Saturday, April 5, 2014

10:25 PM


Tenggelam Lebih Dalam
Menggali Makna Literasi

Tergoda saya berpikir untuk lebih dalam dan lebih dalam lagi mengenai makna berliterasi (membaca dan menulis). Saya tahu makna literasi bukan hanya sekedar berbaca tulis saja, tapi maknanya sangat luas mencakup keseluruhan aspek-aspek knowledge dalam kehidupan kita. Makna literasi sangat erat dengan berbagai hal dalam realita kehidupan, kehadirannya sangat penting dalam literasi, dan merupakan jantung dalam pendidikan.
Sebenarnya , saya  tidak ingin menyajikan sebuah tulisan yang  “murahan” dan tidak bercita rasa tinggi. Sejau ini saya sudah mencoba untuk menyajikan lebih baik dari sebelumnya, meskipun belum mampu menyajikannya sesuai selera Bapak. Memang sesuatu yang penuh dengan tantangan, saya harus belajar ekstra untuk mampu mencapai itu semua. Pertemuan minggu lalu Bapak mengevaluasi pembahasan pada minggu sebelumnya. Ada beberapa poin penting yang Bapak tekankan. Pertama yaitu berkaitan dengan salah satu tugas utama penulis adalah untuk mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan pemahaman baru, jadi disini ceruk-ceruknya sudah ketahuan, misalnya pemahaman kita menanggapi sejarah Columbus. Ceruk-ceruknya sudah diketahui,  tinggal tugas kita adalah harus mampu memahami Columbus dengan perspektif baru. Yah, tugas kita sebagai emulator (seperti yang sudah kita jelaskan minggu lalu) yaitu terus menggali pengetahuan-pengetahuan baru, paradigma-paradigma baru, karena memang itu tugas emulator/peniru yang sedang menuju ketahap orang literat (yang  mampu menghasilkan)

