia, episode terakhir dari sandiwara kehidupan umat manusia.
Kesinambungan penulisan sejarah adalah satu dari tombak fakta atau data yang merupakan bukti tertulis sebuah sejarah adalah satu dari tombak fakta atau data yang merupakan bukti tertulis sebuah sejarah, dikatakan di materi 7th meeting of writing4 bahwa sejarah merupakan sebuah misi dari puisi yang mana di situ sejarah mengungkap sebuah fakta dengan cerita, namun bukan sekedar cerita karena di dalamnya terdapat bukti atau fakta yang telah terjadi di masa lampau tentang bagaimana bentuk teks atau penulisannya itu kembali kepada ideologi penulis sejarah itu sendiri.
Misi yang dimunculkan oleh sebuah pujangga haruslah bisa merubah asumsi pembaca seperti yang telah dituliskan di halaman sebelumnya bahwa penulis harus mampu merubah asumsi (point of view) pembaca terhadap suatu pokok bahasan (kasus) dengan ini maka pujangga sudah bisa dikatakan sebagai seseorang yang telah mencapai misinya.
Sejauh pemaparan ini saya mengambil garis besar yang merangkum keseluruhan dari isi yang tertulis di teks ini. masih tentang penulis yang menjadi kajian utama di writing4 ini yang juga disokong oleh literasi sebagai patok kehidupan ini.

Pertama yaitu judul yang menjadi penentu awal kesuksesan sebuah teks. Kedua yaitu affordance yang disamakan dengan ‘meaning making practice’ dan menjadi langkah awal adanya pemahaman satu sama lain antara penulis dan pembaca. Ketiga masih tentang thesis statement yang diistilahkan sebagai ‘milestone’ (batu loncatan) yang menjadi dasar akan kesadaran pembaca tentang apa yang sedang ia pahami dari teks itu.

Milan Kundera
‘to write, means for the poet to crush the wall behind which something that was always there hides’ 

0 comments:

Post a Comment