Sunday, April 6, 2014



Class Review 6
Pencerahan Seorang Penulis

Seru berperang dalam berbagai konflik yang seketika gempar meruah. Seperti inilah pertemuan yang semakin menantang untuk melawan arus yang ada, dengan berlomba-lomba mendapat hasil  yang memuaskan. Sebenih yang ditanam dengan bibit yang unggul, hama seketika datang sehingga membuat tanamanpun mati, dan tidak sampai berhenti disitu kita dapat mencoba belajar dari sesuatu kejadian yang sudah sudah agar mendapat pencerahan dalam suatu kejadian tersebut. Ibaratkan dalam sebuah gagasan yang akan diulas, kali ini mengenai writing is a matter of enlighten ourselve.
Sebuah tempat yang menyediakan segala sesuatunya yang dibutuhkan untuk para pengunjung, dengan suatu balutan alamiah yang dapat dikombinasikan satu sama lain, begitupun dengan tulisan. Seharusnya dalam sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk tujuan yang diharapkan, hasil dari proses kreatif, istilah ini mengacu pada hasil yang sama meskipun ada berbagai pendapat mengatakan istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Adapun berbagai pokok persoalan didalam tulisan disebut gagasan atau pikiran. Gagasan tersebut menjadi dasar bagi berkembangnya tulisan tersebut. Gagasan pada sebuah tulisan bisa bermacam-macam, bergantung pada keinginan penulis. Melalui tulisannya, penulis bisa mengungkapkan gagasan, kehendak dan pengalaman.
Suatu berbagai dalam menulis yang berkenaan dengan literate knowledge, yang perlu dimiliki oleh penulis yang berkeinginan untuk memenuhi sebuah karya cipta yang berbeda. Sehingga mendapat pencerahan dalam menguasai atau memiliki literasi informasi. Seseorang diharapkan mengetahui kapan informasi diperlukan, kemana menemukannya atau mendapatkannya dan bagaimana mengevaluasi sehingga mengkomunikasikan dengan secara etis. Caul mengatakan bahwa literasi informasi sebagai pemahaman dan kemampuan seseorang untuk menyadari kapan informasi diperlukan secara efektif. Untuk menjadi melek informasi, seseorang harus mampu mengenali kapan informasi dibutuhkan.
Berkenaan tentang menulis bahwa pembaca mendapat pencerahan suatu ketika membaca sebuah buku, bahwa dimana itu terjadi maka seseorang yang literate itu yang mendapat pencerahan atau menyukai kabar dari sebuah kritikal ataupun buku yang cara penyampaiannya berbeda satu sama lain. Dengan ini kita utamakan bahwa kita bisa menjadi orang yang literate, karena hal tersebut orang yang benar-benar menyukai sebuah pengalaman dalam membaca, yang kini dituangkan dalam seorang penulis sebuah tulisan. Kenyataannya bahwa hal itu kita dapat mengetahui biduk pengetahuan yang dapat fikiran kita tercerahkan, bisa dikatakan juga menulis sebagai aktivitas spiritual.
Kita disini masih sebagai fase awal sebagai peniru, karena hal ini mengatakan bahwa kita masih banyak membutuhkan hal-hal yang berupa informasi untuk melengkapi dalam sebuah tulisan. Hal tersebut memahami sebuah teori affordance and meaning yang paling dikhawatirkan ketika kita merasa sudah mendesiminasi, padahal kita baru memasuki tahap meniru. Itulah yang difikirkan ketika mendapat informasi yang berbeda merasa dipihak  yang benar dan pihak yang salah, akan tetapi hati tergugah ketika kita berada disebuah titik menjadi peniru. Dalam permasalahan yang ada, terhadap  menulis bahwa potensial yang ada sebagai acuan untuk menulis dengan sangat baik, karena other signal yang terdapat dimana-mana untuk membantu pemberi informasi yang tertera.
Affordance – Meaning
Potencials – Other Signal
To “ emulate “  à Discovere à Create
To “ emulator “ à Discovere à Create
Suatu ketika kita menjadi peniru terhempas, disitulah seseorang sebagai peniru ada, yang dapat menemukan hal yang menangkap kabar lain untuk diperbadingkan satu sama lain. Dan pada akhirnya kita dapat membuat sebuah karya yang besar dengan pembentukan bagaimana seseorang pembaca tercerahkan. Bahwasannya orang yang literate itu mempunyai banyak ide atau gagasan, itulah hal yang kita harus lebih content untuk mengacu daya fikir yang selalu tergambar pada seseorang penulis. Disini juga tertera bahwa literasi terkait dengan history, karena history dapat kita simpulkan sebuah pengalaman untuk dipelajari sebagai tolak ukur tulisan. Jadi hal tersebut kita harus pelajari, dipahami hingga mengerti, karena hal tersebut untuk menunjang alasan yang akan dipermasalahkan.