Berikutnya, kembali dibahas mengenai mencapai bentuk-bentuk baru dari pemahaman meliputi tiga tahap penting yaitu : meniru (emulate) menentukan (discover) kemudian menciptakan (create). Seperti yang sudah dibahas pada paragraf sebelumnya, segala sesuatu membutuhkan proses, apalagi dalam dunia literasi. Untuk menjadi orang yang literat menghasilkan sesuatu, maka dia harus melewati tahapan-tahapan tersebut. Dan Bapak mengatakan “emulate” ini memiliki arti besar, bermakna besar kita saat ini ada diposisi peniru, itu berarti sedang dalam proses menuju discover dan akhirnya create.
Menurut saya, tugas seorang emulator itu tidak mudah, meskipun hanya sebagai peniru, namun disana ada banyak hal yang harus dilakukannya. Contohnya diri saya sendiri saat ini berada diposisi tersebut. Dan memang saya mengungkapkan demikian bukan tanpa alasan, tapi karena saya rasakan sendiri berdasarkan pengalaman menjadi seorang emulator , merupakan satu alasan kita untuk mencapai sampai titik creator dan bukan salah satu alsan untuk bermalas-malasan karena kita masih seorang emulator.
Selanjutnya masih berkaitan dengan menulis. Ketika kita menulis harus “writing is a matter of creating affordance and exploring the meaning potential” artinya yang harus digaris bawahi disini adalah affordances maknanya masih sama dengan poin satu tadi, yaitu berkaitan dengan sumber daya. Menulis itu adalah menggali potensi diri kita, dimana disini kita harus mampu menemukan sesuatu yang baru, mampu mengembangkan dan memahami betul ilmu yang kita pelajari, ilmu yang kita dapatkan.
Selanjutnya, manusia sebagai makhluk yang paling mulia, paling sempurna yang tuhan ciptakan, haruslah mampu menggali potensi dirinya, mengembangkan, kemudian memahami sebaik-baiknya. Rasanya sayang sekali, jika kelebihan tersebut tidak kita gunakan sebaik mungkin, itulah salah satu ciri orang yang literat, terus berkembang dan terus ceruk-ceruk baru.
Pada minggu lalu juga dibahas menulis itu merupakan semiogenesis. Karena menulis itu adalah suatu proses sedang menciptakan hal-hal yang baru, maka semiogenesis itu artinya menulis itu meaning making practices.
Poin terakhir yang diulas dari minggu sebelumnya, yaitu tesis statemen merupakan tahapan yang sangat penting, diharapkan untuk membuat dialog awal dengan pembaca. Disini pokoknya kita harus bisa berkoneksi dengan pembaca.
Pembicaraan kita dalam menulis, memang seakan tak ada habisnya. Berkaiatn dengan ini ada sebuah komentar dari Milan Kundera (di L’Art duroman,1986) menurutnya, untuk menulis berarti untuk penyair untuk menghancurkan sesuatu yang ada dibelakang dinding “selalu ada” hides. Dalam hal ini, tugas seorang penyair  tidak berbeda dari karya sejarah, yang juga menemukan dari pada menciptakan. sejarah, seperti puisi-puisi, mengungkapkan dalam sesuatu yang selalu baru, kemungkinan manusia sampai sekarang tersembunyi.
Artinya, untuk menulis, seorang historian sama dengan linguist, sama dengan penyair (poet), mereka itu dipaksa mencari tahu apa yang tidak diketahui, mereka dipaksa untuk mencari tahu apa yang disembunyikan.
Mereka harus mengungkap, menemukan sesuatu yang disembunyikan, sedangkan tugas kita adalah uncovering, (menulis ulang sejarah).
Sebagai inspirasi dari sumber  lain disebutkan bahwa sejarah bahkan mencekik, merupakan misi untuk penyair. Dan untuk naik ke misi ini, penyair harus menolak melayani kebenaran yang diketahui sebelumnya, kebenaran itu sudah jelas karena mengambang dipermukaan karena sejarah adalah suatu proses tanpa akhir ciptaan manusia, itu bukan karena alasan yang sama (dan dengan cara yang sama) proses tak berujung penemuan dari diri manusia? Sepanjang masa sejarah akan selalu ada dan akan selalu lahir sejarah-sejarah baru.
 Berbicara tentang sejarah memang selalu berkaitan dengan literasi dan tidak bisa dipisahkan, sekarang yang terpenting adalah sebagai orang yang berjalan ke arah orang yang berlitersi, maka tugas kita adalah menggali tanpa henti , bagaimana untuk menjadi orang yang literat dan selalu belajar / mempelajari tanpa henti pula.
Dapat saya simpulkan untuk menutup class review kali ini,  yaitu ketika kita berbicara tentang berbaca tulis itu adalah bagian dari berliterasi. Namun makna berliterasi bukan hanya sebatas berbaca tulis saja, melainkan sangat erat dengan berbagai hal dalam realita kehidupan. Dan hasil pembahasan mengenai evaluasi minggu sebelumnya yaitu tugas seorang penulis yang utama salah satunya harus mengungkap pemahaman-pemahaman baru, untuk mampu menciptakan, seorang penulis harus melewati dua tahap sebelumnya, yaitu “emulate” lalu “discovery” baru kemudia “create.” Menulis juga harus affordances, artinya harus bisa menggali potensi diri (menemukan, mengembangkan, memahami). Menulis juga memiliki makna semiogenesis artinya proses pembentukan makna /meaning making practices. Kemudian tesis statemen merupakan tahap yang sangat penting untuk membuat dialog awal dengan pembaca.
Selanjutnya ada komentar dari Milan Kundera (1986) seorang historian, linguis dan penyair dipaksa untuk mencari tahu apa yang tidak diketahui atau disembunyikan. Sedangkan tugas kita adalah uncovering (menulis ulang sejarah).  Semua pihak memiliki tugas masing-masing baik penulis, pembaca, historian, linguist, poet, mereka  dan kita semua dituntut untuk mampu memaknai makna literasi dan sejarah.
           

0 comments:

Post a Comment