Monday, February 24, 2014



Era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dan persaingan yang sangat ketat menuntut manusia untuk mampu terus-menerus belajar menguasai berbagai ilmu dan teknologi secara cepat. Jika tidak demikian maka seseorang akan tertinggal dan kalah dalam kompetisi di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dipelajari manusia dengan penggunaan penguasaan literasi (keaksaraan dan kewicaraan) yang memadai. Sebaliknya,kemampuan literasi yang tinggi dapat pula mendorong perkembangan ilmu   pengetahuan dan teknologi ke arah tingkatan yang lebih tinggi lagi.
Sementara itu perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan transformasi menyebabkan interaksi manusia yang berasal dari berbagai belahan dunia dengan latar belakang sosio-kultural yang beragam itu semakin tinggi. Kemampuan beradaptasi secara cepat dengan berbagai situasi budaya yang ada  merupakan masyararat mutlak untuk keberhasilan menjalin hubungan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang sosial budaya. Kegagalan dalam memahami karakteristik sosial budaya dalam berbagai peristiwa komunikasi akan menyebabkan terhambatnya komunikasi, kegagalan komunikasi dan bahkan disharmonisasi antar pelaku komunikasi.
Penguasaan literasi yang tinggi tentunya tidak  mengabaikan aspek sosiokultural karena literasi tersebut merupakan bagian dari kultur/budaya manusia. Hubungan literasi dengan komunikasi sangatlah erat bahkan Kern (2000) menyatakan bahwa, ”Literacy involves communication” (Literasi melibatkan komunikasi). Literasi yang mencakup dua hal, yaitu: keaksaraan dan kewicaraan atau lisan dan tulisan tentunya merupakan bagian dari budaya manusia untuk berkomunikasi antara satu sama lain dalam upaya mencapai tujuan-tujuan hidup. Dengan penguasaan literasi yang baik atau sesuai dengan sosiokulturalnya,
manusia dapat berkomunikasi dengan baik pula.
Agar literasi dapat dikuasai secara maksimal sehingga membantu manusia mencapai tujuan-tujuan mereka, maka pendidikan literasi perlu dilaksanakan. Literasi melibatkan interpretasi yaitu penulis/pembicara dan pembaca/pendengar berpartisipasi dalam tindak interpretasi, yakni: penulis/pembicara menginterpretasikan dunia (peristiwa, pengalaman, gagasan, perasaan, dan lain-lain), dan pembaca/ pendengar kemudian mengiterpretasikan interpretasi menulis/pembicara dalam bentuk konsepsinya sendiri tentang dunia.
Literasi tidaklah seragam karena literasi memiliki tingkatan-tingkatan yang menanjak jika seseorang sudah menguasai satu tahapan literasi maka ia memiliki pijakan untuk naik ke  tingkatan literasi berikutnya. Wells (1987) menyebutkan bahwa terdapat empat tingkatan literasi, yaitu: performative, functional, informational, dan epistemic. Orang yang tingkat literasinya berada pada tingkat performatif, ia mampu membaca dan menulis, serta berbicara dengan symbol simbol yang digunakan (bahasa). Pada tingkat functional orang diharapkan dapat menggunakan bahasa untuk memenuhi kehidupan sehari-hari seperti membaca buku manual. Pada tingkat  informational orang diharapkan dapat mengakses pengetahuan dengan bahasa. Sementara pada tingkat epistemic orang dapat mentransformasikan pengetahuan dalam bahasa.
Dalam disiplin ilmu pendidikan, kemampuan nalar sejatinya bertaut erat dengan literasi. Perlu dicatat, konsep literasi disini tak lagi dimaknai secara sempit yang terbatas pada kemampuan baca-tulis, tapi juga berkaitan dengan kemampuan memaknai teks, seperti huruf, angka, dan simbol cultural, seperti gambar dan simbol secara kritis.
Pendidikan berbasis budaya literasi merupakan salah satu aspek penting yang bisa diterapkan di lembaga-lembaga sekolah guna memupuk minat dan bakat yang terpendam dalam diri generasi muda kita.
Apalagi kita tengah menghadapi sindrom buta huruf yang kerapkali menjadi penghambat kemajuan pendidikan nasional sehingga dibutuhkan strategi alternative yang bisa dilakukan untuk menopang peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurut Michael Burber pada abad ke-21. Standar kelas dunia akan menuntut bahwa setiap orang sangat melek huruf, sangat penting baik informasi mampu belajar terus-menerus dan percaya diri dan mampu memainkan peran mereka sebagai warga masyarakat yang demokratis..
Pembukaan dalam elemen akademik writing yang pertama terdapat cohesion yaitu gerakan halus atau aliran antara kalimat dan paragraf. Elemen yang kedua adalah clarity artinya kejelasan yang mana makna dari apa yang dihasilkan dari komunikasi yang diucapkan dengan sangat jelas.
