Sunday, February 23, 2014

10:32 PM


 Berbincang kembali masih dalam nuansa literasi sebagai makanan yang harus di makan oleh para pelajar dan juga pengajar demi meningkatkan mutu masyarakat literaor dan literer, karena di dalam skill literasi itu mencangkup perspektif dan produktif baik itu di dalam seni menulis ataupun lisan. Banyak media yang akan menjadikan seseorang itu literat, karena pada zaman sekarang keadaan media yang begitu banyak sangatlah mendukung dalam dunia literasi, tapi yang menjadi pertanyaan apakah seseroang tersebut bisa memanfaatkan media sebagai penunjang literasi?  Alangkah sangat bermanfaatnya suatu media itu di jadikan alat penunjang literasi, karena di dalamnya terdapat lapangan konsep ilmu yang luas untuk menunjang literasi.
Literasi akan hidup bila masyarakatnya seanntiasa ikut berperan di dalamnya, banyak kejadian di kalangan masyarakat yang kurang begitu memperdulikan adanya literasi, walaupun sulit untuk memulainya tapi mulailah dari hal yang kecil. Ada suatu kejadian di mana sesorang itu kurang begitu memperdulikan dalam skill membaca ketika sesorang akan masuk dalam suatu ruangan dan pada pintu tersebut ada tulisan “TARIK” mungkin seseorang tersebut kurang begitu menghiraukan untuk membaca dan terus masuk saja dalam ruangan tersebut, hasilnya seseorang tersebut malah mendorong pintunya yang mengakibatkan pinu tersebut menyenggol kursi yang berada di dalam ruangan yang mengakibatkan dia malu karena seharusnya pintu itu di tarik malah didorong. Kalau kita membaca tulisan dalam pintu tersebut dan melakukanya dengan menarik pintu tidak mendorong tidak akan terjadi seperti itu. Inilah contoh kecil apabila tidak begitu menhiraukan tulisan yang kemudian di baca.
Di dalam Academic Writing  (AW), menulis tidak harus berlebihan dalam hal ini berbunga-bunga dengan terlalu bertele-tele, hal yang harus di perhatikan adalah langsung ke ponint pembahasan. Dengan tidak panjang lebarnya suatu wacana karya teks dalam konteks formal maka akan mempermudah pula penilaian dalam karya tulisan tersebut. Pada pertemuan ini juga dosen pengajar mengajukan beberapa perihal pertanyaan tentang hasil karya mahasiswa mengenai karya tulis, adapun pengajuan pertanyaanya diantaranya; pertama, kalimat yang terpenting di simpan di sebelah mana? Kedua, dalam menyusun sebuah pendapat dalam bentuk karya tulis punya bukti tidak? Ketiga, adakah klaim yang tidak mendukung?. Dari pertanyaan inilah yang menjadi barometer pengukur nilai karya tulis yang sudah di susun dengan menjawab beberapa pertanyaan yang sudah disebutkan diatas.
Menyinggung pertanyaan yang menjadi kunci dalam pembahasan kali ini, bahwasanya apa sih yang di rekayasa itu? Rekayasa literasi adalah upaya yang di sengaja dan sistematis untuk menjadikan manusia terdididk dan berbudaya lewat penguasaan bahasa secara optimla penguasaan bahasa adalah pintu masuk menuju ke pendidikan dan pembudayaan. Perbaikan rekayasa literasi senantiasa menyangkut empat dimensi : (1) linguistik atau fokus teks, (2) kognitif atau fokus mind, (3) sosiokultural dan kognitif / metakognitif  seperti halnya ketrampilan membaca dan menulis (4) perkembangan atau fokus pertumbuhan (kucer, 2005: 293-4).

Linguistik
(text)

Sosiokultural                             membaca                            kognitif
                (group)                                        dan                                       (mind)
menulis

Perkembangan
(growth)

1.      Menurut pendapatnya lehtonen di dalam merekayasa litersai itu terdapat dua aspek yaitu pertama, fisik ada adalah mencangkup verbal writen visual  dan yang kedua,  semiotik (sistem tanda) adalah ilmu ilmu tentang tanda yang termasuk persoalan ikon tipologi tanda, kode, struktur, dan komunikasi. Budaya adalah sistem tanda, dan untuk memaknai tanda manusia harus sepenuhnya menguasai literasi semiotik. Pada penjelasan mengenai semiotik bapa menganalogikan dengan sebuah gedung masjid di IAIN dengan semiotik tandanya yang berbentuk gedung, dan juga mengkiyaskan dengan poster yang berada di kelas, dengan komposisi warna poster yang berbeda-beda, inilah kajian ihwal tentang semiotik.
Menurut Lehtonen
Fisik (text)
Semiotik (tanda)
2.      Verbal
3.      Writen
4.      Visual
1.      Contoh gambar poster yang berada di kelas
2.      Gedung Masjid yang berada di kampus


Jadi natijah yang bisa di petik pada pertemuan kali ini, masih ruang lingkup mengenai literasi, yakni dengan menghidupkan budaya literasi,  sebagai rana dalam mengembangkan intelektual dalam skill membaca menulis. Di dala rekayasa literasi perbaikan rekayasa literasi seantiasa menyangkut empat dimensi yaitu: pertama, linguistik atau fokus teks kedua, kognitif atau fokus mind ketiga, sosiokultural dan kognitif /metakognitif seperti halmya ktrampilan membaca dan menulis keempat, perkembangan atau fokus pertumbuhan(kucer, 2005:293-4). Menurut Pendapat lehtonen bahwasanya merekayasa literasi terdapat dua komponen yaitu: fisik dan semiotik

0 comments:

Post a Comment