Sunday, April 6, 2014

12:57 AM
Propaganda Pulau Papua
Negara Indonesia, adalah salah satu Negara kepulauan yang terletak di benua Asia, tepatnya di Asia tenggara.Negara Indonesia memiliki keanekaragaman budaya dan memiliki keindahan alam yang luar biasa, batas wilayah Negara Indonesia mulai dari sabang (Sumatera) sampai merauke (Papua).Pada bagian timur Negara Indonesia, tepatnya di pulau Papua (mutiara hitam) menyimpan keindahan alam yang kaya akan sumber daya manusia. Oleh sebab itu, pulau ini menjadi rebutan setiap bangsa-bangsa dan menjadi daerah konflik yang berkepanjangan sehingga banyak menimbulkan korban penduduk asli papua (Indigenous Peoples) dan pelanggaran-pelanggaran terhadap hak dasar masyarakat Papua. Dahulu pada zaman penjajahan bagian timur Negara Indonesia sejak lama menjadi perebutan bangsa colonial asing, karena menyimpan sumber daya manusia yang besar. Kandungan bijih tembaga, perak dan emas yang ada pada Gunung Ersberg menjadi incaran para bangsa asing.

Gambar. 1.4: Peta Pembagian Wilayah oleh Inggris,Belanda, dan Jerman.
Sumber: Hasil Capture Google Eart, oleh John Anari
Pada tahun tahun 1515, masa penjajahan dari bangsa imperialisme seperti Belanda Jerman dan Inggris menduduki pulau Papua, yang kemudian membagi pulau tersebut menjadi dua bagian: bagian timur dikuasai oleh Jerman (bagian utara Irian timur) dan Inggris (bagian selatan Irian timur). Sedangkan bagian barat dimilki oleh Belanda dengan garis busur 141 diakui sebagai batas timur Irian barat. Pada 1898 - 1945, Papua bagian barat dikenal sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea) yang merupakan bagian dari Hindia Belanda dan kini wilayah tersebut merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yakni provinsi Papua (West Papua). Pada saat itu wilayah Papua barat tetap diduduki oleh Belanda dengan alasan perbedaan etnis, lama setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1945. Setelah perjuangan kemerdekaan panjang Irian Barat, provinsi ini akhirnya kembali ke pangkuan Negara Indonesia. Sedangkan Bagian timur pulau tersebut kini telah menjadi sebuah negara berdaulat yang bernama Papua Nugini (Papua New Guinea) yang merupakan salah satu dari anggota negara pesemakmuran kerajaan Inggris.
Berdasarkan peraturan yang UUD 45 Tahun 1999, daerah yang meliputi kepala burung Pulau Papua ditetapkan sebagai Irian Jaya Barat dan juga terdiri dari pulau-pulau kecil di provinsi Papua. Sejak tanggal 7 Februari 2007, provinsi ini secara resmi bernama Irian Jaya Barat, atau Papua Barat.Provinsi Papua adalah nama umum yang mengacu pada setengah bagian barat dari Pulau New Guinea (Indonesian New Guinea). Provinsi Papua Barat, juga dikenal sebagai “Irian Jaya Barat”, meliputi kepala burung Papua, semenanjung besar di sudut barat laut jauh Indonesian New Guinea, dan pulau-pulau kecil yang mengelilinginya. Batas-batas geografis provinsi ini adalah Samudera Pasifik di utara; Laut Seram di barat; Laut Banda di selatan; dan provinsi Papua di timur.
Selama berabad-abad hingga sekarang, Papua hidup dalam penjajahan, jika pada zaman sebelum kemerdekaan Papua dijajah oleh kolonial belanda, pada zaman saat ini tanah papua dijajah oleh colonial asing melalui perjanjian pemerintah orde lama, yang pada saat itu penguasa Indonesia adalah Soeharto, dengan eksploitasi Gunung Ersberg yang dilakukan oleh PT. Freeport Indonesia yang terletak di Papua barat. Sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan asal Amerika yang berkonsentrasi pada pertambangan emas. Setiap harinya ribuan ton emas dikeruk oleh perusahaan tersebut. Tetapi, hingga sekarang perusahaan tersebut tidak banyak berdampak pada masyarakat Papua yang dapat merasakan hasil dari kekayaan bumi tersebut. Hal inilah yang menyebabkan Pribumi Papua menjadi melarat di atas kekayaan alamnya sendiri bagaikan seekor  tikus yang mati di atas lumbung padi.
Pada masa kepresidenan Soekarno, adanya propaganda mengenai eksploitasi Gunung Ersberg itu tidak menemui kesepakatan. Saat itu tanah atas Irian Barat tengah mengancam, hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan presiden Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya menuju Irian Barat dengan nama TRIKORA (Tri Komando Rakyat), yang telah presiden Soekarno komandokan pada 19 desember 1961, “dan sebagai akibat pelaksanaa Trikora itu datanglah dari Sumatera, datanglah dari Jawa, datanglah dari Kalimantan, datanglah dari Sulawesi, datanglah dari Nusa tenggara, datanglah dari pulau-pulau kecil daripada tanah air kita itu menyerbu Irian Barat untuk membebaskan Irian Barat daripada kolonialisme Belanda.”Kemudian bantuan dari presiden John F. Kennedy dengan mengancam Belanda, dengan menghentikan bantuan Marshall Plan jika masih ingin mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana untuk membangun kembali Negaranya dari kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.
Namun, ketika presiden Soekarno jatuh sakit dan meninggal pada 21 Juni 1970, kemudian digantikan oleh Soeharto melalui penandatangan surat supersemar yang kontroversial, keadaan berubah seratus delapan puluh derajat. Ketikaitu UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang diucapkan oleh Rockefeller seorang pebisnis dari Amerika Serikat penganut Zionisme, dan disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport.Inilah pertama kalinya kontrak pertambangan yang baru dibuat.Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak zaman pemerintah Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah banyak merugikan Indonesia.
Saat tahun-tahun pemerintahan presiden Soeharto, diwarnai dengan praktik otoritarian di mana tentara memiliki peran dominan di dalamnya.Kebijakan dwifungsi TNI memberikan kesempatan kepada militer untuk berperan dalam bidang politik di samping perannya sebagai alat pertahanan negara. Demokrasi telah ditindas selama hampir lebih dari 30 tahun dengan mengatasnamakan kepentingan keamanan dalam negeri dengan cara pembatasan jumlah partai politik, dan penerapan sensor dengan tidak menjelek-jelekkan pemerintahan.
Pada masa pemerintahan presiden Soeharto, pelanggaran HAM sering terjadi, termasuk didalamnya daerah Papua barat.Soeharto adalah orang yang rasisme, tidak suka adanya perbedaan etnis di wilayah Indonesia.Hal inilah yang menyebabkan munculnya sistematis genosida yang terjadi di Papua barat.Akibatnya warga pribumi Papua barat lama-kelamaan merasa bahwa mereka tidak memiliki hubungan sejarah dengan bagian Indonesia yang lain maupun negara-negara Asia lainnya. Perjanjian yang disepakati Indonesia dan Belanda, sebagian masyarakat Papua mulai tidak diakui dan dianggap sebagai penyerahan dari tangan satu penjajah kepada yang lain. Pada tahun 1965, beberapa nasionalis Papua bagian barat membentuk Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai sarana perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan dari Indonesia dan membentuk negara sendiri.
Organisasi sparatis tersebut dianggap tidak sah di Indonesia.Perjuangan meraih kemerdekaan di tingkat provinsi dapat dituduh sebagai tindakan pengkhianatan terhadap negara.Sejak berdiri, OPM berusaha mengadakan dialog diplomatik, mengibarkan bendera Bintang Kejora, dan melancarkan aksi militan sebagai bagian dari konflik Papua. Para pendukungnya sering membawa-bawa bendera Bintang Kejora dan simbol persatuan Papua lainnya, seperti lagu kebangsaan "Hai Tanahku Papua" dan lambang nasional. Organisasi tersebut mendapatkan dana dari pemerintah Libya pimpinan Muammar Gaddafi dan pelatihan dari grup gerilya New People's Army beraliran Maois yang ditetapkan sebagai organisasi teroris asing oleh Departemen Keamanan Nasional Amerika Serikat.
Jika Organisasi Papua Merdeka (OPM) ingin memisahkan diri dari wilayah Negara Indonesia, bisa diprediksi jika OPM merdeka (kebebasan), Papua barat pasti akan membutuhkan sebuah pengakuan dari Negara-negara lain dengan melakukan perjanjian khusus yang mungkin bisa berakibat buruk bagi Papua barat sendiri. Juga belum sanggpu untuk membangun sebuah peradaban yang modernisasi.
Saat ini Papua Barat merupakan salah satu tempat yang paling sulit untuk dikunjungi di planet bumi ini. Seorang mahasiswa pascasarjana di university of oxford, dan university of California, S. Eben Kriksey sudah berkali-kali mencoba untuk berkunjung ke papua barat. Namun, dibutuhkan waktu bertahun-tahun dapat kunjunganulang melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington,untuk menjadi siswa pertukaran sarjana telah disetujui.Menurut website kedutaandi Washington DC, menjelaskan bahwa papua Barat adalah salah satu " daerah di Indonesia dinyatakan warga negara asing tidak diperbolehkan untuk mengunjungi tanpa izin tertulis khusus dan persetujuan yang masuk ke daerah ini dibatasi tanpa izin dengan penangkapan, penahanan, dan akan dituntut sesuai dengan hukum Indonesia.
S. Eben Kriksey, adalah salah satu saksi hidup sebuah serangkaian pembantaian pada masa penguasa di Indonesia, Soeharto, yang digulingkan oleh kelompok reformasi. Eben, dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow”, dia menceritakan pengalaman pribadi dan penelitiannya di papua barat tentang peristiwa atau hal-hal apa saja yang dialami oleh masyarakat pribumi di papua barat pada tahun 1998 dengan cerita adat yang khas.
Paragraph pertama
Cerita tentang pengalaman pribadi penulis Eben pada saat jamuan pestakepergiannya di suatu daerah. Sebuah pesta yang menandakan berakhirnya hasil penelitian atau hasil temuan-temuan Eben di suatu daerah pada mei 2003, juga harapan mengenai transisi yang mulus kedalam jaringan baru dari kewajiban dan tugas. Acara pesta kecil-kecilan yang berlangsung untuk beberapa hari yang diselenggarakan oleh Denny Yomaki, seorang aktivis hak asasi manusia.Dalam pesta sederhana tersebut, Eben menunggu sebuah konfrontasi di ruang tamu Denny yang mempertanyakan nilai dasar dari penelitiannya.
Paragraph kedua
Ekspedisi pertamaEbendatang ke papua barat -secara resmi dikenal Irian jaya- pada tahun 1998 untuk melakukan sebuah penelitian.Penelitian yang awalnya ingin mempelajari EL NINO yang melanda wilayah tersebut.Namun ketika Eben tiba di papua barat, pada situasi yang bertemakan merdeka (kebebasan).Sebuah teriakan reli dari nasionalis Indonesia untuk perjuangan kemerdekaan dari kolonialisme belanda.Awalnya Eben merasa bingung dengan keadaan pada saat itu.Lama penguasa di Indonesia, Suharto, yang baru saja digulingkan oleh gerakan reformasi dan antusiasme Eben untuk mempelajari kemarau ELNINO berubah menjadi hujan terror yang mengerikan.
Paragraph ketiga
                Pengalaman Eben sebagai saksi hidup serangkaian pembantaian oleh militer Indonesia, di mana mahasiswa ditembak di kepalanya dan puluhan demonstran tidak bersenjata lainnya dibuang ke laut dalam.Melihat kejadian tersebut, Eben berasumsi sistematis kampanye genosida telah terjadi (Brundige et al. 2003), dan itulah mengapa banyak orang papua barat ingin mengambil jalan kemerdekaan, bukan sebuah reformasi.Ada sekitar 50.000 tentara militer Indonesia dikerakkan untuk papua barat, atau sekitar satu prajurit untuk setiap 24 warga papua barat.Sebagai perbandingan pada bulan November 2007, kependudukan AS di Irak yang mencapai rekor angka tertinggi dalam pasukkan, atau sekitar satu tentara untuk setiap 157 warga Irak.
Paragraph keempat
                Ebenadalah seorang mahasiswa pascasarjana di university of oxford, dan university of California yang melakukan ekspedisi ulang perjalanan ke papua barat dalam cerita adat yang khas. Dari hasil penelitiannya Eben dari beberapa cerita penduduk setempat dan laporan berita harian dari zona konflik lainnya, seperti -Cerita tentangpenyiksaan, tentang peran pemerintah AS dalam mendukung pendudukan militer, dan sekitar keinginan untuk merdeka-, cerita lainnya datang mengejutkan Eben, yang belajar tentang kampanye teror dipicu oleh "Dracula" dan tentang bagaimana nenek moyang Eben, kulit putih, mencuri keajaiban modernitas dari penduduk asli Papua. Penemuan Eben yang tidak terduga ini memaksa Eben untuk memikirkan kembali apa dasar penelitiannya tersebut.
Paragraph kelima
                Masyarakat papua barat beranggapan bahwa penulis adalah sekutu, seseorang yang memiliki potensi untuk membantai warga papua barat.Padahal penulis datang untuk belajar bukan ikut dalam konflik militer Indonesia dan organisasi papua merdeka.Kemudian, sebuah aktivis Hak Asasi Manusia yang mendorong untuk meneliti kampanye terror oleh pasukan Indonesia.Melalui pembelajaran dimensi budaya kekerasan, penulis berasumsi bahwa warga papua barat dapat mencapai sebuah kebebasan dari terror dalam rezim kependudukan Indonesia.
Paragraph keenam
                Situasi pada saat pesta dimana Denny usai mengucapkan doa singkat dalam doa Kristen berbahasa Indonesia. Dengan memberikan rasa terima kasih untuk kesehatan semuanya dan mendoakan agar perjalanan Eben aman. Dan hal itu lah yang kemudian mempertemukannya dengan seorang aktivis HAM yang juga merupakan penghasud muda, Telys Waropen.

Paragraph ketujuh
Menceritakan bahwa Waropen berasal dari Wasior, tempat dimana militer Indonesia saat itu melakukan serangan pada para sparatis melalui operasi penyisiran dan penumpasan. Eben pada akhirnya mengunjungi tempat tersebut untuk meneliti rumor bahwa polisi indonesia diam-diam mendukung militar Papua barat
Paragraph kedelapan
                Bercerita tentang kejadian Eben yang sedang mewawancarai orang-orang untuk menceritakan kisah nyata mereka dari rumah kerumah pada tengah malam supaya tidak terlihat militer Indonesia yang beresiko mengancam jiwa mereka jika tertangkap ketahuan menceritakan cerita mereka pada peneliti asing.
Paragraph kesembilan
                Eben bercerita bahwa dirinya juga sempat berencana akan mewawancarai seorang dukun terkenal didekat pegunungan wasior yang diklaim telah bertanggung jawab atas gempa yang tejadi di pulau jawa. Namun, hal tersebut tidak terpenuhi, kesempatan untuk mendapatkan informasi mengenai dukun tersebut, tetapi baru ketika pada sebuah pesta Eben mendapatkan informasinya dari  Waropen.
