Tuesday, February 18, 2014



2nd Class review
10, february 2014
Writing and composition 4
07.30- 09.10
Mr. Lala Bumela, M.Pd


Pada semester dua kita hanya membahas writing secara general/umum. Berbeda dengan semester 4 ini yang kita bahas di writing lebih secara scientific atau yang biasa dikenal dengan academic. Kemudian selanjutnya dalam menulis itu ada critical thingking yang membutuhkan yang namanya teks atau bacaan, dan setelah dibaca disana terjadi proses critical thingking sehingga akan menghasilkan sebuah exsperience (pengalaman). Nah, pengalaman tersebutlah yang akan dituangkan menjadi critical thingking of writing.
Dalam writing 4 ini kita juga membahas bahwa kita juga sebagai multi lingual writing. Multi lingual writing ini adalah seseorang yang efektif menulis dalam dua bahasa dan juga menjadi critical reader dalam dua bahasa tersebut, yang akan merubah kita dari student of language menjadi student of student of writing. Ia akan dapat memilih dengan sendirinya pilihan informasi yang telah ia dapatkan.
Kemudian menulis itu meskipun sedikit dapat merubah dunia. Artinya, setiap tulisan itu akan mempengaruhi setiap pembaca. Melalui tulisan-tulisan yang dibaca oleh sang reader maka jelas reader akan terpengaruhi dan mengalami perubahan. Apapun tulisannya dan sesedikit apa pun tulisan itu.  Intinya merubah dunia oleh penulis adalah dengan mempengaruhi setiap pembaca.
Selanjutnya writing itu memiliki sifat mengikat. Dan kata kunci dalam writing itu ada tiga hal yakni:
Writing :
·         Ways of knowing something
·         Ways of refresenting something
·         Ways of reproducing something

v  Ways of knowing something artinya menulis itu adalah cara untuk mengetahui sesuatu
v  Ways of refresenting something artinya menulis itu adalah cara untuk mempresentasikan sesuatu
v  Ways of reproducing something artinya menulis itu adalah cara untuk mempresentasikan sesuatu

Sesuatu? Sesuatu apa yang dimaksud? Sesuatu yang dimaksud disini adalah :
·         Information
·         Knowledge
·         Experience

Ketika kita ingin menulis, artinya kita ingin memproduksi sebuah tulisan, dan terlebih dahulu kita harus mendapatkan informasi melalui membaca, kemudian kita olah informasi tersebut menjadi ilmu pengetahuan (knowledge) dan pada akhirnya knowledge tersebut akan menjadi pengalaman untuk kita. Nah, pengalaman itulah yang akan kita tuangkan menjadi sebuah tulisan.
Dan menurut persfektif Bapak, kita harus tahu siapa yang akan membaca tulisan kita pada saat kita ingin menulis. Kita aharus menyajikan sesuai dengan pengetahuan pembaca.
Dan Bapak menjelaskan, writer dan reader itu sama dengan “dancer” artinya mereka saling melengkapi satu sama lain. Harus saling membantu dan harus seirama. Jika kita menulis kita harus menyesuaikan pengetahuan kita dengan sasaran. Dan dalam menulis juga harus memperhatikan keindahan bahasanya.
Kutipan dari Lehtonen, ketika bahasa mempunyai sitem sendiri yang mendefinisikan dirinya sendiri. Jadi meaning itu terjadi ketika ada writer dan reader, ketika kehilangan salah satunya maka meaning akan hilang. Dan yang paling mengerikan adalah ketika tulisan kita tidak ada yang membaca, maka tulisan kita tidak berarti apa-apa. Intinya meaning itu bisa dibangun karena adanya kolaborasi antara writer dan reader.
Where do meaning search? Jawabannya di Lehtonen, teks konteks, dan reader, jika salah satunya hilang, maka tidak akan bisa menghasilkan meaning (according to Lehtonen). Sekali lagi, penulis dan pembaca harus membangun koneksi ketika membangun teks yang sama. Seprti yang sebutkan tadi, penulis dan pembaca bagaikan dua orang penari yang saling mengikuti langkah satu sama lainnya, mereka seirama dan membuat konektifitas yang tak terpisahkan diantara mereka.
Kemudian seorang penulis itu memiliki cita rasa yang tinggi. Artinya begini, seseorang disebut Chef, hanya ketika dia bisa masak enak saja, ketika dia tidak bisa masak dia tidak disebut Chef. Jadi ketika penulis itu tidak aktif lagi menulis, maka dia tidak akan disebut penulis. Semua negosiasi makna berada pada reader, yang bisa dilakukan penulis adalah mengantarkan pembaca kepada makna dengan caranya.
Penulis dan pembaca adalah art (seni), oleh sebab itu menulis membutuhkan ketulusan hati, dan menulis tidak bisa dilakukan sembarangan , karena pastinya mempunyai cara-cara tertentu. Harusnya pembahasan bahwa reader dan writer itu adalah art diulas sebelumnya, tapi karena terlewat urutannya sedikit berbeda dari penerangan Bapak.
Oleh karena itu, kita kembali membahas mengenai meaning. Makna terjadi bukan pada teks, melainkan pada sudut pandang reader. Reader ini juga bertugas membangkitkan roh sebuah tulisan. Dimana bahasa Saussure adalah suatu sistem yang didefinisikan itu sendiri maknanya, Barthes melihat peran orang-orang yang berlatih mengenai aktifitas linguistik juga menjadi pusat dalam pembentukan makna. Penulisan bukan penulisan sebelumnya untuk tindakan menulis, tetapi mengambil bentuk sebagai salah satu saat menulis. Bathers memang menyatak kematian penulis, sekaligus menandakan kelahiran pembaca.
Kemudian konteks itu ada pada kita sebagai raeder, reader ada pada kita sebagai pembaca dan teks itu selalu ada pada writer. Lalu dimanakah letak meaning? Konteks dan meaning itu berbeda, bagaima perbedaannya? Ketika writer dan reader ditengahnya ada meaning, meaning ini seharusnya searah, tetapi kadang tidak sama karena masing-masing mempunyai pengalaman yang berbeda. Jika kita harus mengkritisi, maka kita harus mengetahui background keduanya antara eriter dan reader. Dan yang menyesuaikan itu adalah pembaca. Karena seperti yang sudah saya jelaskan semua negosiasi makna ada pada reader, terserah reader bagaimana dia memaknainya. Reader mempunyai hak memaknai apakah buku itu bagus atau tidak.
Menurut Gay Kuk, ahli bahasa mengkarakteristikan situasi bahasa dalam konteks. Artinya, pembaca tidak melihat dia ketika dia menulis. Pembaca tidak peduli apa yang penulis lakukan dalam proses menulisnya itu, tapi pembaca hanya bisa menikmati hasil informasinya. Informasi dari apa yang dia tulis. Menurut dia, apa yang dilakukan oeh penulis itu, oembaca tidak akan tahu. Konteksnya itu sebagaii benda yang mati, jika hasil tulian sudah jadi maka otomatis sudah menjadi hak pembaca dalam mengartikannya.
Dalam lembaran yang Bapak bagikan minggu lalu yaitu oleh Hawe Setiawan, disitu memberitahukan bahwa:
Masayrakat Indonesia lebih statistik tidak kritis, menurut Hawe Setiawan masyarakat sudah kritis karena sudah update dalam internet secara langsung, menulis bukan secara formal, dengan adanya media jejaring sosial sedikit demi sedikit sudah bisa menulis. Hawe Setiawan, merevisi buku terakhir buku pokoknya rekayasa literasi. Jadi beliau bertolak belakang dengan Prof. Dr. A. Chaedar Alwasilah, menurut pak Chaedar menulis itu berbentuk artikel tapi menurut Hawe Setiawan menulis itu bisa dimana saja, seperti di jejaring sosial, update status lama-lama akan bisa mangasah keterampilan menulis kita.
Jadi dapat saya simpulkan, class review kali ini intinya membahas mengenai koneksi antara reader, writer, konteks dan teks. Mereka semua saling berkaitan dan saling membangun satu sama lain didalam menulis.  Dan lebih gamblangnya saya telah menjelaskan mengenai kaidah-kaidah dalam menulis dan banyak hal penting yang harus kita ketahui didalam menulis itu harus seperti apa.



Created by:
Nunuy Nurlatifah
PBI B/IV






1 comments: