Tuesday, February 18, 2014



            Sebuah judul dalam buku yang ditulis oleh Prof. Chaedar alwasilah berupa “Rekayasa Literasi”, kata rekayasa inilah yang membuat saya penasaran. Kenapa mesti menggunakan kata rekayasa. Mengapa tidak menggunakan kata penipuan ataupun yang lainnya. Rekayasa dalam kamus kecil Bahasa Indonesia mempunyai arti menerapkan kaidah-kaidah ilmu dalam sesuatu pelaksanaan (misalnya tentang ekonomi ataupun cuaca). Sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia, rekayasa tidak jauh pengertiannya dengan kamus kecil Bahasa Indonesia, namun tambahannya hanyalah untuk sebuah rancangan.
            Sedangkan kata literasi dalam KBBI sudah berubah menjadi literator yang mempunyai makna penulis. Berbeda pula dalam pengertian lama dari oxport yang mempunyai makna kemampuan membaca dan menulis. Memang tidak diragukan lagi bahwasanya antara menulis dam membaca adalah suatu hal yang “lengket” sehingga susah untuk dipisahkan. Suatu paket yang “mesti” ada dalam seorang literate. Dalam bukunya Prof. Chaedar menulis sebuah pernyataan yang sangat menurut saya kontroversi. Tulisan tersebut “Pada masa silam membaca dan menulis dianggap “cukup” sebagai pendidikan dasar (pendidikan umum) untuk membekali manusia kemampuan menghadapi tantangan zamannya. Kata cukup disitu saya sangat tidak setuju, karena pada zaman dulu kita memang tidak bisa membaca alias buta huruf, namun membaca dan menulis tidak cukup saja. Pada zaman dahulu, masyarakat kita dikagetkan dengan memulainya era transaksi menggunakan uang, sedangkan masyarakat pada waktu itu masih menggunakan system “barter”. Jadi mereka pun harus mengerti pula ilmu menghitung seperti matematika. Jadi membaca dan menulis saja tidak cukup.
            Dalam tulisan Prof. Chaedar ada sisi yang membuat saya langsung setuju. Tulisan tersebut berbunyi keempat peran literasi ini dapat diringkas ke dalam lima verba: memahami, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasi teks. Itulah hakikat ber-literasi secara kritis dalam masyarakat demokratis. Pernyataan ini menunjukkan bahwasanya berawal dari membaca akan menghasilkan pemahaman. Setelah kita faham akan tulisan tersebut, mulailah kita menggunakannya  serta menganalisis. Lalu mulailah mentransformasi teks tersebut. Kita sekarang berbeda dengan sewaktu kejadian silam yang tidak diperbolehkannya masyarakat berbicara ataupun berkomentar dalam bentuk tulisan kepada pemerintah, jika ada yang berani berbicara tentang pemerintah maka orang tersebut akan dipenjara. Hal ini menurut saya sangat miris, karena melalui peraturan yang seperti itu membuat rakyat kita tidak menjadi manusia yang literasi, bahkan membuat rakyat kita menjadi bodoh.
            Dimensi dalam lierasi pun mempunyai 7:
1.      Dimensi geografis, yaitu bisa dikatakan berupa regional
2.      Dimensi bidang, yaitu berkenaan dengan pendidikan. Dikatakan dengan pendidikan yang tinggi dan berkualitas, maka menghasilkan literasi yang bermutu pula. Sedangkan di Negara kita ini, bukanlah rahasia lagi, akan tetapi sudah hal yang umum, sebuah mata pelajaran atau mata kuliah bisa dibeli dengan uang tanpa ada proses lagi. Inilah yang membuat rakyat kita tidak literasi juga, hanya instan saja yang dipilih.
3.      Dimensi keterampilan, yaitu berkenaan dengan literasi itu sendiri. Prof. Chaedar mengatakan bahwasanya sarjana kita bisa membaca namun tidak bisa menulis. Pernyataan yang sangat membingungkan saya, karena tidak semua seperti itu. Banyak lulus PT yang bisa menulis. Entah itu novel ataupun cerpen.
4.      Dimensi fungsi, yaitu berkenaan dengan dunia memecahkan sesuatu. Orang yang literate dikatakan dapat memecahkan maslah dengan mudah. Tidak sulit untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Contohnya uang, jika kita suka menulis cerpen dan dijual maka bisa menghasilkan uang pula.
5.      Dimensi media, yaitu dizaman sekarang orang yang literate bukan hanya membaca di kertas semata. Namun harus bisa pula membaca di bidang digital ataupun visual.
6.      Dimensi jumlah, yaitu jumlah orang multiliterate sangatlah sedikit, maka dari itu kita harus mampu menjadi literate.
7.      Dimensi Bahasa, yaitu jika kita menjadi orang jawa ataupun sunda. Bisa dikatakan kita itu multiliterate. Karena kita bisa menggunakan 3 bahasa sekaligus, Bahasa Indonesia, Bahasa daerah dan Bahasa inggris. Multiliterate bukan hanya tingakatan level yang biasa namun bisa mencerminkan intelek seseorang.
Tantangan zaman merupakan hal yang sederhana untuk di lalui namun perlu adanya penyeimbang untuk melampauinya. Tantangan zaman pun mengisyaratkan kita semua untuk mau mengikuti arus ataupun melawan arus tersebut. Literasi pun memiliki perkembangannya menurut waktu dan tantangan zamannya. Maka dari itu literasi mempunyai 10 gagasan kuncinya yang menunjukkan perubahan paradigma literasi. Prof. Chaedar membaginya sebagai berikut:
1.      Ketertiban lembaga-lembaga social, keterlibatannya lembaga social ini antara lain seperti RT,RW, dan instansi lainnya yang biasa ada dalam masyarakat.
2.      Tingkat kefasihan relative, dalam dunia literasi orang yang literate itu mempunyai tingkat kefasihan dalam berbicaranya. Seorang literate pun harus mempunyai TOEFL 550, itu pun batas minimalnya. Sudah dibayangkan bahwasanya kita ini masih jauh tuk bisa dianggap manusia yang literate,
3.      Pengembangan potensi diri dan pengetahuan. Orang yang berliterate itu mempunyai tinggat pengetahuan yang tinggi. Hal ini pun dibuktikan oleh cara dia menulis. Dengan Bahasa yang tinggi dan Bahasa yang ilmiah. Kita yang sebagai mahasiswa memulai menulis dari menulis academic.
4.      Standar dunia, tingkat literasi sebuah bangsa pun sekarang mempunyai standar dalam menentukan bangsa itu bangsa ynag literate atau tidak.
5.      Warga masyarakat demokratis, factor ini sangat menentukan bangsa itu literate atau tidak. Karena bangsa yang demokratis biasanya banyak yang berpendapat melalui lisan ataupun melalui tulisan.
6.      Keragaman local. Manusia yang literate pasti memahami hal ini. Karena semua orang yang literate pasti menginginkan menjadi manusia yang multiliterate.
7.      Hubungan global, semua orang sedang berlomba-lomba untuk menjadi manusia yang literate di dunia. Literasi tingkat ini harus benar-benar kita kuat. Cara memperkuatnya antara lain penguasaan ICT dan penguasaan konsep pengetahuan.
8.      Kewarganegaraan yang efektif, warga yang mampu mengubah diri menjadi lebih baik, dapat menggali potensi dirinya adalah warga yang literate.
9.      Bahasa inggris ragam dunia, sudah jelas bahwasanya kita itu dalam dunia ini mempunyai banyak ragam Bahasa. Maka dari itu bagaimana caranya agar kita mudah tuk memahami satu sama lain. Maka timbullah Bahasa kesatuan untuk seluruh dunia di antaranya adalah Bahasa inggris itu sendiri.
10.  Kemampuan berpikir kritis, sudah barang tentu seorang yang literate itu harus mempunyai pikiran yang kritis. Tanpa berpikir kritis, kita sulit untuk menjadi manusia literate.
11.  Masyarakat semiotic. Sebelumnya kita bahas semiotic itu sendiri. Semiotic adalah ilmu tentang tanda, ikon, tipologi tanda, kode struktur, dan komunikasi.
Maju ke pembahasan raport merah literasi anak negeri. Sangat miris ketika kita mendengar raport merah yang ditulis oleh Prof. Chaedar. Sejak 1999 indonesia ikut proyek penelitian dunia tentang tingkat literasinya. Nama proyek tersebut dinamai PILRS (Program in International Reading Literacy Study), PISA (Program for International Student Assessment), dan TIMSS (the Third International Mathematics and Science Study) untuk mengukur literasi membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan alam. Tercatat jika kita lihat semuanya, Indonesia selalu mendapatkan ranking bawah selalu. Kalah oleh singapura yang merupakan Negara kecil. Skor prestasi membaca Indonesia hanya mampu berada di urutan 5 dari bawah. Jika kita lihat negara2 yang maju itu kebanyakan tingkat membaca mereka itu rata-rata 500, dan pendapatan perkapitanya itu tinggi. Coba kita bayangkan,tingkat membaca kita yang prestasinya tinggi itu hanya 2% dan 55% dalam kategori yang rendah.
Dari penjelasan diatas tadi bahwasanya Negara kita ini termasuk ke dalam Negara yang tertinggal dan akan berada dalam posisi Negara berkembang. Berbeda dengan Negara lain yang sama-sama statusnya “pernah dijajah”, tapi mereka bisa bangkit dan merubah diri. Contohnya Negara jepang, mereka jenius-jenius karena tingkat membaca mereka tinggi. Dan tidak usah jauh-jauh, di Negara kita ini saja, orang yang jenius-jenius itu adalah orang yang suka membaca dan menulis. Otak mereka sudah biasa diasah sedemikian rupa hingga menjadi manusia yang jenius.
Bagian terakhir yang penting dari rekayasa literasi adalah implementasi dari literasi. Rekayasa literasi adalah upaya yang disengaja dan sistematis untuk menjadikan manusia terdidik dan berbudaya lewat penguasaan bahasa secara optimal. Untuk peningkatan literasi siswa dapat dilaksanakan di lembaga pendidikan formal, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Dalam perbaikan rekayasa literasi senantiasa melibatkan empat dimensi yaitu: 1) linguistic atau focus teks, 2) kognitif atau focus minda, 3) sosiokultural atau focus kelompok, 4) perkembangan atau focus pertumbuhan.
Paradigm pertama, decoding adalah menyatakan bahwa grafofonem berfungsi sebagai pintu masuk literasi, dan belajar bahasa dimulai dangan menguasai bagian-bagian bahasa. Paradigm kedua, keterampilan adalah bahwa penguasaan morfem dan kosakata adalah dasar untuk membaca. Dan paradigma terakhir, bahasa secara utuh adalah paradigm ini menolak pembelajaran yang meletakkan focus pada bagian atau serpihan bahasa.
            Paradigma adalah cara pandang dan pemaknaan terhadap objek pandang. Perubahan sudut pandang membawa konsekuensi sampai ke metode dan teknik pengajaran yang kasat mata dan hasilnya dapat diukur. Misalnya, dengan perubahan orientasi dari hasil ke proses, guru bahasa akan melakukan hal sebagai berikut: 1) bagi dia isunya bukan berapa banyak tulisan yang dihasilkan oleh siswa, tapi bagaimana tulisan diproses dari A sampai Z, 2) tidak menentukan target yang sama bagi semua siswa, karena dalam proses menulis setiap siswa memiliki hobi dan gaya yang berbeda. Yang penting berekspresi tulis. Kesalahan ejaan, tata bahasa, ddann kosa kata akan dapat dibenahi sambil jalan (proses).
            Jadi kesimpulan dari semuanya adalah literasi adalah tingkatan dimana kita bisa membaca dan menulis ditingkat yang lebih tinggi. Literasi yang tingkatan tinggi antara lain multiliterate. Multiliterate adalah penguasaan yang lebih dari satu, yaitu penguasaan dari Bahasa. Bahasa daerah, Bahasa Indonesia, Bahasa inggris. Sungguh orang sangat menginginkannya. BISA!



0 comments:

Post a Comment