Thursday, February 20, 2014

Pada pertemuan kali ini, saya masuk di kelas PBI D Semester 4, seperti yang sudah dikatakan pada class review pertama. Saya tidak dapat masuk kelas pada minggu itu. Kesan pertama memasuki kelas yang bukan kelas sendiri itu deg-degan, berasa asing dan suasana kelas beda dibandingkan kelas sendiri. Di kelas PBI D ini sangat tenang dan jauh sekali dari suasana keramaian, sangat serius bahkan saya tidak bisa enjoy dengan keadaan seperti ini. Berbeda dengan kelas PBI B yang mayoritasnya itu “love joke”, ini membawa kesan tersendiri menurut saya.
Sebelum memasuki ke pembahasan pelajaran, Pak Lala memberitahukan kepada anak-anak PBI D bahwa selama pembelajaran writing ini, ada perkembangan untuk PBI B. Blog mereka dianggap rapi dan anak-anaknya pun enak diajak ngobrol. Sedangkan untuk PBI A dan PBI C belum ada sensasi lagi. Pak Lala mengatakan bahwa ia berharap disini anak-anak PBI D mampu bersaing menjadi kelas yang unggul dan baik. Saya pribadi senang mendengar berita ini walaupun ketika itu saya belum masuk kelas tetapi setidaknya kelas saya (PBI B) bisa membuktikan kesungguhan pada semester 4 ini.
Memasuki pembahasan pembelajaran kali ini kita belajar tentang Teaching Orientation. Orientasi yang baru dalam writing 4 ini ada 3 yaitu :
1.      Akademic Writing, ini sifatnya reseach jadi kita harus mencari kebenaran terlebih dahulu dalam suatu permasalahan yang ada. Mencari kebenaran inipun bersifat Falidity dan Comparing. Membandingkan antara data yang satu dengan data yang lainnya. Sebagai penulis akademis, kita juga harus Impersonal, yaitu jangan menggambarkan identitas diri kita. Kita boleh memunculkan diri kita hanya melalui Pieces Argument. Dalam akademik writing juga harus Rigid, yaitu harus formal dan menggunakan bahasa baku. Makanya, tidak heran buku-buku linguistik hanya orang-orang tertentu yang mampu memahami secara dalam.
2.      Critical Thinking, sebenarnya hubungan antara writer dan reader itu sangat intim. Ibarat penari yang melengkapi satu sama lain. Ketika kita menjadi seorang writer ataupun reader, harus mampu berfikir kritis (konteks ini dalam menulis akademis), karena ketika kita menulis secara akademis, itu juga kita membaca terlebih dahulu. Nah, ketika kita berada diposisi keduanya kita dituntut mampu berpikir kritis. Misalkan sebelum menulis, sebagai referensi kita membaca terlebuh dahulu, kita pun harus tahu background dari si penulis buku yang kita baca itu siapa dan seperti apa latar belakangnya. Begitu juga ketika menulis, harus mengetahui background dari pembaca. Tujuannya agar meaning itu tersampaikan dan tidak terjadi kematian dari apa yang kita tulis. Sehingga apabila reader dapat memahami dan terjkadi koneksi yang baik dengan writer, maka dikatakan hiduplah tulisan tersebut.
3.      Writing, untuk apa sih kita menulis? seperti pertanyaan-pertanyaan yang tertera dipower point:
Ø  Apakah kita menulis tanpa adanya tujuan?
Ø  Apakah kita menulis hanya untuk menyelesaikan tugas saja?
Ø  Apakah hanya untuk mendapatkan nilai yang tepat?
Ø  Apa menulis tanpa jiwa atau tidak dengan hati?
Jawabannya, tentu saja tidak. Dengan menulis, berarti kita memproduksi pengetahuan, mengembangkan pendidikan dan cara membentuk pengetahuan yang kita miliki. Contohnya, dengan adanya tulisan sejarah dan prasasti, tanpa adanya itu semua bagaimana kita dapat mengethaui siapakah yang membangun borobudur? Ka’bah? dan sejak kapankah di bangun? Bagaimana sejarahnya?  Tetapi dengan adanya tulisan-tulisan orang-orang dahulu kita dapat mengetahui itu semua.
Secara akademis, tujuan menulis itu ada 3 :
o   A way of knowing something. Yaitu cara untuk mengetahui sesuatu apa saja yang kita butuh.
o   A way of representing something. Yaitu cara untuk menyatakan, menunjukkan, menerangkan sesuatu.
o   A way of reproducing. Yaitu cara untuk memproduksi sesuatu atau memancarkan sesuatu kembali.
Itulah tujuan dari menulis secara akademis, sesuatu yang telah disebutkan di atas itu merujuk kepada banyak hal, seperti : Information, experience dan knowledge.
            Sebagai writer multilingual itu berarti berbasis informasi, yang menulis secara efektif dalam L1 dan L2. Mereka akan mengutamakan atau memahami kuantitas atau kualitas, relasi dan cara. Penulis juga tidak akan memberikan informasi lebih dari yang diperlukan.
            Hubungan antara penulis dan pembaca sebenarnya saling berbagi, penulis berbagi informasi. Pengetahun dan juga pengalaman. Pembaca pun memberikan feedback pada penulis agar dapat menghasilkan karya yang baik. Penulis harus beroperasi dengan bahasa atau kata-kata yang digunakannya sesuai dengan konteks agar pembaca mampu memahami bentuk yang dibacanya. Kematian teks atau buku yang dibaca ada pada seorang reader. Apabila pembaca sudah beranggapan keahlian menulis sudah terlalu tinggi, mereka merasa belum mencapai tingkat itu. Maka sehebat apapun menulis, sebagus apapun bacaannya apabila tidak terjadi koneksi yang baik dari kesemuanya, mati atau stuck lah buku tersebut.
            Pembaca kritis sendiri memahami bahwa antara pembaca dan penulis sama-sama bertanggungjawab untuk pembuatan makna dan harus memahami pula background dari penulis buku tersebut. Sehingga ia bisa menyesuaikan dengan penulis. Kemudian adanya teks itu berfungsi sebagai bahan baku untuk makna, adanya meaning terjadi adanya teks. Reader dan writer, jadi keseluruhannya itu sangat saling berkesinambungan.
            Pembaca membentuk konsepi yang relatif koheren dari teks hanya berdasarkan apa yang mereka sudah tahu. Oleh karena itu, pembacaan teks tidak hanya “internal” materi tetapi terikat pada faktor-faktor tertentu yang “eksternal”untuk teks.
            Koneksi merupakan semua faktor-faktor yang mencangkup penulis dan juga pembaca yang merupakan pembentukan makna. Sedangakn teks bermakna yang mengaktualisasikan sesuai dengan sumber yang dimiliki pembaca, yang digunakan antara pembaca dan penulis menghasilkan rasa teks mereka. Oleh karena itu, konteks dan teks tidak mungkin terpisah satu sama lain. Konteks memainkan peran penting dalam apa yang telah digambarkan sebagai pemahaman ‘teks’.
            Jadi, kesimpulannya adalah ketika kita jadi penulis, jadilah penulis yang baik. Ketika jadi pembaca, jadilah pembaca yang baik. Dengan memahami background satu sama lain, maka dengan sendirinya terciptalah konteks dan meaning di tengah pembaca dan penulis. Tidak lepas dari critical thinking, penulis tidak egois tanpa memahami pembaca begitupun sebaliknya.

0 comments:

Post a Comment