Sunday, February 23, 2014

10:45 PM
1

3rd meeting of writing and comprehension 4. Sekilas tidak ada yang menarik pada materi hari itu, Bapak Lala Bumela, M. Pd hanya memberikan materi-materi ulang tentang chapter review yang ada pada bukunya Prof. Chaedar yang berjudul “pokoknya rekayasa literasi”. Pokok dari bahasan-bahasan tersebut mengenai “bab 6 rekayasa literasi”. Berikut beberapa bahasan ulang mengenai tulisan rekayasa literasi. Literasi adalah praktik cultural yang berkaitan dengan persoalan politik dan social. Definisi tersebut untuk menunjukkan paradigma yang baru dalam upaya memaknai litersi dan pembelajarannya. Kini ungkapan-ungkapan mengenai literasi terus berkembang seiring dengan tantangan zaman. Ada ungkapan literasi computer, literasi moral, literasi virtual, literasi informasi, dan lain sebagainya. Untuk menyesuaikan tantangan zaman, maka muncullah model literasi Freebody and Luke (2003) yang digambarkan menjadi 4 komponen, yaitu: breaking the codes of texts; participating in the meanings of text; using texts functionally; critically analysing and transforming texts. Keempat peran tersebut pada hakikatnya untuk ber-literasi secara kritis dalam masyarakat demokratis, yang kemudian keempat peran literasi tersebut diringkas dalam lima verba: memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasikan teks.
Literasi selalu berkaitan dengan penggunaan bahasa, karena tujuan dari literasi tentu saja untuk menjadikan manusia terdidik dan berbudaya melalui penguasaan bahasa secara optimal. Penguasaan bahasa tersebut yang akan menjadi pintu masuk menuju dunia pendidikan dan pembudayaan. Kemudian penguasaan bahasa tersebut diaplikasikan kedalam pengajaran bahasa (language arts) untuk dapat menghasilkan orang literat, yang mampu menggunakan 4 dimensi literasi ini secara serempak, aktif, dan terintegrasi.
Dimensi literasi membaca dan menulis
Linguistic (text)
Membaca
Sosiokultural (group)                            dan                                        kognitif (mind)
Menulis
Perkembangan (growth)
Dalam hal ini, pengajaran bahasa memerlukan peranan sekolah, karena sekolah sebagai jaringan pertama yang membangun literasi. Wajar saja jika ujung tombak dari pendidikan literasi adalah guru-guru yang profesional. Guru-guru akan dilihat langkah-langkah profesionalnya dari enam hal sebagai berikut; komitmen profesional, komitmen etis, strategi analitis dan reflektif, efikasi diri, pengetahuan bidang studi, dan keterampilan literasi dan numerasi (Cole dan Chan 1994 dikutip dari Alwasilah 2012). 
Dengan kata lain, untuk membangun bangsa yang literasi harus diawali dengan memcetak guru yang professional, dan guru professional hanya dihasilkan oleh lembaga pendidikan guru yang professional juga. Dalam hal ini guru sangat dituntut untuk mengajarkan kepada siswanya empat pelajaran pokok yang akan menjadi modal hidup bagi seorang individu. Empat pelajaran pokok tersebut mencakup Reading, writing, arithmetic, and reasoning untuk dapat menghasilkan manusia-manusia yang berliterat, karena masyarakat yang multiliterat itu mampu berinteraksi dalam berbagai situasi, sedangkan masyrakat yang tidak literat biasanya tidak mampu memahami bagaimana hegemoni itu diwacanakan lewat media masa.
Hyland furhter berpendapat bahwa, "melek akademik menekankan kita tentang bagaimana cara kita menggunakan bahasa, atau sering disebut sebagai praktik literasi, hal tersebut didasarkan pada lembaga sosial dan hubungan kekuasaan." Oleh karena itu, literasi itu dapat memegang peranan penting dalam berbagai hal di kehidupan manusia sekarang ini. Jika saja praktek literasi tidak ada, mungkin bisa saja tidak ada peradaban didunia ini.
Begitu pula dengan kehidupan yang seandainya literasi itu ditiadakan, maka  kehidupan pun akan kacau. Orang tidak akan pernah berfikir seperti apa bila kehidupan tanpa literasi. Mungkin tanpa adanya literasi orang tidak jauh beda dengan halnya atau sama dengan seekor hewan, yang hanya hidup dengan tanpa ada suatu karya apapun yang akan orang buat, dan hanya bersikap mengedepankan nafsu serta tanpa memikirkan sesuatu apapun.
Rujukan literasi yang terus berkembang atau berevolusi, salah satu solusi serta jalan keluarnya untuk mengantisipasinya adalah dengan rekayasa literasi. Rekayasa literasi itu berarti merekayasa, mengkonsep ulang suatu pengajaran membaca dan menulis dalam empat dimensi tersebut. Contoh ketika kita disuguhkan teks, maka yang kita lakukan adalah membaca, merespon, menulis, dikomentari, dikiritisi,merevisi kembali yang kemudian akan dipublikasikan melalui media masa. Ketika orang membaca kasus dalam teks, setiap orang pasti memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam merekayasa sebuah kasus dalam teks tersebut. Ada yang memahaminya dari sudut pandang pengalamannya, sudut pandang politik, budaya, bahasa, sependapat dengan argument penulis, dan ada juga yang kontradiktif. Hal seperti itulah yang membuat rekayasa literasi terbangun. Dengan demikian rekayasa literasi tentunya dapat memunculkan atau mendorong daya berfikir kritis orang. Selain itu juga ada catatan besar bahwa Orang yang literat itu tidak hanya sekedar berbaca-tulis, tapi juga terdidik dan MENGENAL SASTRA.
Mengutip quotes dari bukunya prof. chaedar “In the 21st century, world class standards will demand that everyone is highly literate, highly numerate, well informed, capable of learning constantly, and confident and able to play their part as citizen of a democratic society.”  - Michael Barber –
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa setiap orang itu dituntut untuk menjadi seorang yang literat sehingga setiap orang mampu menjalankan peran kehidupan secara penuh sebagai masyarakat demokrasi. Bila kita tidak cepat membenahi permasalah litersi di negara kita ini, maka kita akan terus menjadi negara berkembang dan sulit menjadi negara maju.

Jadi dari penjelasan-penjelasan tersebut, saya menyimpulkan bahwa realitas suatu bangsa yang maju, tidak akan terdorong jika hanya mengandalkan kekayaan alam maupun SDM yang melimpah dan sistem peraturan yang bagus dalam berkewarga-negaraan, tetapi diperoleh melalui pengelolaan, dan pengolahan paradigma literasi dan memajukan budaya tulisan yang menjadi tradisi masyarakat, sehingga terciptanya masyarakat madani (civilization), yaitu masyarakat yang berpendidikan, berperadaban, dan berliteratur, yakni dapat berkomunikasi baca - tulis (literacy).

1 comments: