Sunday, February 23, 2014

11:27 PM



Pada pertemuan ketiga ini tidak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya, pembahasan masih mengenai literasi. Namun, pada saat ini sudah mulai ke  pendalaman materi literasi. Pada umumnya, literasi dalam arti sempit hanya dikenal sebagai baca-tulis. Sebenarnya literasi mengandung makna yang sangat luas mengenai segala hal yang kita lakukan itulah literasi. Seperti membaca koran, menulis surat, dan kegiatan lainnya tapi tidak semua kegiatan identik dengan literasi. Selain itu, banyak hal lain mengenai literasi yang belum dipaparkan disini, diharapkan pembaca bisa menggali sendiri mengenai literasi lebih dalam lagi karena pendidikan bukan sekedar mengisi ember yang kosong, tapi menyalakan api untuk memberikan suatu dorongan atau penerangan.
Perkembangan literasi terkait semua kegiatan atau praktek yang berhubungan dengan sosial, pendidikan, ekonomi, psikologi, politik, dan beberapa kegiatan lainnya. Dari semua kegiatan yang dilakukan manusia tersebut akan mempengaruhi culture atau peradaban sebagai praktek literasi.
Aturan dalam penulisan academic writing, berbeda dengan menulis sebuah tulisan bebas. Academic writing lebih terstruktur ke arah yang lebih formal. Sebuah karangan dalam akdemik writing perlu memperhatikan beberapa elemen dibawah ini, antara lain.
a.     Cohesion
 Kohesi mengenai keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan yang lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang nyambung atau koheren. Serta  merujuk pada kesinambungan bagian dalam teks antara kalimat dan paragrap.
b.     Clarity
Hal ini mengenai jelas atau tidaknya suatu informasi yang akan mempengaruhi terbentuknya arti atau meaning. Dalam penulisan suatu wacana, penulis perlu memberi kejelasan mengenai hal yang ingin disampaikan atau informasi yang dimaksud secara jelas.
c.      Logical order
Mengacu pada kesesuaian susunan dari informasi. Dalam academic writing, penulis cenderung menyampaikan informasi atau gagasanya dari hal-hal yang umum kemudian ke hal-hal yang khusus.
d.     Consistency
Konsisten mengacu pada penggunaan satu gaya tulisan yang tetap dan tidak berubah-ubah.
e.     Unity
Mengacu pada kesatuan topik pembahasan yang tepat. Unity berkenaan dengan pengeluaran informasi yang secara langsung tidak berhubungan dengan topik yang sedang didiskusikan.
f.       Conciseness
Tulisan yang singkat lebih hemat dalam penggunaan kata-kata, yang langsung pada pokok atau inti topik yang dimaksud. Hilangkan kata-kata yang tidak perlu dan jangan terlalu banyak pengulangan kata yang malah akan terkesan bertele-tele.
g.     Completeness
Ketika pengulangan atau informasi yang tidak dibutuhkan harus dihapuskan, penulis harus melengkapi hal-hal penting mengenai informasi yang sesuai dengan topik pembahasan.
h.     Variety
Keanekaragaman membantu pembaca dengan menambahkan bumbu pada teks. Bumbu disini dimaksudkan  sebagai berbagai informasi lain yang ditambahkan penulis agar pembaca lebih mengetahui secara mendalam.
i.       Formality
Academic writing digunakan dalam teks yang formal. Ini berarti bahwa penggunaan kosakata dan struktur bahasa dibuat sedemikian mungkin untuk menyesuaikan dengan teks yang formal.
Dalam penulisan writing academic, boleh saja menggunakan analogi tetapi jangan terlalu flowery karena academic writing bukan teks cerita yang menuntut adanya keindahan. Academic writing ini sama seperti tulisan lainnya yang mempunyai tujuan dan prinsip yang sama. Namun, hanya ada sedikit perbedaan mengenai isinya yang bukan berdasarkan imajinasi dan lebih condong pada sisi akademik.
            Hyland berpendapat bahwa akademik literasi menekankan pada penggunaan bahasa, berkenaan dengan praktik literasi melalui pola kebiasaan sosial dan hubungan yang kuat. Semua hal yang dilakukan modal utamanya ada pada litersi. Literasi terus menjamur sesuai dengan tuntutan zaman sehingga tuntutan mengenai perubahan pengajaran pun tidak dapat dihindari.
Literasi bangsa tampak dibidang pendidikan. Jika ingin mengetahui kualitas suatu bangsa dapat dilihat berdasarkan kualitas dan praktek sistem pendidikan. Tentunya, pendidikan yang berkualitas tinggi akan menghasilkan literasi yang berkualitas tinggi pula dan juga sebaliknya.  Oleh kerena itu, rujukan literasi terus berevolusi dan berkembang sesuai tantangan zaman serta perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya, ujung tombak pendidikan literasi adalan guru dengan fitur komitmen profesinal, komitmen etnis, strategi analitis dan reflektif, efikasi diri, pengetahuan bidang studi dan keterampilanlitersi dan numerasi (Cole dan Chan 1994 dikutip dari Alwasilah, 2012). Bila literasi di negara ini rendah, bisa jadi penyebabnya karena metode dan pengajaran literasi selama ini kurang mencerdaskan. Dengan demikian, perlu adanya perubahan mengenai pandangan dalam pengajaran literasi di jajaran pengambil kebijakan. Jadi, pengembangan literasi bukan hanya melibatkan satu pihak melainkan keseluruhan yang ada di dalamnya.
Literasi pada intinya menjadikan manusia yang secara fungsional mampu berbaca-tulis, terdidik, cerdas, dan menunjukan apresiasi terhadap sastra. Selama ini, pendidikan di indonesia relatif berhasil memproduksi manusia terdidik tapi pada umumnya kurang memiliki apresiasi terhadap sastra. Berbeda halnya dulu banyak orang-orang yang menyukai sastra seperti puisi dan sebagainya.
Pada zaman dulu, orang-orang sastra ditakuti oleh para birokrat atau pemerintah. Alasan yang sangat mungkin dalam hal ini tidak lain karena para sastrawan mempunyai  kemampuan lierasi yang tinggi dan dapat mempengaruhi orang lain melalui tulisannya. Sehingga pemerintah menghawatirkan adanya pemberontakan terhadap kekuasaanya. Berbeda halnya dengan sekarang, sedikitnya kemampuan literasi membuat para birokrat tidak punya rasa khawatir apapun. Maka, pantaslah jika masyarakat tidak dapat bertindak apa-apa walaupun pemerintah bersikap tidak benar
Kesimpulan yang dapat diambil dari pertemuan ini yaitu academic writing mempunyai beberapa elemen yang perlu diperhatikan pada saat menulis. Literasi yang umumnya dikenal hanya baca-tulis mempunyai makna yang lebih luas dan implikasi yang besar pada setiap kegiatan manusia, termasuk pada area pendidikan. Bahkan, tolak ukur pendidikan bisa dilihat berdasarkan aspek literasinya.

0 comments:

Post a Comment