Saturday, February 22, 2014

Pluralism
Manusia itu berasal dari kata insan ajectivenya anis (maskulin) dan anisah (feminism) yang dimaknai dengan harmoni , serasi damai, rukun atau sejahtera jika dalam diri manusia selalu menginginka dan menghadirkan konflik, dimanakah letak dari insannya (harmoni) yang merupakan esensi dari karakter manusia itu sendiri.[1]
Indonesia merupakan Negara besar yang multicultural, dapat kita umpamakan sebagai suatu tempat yang ibarat toko, Indonesia merupakan Toserba (toko serba ada) dari segi bdaya, adat istiadat, agama, etnis, dan ras semua terdapat lengkap di Indonesia. Maka dari itu persatuan memang senjata utama kita sejak dulu. Kita sudah ber Pancasila sejak tujuh abad yang lalu yang bernama “Bineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tetap satu jua) dengan adanya faham tersebut sejak berabad-abad yang lalu maka terlihat bahwa indonesia memang berdiri diatas semua perbedaan sejak tujuh abad yang lalu.
Tentunya persoalan tentang masalah toleransi dan saling menghargai antara keberbedaan sudah bukan suatu yang baru di kalangan masyarakat Indonesia. Setidaknya masyarakat Indonesia tahu bagaimana beraneka ragamnya suku, ras dan agama di Indonesia. Walaupun begitu, namun masyarakat Indonesia juga masih rawan akan perpecahan karena berbagai masalah-masalah yang sensitif dimata masyarakat. Ikhwal tersebut benguatkan bahwa pendidikan toleransi sagatlah penting dikenalkan sejak dini, saling menghormati antar umat beragama, antar suku, ras dan antar keyakinan. Tentunya yang penguatan dari sektor pendidikan dinegara kita.
Kemajuan suatu Negara memang diyakini berbanding lurus dengan kualitas daripada pendidikan di Negara tersebut. Namun kemajuan dari pendidikan juga perlunya keseriusan dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Dalam Artikel Prof. Alwasilah yang berjudul Classroom discourse to foster religious harmony” mengemukakan bahwa Menjelaskan tentang kelas yang menujnkan yang individual, perlu garis bawahi adalah peer collaboration and interaction on social karena itu juga untuk menangkal  terjadinya kekerasan dikalangan remaja sekolah. Dalam  atrikel tersebut juga menjelaskan tentang penelitian yang telah menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah lebih memilih untuk berinteraksi dengan rekan-rekan mereka. Dalam konteks sekolah , itu adalah hubungan ini di mana menghormati rekan, bantuan, berbagi, dan umumnya sopan terhadap satu sama lain . Konsep interaksi dengan rekan sebaya adalah komponen penting dalam teori pembangunan sosial[2]
Dalam hal ini Kekerasan dikalangan remaja adalah sebagai hasil dari kurangnya keterampilan dasar untuk mengembangkan kehidupan mereka sebagai individu, anggota masyarakat dan warga negara . Keterampilan dasar ini juga merupakan dasar untuk pendidikan lebih lanjut. Keterampilan dasar tersebut adalah menyangkut moral, sosial, emosi, sampai pola pikir. Untuk itu penulis berpendapat pendidikn liberal sangatlah penting.
Pendidikan Liberal
Pendidikan liberal adalahmerupakan cikal-bakal pendidikan tinggi di AS dalam konteks Indonesia, jauh-jauh hari sebelum para penjajah datang, sistem pesantren sudah lama berkembang seiring dengan penyebaran Islam di Nusantara. Tujuan umum dari pendidikan liberal menurut derek bok, mantan Presiden Harvard adalah, “a critical mind free of dogma, but nourished by human velue” ada dua kunci yang harus dipegang oleh siswa yang mempunyai background pendidikan liberal yaitu kemampuan berpikir kritis dan nilai-nilai kemanusiaan. Lebih khusus pendidikan liberalmemayungi pendidikan kognitif, moral dan emosi.
Dua topic, religious harmony, dan class room discourse, di amerika menerapkan pendidikan yang lebih ke asrama, peer interaction social, sehingga classroom discourse terjadi, ada apa dengan Indonesia Padahal Indonesia sudah menerapkan system tersebut, contoh pesantren. Peer interaction di pesantren laki-laki dan perempuan dipisah, sementara di amerika pun sama, namun dalam sekolah tetap dalam satu kelas.[3]
Namun disisi lain, Ideology liberalisme juga mempunyai kelemahan jika diterapkan di Indonesia, Kelemahan utama liberalisme adalah kurangnya perhatian terhadap nasib kaum miskin, buruh dan lainnya.Mereka menganggap siapa yang miskin itu yang hidupnya malas.Sangat ekstrem.Tapi anggapan itu tidak berlaku untuk kondisi Indonesia.
Pesantren
Pondok Pesantren (Ponpes) masih menjadi pilihan masyarakat untuk mendidik putra-putri mereka. Apalagi, dengan banyaknya ponpes yang berwajah modern, makin banyaklah anak bangsa yang berkesempatan mengenyam pendidikan agama tanpa melupakan pendidikan umum. Berdasarkan pendataan ponpes 2010-2011 dari Kementerian Agama, terdapat 27.218 ponpes yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah santri secara keseluruhan bahkan mencapai 3.642.738 orang. Secara bahasa, pondok berarti tempat tinggal atau bangunan sementara. Pondok dalam bahasa arab disebut al fundduq yang bermakna asrama, tempat penginapan sementara. Adapun pesantren dari kata 'pe-santri-an' yang bermakna tempat para santri.
Liberalisme di sisi lain juga berdampak pada aspek ekonomi, dalam wujud kapitalisme. Suatu sistem ekonomi yang sangat menekan campur tangan pemerintah dan bergantung pada mekanisme pasar demi “nilai-nilai kebebasan” yang tadi disebutkan.Juga demi memacu daya saing manusia dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Sangatlah masuk akal memang, jika manusia akan sangat terpacu untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi mereka jika diberi kepemilikan hak milik pribadi dan kebebasan mengelola dan mendaya gunakannya secara maksimal dan bebas.Dengan kebebasan yang diberikan kepada setiap individu dapat mengakibatkan individu tersebut melakukan eksploitasi terhadap sumber-sumber produksi yang ada.[4]
penerapan liberalisme pada dasarnya tidak cocok diterapkan di Indonesia secara penuh.Indonesia sendiri dikenal dengan Negara yang selalu menggunakan system campuran. Sehingga, hal-hal yang positif dapat diikuti namun tetap merajuk pada budaya dan adat istiadat Negara kita, karena pada dasarnya manusia dilahirkan secara bebas namun norma dan adat istiadat yang masih terus dijaga oleh masyarakat Indonesia tetap mengikat kita sebagai manusia.
Memang di Negara Indonesia isu-isu yang menyangkut agama masih sangat sensitif, oleh karena itu ketika isu-isu yang tengah mengemuka dikalangan masyarakat khususnya tentang masalah agama, akan memancing respon yang sangat keras dari kalangan masyarakat. Contohnya ketika adanya berita tentang karikatur nabi di Denmark membuat Kedutaan Besar Denmark di Jakarta sempat tutup selama tiga pekan untuk menghindari gangguan keamanan akibat aksi protes warga Muslim atas penerbitan 12 karikatur Nabi Muhammad S.A.W.di koran Denmark, Jyllands- Posten. Pada tahun 2006.[5] Itu merupakan bukti kesensitifan masyarakat Indonesia dalam menanggapi setiap isu-isu yang berbau agama dan keyakinan.
Contoh lainnya adalah apada kerusuhan yang berbau agama di Ambon, Indikasi-indikasi yang ditemukan sebelum hingga pasca kerusuhan, menunjukkan bahwa kerusuhan Ambon sudah direncanakan secara sistematis. Bisa dipahami bahwa kerusuhan berkembang sangat cepat, eksesif dan tak terkendali, tanpa disadari oleh masyarakat yang terlibat dalam konflik. Pihak perekayasa tampaknya telah belajar banyak dari kerusuhan-kerusuhan yang terjadi sebelumnya (27 Juli, Situbondo, Tasikmalaya, tragedi Mei, “Dukun Santet”, Ketapang, Kupang, Sambas, dll). Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi sebelum peristiwa Ambon telah dipahami dan dibaca masyarakat sebagai hasil “rekayasa elite politis”. Sementara pada kasus Ambon lebih banyak masyarakat membaca kerusuhan sebagai konflik agama semata. Ini terjadi, selain karena rekayasa kerusuhan Ambon itu rapi dan sistematis, juga karena kondisi masyarakat sipil masih rentan terhadap aksi adu domba.
Bukan hanya isu-isu agama yang menyangkut pelecehan yang rawan akan adu domba di kalangan masyarakat Indonesia, namun juga aliran-aliran baru dalam satu agama yang dianggap sesat contohnya adalah persoalan ahmadiyah yang sampai saat ini masih diperdebatkan. Oleh karenyanya pencegahan dari mudahnya masyarakat indoenesia dalam terprofokasi isu-isu agama sangatlah penting, sedini mungkin masyarakat harus belajar bertoleransi yang dapat mempersatukan bangsa salahsatunya dengan metode peer Interection tersebut dan juga pendidikan berbasis liberal yang juga dijelaskan oleh prof chaedar dalam tulisannya.
Yang harusnya menjadi fokus utamanya adalah fanastisme dalam beragama. Gus dur,Fanatisme beragama bisa mengikis kesatuan umat, karena umat beragama seharusnya bisa menciptakan toleransi baik pada kelompok sendiri maupun umat beragama lain, tapi dengan fanatisme yang berlebihan justru menciptakan kesenjangan.kesenjangan disini bersifat lebih individualis, dan merasa paling benar. Ketika seorang yang terlau fanatic dengan agama, bangsa, suku, ras dan golongan.
Masyarakat Indonesia memang sangat kental terhadap fanatisme, bukan hanya fanatisme agama namun juga fanatisme kedaerahan yang semakin menjadi, contoh negatif dari fanatisme berlebihan dalam ranah kedaerahan adalah tawuran antar desa, kampung, atau dusun begitu pula tawuran antar supporter sepak bola uyang mengatasnamakan kota mereka masing-masing.
Pendidikan berbasis liberal di pesantren berbasis agama satu, paling yang membedakan adalah aliran-aliran masing-masing, walaupun semua pesantren ber latar belakang agama islam namun, mempunyai banyak aliran, golongan dan pendapat yang berbeda antaralain aliran ahmadiyah, dan ahlussunnah. Jenis dari pesantren juga secara umum terbagi menjadi dua, yaitu pesantren berbasis modern, dan pesantren yang masih menggunakan metode tradisional.
Dalam artikel Prof. Alwasilah, Cuma menjelaskan tenteng pendidikan liberal yang dicondongkan dalam basis pesantren dan pendidikan liberal yang sukses Amerika, namun sebenarnya dalam pendidikan umum di Indonesia sudah menggunakan atau didasari oleh filsafat Pendidikan Pancasila. Landasan filsafat tersebut sudah cukup menjadi sebuah landasan pendidikan yang kokoh dalam membentuk karakter dan moral para pelajar Indonesia.

Filsafat Pancasila Sebagai Dasar Pendidikan Bangsa Indonesia
Pengertian filsafat menurut arti katanya, kata filsafat dalam Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani terdiri dari kata Philein artinya Cinta dan Sophia artinya Kebijaksanaan. Filsafat berarti Cinta Kebijaksanaan, cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya Kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti Hasrat atau Keinginan yang sungguh-sungguh akan kebenaran sejati.       
Filsafat Pancasila dapat diartikan sebagai hasil pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai ) yang paling benar,paling adil, paling bijaksana, paling baik, paling sesuai bagi bangsa Indonesia. Pancasila pada hakikatnya juga memiliki arti sebagai perwujudan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sepanjang sejarah dan merupakan penggabungan antara unsur-unsur budaya luar yang sesuai dengan budaya Indonesia sehingga keseluruhannya terpadu menjadi sebuah Ideologi yang bernama Pancasila. Pandangan tersebut akhirnya diyakini oleh bangsa Indonesia dalam melaksankan kehidupan berbangsa dan bernegara dan dari gagasan itulah dapat diketahui akan cita-cita yang ingin dicapai oleh bangsa dan Negara Indonesia.[6]
Indonesia  adanya perbedaan budaya, merupakan hal yang biasa dan sudah terdidik sejak dini. Pendidikan liberal, tidak adanya unsur agama, mentingkan kognitif, moral dan emosi, Social berinteraksi, peran dari wacana kelas yang membuat setiap siswa aktif dalam diskusi kelas yang dan menyoroti secara khusus dalam hal moral, nilai dan kebudayaan. Wacana kelas menjadi kerukunan berinteraksi, merupakan kohesi yang memberi pemahaman penuh tentang saling menghormati antar agama. Disini landasan dari filsafat pancasila dalam pendidikan diIndonesia sangat berperan strategis.
Guru tidak hanya mengajarkan scientific  saja tetapi juga tentang norma, moral, karakter. Persahabatan dengan rekan-rekan dapat membantu dia belajar tentang berbagi dan bergiliran, kerjasama dan resolusi konflik, keadilan, atau agresi-semua skill dia akan butuhkan nanti di sekolah dan dalam kehidupan. Pemahaman multicultural dari guru juga mengambil peran penting dalam hal ini, karena pemahaman konflik yang berkenaan dengan isu-isu “sara” dapat ditekan.
Sebagai kekayaan berarti semua agama yang berada di Nusantara ini diyakini mempunyai kekhasan fungsional religious sehingga adanya banyak agama justru menampilkan wajah bangsa yang “tidak monoton” karena perbedaan agama merupakan anugra bagi bangsa ini. Itulah pemahaman yang harus di tanamkan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang masih awam akan toleransi.dalam pendidikan umum pada sekolah, di isi dengan berbagai study pemahaman yang saling bersinergi dengan keyakinan.
Dalam aspek pendidikan, pendidikan liberal dan demokrasi merupakan hal yang mempunyai maksud dan tujuan yang sama, yaitu terciptanya keaktifan interaksi wacana dalam kelas yang berasaskan kesetaraan dan tak terkotak-kotakkan dalam golongan, ras, dan agama. Ini yang sudah pasti akan terciptanya budaya keharmonisan dalam kelas. Keseimbangan toleransi di kelas yang multicultural akan lebih terlihat menarik dibandingkan kelas yang monoton dalam adat istiadat yang sama.

