Sunday, April 6, 2014

8th Class review
Intervensi Sejarah Papua
Memproduksi karya yang berkualitas secara konstan, bisakah? Ini perlu dilakukakan dengan hal dan usaha yang ekstra, ekstra keras dalam membaca dan juga menulis. Menulis butuh keterampilan dan keahlian, berlatih yang diperlukan. Ketika menulis bukan hal yang asing lagi, kesalahan sedikit pun tidak boleh dilakukan. Untuk itu, kesabaran, ketelitian perlu diterapkan. Menulis kaitannya dengan data, sering sekali menggunakan kata data, mendengar kata data, tetapi, apakah data itu? Menurut lethonen data adalah sebuah informasi yang berupa verbal, written atau tertulis, visual yang berbentuk gambar dan audio yang berbentuk suara. data dalam pengertian judul ini adalah informasi, bukti. Namun, apakah semua informasi itu disebut dengan data? Informasi yang disertai dengan sumber adalah data.
Reading Time, membaca dengan sepenuh hati dan perhatian yang sangat mendalam dari setiap kalimat, mengerti setiap kalimat yang dimaksud dan bisa mengkritisi setiap kalimat. Membuat kelompok belajar kecil yang terdiri dari lima orang, dengan kegiatan membahas dan bertukar pikiran terhadap teks yang telah dibaca bersama-sama. Untuk itu, diharapkan metode ini akan lebih memberikan pemahaman akan pengetahuan. Membaca sejarah itu sangat mengasyikkan, seperti sedang berada dalam ruang waktu puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, berimajinasi dengan menghadiran kembali kejadian yang sudah terlewati, sangat banyak manfaatnya juga ketika membaca sejarah, untuk menjadi pembelajaran langkah ke depan. Namun, bagaimana dengan sejarah yang terintervensi? Siapa yang mengintervensinya, dan mengapa sejarah bisa di intervensi? Salah satu contohnya adalah sejarah papua.
Papua adalah wilayah yang sangat krusial dalam sejarah NKRI, karena begitu banyak peristiwa yang terjadi dari penamaan papua ke irian jaya kemudian berubah menjadi papua kembali, dan keinginan rakyat papua untuk menjadi Negara yang merdeka sendiri, terjadi intervensi bangsa belanda terhadap gerakan pemuda papua, sampai kepada pembantaian yang terjadi di papua oleh militer Indonesia. Pada tahun 1960, Pemerintah Belanda dibawah Perdana Menterinya Joseph Luns menyadari bahwa mereka semakin terdesak oleh tekanan dari Pemerintah Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Soekarno agar segera mengembalikan Papua Barat. Selanjutnya, Belanda membuat negara boneka yang diberi nama “West Papua” dengan lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua” dan lambang negara “Burung Mambruk” serta nama bangsa adalah Papua. Pada tanggal 1 Desember 1961, bendera Bintang Kejora lalu dikibarkan sejajar dengan bendera Belanda. Bersamaan dengan itu, Belanda juga membentuk Batalyon Sukarela Papua yang berkedudukan di Arfai Manokwari dengan kantor Mayon menggunakan Barak Marinir Belanda (Batalyon ini menjadi cikal bakal dari munculnya TPN-OPM/Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka).
Menjawab semua langkah politik Belanda tersebut, Presiden Soekarno lalu menjawab dengan mencetuskan TRIKORA (Tri Komando Rakyat) pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta yang isinya :
1.     Gagalkan pembentukan negara Papua buatan Belanda Kolonial.
2.    Kibarkan sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia.
3.    Bersiaplah untuk mobilisasi umum mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.
Untuk menekan Belanda agar mau melakukan perundingan maka Presiden Soekarno membetuk operasi Mandala dengan mengangkat Mayjen Soeharto sebagai Panglimanya, Kolonel Laut Sudomo sebagai Wapang, Kolonel Udara Watimena sebagai Wapang dan Kolonel Ahmad Tahir sebagai Kasgab. Mayjen Soeharto selanjutnya menginfiltrasikan pasukan gerilya RPKAD, ALRI dan Polri menyusup ke wilayah Irian Barat. Puncak konfrontasi antar kekuatan militer Belanda dan Indonesia adalah peristiwa pertempuran Laut Arafuru, dimana MBT (Motor Boat Tjepat) yang akan melakukan infiltrasi disergap oleh sebuah kapal destroyer Belanda dan Komodor Yos Sudarso gugur sebagai Pahlawan bersama tenggelamnya KRI Macan Tutul. (http://Sejarah kembalinya Irian Barat (saat ini Papua) dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia   Nasionalisme di Papua.htm)
Seperti dalam teks yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow” yang ditulis oleh S. Eben Kirksey, dalam paragraph pertama dan keduanya. Bermula dari niat Mr. Eben melakukan penelitian di El Nino mengenai kekeringan, tetapi cuaca berubah menjadi hujan sehingga membuatnya kehilangan antusiasnya untuk meneliti. Dan akhirnya dia kembali ke Papua untuk melakukan penelitiannya yang pernah dilakukannya lima tahun yang lalu. Pada tahun 1998, pada saat itu Indonesia dipimpin oleh soeharto dan masyarakat Indonesia sedang mendukung reformasi, papua menginginkan menjadi Negara yang merdeka, memisahkan diri dari NKRI karena perlakuan-perlakuan militer Indonesia terhadap masyarakatnya, mahasiswa yang membangkang pemerintah Indonesia ditembak dan dibuang ke laut. Militer Indonesia mengirimkan pasukannya sampai 50.000 tentara ke papua barat. Pembantaian dilakukan oleh tentara militer Indonesia sekitar satu prajurit untuk 24 penduduk papua. (paragraph 3 “don’t use your data as a pillow”)
Tetapi apakah benar tentang pembantaian yang terjadi di papua? Benar memang. Namun, factor yang menyebabkan militer Indonesia membantai mahasiswa yang menentang pemerintah karena mereka menginginkan menjadikan papua Negara yang merdeka, sampai dibentuknya OPM (Organisasi Papua Merdeka) gerakan pemuda terintervensi oleh pihak sekutu, karena sekutu masih menginginkan papua menjadi Negara bonekanya, untuk itu sekutu sangat mendukung gerakan OPM agar papua tidak menjadi bagian dari NKRI.
Pada paragraph ke-4, Mr. Eden melakukan perjalanannya kembali ke papua, banyak yang mengejutkan dari perjalanannya ini, perusahaan multi-nasional, koperasi militer rahasia Indonesia, dan Amerika yang mendukung militer Indonesia. Sebenarnya apa yang terjadi? pada paragraph lima dijelaskan bahwa teror yang dilakukan oleh tentara Indonesia, kekerasan, dan rezim yang membuat Mr. Eben memikirkan untuk membantu papua mencapai kemerdekaannya. Pada saat pesta di rumah Deny, deny mengundang waropen, dia adalah seorang KOMNAS HAM yang berusia 20an dan seorang penghasut untuk gerakan reformasi. Waropen berasal dari wasior, tempat dimana tentara melakukan serangan.
Keadaan di papua yang sangat ketat membuat penelitian yang dilakukan oleh Mr. Eben didampingi secara intens, orang-orang yang memberikan keterangannya adalah orang yang mengambil resiko besar, sehingga dalam mengambil informasi pun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi pada waktu yang sedah gelap. (paragraph ke-8)
Pada paragraph 11 Mr. Eben meminta kepada waropen untuk memberikan keterangannya tanpa diketahui identitasnya. Namun, waropen menolak dengan mengatakan bahwa mengambil data-data dengan mencantumkan sumbernya akan membuat datanya berkredibilitas tinggi. Dan Mr. Eben telah melakukan wawancara 350 kali tetapi tidak dengan mencantumkan identitasnya. Ini yang membuat Mr. Eben merasa dirinya telah salah. Dalam jurnalistik sumber identitas data perlu diperhatikan karena terdapat dalam hukum yuridis yakni hak cipta, agar tidak terjadi pencemaran nama baik ataupun plagiarisme. Berbicara mengenai data waropen mengatakan kepada Mr. Eben “jangan menggunakan data anda sebagai bantal dan pergi tidur ketika anda kembali ke Amerika, yakni jangan menggunakan data sebagai jembatan untuk diri sendiri”, data tidak seharusnya digunakan untuk kepentingan pribadi, apalagi data tentang sejarah, karena orang yang mengerti sejarah itu bisa dengan mudahnya membolak-balikkan sejarah.
Data adalah informasi-informasi yang bersifat nyata karena terdapat bukti dari penelitian. Waropen selalu mendorong Mr. Eben untuk tetap berada dalam fakta-fakta. Data yang mengabarkan tentang agen militer Indonesia mengintervensi upaya konvensional terhadap perlindubgan kontrak anggota milisi (wajib militer), yang mengaku sebagai pejuang kemerdekaan papua. Di saat yang bersamaan proyek “beyond Petroleum” atau proyek minyak. Sebuah perusahaan ini diprediksikan akan menghasilkan gas alam di papua barat sebanyak $198.000.000.000, jumlah yang sangat banyak. Namun, jika ditilik dalam perusahaan dan intervensi militer Indonesia, bahwa militer Indonesia menginginkan untuk menguasai proyek BP ini karena melihat potensi keuntungan yang besar untuk ke depan, oleh karena itu terjadi pemberontakan dari masyarakat papua yang tidak menikmati hasil dari alamnya yang kaya.
Pada paragraph ke-21 Mr. Eben menghadiri pertemuan BP di London dengan Dr. Byron Grote seorang kepala keuangan dari perusahaan minyak ini. Bersama Rumbiak, Mr. Eben menghadiri pertemuan yang dibuka oleh Dr. Grote dan meminta agar pertemuan ini dirahasiakan. Namun, Rumbiak langsung membantah dan mengatakan bahwa dirinya tidak bisa, karena pertemuan ini harus diketahui oleh seluruh masyarakat papua. Ini menunjukkan bahwa adanya intervensi yang dilakukan oleh agen militer dalam proyek minyak ini.

Kesimpulannya, sejarah papua tidak pernah habis jika dijelaskan dalam class review ini, karena masih banyak kejadian yang belum tertulis dalam class review ini. Namun, dapat diambil kesimpulan bahwa, papua menjadi pulau yang diagung-agungkan dan diminati oleh bangsa sekutu, karena papua menyimpan banyak kekayaan alam, sehingga sampai setelah Indonesia merdeka papua masih menjadi Negara boneka Belanda. Namun, sukarno berhasil mengambil kembali papua dalam genggaman NKRI melalui diplomasinya dan bantuan dari pihak PBB. Tetapi setelah papua berhasil didapatkan masyarakat papua masih menyerukan kemerdekaan yang berdaulat seperti Timor Timur dan kasus Aceh. Sehingga muncul gerakan-gerakan oleh masyarakat papua seperti OPM dan GAM di aceh, gerakan ini mendapat intervensi dari bangsa sekutu.

0 comments:

Post a Comment