Monday, February 24, 2014




Segalanya Selalu
Berhubungan Dengan Literasi
By: Nunuy Nurlaifah

Untuk class review yang ketiga ini, saya awali terkait dengan praktek literasi, yakni mencakup bidang sosial, politik, ekonomi dan psikologi. Semua itu tak lepas dari culture / budaya dan peradaban. Kata Bapak kemarin, apa sih peradaban itu? Apakah negara yang banyak memiliki perusahaan mobil? Jawabannya itu juga adalah tidak salah, karena peradaban itu adalah kemajuan zaman.
Dan seorang penulis yang multi bahasa atau multi lingual writter berkaitan dengan vitality. Apa itu vitality? Vitality disini yaitu daya hidup seorang penulis tersebut. Kemdian kata Bapak minggu lalu, sebuah karya sastra itu juga terkait dengan vitality.
Selanjutnya pada minggu lalu, Bapak juga membahas atau mereview kembali mengenai rekayasa literasi. Berbicara tentang rekayasa literasi, pasti erat kaitannya dengan “Reading” dan “Writing”.

Kaitan literasi dengan reading yaitu yang jadi bahan analisis itu adalah teks. Nah lalu apakah melakukan rekayasa literasi itu hanya dengan membaca saja? Menurut Bapak kaitannya literasi dengan reading, teks itu dibaca, kemudian direspon, dibaca lagi, dibaca kemudian baru didiskusikan. Ini adalah salah satu contoh cara rekayasa literasi yang dilakukan oleh Bapak.
Kemudian kita juga harus memperhatikan jenis teks yang direkayasa. Contoh kita memilih Al-Qur’an untuk direkayasa, disini kita harus memahami strategi membaca, memahami menulis teks yang ingin direkayasa tersebut.
Jenis teks itu ada yang verbal, writter dan visual.teks itu sangat dinamis. Selain merekayasa teks, semiotik atau sistem tanda juga harus direkayasa. Contohnya kita rekayasa sebuah gambar, apa makna simbol-simbol yang ada pada gambar tersebut. Disana terus dilakukan analisis sehingga kita mengetahui makna satu per satunya. Dan semua apa yang kita lihat dengan mata telanjang kita ini adalah semiotik simbol.
Kemudian kaitan literasi dengan writing, dalam writing juga dilakukan rekayasa literasi, tetapi kita juga harus  memahami maksud rekayasa disini itu seperti apa. Maksud rekayasa disini itu berkaitan dengan bagaimana cara kita mengambil sesuatu dari suatu tulisan atau apapun itu. Misalnya, dari suatu gambar, bagaimana kita memaknai bentuk gambar tersebut setelah dilakukan rekayasa literasi. Jadi semua yang kita lakukan modal utamanya ada di literasi. Maksudnya, untuk membangun segala sesuatu maka kita harus berliterasi dulu.
Selanjutnya, pembahasan saya alihkan pada materi yang berikan dari power point. Pertama-tama saya mereview kembali mengenai kutipan dari Danica Hubbard yang dikutip ulang oleh Alwasilah (2012) “ sharing teks dengan satu sama lain setiap hari, membuka pintu menuju sukses. Menjelajahi tantangan dalam kelas tradisional dan pengaturan online menarik. Menjelajahi cara yang berbeda untuk bertukar informasi, mempertahankan pengetahuan dan menganalisis ide-ide dalam beberapa genere memunculkan inovasi dan kreatifitas dalam mengajar”. Saya rasa kutipan tersenut sangat dialamatkan kepada para pengajar dan kita sebagai calon pengajar.
Kemudian juga ada kutipan dari Michael Barber “pada abad ke- 21 standar kelas dunia akan menuntut bahwa setiap orang akan melek huruf, sangat berhitung, baik dalam informasi, mampu belajar terus menerus, percaya diri dan mampu memainkan peran mereka sebagai warga masyarakat yang demokratis.” Dan itu semua adalah kandungan dari berliterasi.
Selanjutnya, sebuah appetizer (hidangan pembuka) dalam elemen-elemen akademik writing yaitu meliputi cohesion, clarity, logical order, consistency dan unity. Akan saya uraikan satu per satu sebagai berikut:
·         Cohesion         : gerakan halus atau “arus” antara kalimat dan paragraf. Yaitu kepaduan, nyambung atau tidaknya suatu tulisan
·         Clarity             : jelas atau tidaknya suatu makna ketika anda berniat berkomunikasi
·         Unity               : yang paling tepat untuk ditampilkan dalam tulisan
·         Logical order   : mengacu pada urutan logis dari informasi dalam penulisan akademik dan enulisan cenderung bergerak dari umum ke khusus
·         Consistency     : konsisten mengacu pada keseragaman gaya penulisan
Di slide berikutnya masih membahas mengenai elemen-elemen akademik writing yaitu ada yang disebut dengan conciseness, completeness, variety dan formality. Penjelasannya sebagai berikut:
·         Conciseness (keringkasan)      : yaitu ekonomis dalam penggunaan kata-kata. Atau biasa disebut paket kecil, artinya ketika menulis biasakan to the point, tidak bertele-tele (not flower)
·         Completeness (kelengkapan)  : sementara informasi berulang-ulang atau yang tidak perlu harus dihilangkan, penulis juga memiliki kewajiban untuk memberikan informasi penting mengenai suatu topik tertentu
·         Variety (ragam)                       : membantu pembaca dengan menambahka beberapa “bumbu” untuk teks.
·         Formalitas                               :akademi menulis adalah formal dalam nada. Ini berarti kosa kata canggih dan struktur tata bahasa yang digunakan. Selain itu, penggunaan kata ganti seperti “I” dan konstraksi dihindari.
Selain itu, literasi menurut Key Hyland (2006) adalah sesuatu yang kita lakukan. Hamilton (1998) seperti dikutip dalam Hyland (2006:21) melihat keaksaraan sebagai kegiatan yang terletak pada interaksi antara manusia.
Hyland berpendapat “melek akademik menekankan bahwa cara kita menggunakan bahasa, disebut sebagai praktik keaksaraan berpola oleh lembaga sosial dan hubungan kekuasaan. Keberhasilan akademis berarti representing dari diri kita dengan cara dihargai oleh disiplin kita, mengadopsi nilai-nilai, keyakinan dan identitas yang discourse akademik mewujudkan.
Kemudian ada poin penting dalam rekayasa literasi. Literasi adalah raktik kultural yang berkaitan dengan artikel baru tentang persoalan politik. Jelasnya, negara baru literasi terus menjamur sesuai dengan tuntunan artikel “ zaman edan” sehingga tuntunan mengenai perubahan pun regular tidak bisa dihindari.
Model literasi ala Freebody dan Lukas (2003) : memecahkan kode teks, berpartisipasi dalam makna teks, menggunakan teks fungsional, kritis menganalisis dan mengubah teks. Prof. Dr. A. Chaedar Alwasilah meringkas lima ayat diatas menjadi: memahami, melibati, menggunakan, menganalisis dan mentransformasi.
Rujukan literasi terus berevolusi, sedangkan rujukan linguistik relatif konstan. Studi literasi tumpang tindih (overlapping) artikel baru objek studi menjabarkan budaya (cultural studies) artikel baru yang dimensinya barisan aritmetik pendidikan yang berkualitas tinggi pasti menghasilkan orang-orang literat yang berkualitas hebat pula, dan sebaliknya.
Membaca,, menulis, berhitung dan penalaran sama dengan modal hidup. Orang yang multi literat, akan mampu berinteraksi dalam berbagai situasi. Kemudian pengajaran berbahasa harus mengajarkan keterampilan berpikir kritis. Dan menurut saya, sebagai contohnya kami mahasiswa bahasa, diberi tugas khususnya dalam pelajaran ini, karena tugas-tugas yang diberikan memaksa kami untuk berpikir kritis.
Terakhir dapat saya simpukan bahwa pada class review kali ini, Bapak menjelaskan segala sesuatu yang kita lakukan modal utamanya adalah literasi. Kemudian rekayasa itu merupakan suatu upaya yang dilakukan sengaja dan sistematis serta bertujuan untuk menjadikan manusia terdidik dan berbudaya melalui penguasaan bahasa. Karena menurut Prof. Chaedar bahasa adalah pintu masuk menuju pendidikan dan pembudayaan. Dan pada class review ini saya juga membahas mengenai elemen-elemen akademik writing, meliputi cohesion, clarity, logical order, unity, consistency, conciseness, completeness, variety dan formality. Demikian yang menjadi penutup class review kali ini.

0 comments:

Post a Comment