Religious harmony
Pendidikan liberal tersebut tak lain dan tak bukan merupakan suatu langkah yang pasti dalam mewujudkan keharmonisan dalam beragama. Wacana dalam kelas mungkin Cuma sejenis simulator untuk mambangun keharmonisan yang sesungguhnya dikalangan masyarakat ketika siswa tersebut terjun ke Masyarakat. Indeonesia sebagai Negara yang multicultural, tercatat sebagai salahsatu Negara yang paling toleran diasia bahkan di Dunia. Itu dapat terlihat dari keseharian masyarakat Indonesia yang agamis namun mempunyai tenggang rasa yang sangat tinggi. Peer interaction mengkombinasi antara keharmonisan beragama dengan wacana  dalam kelas yang menmungkinkan siswanya dapat berpikir kritis dan moderat.
Untuk itu sebagai Indonesia sebagai negara yang berdaulat tidak menjadikan segala sesuatu yang datang dari Barat sebagai anutan secara berlebihan, terlebih meniru secara menyeluruh, karena Bangsa kita tidak kalah hebat, bahkan sebenarnya jauh lebih hebat dibandingkan Negara-negara Barat tersebut. Nilai-nilai yang kita punya, yang terbentuk melalui proses yang panjang dan dilatarbelakangi oleh penyesuaian karakteristik iklim, karakteristik keadaan alam, maupun karakteristik sosiologis-kemasyarakatan, membentuk budaya, norma, dan nilai-nilai yang patut kita acungkan jempol dan tentu saja paling sesuai dengan diri kita sebagai masyarakat Indonesia.[7]
Namun itu terkesan bertolak belakang dengan sistem pendidikan di Indonesia yang di kotak-kotakkan oleh agama. Apa kah perlu kementrian agama meng handle pendidikan yang berbasis agama khususnya islam? Mungkin ini terlihat aneh ketika di sekolah umum terdapat pelajaran agama islam, yang notabene tidak semua murid di sekolah tersebut beragama islam. Tapi ternyata presepsi tersebut tidak benar karena, pelajaran agama yang ada pada sekolah umum seperti SMP/SMA/SMK merupakan pelajaran agama yang tak hanya mempelajari tentang agama secara umum, namun juga mempelajari lebih lanjut tentang masalah akhlak, budi pekerti, dan norma adat yang baik.

