Tuesday, April 22, 2014


Seperti bermain sebuah permainan menembak yang dibutuhkan kecerdikan atau biasa dikenal dengan “Russian Roulette” begitulah kiranya apa yang dilakukan oleh para pihak yang terlibat dalam konflik Beyond Petroleum. Pihak yang terlibat dalam konflik tersebut harus saling cerdik menutupi keburukan mereka dengan berbagai cara dan spekulasi agar tidak menjadi pihak yang kalah. Konflik yang melibatkan militer dan polisi Indonesia serta rakyat papua ini telah berlangsung cukup lama, namun jarang sekali terekspos media nasional. Sehingga membuat kasus ini berlalut-lalut hingga kini.
Konflik ini diawali oleh pembukaan sebuah perusahaan minyak asal Inggris yang membangun tambangnya di Papua, yang dikenal dengan Beyond Petroleum (British Petroleum). Rakyat papua yang mendengar hal tersebut tentu saja marah melihat tanah mereka dieksploitasi, dan lagi-lagi oleh pihak asing. Sedangkan dari pihak militer dan polisi malah menganggap pembukaan perusahaan asing di tanah papua tersebut bisa jadi menjadi pemasukan tambahan bagi mereka. Polisi dan militer pun akhirnya saling berlomba untuk menyusun siasat agar perusahaan tersebut memilih mereka sebagai pasukan pengaman pertambangan tersebut dengan kontrak yang tinggi.
Tanpa ingin menunggu lama pihak militer pun langsung menjalankan siasat buruk mereka. Pada suatu malam dia membantai puluhan polisi secara brutal di dekat daerah pertambangan perusahaan tersebut. Saat pihak Beyond Petroleum menyadari telah terjadi sebuah hal yang tidak biasa terjadi, militer pun datang ke perusahaan dan menawarkan sebuah kesepakatan. Militer mengatakan bahwa papua sangatlah tidak aman, ditengah hutan para pemberontak bersembunyi dan suatu saat mereka menyerang, pembantaian polisi pun dituduhkan kepada masayarakat papua sebagai pihak yang harus bertanggungjawab. Militer pun kemuadian menawarkan diri agar dikontrak sebagai pasukan pengaman dengan harga yang tinggi. Menyadari bahwa keamanan adalah faktor penting bagi suatu perusahaan akhirnya perushaan Beyond Petroleum mengiyakan apa yang militer inginkan.
Setelah lama mengkontrak militer, Beyond Petroleum pun merasa terjadi sebuah pemerasan yang dilakukan oleh militer pada perusahaan mereka. Sehingga pada suatu hari perusahaan tersebut mengundang para pejuang HAM papua ke kantor pusat perusahaan mereka di London. Disana pihak Beyond Petroleum membeberkan tindakan pemerasan yang dilakukan militer terhadap perusahaan mereka dan kasus pembunuhan  polisi yang mengkambing-hitamkan masyarakat papua. 
Saat pejuang HAM nelakukan pertemuan dengan para pejabat Beyond Petroleum, mereka membawa serta seorang penulis yang merupakan seorang ahli antropolog asal Amerika Serikat, bernama Eben Kricksay. Saat para pejuang HAM itu mengetahui hal tersebut, dia langsung menyuruh Eben menulis artikel tentang kejahatan militer Indonesia ke media internasional. Mereka pun merasa akan menang saat dunia tahu tentang kejahatan militer Indonesia. Disaat itu BP pun merasa senang karena telah memprofokasi para pejuang HAM papua untuk menjatuhkan. Sehingga pihak perusahaan tidak perlu terlibat dalam konflik dan nama mereka akan tetap terlihat benar, baik dimata militer, pejuang HAM papua, dan juga dimata dunia Internasional, tanpa harus bersitegang dengan senjata.
