Tuesday, February 18, 2014



Dalam artikel rekayasa  literasi, ada sub judul “ raport merah literasi anak negeri”. Didalamnya tertulis seambrek fakta memilukan mengenai lemahnya literasi anak bangsa. Level  literasi kita  biasa berada di urutan bawah sekelas afrika.
                Sebelum mencari solusi memperbaiki literasi, tentunya kita mendiagnosis sebabnya. Awal mula masalah ini timbul dan bertahan bertahun-tahun.  Banyak teman-teman mengupas bahwa dulu, dari semasa kerajaan-kerajaan di Indonesia Berjaya, hingga masa pasca kemerdekaan, kita ini bahsa penulis. Bangsa dengan tingkat literasi tinggi. Dibuktikan dengan sekian banyak prasasti dan Candi, dengan pahatan yang menceritakan masa itu seperti di Candi Borobudur.
                Lalu kenapa budaya literasi itu tidak sampai ke masa kini? Hasil identifikasi Prof.Chaedar, asal mula masalah ini seperti aliran sungai. Jika di hulu di taburi racun, tentu di hilir pun mengandung racun. Aliran masalahnya akan dibahas selanjutnya.
                Apa untungnya bila suatu bangsa memiliki tingkat literasi yang tinggi? Tengok Jepang, Cina dan Korea, tiga Negara maju di Asia bahkan dunia berawal dari kuatnya budaya literasi. Cina, Negara dengan peradaban tertua di dunia ini sejak dulu adalah bangsa penulis. Begitu banyak artefak-artefak kuno tentang filsafat,siasat dan banyak lagi tercipta di masa para dinasti. Dan semua itu dijaga, dipelajari dan diaplikasikan hingga saat ini. Hasilnya,Cina adalah Negara dengan perkembangan ekonomi tercepat di Asia Tenggara, dan tak diremehkan dunia. Jepang, Negara yang begitu menjaga budaya dan tradisinya. Anak-anak mereka bahkan adalah anak-anak terpintar di dunia dan Jepang turut mengarahkan perkembangan teknologi dunia. Kenapa kita tidak belajar kepada tetangga kita ini? Tentang menjaga norma, dan budaya leluhur mereka, budaya literat.
                Selama ini, yang kita fahami istilah literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, namun pengertian tersebut tidak lagi cukup untuk menghadapi zaman modern ini. Maka definisi baru mengenai literasi menurut Freebody & Luke yakni :
1.       Memahami kode dalam teks.
2.       Terlibat dalam memaknai teks.
3.       Menggunakan teks secara fungsional.
4.       Melakukan analisis dan mentransformasi teks secara kritis.
Dengan definisi ini, cakupan literasi menjadi lebih luas. Tidak lagi hanya pada dimensi bahasa, tetapi mencakup tujuh dimensi yang terkoneksi satu sama lain. Yakni:
1.       Dimensi geografis.
2.       Dimensi bidang.
3.       Dimensi fungsi.
4.       Dimensi media.
5.       Dimensi jumlah.
6.       Dimensi keterampilan. 
            Dimensi bahasa.
Sekelumit definisi dan dimensi litersi diatas memberikan gambaran baru bahwa literasi tak hanya soal baca tulis, kompleksitasnya yang menjadikan tingkat literasi  menjadi tolak ukur kemakmuran suatu Negara, bukan hanya dari segi materil, namun juga intelejensi, moral, dan kulturnya.
Kini kita cermati asal mula kesalahan yang mengakibatkan lemahnya literasi bangsa ini. Dalam artikel “Powerful Writers versus Helpless Reader”, Prof.Chaedar menjelaskan bahwa ada tiga masalah, ditambah satu dari Cw,Watson. Yakni:
1.       Orientasi belajar, selama ini siswa lebih disibukkan dengan membaca dan menghafal. Ini berhubungan juga dengan bentuk ujiannya. Selama ini porsi menghafal dan membaca lebih banyak dibanding menulis, banyak kegiatan menulis di sekolah hanya aktifitas copy-paste dari buku pelajaran ke buku tulis. Jarang sekali siswa dituntut merepleksikan dirinya lewat menulis. akibatnya skill menulis mereka tidak terasah.

2.       Bentuk ujian. Banyak orang luar negri yang merasa aneh melihat bentuk ujian disekolah di Indonesia, banyak mengandalkan pilihan ganda. Bagaimana mungkin pilihan ganda dapat mengetes level literasi mereka? Siswa hanya perlu menghafal dan sedikit keberuntungan untuk bisa lulus ujian. Dan ironis saat seorang siswa yang pandai namun tidak beruntung, gagal dalam UN hanya gara-gara tidak tepat melingkari jawaban. Siswa hanya perlu membaca dan menghafal, bahkan hanya perlu  menghitung kancing dan mengadu nasib.

3.       Kurikulum. Literasi essensinya adalah tentang membaca dan menulis, namun bila hanya salah satu yang ditonjolkan, beginilah hasilnya seperti saat ini. Kurikulum di Indonesia kebanyakan membangun siswa agar aktif dan cakap. Cakap  disini sering diartikan siswa mampu berargumen dan menyampaikan kompetensinya dalam bentuk verbal. Maka, siswa yang dianggap pintar adalah siswa yang sering bicara, bukan menulis, atau membaca.

4.       Buku pelajaran. Kini di Sekolah Dasar disediakan buku pelajaran super simple nan padat. LKS, buku kucel ini merangkum segala mata pelajaran dalam satu semester dalam kisaran 40-70 halaman, plus latihannya yang didominasi pilihan ganda. Anda bayangkan komposisi 6-12 mata pelajaran didalamnya. Dengan materi berkisar 3-10 paragrap,Apa yang siswa kita dapatkan dari buku super pelit ini? Maka pantas wawasan anak negeri ini sesempit buku pelajarannya. Jangan  salahkan mereka, MEREKA HANYA KORBAN.

Solusinya, tentu selain memperbaiki empat masalah diatas, kita juga mesti memperbaiki paradigma pendidikan di kalangan para pengambil kebijakan, Karena hal tersebut adalah “hulu” dari hilir masalah yang muncul setelahnya.
Kelemahan literasi ini mesti diperbaiki dengan rekayasa literasi, apa yang direkayasa? Cara mengajarkan literasi sejak usia dini, rekayasa literasi mesti mencakup empat dimensi, yakni:
1. linguistik (teks)
2.kognitif (mind)
3.perkembangan (growth)
4.Sosiokultural

           Kesimpulan :
Dengan setumpuk fakta lemahnya tingkat litersi bangasa ini, kita tak bisa lantas men cap siswa kita adalah produk gagal akademis. Justru mereka adalah korban gagalnya system akademis. Bukan bermaksud saling menuduh dan menyalahkan, tapi dengan menganalisis letak kesalahan, kita mampu menemukan cara tepat memperbaiki dan menanggulanginya.

0 comments:

Post a Comment