Monday, February 24, 2014

3rd Class Review
Literasi Bagian dari Nafas Kehidupan
            Sejatinya hidup di dunia ini merupakan sebuah praktek literasi. Semua tingkh laku dan keseharian semuanya berdasarkan literasi. Apakah itu kehidupan sosial, budaya, politik, psikologi dan lain-lain. Pernyataan ini dikatakan karena memang aspek kehidupan itu masuk ke dalam ruang lingkup literasi. Telah dikatakan dalam chapter review bahw tingkatan literasi seseorang diukur berdasarkan pendidikannya, atau dapat dilihat dari dimensi-dimensi keliterasian pada halaman 25 alinea pertama di log book saya.
            Perlu saya ulas kembali bahwa dimensi literasi itu terbagi ke dalam tujuh dimensi literasi yang berdasarkan lintas disiplin ilmu, semakin tinggi tingkat pengetahuan, jabatan atau status sosila seseorang maka semakin tinggi pula tingkat keliterasiannya.
Penjelasan pembelajaran writing4 menyatakan bahwa keliterasian individu di kehidupan sehari-hari melahirkan sebuah budaya, yang mana budaya tersebut membentuk sebuah peradaban. Dengan adanya literasi maka akan ada peradaban yang terukir dalam sejarah sebagai peradaban yang baiak/bagus.
Karena adanya literasi, maka peradaban yang dilahirkan akan berada pada koridor peradaban yang baik, adapun kriteria peradaban itu adalah sebagai berikut:
·         Prosperous                   => kemakmuran, kesejahteraan
·         High Security              => keamanan yang tinggi
·         Orderly Traffic            => lalu lintas yang teratur
·         Social welfare             => kesejahteraan sosial
·         Comfort                      => kenyamanan
Michael Barber juga menyatakan bahwa seorang warga demokrasi yang berliterasi tinggi memiliki standar keliterasian di antaranya adalah literasi tinggi dalam bidang numerasi, kemampuan belajar terus menerus, yang berarti perkembangan pengetahuan/wawasan terus meluas, yang akan menumbuhkan kepercaya diriannya sebagai seorang literat.
Kajian tentang literasi tidak jauh dari kegiatan menulis, dikatakan di sini sebagai ‘academic writing’(selanjutnya disingkat AW). Seseorang yang berada pada bidang AW harus bisa menjadi multilingual writer, karena seorang multilingual writer memiliki kualitas literasi yang tinggi. Dengan label multilingual maka ia dapat disebut sebagai orang yang berkualitas tinggi dalam Bahasa Inggris.
Penganalogian dalam AW dilakukan terhadap ember dan obor. Dosen sebagai fasilitator tidak membiarkan mahasiswanya membawa ember kemudian dosen tersebut mengisinya, namun dosen tersebut bertugas membawa obor untuk selanjutnya diserahkan kepada mahasiswa. Langkah selanjutnya tergantung pada diri mahasiswa masing-masing, apakah ia akan membiarkan obor itu mati atau memoertahankannya agar tetap menyala atau bahkan berusaha untuk terus memperbesar apinya. Bagi mahasiswa yang ingin (setidaknya) mempertahankan apinya, maka dia pertahankan dengan terus membaca dan menulis seperti biasanya. Kemudian seseorang yang ingin memperbesar bara api, maka dia akan lebih meningkatkan kegiatan membaca dan menulisnya juga tidak lepas dari paket hemat PD English (Pocket Dictionary English) untuk memperluas pemahamannya dalam Bahasa Inggris.
Mengingat Rekayasa Literasi, pernyataan besar tentang rekayasa literasi saya ungkapkan dalam empat dimensi sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Prof. Chaedar dalam ‘Pokoknya Rekayasa Literasi’ bahwa yang direkayasa di situ adalah  Teks, Minda, Kelompok dan Perkembangan.
Pada fokus dijelaskan oleh Lehtonen bahwa teks itu adalah fisik dan semiotik. Fisik di situ maksudnya yaitu verbal writer yang mana perkataan seorang penulis itu diwakili oleh teks dan dihadirkan ke dalam bentuk teks. Sedangkan semiotik adalah tanda atau visual yang harus jelas filosofinya apabila sebuah teks digambarkan ke dalam bentuk semioitk.
Orang yang bisa merekayasa literasi maka dia mempunyai cita rasa sastra yang tinggi.
Pembahasan selanjutnya mengenai Elemen dari Academic Writing yang mana akan diuraikan sebagai berikut:
·         Cohesion
Dalam pengertian ini kohesi (kekuatan daya tarik menarik) antara kalimat dan paragraf memiliki hubungan yang mulus atau mengalir dengan baik.
·         Clarity
Sebuah makna yang dimaksud dapat tersalurkan dengan baik (clear) atau makna yang terkandung itu jelas.
·         Logical Order
Instruksi yang masuk akal ini bermaksud kepada informasi yang bergerak dari yang umu (general) kepada yang khusus (spesifik).
·         Consistency
Gaya penulis dalam penulisannya ini konsisten atau tetap dan serasi. Bisa dikatakan gaya penulis ini menjadi ciri khas dari penulis.
·         Unity
Unity adalah persambungan antara satu informasi dengan yang lainnya dalam satu bahsan topik.
·         Conciseness
Keringkasan ini berarti kelangsungan penulis menuju inti dari sebuah tulisan (to the point) dia mengeliminasi kata-kata yang tidak dibutuhkan. Pengecualian terhadap kata yang tidak diperlukan adalah kenaikan pangkat dari aspek kohesi dan unity.
·         Completeness
Ini adalah sebuah kelengkapan informasi yang dituliskan penulis.
·         Variety
Variasi ini membantu pembaca menambahkan bumbu penyedap pada teks.
·         Formality
Academic writing adalah sesuatu yang formal yang mana kosakata dan tata bahasa yang canggih digunakan dan penggunaan singkatan dihindari. Contoh: You are = You’re
Ken Hyland (2006) mengungkapkan bahwa literasi adalah apa yang kita lakuakan, ini berorientasi pada paragraf pertama dari teks ini yaitu ‘sejatinya hidup di dunia ini adalah praktek literasi’. Kemudian Hamilton (1998) sebagaimana dikutip Hyland (2006:21) memandang literasi sebagai aktivitas interaksi antara dua orang. Hyland meneruskan pendapatnya tentang literasi yaitu ‘academic literacy’ yang menekankan untuk kita menggunakan bahasa, dan literasi merupakan praktek yang diatur oleh lembaga sosial dan kekuatan hubungan.
Poin kruisal tentang literasi telah saya tuliskan dalam chapter review dan di bawah ini adalah poin-poin yang belum saya cantumkan:
ü  Reading, writing, arithmethic and reasoning (4R) adalah modal hidup
ü  Masyarakat yang tidak mampu memahami bagaimana hegemoni itu diwacanakan lewat media massa
ü  Ujung tombak pendidikan literasi adalah guru dengan fitur: komitmen profesional, komitmen etis, strategi analisis dan reflektif, efikasi diri, pengetahuan bidang studi, keterampilan literasi dan numerasi (Cole dan Chan 1994 dikutip dari Alwasilah 2012)
ü  Penguasaan bahasa adalah pintu masuk menuju kependidikan dan pembudayaan
ü  Kern (2003) literasi berkenaan tentang general learnedness and familiarity with literature
ü  Orang literat tidak sekedar berbaca tulis tapi juga terdidik dan mengenal sastra.


Kesimpulan

Pada hakikatnya kehidupan manusia tidak lepas dari literasi. Untuk mencapai tingkat literasi tinggi maka kita harus meningkatkan mutu pendidikan karena dimensi literasi ditentukan tingkatannya melalui pendidikan dan ini mempengaruhi status sosial. Cita rasa sastra dapat akan dihadirkan oleh literat.

0 comments:

Post a Comment