Saturday, February 22, 2014




Sudah 68 tahun Negara kita merdeka. Pendidikan dan teknologipun semakin canggih bahkan segala sesuatu yang dikerjakan manusia dapat pula dikerjakan oleh robot. Bersorak riang gembira itulah yang dirasakan masyarakat Indonesia ketika menjelang 17 Agustus. Akan tetapi sangat disayangkan sekali bagi Indonesia karena banyaknya penduduk Indonesia tidak banyak dari mereka yang memahami betul apa itu sebuah kemerdekaan.

Dahulu bangsa kita masih dibawah kekangan bangsa-bangsa penjajah begitu pula terhadap budaya berbahasa. Peninggalan sejarah kini tinggallah sejarah dan seakan tiada makna akan perubahan terhadap perubahan Indonesia di mata dunia. Begitu pula dengan bahasa yang selalu dianggap hanyalah seuntai bahasa. Sesungguhnya dimana letak kepedulian kita terhadap bahasa? Bahasa bukan hanya bahasa akan tetapi bahasa adalah literasi.

Kini yang menjadi perbincangan serius dikalangan pendidikan selalu mengarah kepada tingkat literasi kita yang jauh tertinggal dibandingkan dengan Negara lain. Sesuai dengan kenyataan yang ada, khususnya bagi para pelajar dan juga para guru yang selalu mengabaikan sesuatu yang dianggap tidak wajib untuk dilakukan yaitu baca-tulis. Sesungguhnya kita tidak akan tahu masa depan seperti apa yang akan kita genggam kelak. Ironisnya lagi dikalangan pendidikan kini jarang ditemukan siswa yang rajin ke perpustakaan. Terdapat catatan penting dari Prof. Chaedar yang menuliskan :

“ In the 21st century, world class standards will demand that everyone is highly literate, highly numerate, well informed, capable of learning constantly, and confident and able to play their part as citizen of a democratic society”.
                                    -Michael Barber-

Pemaparan dari Michael Barber di atas sangat menggambarkan bahwa telah jelang abad 21, dan kelas standar dunia selalu mengharapkan tingginya akan literasi. mungkin pula akan diharapkan hingga 21 abad yang akan datang. Yang nantinya manusia akan dituntut tinggi terhadap literasi, tidak hanya baca-tulis akan tetapi juga pemahaman terhadap symbol, angka dan tanda-tanda, bahkan gambar sekalipun. Terutama menonjolkan kepercayaan diri masyarakat terhadap social demokrasi.

Semua individu sudah berbahasa sejak dalam kandungan sekalipun. Sekarang tinggal bagaimana cara individu itu mengembangkan kebahasaannya dalam suatu karya setelah dilahirkan di dunia. Sedikit akan dijelaskan mengenai literasi. perlu diingat kembali bahwasanya literasi adalah suatu kolaborasi sekaligus refleksi. Yang dimaksud kolaborasi di sini adalah adanya kesatuan antara baca-tulis, pelaku sebagai writer-reader. Dengan kata lain, kolaborasi merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari beberapa hal yang saling mendukung satu sama lain terutama dalam baca-tulis (literasi).

Perlu diingat kembali bahwa literasi tidak akan pernah lepas dari kehidupan kitasebagai mahluk social. Berawal dari literasilah kita mengenal yang namanya kepedulian, saling menghormati sehingga dari budaya literasi yang tak jauh dari kecintaan terhadap sastra akan melahirkan suatu peradaban yang akan terus berkembang keberadaannya (culture) yang di dalamnya mencakup :

·                     Social
·                     Politic
·                     Economy
·                     Psicology
·                     Culture
·                     Science
·                     …..


Literasi tidak terlepas dari pendidikan. Tuntutan zaman yang semakin modern seperti sekarang tidak menutup kemungkinan mendorong siswa semakin terjun dalam dunia elektronik. Hal ini didrorong kuat oleh keyakinan masyarakat akan kecanggihan teknologi. Akan dibawa ke mana kecerdasan anak bangsa jikalau pera petinggi Negara hanya mengandalkan kecanggihan teknologi? mari kita ingat kembali dari pernyataan Einsten :

“Imagination is more important than knowledge”
(Al Wasilah : 2012: 23)

            Pernyataan dari Einstein di atas menyatakan secara tegas bahwa literasi dapat dikembangkan dengan cara apa saja. Seseorang tanpa imajinasi ia tak akan kuat pula dengan pengetahuannya. Bahwasannya knowledge lahir karna awal mula tergambar suatu imagination, begitu pula dengan seseorang yang ingin menulis yang pada awalnya ia akan berimajinasi terlebih dahulu sehingga muncullah berbagai ide dalam otaknya. Literasi seseorang itu tergantung dari bagaimana cara seseorang itu memiliki rasa kecintaan terhadap literasi itu sendiri, yang berawal dari suka membaca, kemudian tergerak hatinya untuk menulis walaupun kecintaannya terkadang naik turun bahkan dorong tarik.

Literasi tak lepas dari budaya baca-tulis. Budaya di sini yaitu suatu peradaban yang berpacu pada prosperous security . Ihwalnya seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menimpa ilmu di luar negeri, walaupun dari latar belakang budaya yang berbeda akan tetapi ada kenyamanan yang dirasakan. Berarti budaya literasi yang terjadi bejalan baik dan bisa jadi mahasiswa tersebut yang tadinya medium atau bahkan low literacy, semakin berjalannya waktu ia terus meningkatkan kecintaannya terhadap peradaban budaya baca-tulis hingga naik ke level high literacy. Apabila mahasiswa tersebut sudah tergolong ke dalam multilingual language atau multilingual writer yang selalu mempertahankan bahasa ibunya dan jika semakin banyak bahasa yang digunakan maka akan semakin hebat bahasa yang ia pertahankan.

Memang betul jika orang yang tidak suka membaca akan membuatnya sulit untuk menulis, akan tetapi orang yang gemar baca pula tidak menjamin untuk menjadikannya orang yang suka menulis. Seorang penulis yang emotive akan terkesan emotional karena ia memiliki rasa literate yang cukup tinggi (writer-reader) dan pemahaman pula akan datang ketika kita yang gemar menulis tau bagaimana cara mendapatkan informasi. Sangat beragam cara orang untuk memperoleh informasi karena masing-masing memiliki caranya tersendiri.

Literasi berhubungan dengan baca-tulis, banyak orang khususnya pendidik yang berupaya untuk menjadikan beragam individu agar terdidik dan mimiliki rasa cinta yang tinggi terhadap sastra, dan hal ini dinamakan dengan rekayasa literasi. ada beragam cara yang dapat dilakukan dalam upaya merekayasa literasi, di antaranya yaitu:
*          Dibaca
*          Dibaca
*          Direspon
*          Dibaca
*          Ditulis
*          Ditulis
*          Direspon
Adapun yang direkayasa ialah strategi dalam membaca, menulis dan merespon suatu teks. Perlu diingat kembali bahwa dalam dunia literasi terdapat 4 dimensi penting yang selalu berevolusi di dalamnya, antara lain (Prof. Chaedar : 173) : 

a)      Linguistik (focus teks)
b)      Kognitif (mind)
c)      Perkembangan (growth) (Kucer :2005 : 293)
d)     Sosiokultural (group)

Menurut sudut pandang Ken Hyland (2006) seorang penulis terkenal memaparkan bahwa literasi adalah segala sesuatu yang kita kerjakan. Satu hal penting yang dapat kita lakukan adalah bagaimana cara untuk meningkatkan suatu pemahaman kita terhadap tulisan yang nantinya menjadi cerminan kita dalam aktifitas sehari-hari. Ini merupakan suatu pembelajaran dimana seseorang menggunakan literasi dalam kehidupan sehari-hari mereka dan yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara mereka memodifikasi literasi dalam kehidupan sehari-hari?

Barton el al memaparkan bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki pengaruh terhadap perkembangan literasi dan juga umur yang memiliki pengaruh besar. Kali ini terdapat beberapa cara yang berbeda dalam menggunakan literasi berdasarkan pengalaman yang berbeda pula, di antaranya (Ken Hyland : 204) :
v  For finding out and learning about things
v  For life porposes
v  For literacy learning through every day events

Seringkali kita membaca, tapi tak menjamin menjadikan kita seseorang yang gemar menulis. Perlu kita ingat kembali dari buku Mikko Lehtonen yang menyinggung perihal budaya menganalisis terhadap suatu teks. Text, contexts, reader, writer dan meaning yang tidak dapat dipisahkan. Semuanya itu dapat diibaratkan seperti sebuah teater (pentas drama), yang di dalamnya mencakup scenario, pemeran, costum, panggung, dan pesan-pesan yang terkandung di dalam cerita dramanya. Peran reader di sini digantikan oleh penonton yang setia untuk menyimak tiap adegan yang diperankan oleh tiap pemain.

Menurut Ken Hyland pada bukunya yang berjudul “English for Academic Porposes (EAP)” menerangkan jelas bahwa literasi adalah segala sesuatu yang kita lakukan. Berliterasi bisa melalui apa saja, entah itu melalui belajar mendengar, mambaca walau sedikit sedikit, menulis apa saja yang ingin kita tulis. Di sini terdapat tiga konsep dalam English for Academic yang nantinya dapat merubah suatu konteks kita dalam pembelajaran, yakni of study skill, socialization and literacy, have developed in succession, with later views incorporating earlier ones. (Lea and Street, 2000). Hal ini tidak hanya mencakup budaya baca-tulis, akan tetapi juga terhadap komunikatif individu. Ada beberapa hal penting kenapa EAP sangat diperlukan, karena (Ken Hyland: 2006: 16) :

·             *We have gradually learned more about the different teaching contexts in which students find      themselves and about the particular communicative demands places on them by their studies.
·                    * There are growing numbers of students from ‘non-traditional’ backgrounds entering university.
·                    * Students now take a broader and more heterogeneous mix of academic subjects.

Hanya mengandalkan belajar itu akan mempersempit pengetahuan siswa dalam memahami sesuatu. Alangkah baiknya menggunakan berbagai fasilitas yang ada, misalnya rajin membaca buku di perpustakaan latihan menulis sendiri tanpa ketergantungan oleh tugas-dari dari sekolah maupun kampus.  Richard et al (1992: 359) mengungkapkan :

“Abilities, techniques and strategies which are used when reading, writing, or listening for study porposes……”

Pemaparan di atas sangan jelas menggambarkan bahwa literasi merupakan ditujukan untuk study poroses. Dapat pula dilakukan melalui beberapa experience yang kita alami sebelumnya kaena lireasi tak membatasi ruang lingkup waktu.

            Dapat disimpulkan bahwa merekayasa literasi harus berawal dari diri-sendiri sebelum kita berkecambah ke area yang lebih luas. Literacy is something we do. Sesuatu yang kita kerjakan dan apabila mengalami revolusi berarti kita sedang bertahap berliterasi. Berliterasi tak pernah lekang oleh waktu kecuali manusianya yang tidak mau berubah. Kita berubah untuk Indonesia jaya.

0 comments:

Post a Comment