Dialog agama merupakan interaksi social
Dialog dibatasi sebagai forum tukar-menukar pemahaman dan pengalaman kognitif, afektif dan motorik. Tuhan pun meladeni rasulnya untuk berdialog, sehingga adanya saling mengerti antara tuhan dan rasulnya. Kalau metode dialog ini dicontohkan oleh tuhan kenapa kita tidak? Tukar menukar pengalaman dan gagasan, inilah yang memperkaya khazanah keilmuan para pemeluknya. Dialog bukanlah “adu pinalti” untuk menentukan kalah atau menang. Karena pada dasarnya dialog antar agama didasari dengan nalar dan emosi sendiri. Sehingga pada akhirnya timbulnya perasaan kesadartahuan akan kekayaan ruhani atau metareligius.[8]
Fondasi awal pembentukkan karakter bangsa ada pada peran guru SD, karena pemikiran dari siswa SD sangatlah itu absolute dan akan teringat sampai siswa tersebut dewasa, itu menunjukkan peran yang setrategis dari para guru SD untuk dalam membentuk para dikma siswa SD tentang keberagaman dan pluralitas untuk membentuk sikap toleransi kepada sesame.
Demokratis yang harus lebih spesifik adalah keharmonisan antar pemeluk agama,  permasalahan konflik anatar agama adalah mereka terlalu fanatik, fanatisme berlebihan memang lebih banyak mengarah ke aspek negatif daripada positif. Merasa yang paling benar dan yang lainnya salah, itulah yang menjadi masalah sebenarnya dalam kehidupan berbangsa yang plural seperti diindonesia. Kita ambil saja contoh terorime di Indonesia yang mengatasnamakan garis besar agama, pada bom bali 1 dan bom bali 2, dalam video pengakuannya para teroris mengklaim bahwa prilaku mereka bertujuan untuk membasmi kemungkaran, tapi dengan cara yang salah dan bertolak belakang dengan asas pluralism yang dijunjung masyarakat Indonesia.

Gus dur, tahun 2000-2001 pluralisme teori gus dur, sudah terselesaikan dengan sementara, salah satu kebijakan pada waktu itu yang dinilai kontrofersial adalah, peresmian konghucu sebagai salah satu agama yang resmi di Indonesia dan menetapkan tahun baru imlek sebagai hari libur nasional.
Menurut pendapat dari prof. Quraisy shihab mengemukakan bahwa,terdapat dua pandangan tentang agama yaitu, absolute, dan relatif. Absolute mengemukakan pendapat tentang kebenaran agama islam yang absolute dan tidak bisa disamakan dengan agama lain. Sedangkan pemikiran relative adalah merupakan pemikiran liberal yang menunjukkan bahwa semua agama benar dan menuju ke titik tuju yang sama yaitu Allah SWT.

Kesimpulan
Pendidikan yang berbasis liberal memang mempunyai banyak keunggulan dan sudah dipakai di berbagai Negara maju, namun sebenarnya budaya pendidikan konsep dasar kita yang berbasis pancasila itu lebih unggul hanya kurang realisasi dari kalangan pemerintah dan pendidik di Indonesia, jika landasan pendidikan filsafat pancasila dapat dimaksimalkan, maka akan mendapatkan hasilnya lebih optimal dalam wacana kelas tentang keberagaman dan toleransi.



[1] Husain Muhammad, sang zahid 2012
[2] Alwasilah, Pokoknya Rekayasa Literasi 2012

[4] Kompasiana, Apakah Paham Liberalisme Bisa Diterapkan di Indonesia? 2010. Diunduh pada 21 Februari 2014
[6] Landasan Pendidikan 2009
[7] Kompasiana, Apakah Paham Liberalisme Bisa Diterapkan di Indonesia? 2010
[8] Alwasilah, Politik, bahasa dan pendidikan 2004

visit : http://haidarism.wordpress.com/

2 comments:

  1. pieces of ideas in your article do not seem to build a comprehensive puzzle yet

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya masih aga susah menentukan topik yang mau saya timbulkan, thanks sir :)

      Delete