Namun sayangnya apa yang ditulis Eben dalam bukunya malah berbanding terbalik dengan kenyataannya. Beyond Petroleum sebenarnya adalah musuh yang nyata bagi rakyat papua, bahkan mereka telah merenggut hak-hak mereka. Segala sesuatu yang kita takutkan dari BP pun benar-benar terjadi. Orang-orang tidak diizinkan untuk menangkap ikan atau udang di zona eksklusif yang ditetapkan oleh BP. Padahal jelas-jelas tanah dan perairan papua adalah milik masyarakat papua. Selain itu semakin banyak migran yang datangyang masuk ke Papua. Inflasi yang sangat tinggi pun terjadi karena ada banyak uang yang beredar disana. Bahkan jumlah penduduk setempat dari Bintuni Bay yang bekerja di proyek ini sangat rendah. Malah Perusahaan lebih memilih merekrut para imigran sebagai pekerjanya.
Pada awalnya perusahaan BP berjanji akan menetapkan standar sosial dan lingkungan baru, serta tanggung jawab. Awalnya masyarakat terkesan ketika BP membangun kembali satu desa nelayan, mengalirkan uang ke masyarakat sekitar, dan mempekerjakan mereka dilingkungan terkemuka. Mereka pun kemudian menyalurkan para ahli hak asasi manusia dan kelompok-kelompok kesehatan untuk memberitahu mereka tentang cara untuk menghindari konflik dan membawa kemakmuran ke desa-desa.
Namun saat  proyek makin mendekati pembukaan, orang telah membanjiri daerah tersebut. Para migran [dari seluruh Indonesia] telah datang ke sini untuk mencari pekerjaan, dan tinggal.  Bahkan mereka menjadi mayoritas di semua desa disana. BP memang  telah membangun rumah untuk setiap kepala keluarga dan semua terlihat indah. Tetapi orang-orang benar-benar menderita secara mental di pemukiman baru mereka. Akses mereka ke laut terbatas karena zona eksklusi perusahaan, dan mereka tidak dapat memperluas kebun mereka.
Kritik terhadap kebijakan ketenagakerjaan BP ditujukan pada perusahaan, untuk memantau proyek dan  mendorong BP untuk mempekerjakan lebih banyak orang Papua dan untuk mendidik penduduk setempat tentang "demobilisasi" proses ketika pekerjaan konstruksi selesai. Meskipun hampir 6.000 orang telah dipekerjakan dalam membangun pabrik, namun hanya kurang dari 500 akan dipekerjakan oleh perusahaan setelah bangunan selesai akhir tahun ini. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 50 papua yang diharapkan menjadi pegawai.
Ketergantungan Rakyat pada BP sangat tinggi. Akan ada masalah ketika pekerjaan berakhir. Akan ada degradasi ekonomi dan psikologis. Mereka memperkirakan bahwa BP dan Indonesia tidak akan peduli tentang kelangsungan hidup orang Papua di tanah mereka dan bangsa mereka. Mereka terus akan menghancurkan hutan dan pohon-pohon dan mencemari sungai dan laut. Dan masyarakat papua khawatir bahwa BP dan Indonesia akan membawa malapetaka bagi orang Papua.
BP menyangkal bahwa itu yang menyebabkan kerusakan lingkungan, atau bahwa itu mendukung non-Papua. Perusahaan itu mengatakan terikat oleh pedoman ketat tentang berapa banyak orang Papua harus digunakan. Seorang juru bicara mengatakan: ".. Kami pikir sekitar 30% dari tenaga kerja konstruksi adalah Papua Tujuannya adalah bahwa akan ada pekerjaan jangka panjang untuk Papua Kami memprioritaskan desa yang paling terkena dampak.” Tapi mereka juga mengakui bahwa Papua adalah besar dan bahwa ia telah sulit untuk mengidentifikasi yang merupakan penduduk asli desa tersebut. Pada situasi memancing, ia menunjukkan bahwa BP telah memberikan motor tempel untuk beberapa orang, sehingga mereka dapat melakukan perjalanan lebih lanjut untuk lahan perikanan. "Kami percaya kami telah menetapkan standar baru untuk kelompok BP. Telah ada banyak kemajuan namun tidak ada kepuasan," katanya.
Kesimpulan :

 Konflik BP sebenarnya merupakan konflik memperebutkan kekayaan Papua. Dan lagi-lagi yang menjadi pihak yang paling dirugikan adalah rakyat papua itu sendiri.

0 comments:

Post a Comment