Yang ketiga adalah logis artinya mengacu pada urutan logis dari informasi. Dalam penulisan akademik, penulis cenderung bergerak dari umum ke khusus.
Yang keempat adalah konsistensi yaitu yang mengacu pada keseragaman gaya penulisan. Elemen yang kelima itu adalah unity, sederhana yang mana kesatuan mengacu pada pengecualian informasi yang tidak secara langsung berhubungan dengan topik yang dibahas dalam suatu paragraf tertentu.
Keringkasan adalah ekonomi dalam penggunaan kata-kata. Tulisan yang bagus dengan cepat sampai ke titik dan menghilangkan kata yang tidak perlu dan tidak perlu pengulangan( redundancy) atau sebuah “kayu mati”. Pengecualian dari informasi yang tidak perlu mempromosikan persatuan dan kesatuan adalah elemen yang keenam.
Elemen yang ketujuh adalah kelengkapan yaitu sementara informasi berulang-ulang atau tidak perlu harus dihilangkan, penulis memiliki untuk memberikan informasi penting mengenai suatu topik tertentu.
Elemen yang kedelapan adalah variety yang artinya ragam untuk membantu pembaca dengan menambahkan beberapa”bumbu” untuk teks, jadi dengan keanekaragaman teks sehingga menjadi bumbu tersendiri dan menjadi ketertarikan pembaca untuk membaca teksnya.
Elemen yang kedelapan adalah formalitas, bahwa akademik menulis adalah formal dalam nada. Ini berarti bahwa kosakata canggih dan struktur tata bahasa yang digunakan.
Ruang, waktu dan literasi selalu menjadi keterikatan pada tiap elemen, apapun itu dari awal mula hingga akhir, pada setiap celah-celah dimanapun pada berbagai bentuk bacaan atas situasi dan kondisi. Tapi, tentu saja hal-hal yang begitu penting, selalu diperebutkan kendali atasnya, selalu diupayakan untuk mendapatkannya., dengan sebagian membohongi yang lain melalui berupa cara beraneka, agar kelak diri atau golongannya yang dapat lebih unggul dan lebih maju.
Pada akhirnya, kita mau tidak mau harus sadar atau disadarkan bahwa cepat atau lambat, dijebak melalui paradigma.“Ketidakpentingan“ akan ruang, waktu, dan literasi melalui ekspansi pergulatan memenuhi kebutuhan dasar hidup atas pangan dan sandang yang entah seperti tidak pernah ada habis dan puasnya yang jelas, nyata selalu berhasil untuk memenuhi setiap jengkal ruang piker diri.
Indonesia akan sulit memenangi perang melalui literasi tanpa meninjau ulang paradigma pengembangan literasi sistem pendidikannya. Yang tidak kalah penting adalah mengelola kembali ekologi media dengan ukuran bonum commune masyarakat Indonesia yang harus maju.
Untuk mengatasi ketertinggalan, yang paling mendesak untuk dilakukan adalah merevisi paradigm using dan literasi dan menggantinya dengan paradigma yang lebih merefleksikan kebutuhan berliterasi di era ketika siswa dikelilingi teks, informasi dan gambar dari berbagai penjuru. Upaya strategis yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan daya literasi Indonesia secara menyeluruh dan berkesinambungan adalah memulainya dari pendidikan sekolah.
Pendidikan yang melibatkan buku dan bahan bacaan lebih dari sekedar sebagai textbook sebagai sumber ajar akan memfasilitasi guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang aktif dan kritis.
Rekaya literasi adalah upaya yang disengaja dan sistematis untuk menjadikan manusia terdidik dan berbudaya lewat penguasaan bahasa secara optimal. Penguasaan bahasa adalah pintu masuk menuju ke pendidikan dan pembudayaan.
Empat dimensi rekaya literasi: linguistik, kognitif, sosiokultural dan perkembangan. Dan rekayasa literasi sama halnya merekayasa pengajaran membaca dan menulis dalam empat dimensi itu.
Jadi, literasi merupakan kompetensi mutlak yang harus dimiliki setiap anggota masyarakat. Guna menemukan generasi yang memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam literasi diperlukan cara yang strategi alternatif yang bisa dilakukan untuk menopang peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang tengah menghadapi sindrom buta huruf yang kerapkali menjadi penghambat kemajuan pendidikan nasional untuk bersaing di dunia internasional dan mengubah paradigm kita mengenai literasi karena peradaban dalam negara harus ada kesejahteraan(prosperous) keamanan (security)  dan kenyamanan (comfort). Bagi yang sudah bisa memberikan kesejahteraan, keamanan dan kenyamanan berarti sudah mempunyai peradaban tinggi dan mampu menciptakan cita rasa literasi.

0 comments:

Post a Comment