Monday, February 24, 2014



Kenapa setiap orang harus memiliki literasi yang tinggi? Pada hakekatnya  literasi itu mencakup 2 hal yaitu Read (membaca) dan Writing (menulis) lalu kenapa kita harus menguasai baca-tulis sedangakan saat disekolah dasar sampai disekolah menengah atas, kita susah pernah belajar baca-tulis dengan baik.

Tentu saja jawabannya terletak pada diri kita sendiri, apakah kita mau menjadi orang bodoh dengan sedikit tahu? Ataukah menjadi orang yang cerdas dengan banyak tahu.
 Orang yang cerdas tidak mungking hanya duduki berdiam diri tanpa melakkan apapun. Dengan membaca kita akan banyak tahu, kita akan memperoleh pengetahuan yang lebih dari mereka yang hanya duduk berdiam diri.
Orang yang cerdas pula dia akan banyak menulis untuk mengeksplor pengetahuan yang dia dapat dari membaca. Istilahnya orang yang banyak membaca itu adalah orang-orang yang akan menguasai dunia dan sedangkan orang yang suka menulis dan menjadikan menulis sebagai bagian dari kebutuhan hidupnya adah orang-orang yang akan merubah dunia.
Lalu bagaimana sih cara merubah dan menguasai dunia lewat literasi? Seperti yang dikatakan oleh pak Chaedar Alwasilah, salah satu cara untuk menjadikan masyarakat literasi itu adalah melalui rekayasa literasi.
Memangnya apasih yang dimaksud literasi itu? Rekayasa literasi adalah upaya yang disengaja dan sistematis untuk menjadikan manusia yang terdidik dan berbahaya lewat penguasaan bahasa adalah pintu masuk menuju kependidikan dan pembudayaan.
Lantas apa saja yang harus direkayasa dalam  literasi?
Dalam rekayasa literasi tentu saja hanya ada 2 hal yang harus direkayasa yaitu Reading (membaca) & Writing (menulis) pada masyarakat dan generasi penerus bangsa kita.
Ada 5 method ntuk merekayasa reading dalam dunia pendidikan diantaranya yaitu :
1.              Reading
Pada masyarakat kita, budaya membaca itu sangat intensitasnya sangat rendah jika harus dibandingkan dengan negara tetangga maupun negara lain. Jika kita membuat prosentase, bisa dicontohkan bahwa anak yang suka membaca presentasenya 15%, prosentase untuk yang gemar menulis yaitu 10%, prosentase untuk yang gemar mendengarkan musik yaitu 25%, lalu sisanya yang 50% itu cenderung menyukai menonton sinetron dan drama korea.
Bagaimana generasi muda kita akan berkualitas jika minat baca-tulisnya sangat rendah. Melalui rekayasa literasi ini para pendidik ditekankan untuk memaksa ataumembiasakan budaya membaca pada peserta didiknya sejak dini.
2.              Merespon
Selain membudayakan kebiasaan membaca pada peserta didiknya, kita sebagai pengajar tentu harus menerapkan sikap kritis pada mereka, sehingga mereka tidak hanya membaca saja akan tetapi mereka akan berpikir kritis dengan cara merespn buku yang dibacanya, pro ataukah kontra dengan pendapat penulis dalam bukunya.
3.              Membaca Ulang
Kenapa sih kita harus membaca ulang teks maupun artikel yang sudah kita baca? Membaca ulang sangat berguna bagi kita untuk memperdalam pemahaman kita tentang artikel yang sedang kita kaji. Untuk memahami artikel dengan kadar bahasa atau diksi yang berat memang membutuhkan konsentrasi yang tinggi, juga tidak akan bisa dipahami dengan sekali baca. Contohnya: seperti buku “Rekayasa Literasi” milik pak Chaedar Alwasilah, untuk menangkap poin utamanya saja sampai membutuhkan 5 kali baca ulang.
4.              Menulis Ulang
Selain membaca ulang, kita juga ditekankan untuk menulis kembali apa yang kita pahami dalam suatu wacana atau teks yang sebelumnya kita kaji. Menulis ulang ini bukan meringkas bacaan, namun menulis kembali pemahaman kita tentang teks yang kita baca dengan disertai respon terhadap teks itu.
5.              Diskusikan
Mendiskusikan hasil tulisan kita seperti yang sedang berlangsung dalam mata kuliah writing ini, kami sebagai penulis semi aktif dituntut untuk mempertanggung jawabkan hasil tulisan yang kita buat.
Setiap pertemuan, kami akan mengadakan sesi diskusi dengan dosen mata kuliah writing ini yaitu pak Lala. Setiap pertemuan, beliau akan berkeliling dan mengecek hasil tulisan kita lantas memberi sebuah pertanyaan guna mengecek apakah kita paham terhadap apa yang kita tulis atau tidak. Sesi ini termasuk contoh nyata diskusi kecil antara dosen dan mahasiswa.

0 comments:

Post a Comment