Monday, February 24, 2014

10:43 PM
Writer by Muhammad Saefullah
            Tiga batang cokelat caramel, suplemen penyegar otak, serta satu susu cokelat siap untuk memulai menapaki jejak class review di gurun literasi. Melewati padang pasir di sebuah class review gampang-gampang susah, kita punya tenaga dan suplemen-suplemen yang cukup untuk survive di padang pasir ini, tapi kita seakan-akan hipotermia di kutub utara untuk menuangkan ide brilliant dalam torehan tinta hitam.

            Slow but sure, sebuah suplemen hati yang nampaknya bisa membuat kita bangkit. Seperti dalam Exploring “nothing But Literacy Engineering” pesan yang disampaikan oleh “motivator” kita. Dari Pak Chaedar selaku pengarang buku Pokoknya Rekayasa Literasi bahwa di abad 21, negara yang kualitasnya bagus itu tergantung dengan tingkat literasinnya, tak bisa dihindari bahwa literasi itu mempengaruhi di berbagai aspek dan berbagai dimensi. Orang yang mempunyai literas yang lebih, setidaknya mereka sudah berada satu tingkat dari orang yang tidak berliterat.
Setiap minggu, Mr.Lala selalu menanyakan ada hal terbaru apa yang didapatkan. Wejangan baru selalu disampaikan seperti pada pertemuan ke-3 ini, beliau menyampaikan appetizer yang sudah dikerjakan oleh mahasiswa akan lebih berasa jika pada appetizer itu mengandung beberapa bahan berikut:
1.   Cohesion, nyambung atau tidak kalimat yang digunakan dan harus bersepadan dengan berbagi ide yang ada.
2.   Clarity, arti yang ada pada teks penulis harus benar dan menyampaikannya dengan jelas.
3.   Logical Order, Ide penulis harus masuk akal pada poin ini dan penulisannya berurutan dalam menuangkan ide. Dimulai dari sesuatu yang umum hingga spesifik.
4.   Consistently, penulis harus konsisten dalam menulis.
5.   Unity, ajeg atau tidaknya dari semua ide yang ada. Semuanya harus menyatu dengan benar.
6.   Conciseness, kata yang digunakan dalam menulis itu harus singkat, padat dan jelas.
7.   Completeness, kelengkapan dari tulisan harus ada. Penulis mengembangkan isi informasi yang diberikan.
Ada dua hal yang harus diperhatikan oleh kita selaku mahasiswa yang sedang memperdalam writing yaitu variety da formality. Variety ialah membantu pembaca dengan menambah beberapa bagian di poin selanjutnya. Sedangkan Formaliy di Academic Writing bersifat formal, jenis kata dan struktur grammatical digunakan yang digunakan harus ajeg.
Menilik tentang literasi menurut Ken Hyland itu merupakan sesuatu yang kita lakukan. Sedangkan menurut Hamilton (1998) seperti yang tertera pada Ken Hyland dia melihat literasi itu sebagai sebuah aktifitas interaksi yang digunakan sehari-hari. Ada beberapa perbedaan antara ilmu yang berbau literasi dengan yang lainnya.
Pertama, literasi itu terus berevolusi semakin berkembangnya zaman, sedangkan rujukan linguistik tidak seperti literasi. Pendidikan yang berliterasi tinggi pasti akan menghasilkan kualitas tinggi pula. Selanjutnya yaitu modal hidup bisa diformulasikan sebagai sebuah hasil dari reading-wring, arithmetic, dan reasoning. Orang yang literat itu orang yang bisa berinteraksi dengan berbagai situasi.
Seperti yang sudah menjadi adat, sosok seorang guru itu berperan dalam pendidikan literasi. Kriteria yang harus dimiliki yaitu professional, etis, strategi analitis dan reflektif, efikasi diri, pengetahuan bidang study dan ketrampilan literasi, dan numeral. Guru di Negara Finlandia merupakan posisi yang bergengsi, banyak tahapan-tahapan yang harus dilalui sehingga pantas saja kualitas anak didiknya sangat memukau. Dari banyaknya peminat yng ingin menadi guru, para sarjana Finlandia berlomba-lomba untuk mendaftar menjadi seorang guru.
Pada sesi interview tentang pertanggung jawaban hasil appetizer, ada satu pertanyaan yang masih belum terjawab oleh kita (Represo). Seperti yang ditanyakan kepada beberapa mahasiswa tentang rekayasa literasi, sebenarnya apa yang harus direkayasa dalam sistem pendidikan kita? Jawaban dari mahasiswa ternyata kurang tepat mengenai apa yang harus direkayasa.
Mr.Lala menjelaskan dalam hal rekayasa literasi. Beliau mengatakan bahwa yang perlu direkyas ialah strategi yang jitu. Guru dituntut untuk menjadi pendidik yang handal dengan strategi yang dimilikinya. Method of teaching perlu dikembangkan oleh para pendidik.
Pembelajaran degan Mr.Lala sangat menantang adrenalin. Beliau menjelaskan bahwa saat menyampaikan materi terjadi  rekayasa literasi, menurut versinya cara mengajar itu seperti baca buku, direspon, dibaca, tulis ulang, dan didiskusikan. Inilah yang dilakukan Mr.Lala dalam merekayasa pembelajarannya yang komprehensip. Semua yang kita lihat itu bisa kita rekayasa untuk merepresentasikannya dan hal tersebut berbeda setiap individu. Apa yang kita lihat ini semuanya termasuk semiotic symbol, bentuk ungkapan yang menggambarkan maksud seseorang.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa menjadi seorag penulis yang handal itu tidk mudah. Sosok Nurcholis Majid, Kuntowijoyo misalnya, beliau ini merupakan penggede-penggede dalam literasi di Indonesia. Sebagai generasi muda, kita perlu mengasah ketajaman menulis agar kualitas bangsa bisa terangkat. Leh karena itu, sebagai seoang agent of change mahasiswa harus gila membaca setiap waktunya agar menjadi bangsa yang literat dan bisa bersaing dengan Negara lain.

0 comments:

Post a Comment