Paragraph kesepuluh
Menceritakan pengalaman Eben ketika pergi bersama Waropen untuk mempelajari Beberapa minggu kemudian saya akan pergi di pesta saya belajar bahwa Telys Waropen memiliki
mempelajari dukun Wasior untuk tesis sarjana di sebuah universitas lokal. Seperti kita sedang mengunyah sirih dengan perut penuh di bagian depan Denny Yomaki yang
teras, saya mulai melihat Waropen sebagai sumber penting yang mungkin membantu mengisi
di beberapa kesenjangan dalam penelitian saya. Inilah kesempatan saya untuk belajar tentang
dukun yang saya telah mampu memenuhi.
Paragraph kesebelas
Masyarakat Papua ingin diakui menjadi masyarakat mandiri dalam hal apapun, ini yang dikemukakan oleh narasumber yang tidak di sebutkan namanya (Anonymous) mandiri dalam hal apapun dimaksudkan bahwa masyarakat Papua ingin sekali dipandang oleh seluruh masyarakat Indonesia bahwa mereka bukan kaum yang terbelakang, mereka juga ingin diakui mapan dalam intelektual, ekonomi dan kebudayaan.
Di bawah Orde Baru, asal-usul nama Irian itu dipalsukan, yaitu dinyatakan bahwa itu adalah akronim untuk "Ikut Republik Indonesia Anti Nederland". Apa motifnya mengajarkan keterangan bohong itu orang tidak tahu, tapi yang jelas menjadi senjata yang makan tuan: Habibie turut berbohong sehingga memaknai Irian itu cuma nama bagian barat pulau itu, yaitu bagian yang pernah dijajah Nederland.
Menurut pemahaman dari beberapa referensi, bahwa akibat politik penerangan Orde Baru yang tidak beres, masyarakat luas di Indonesia termasuk yang di Irian Barat sendiri, sampai-sampai tokoh-tokoh gerakan reformasi sendiri pun, turut menjadi korban. Maka muncullah banyak isu-isu pelanggaran HAM berat yang dilakukanolehpemerintah Indonesia di tanah Papua.
Paragraph keduabelas
Keterbukaan media padamasaorde lama, presiden Soeharto,  memangterbilangsangat dikekang. Olehkarenaituparajurnalisharustahubetulpedomansebelum meliput suatu peristiwa atau kejadian. Begitu juga di Papua yang tidak atau kurang terekspos oleh media karena kurangnya keterbukaan informasi pada saat itu. Ada beberapa hal yang sangat menarik -pengalaman tentang hidup dari teror atau hilang- yang tidak dapat dibicarakan di depan umum atau direkam.
Paragraph ketigabelas
Ketika di hadapan Waropen, berdasarkan hasil penelitiannya, Eben menampilkan sebuah “data” yang ditemukannnya, dan menganjurkan salah satu jalan menyelesaikan konflik di Papua barat, yaitu dengan merdeka (kebebasan). Mungkinakanbias memahamibagaimana rumor menghasilkan rasa takut. Namun, Waropen sadar bahwa rumor membantumenghasilkan teror.Tapi wawasan ini tidak membantunya mendapatkan penarikan dalam hukum alam di mana standar yang berbeda dari bukti berlaku. Waropenhanya inginmelihat anggota pasukan keamanan dituntut di pengadilan Indonesia, desa yang dihancurkan perlu direkonstruksi.Kemudian Waropen beranggapan bahwa Eben sebagai sekutu potensial, tapi Eben membutuhkanbeberapa pemahaman yang baik lagi.
Paragraphkeempatbelas
Eben menuliskan soal waropen yang menginginkan keadilan, dan ekpektasi Eben sebgai peneliti tentang tanah leluhurnya di masa depan. Waropen menganggap bahwa Eben merupakan salah satu seorang yang potensial yang dapat membantu menyelesaikan masalah ini dengan banyaknya data yang telah Eben peroleh.
Paragraph Kelima belas
Juga waropen menambahkan kata yang selalu diingat oleh Eben, yaitu “jangan gunakan data yang anda punya sebagai bantal dan pergi tidur ketika saat anda kembali ke Amerika dan jangan hanya menggunakan ini sebagai jembatan untuk peluang profesional anda sendiri.”
Paragraph keenam belas (mulai paragraf enam belas hingga delapan belas)
Waropen memprovokasi Eben untuk mengungkapkan fakta sebenarnya yang terjadi di tanah Papua barat.Bicaralah secara penuh dari data yang anda dapat.Jangan takut pada penguasa, karena menguak fakta lebih penting dibandingkan dengan hanya menjadikan penelitian sebagai jembatan untuk peluang profesional sendiri atau meraih gelar Doctor.
Paragraph Kesembilan belas
Menceritakan konflik antara militer Indonesia dan militan Papua barat, konflik terjadi karena provokasi yang dilakukan oleh suatu pihak terhadap pihak lainnya melalui perusahaan BP (British Petroleum yang kemudian berganti nama menjadi Beyond Petroleum).
Paragrpah Kedua puluh
Menceritakan tentang Eben yang mengungkapan rumor kekerasan yang terjadi di proyek BP (Beyond Petroleum) oleh para pejuang kemerdekaan (Papua double agen).
Paragraph Kedua puluh satu
Cerita mengenai Eben yang pernah diminta oleh seorang pembela HAM asal papua barat, yakni John Rumbiak pada akhir mei 2003 untuk menghadiri pertemuan di markas besar BP di London dengan Dr. Byron Grote, CFO dari perusahaan minyak raksasa tersebut.
Paragraph Kedua puluh dua  sampai Kedua puluh empat
Bercerita tentang perjalanan Eben dalam menemukan kantor BP (Beyond Petroleum)  di London. Eben juga menemukan fakta baru soal keterlibatan militer Indonesia atas kekerasan yang terjadi di sekitar perusahaan BP di sekitar Papua. Lebih dari 80 persen pasukan keamanan negara Indonesia, pendapatan mereka dari kontrak tersebut adalah untuk melindungi perusahaan. Dan agen rahasia di militer Indonesia memprovokasi kekerasan sampai perusahaan mengalah dan memberi mereka kontrak keamanan.
Paragraph Kedua puluh lima
                Eben berpendapat bahwa fakta yang ditemukan dirinya bahwa perusahaan ini bisa menjadi kekuatan untuk membantu mengesampingkan militer Indonesia di Papua Barat.
Paragraph Kedua puluh enam
                Rumbiak menceritakan wawancara Eben dengan anggota milisi Papua yang hidupnya terancam: "Dia mengaku telah membunuh sekelompok polisi Indonesia dengan bantuan agen militer Indonesia. Polisi Indonesia kemudian menggunakan insiden ini sebagai alasan untuk meluncurkan Operasi Isolat dan memusnahkannya.Polisi dan militer ingin kontrak perlindungan dari BP (Beyond Petroleum).
Sebuah artikel yang sulit untuk dipahami dari S. Eben Kirksey, mungkin sebagai seorang reader yang masih amatir (seperti saya) artikel tersebut memang sangat susah dimengerti seperti halnya mencari makna apa arti yang Eben tulis dalam artikelnya tersebut. Berikut beberapa kelemahan dan kelebihan kendala saya sebagai seorang reader;

No.
Weakness
Stronger
1.
The reader Less Vocabulary

Menulis ulang teks artikel tersebut dengan bahasa sendiri
2.
Tidak terbiasa membaca teks dalam bahasa Inggris
Sedikit demi sedikit mengetahui sejarah papua barat dari artikel Eben
3.
Kesulitan mencari makna implisit setiap sentences tersebut

0 comments:

Post a Comment