Wednesday, February 26, 2014




            Literasi mulai tercium baunya di Indonesia sejak zaman pemerintahan VOC. Salah satu kurikulum yang digunakannya adalah baca-tulis. Meskipun berlaku sistem kasta dalam pendidikannya, yakni hanya berlaku untuk Bangsa Belanda dan orang-orang Indonesia yang keturunan priyayi. (Landasan Pendidikan). Namun, seiring dengan perkembangan zaman di Indonesia yang sekarang telah mengecap kemerdekaan dari segi perang fisik. Indonesia mulai bangkit dari segi literasinya. Hal ini dibuktikan dengan adanya program-program atau sistem pembelajaran sedari dini (siswa TK) guna memperkenalkan literasi. Seperti yang dilakukan oleh siswa/siswi tingkat TK dan SD di Bekasi pada tahun 2013 lalu. Menurut Weni Darmono (Ketua Yayasan Cinta Alam), "Melalui pekan literasi ini, setiap siswa SAsi mulai tingkat TK dan SD diwajibkan membuat buku yang idenya berasal dari mereka sendiri kemudian dituangkan dalam tulisan dan gambar. Hasil tulisan dan gambar siswa dalam bentuk buku tadi kemudian dicetak dan dijual." Pekan Literasi tersebut digelar dua tahun sekali berselang-seling dengan kegiatan Science Fair (Membangun peradaban melalui literasi). Sedangkan menurut Direktur SAsi Hosyatul 'Aliyah Az-Zahra belajar bahasa Indonesia itu tidak cukup hanya di sekolah. Beliau juga mengatakan tujuan dari adanya Pekan Literasi tersebut, "Dengan menulis dan menuangkannya dalam bentuk buku, anak mendapatkan tantangan yang lebih dan membuat mereka senang dan bangga. Apalagi bila kemudian bukunya laku terjual. Sesederhana inilah maksud program Pekan Literasi SAsi," Anak-anak TK dan SD itu memang belum menyadari, bahwa kegiatan tersebut adalah salah satu cara Rekayasa Literasi sedari dini. Mereka akan menyadarinya kelak ketika mereka sudah mampu berfikir kritis.
            Disisi lain, definisi dan cakupan literasi semakin berkembang seiring dengan peruabahan zaman. Jika ratusan tahun yang lalu, literasi hanya sebatas baca-tulis (Perang Dunia ke-2). Maka, dewasa ini, literasi mampu mengembangkan sayapnya dalam berbagai bidang, sperti teknologi, sains, sosial, politik, ekonomi, psycholog, dan lain-lain. Semua bidang tersebut akan berhilir dalam lautan peradaban literasi.
            Peradaban literasi di tandai oleh beberapa hal, yaitu sucsess, security, disipline, comfort, people organize, dan sebagainya. Hal tersebut telah dialami oleh negara-negara yang maju, sepertiMelbourne, Singapore, dan lain-lain. Mereka memperoleh julukan tersebut karena masyarakatnya ber-literat. Memang tidak mudah mewujudkannya. Disamping kita harus banyak membaca dan menulis, kita juga harus dapat mengaplikasikannya menjadi ilmu oengetahuan yang baru.
            Bangsa yang memiliki peradaban literasi di tandai dengan sucsess. Dia dapat dicirikan dengan pendapatan perkapitanya. Di negara kita memang banyak kalangan yang sukses dan kaya. Namun, banyak pula orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Pantaslah jika ada sebuah lagu yang liriknya "Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin". Apakah ini yang dimaksud peradaban literasi di negara kita? tentu bukan, menurut A. Chaedar Alwasilah, kemiskinan seseorang dicirikan dengan beberapa sisi, yaitu buta huruf, tidak menguasai Bahasa Nasional, dan sebagainya (Politik Bahasa dan Pendidikan). Kesalahfahaman dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa, bukan hanya terletak pada pemerintah. Masyarakat dalam hal ini juga ikut campur tangan. Bagaimana tidak? Tradisi kita yang hanya ingin selalu berada di zona nyaman (tangan di bawah) sejak zaman Kolonial yang masih berlanjut sampai sekarang. Dengan fenomena tersebut, akankah bangsa kita memiliki peradaban literasi?
            Sebagai bahan perbandingan, Negeri Tirai Bambu China telah menjadi salah satu peradaban literasi. Mereka menganggap teknologi adalah Sastra. Bagaimana dengan kita? Walaupun tidak semenarik dan semaju Negara lain, tapi kita harus tetap bangga dengan Indonesia.
            Dari segi security, Negara kita memang belum aman. Walaupun era penjajahan telah usai, namun hal ini tidak menjamin negara kita hidup tenang. Banyak konflik di berbagai daerah. Konflik-konflik tersebut belum dapat terselesaikan sampai sekarang. Bagai penyakit menahun yang secara tiba-tiba dapat muncul kembali. Kebanyakan konflik antar agama. Dalam hal ini kita dapat meniru Negara lain mengenai sikap toleran yang menjadi dasar kerukunan Bangsa. Seperti di Amerika dan Singapore. Sekarang sudah banyak komunitas Muslim disana dan mahasiswi yang memakain jilbab (Pokoknya Rekayasa Literasi: Saya lebih banyak belajar tentang Indonesia ketika di Amerika).
            Peradaban literasi juga ditandai dengan kedisiplinan masyarakatnya. Dalam sebuah berita di salah satu tekevisi yang menginformasikan tentang kedisiplinan orang-orang di Jepang. Selain itu kebiasaan mereka ketika berangkat bekerja dengan berjalan kaki sangat menarik. Walaupun mereka memiliki kendaraan bermotor. Mereka lebih memilih berjalan kaki dengan cepat, jika rumah mereka tidak terlalu jauh dari tempat bekerja. Sehingga nampak perjalanan hilit mudik para pejalan kaki di pagi hari dalam berita tersebut. Di tambah lagi kerapihan dan kebersihan mereka dalam membuang sampah. Sekecil apapun sampah jika tidak ada tempatnya, mereka menyimpannya dalam saku atau kendaraan mereka. Sangat jauh berbeda dengan kita bukan?
            Dari sisi comfort, ini tidak jauh berbeda dengan security. Comfort adalah hasil dari security dalam suatu negara. Semua tandai peradaban mencirikan people organize yang sangat baik dalam negara tersebut.
            Jadi, dapat dikatakan bahwa yang dapat menciptakan peradaban literasi adalah diri kita sendiri. Apalagi kita sebgai calon guru dan orang tua yang harus mampu memperkenalkan dunia literasi kepada murid dan anak kita, seperti acara Pekan Literasi yang diadakan di Bekasi selama dua tahun sekali. Selain itu, sebagai jumlah pemeluk agama Islam terbanyak di dunia, seharusnya kita dapat mewujudkan people organize dengan baik. Kenapa? Dalam Islam kenidupan manusia ada aturannya. Namun, sering kali kita mengabaikannya.

           
           



0 comments:

Post a Comment