Public ideologis merupakan sebuah karya menulis yang sangat kuat dalam isinya, yang berkenaan langsung. “ writing is ideologically motivated, yang terjadi akan tetapi tidak semuanya sama, yang sama adalah benar adnya bahwa dari ideologi besar yang terletak lebih akademis. Asli dari tulisan ini jauh dari masalah yang ada, dan orang menemukan diri mereka sendiri dalam situasi dimana mereka mungkin menulis hanya bagian dari sebuah anggota kecil, secara ekplisit  disini akan membahas atau membandingkan ideology penulisan tertentu. Hal ini kita membuat sebuah penyelidikan baru untuk seorang guru dalam menulis  ideologi sehingga terlihat lebih menarik, karena sikap mereka begitu jauh lebih rumit dari pada hanya memilih sisi mana yang mereka harus menguasainya.
Bahkan membuat lembaran review kecil dari deskripsi utama yang populer atau ilmiah, dalam penulisannya menunjukkan sebuah sikap yang terlihat pada salah satu individu, yang sebagian pembahasan yang sama menulis. Menulis tersebut harus menjadi proses yang sangat kompleks, untuk percaya diri dalam tulisan, kita harus lebih ekplisit senatural mungkin dan percaya bahwa tulisan kita terima dikalangan masyarakat sebagai pencerah pembaca yang baik. Fowler (1996 : 10) “ seperti para linguis kritis sejarawan yang bertujuan untuk memahami nilai-nilai yang mendukung formasi sosial, ekonomi, dan polotik atau diakronis perubahan nilai yang terkandung dan perubahan formasi”.  Fowler saidd (1996 : 12) “proses sejarah  ideologi ini tentu saja baik untuk menunjang yang berisi alat dan media.”
Dalam setiap teks tunggal terdapat ideologi yang berupa (lisan, tertulis, audio, visual atau kombinasi dari semuanya). Prof. Chaidar Alwasilah mengatakan 2001;2012, bahwa literasi itu sangat netral, oleh karena itu secara ideologis membaca dan menulis itu selalu termotivasi sebagai orang yang berliterasi tinggi. Didalam perguruan tinggi menulis sering dapat membentuk sebuah ajakan, untuk meyakinkan orang lain bahwa tulisan kita itu menarik. Dan subjek sudut pandang logikanya harus dipelajari. Persuasi adalah berlatih secara teratur dalam sebuah ajakan yang dapat mengundang, yang selalu terterap dalam kehidupan sehari-harii. Sebagaimana kita hrus terus menerus mempelajari itu, karena untuk menunjang dalam kreatif masing-masing.values berupa mandat yang ditujukan untuk amanah dalam sebuah pencapaiana hasil, untuk menyeimbangkan ideologi menulis.
Ideology à Sets of beliefs à in evaluasi : medium, instrument.                                                     
Ideology menulis tentunya dapat mengubah kepercayaan dalam menulis, untuk evaluasinya dapat menyeimbangkan dari medium hingga instrument, sebagai penunjang sebuah tulisan. Disini juga kita akan diminta untuk meyakinkan pembaca, dari sudut pandang saya. Bentuk persuasi tadi, sering disebut argument akademis mengikuti pola diprediksi secara tertulis. Setelah pengenalan dalam sebuah topik, lalu menyatakan sudut pandang yang ada pada topik secara langsung dan dalam satu kalimat. Kalimat ini menyerupai pernyataan thesis dan berfungsi sebagai ringkasan dari argument kita, didalam sisa kertas yang ada. Untuk penulisan thesis statement functions. The thesis statement performs two functions :
1.      Penulis membuat thesis dengan fokus pada subjek essay.
2.      The presence yang baik dalam thesis statement aids reader understanding.
So, kesimpulan yang berarti seseorang yang menulis dan membaca yang baik, akan mendapat pencerahan yang luar biasa. Hal ini disebut sebagai orang yang literate, diimbangkan dengan sebuah pengalaman. Kita masih memupuk perihal dengan tahap peniru, tergambar kita masih memerlukan informasi untuk menunjang tulisan tersebut, adapun seseorang yang menulis akan tergerak motivasi dalam ideologi writing, dan kita juga dapat mengubah sets of beliefs.

0 comments:

Post a Comment