Saturday, February 22, 2014


You are able to build the life that you want rather than letting

the media build the life they want for you.

—W. James Potter—

Sosial media merupakan salahsatu fenomena yang sedang trand dalam beberapa tahun belakangan. laporan bulan November 2013 ini, JINGGA Media menuliskan dari sebanyak 310.688 akun Facebook dan 189.142 akun Twitter milik remaja Cirebon, 86 % di dalamnya digunakan sebagai media hiburan dan alat narsis dengan menunjukkan eksistensi di luar interaksi pengetahuan, keilmuan, penyaluran bakat dan pengembangan kreatifitas. Sebelumnya, pada Maret 2013, JINGGA Media juga menurunkan laporan serupa, yakni sebanyak 68 % konten negatif muncul saat diketikkan kata kunci yang berkaitan dengan pelajar, remaja dan siswa di beberapa mesin pencarian internet, di antaranya Google dan Yahoo.[1]
Melihat potensi yang sangat besar di kalangan remaja dalam hal sosial media, ini terlihat sebagai potensi yang sangat besar. Walaupun sosial media terlihat seperti Cuma ajang eksistensi diri dalam hal narsisisme namun juga bisa diambil sebagai momentum untuk meningkatkan budaya literasi dari para penggemar media sosial.
madingskolah.net

Yang diperlukan adalah penyuluhan tentang manfaat media sosial untuk menunjang kemajuan budaya literasi para siswa, karena sebagian besar masyarakat masih memanjang buruk tentang eksistensi sosial media. Salah satu program unggulan dari jingga media adalah madingsekolah.net yaitu portal siswa untuk mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan bukan hanya mading yang ada disekolah namun mereka juga dapat membaginya ke semua orang melalui internet.[2]
National Association for Media Literacy Education (NAMLE) melihat literasi media sebagai serangkaian kompetensi komunikasi, yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi dalam beragam bentuk, termasuk pesan dalam media cetak dan non cetak. Dari definisi NAMLE tersebut terlihat ada empat kompetensi yang harus dipenuhi untuk disebut sebagai literasi media. Pertama, memiliki kemampuan untuk mengakses pesan. Syarat ini tentu saja merupakan hal mendasar yang harus dipenuhi. Dengan kata lain, literasi media tidak dibutuhkan bila tidak ada satu pun media yang diakses. Kedua, kemampuan untuk menganalisis pesan dalam media secara kritis, lalu mengevaluasinya, dan terakhir mengkomunikasikan hasil penilaian terhadap pesan tersebut.
Kemampuan akan literasi media sangatlah penting, khususnya pada zaman informasi seperti saat ini atau yang disebut dengan “mediated environment”. Pertama, dengan mempelajari literasi media masyarakat menjadi audiens yang aktif. Kedua, masyrakat akan menjadi lebih sadar (aware) dan kritis atas apa yang tersaji dalam media. Ketiga, literasi media akan mengajarkan orang agar mampu menggunakan media sesuai dengan manfaat yang ingin didapatkan. Dan keempat, untuk masa depan generasi yang akan datang agar siap untuk hidup dalam lingkungan media seperti sekarang. Empat hal tersebut cukup menjadi alasan yang kuat mengapa literasi media menjadi penting untuk dipelajari.

Mengekspresikan budaya literasi

Pengekspresian budaya literasi tidak harus melalui media yang kaku dan formal, pemaksimalan media yang sedang eksis dikalangan remaja akan lebih mengena karena Literasi sangat erat kaitannya dengan budaya, karena literasi itu sendiri adalah merupakan bagia dari budaya dikalangan masyarakat. Dalam hal ini mungkin kita lebih berpendapat kaum intelektual lah yang mempunyai budaya literasi yang baik, paradigma tersebut memperlihatkan bahwa budaya literasi sangat erat kaitannya dengan tingkat pendidikan seseorang.
mengenai apa itu budaya literasi, kita pahami dulu kualitas pendidikan yang baik. Menurut penulis kualitas pendidikan yang baik tidak ditentukan oleh besarnya biaya operasional pendidikan, sekolah berlabel internasional atau nilai Ujian Nasional yang yinggi tapi sejauhmana budaya literasi mengakar pada pelaku pendidikan. Selanjutnya budaya literasi adalah sebuah konsep membaca, menulis dan berdiskusi yang membudaya pada pelaku pendidikan mulai dari siswa, mahasiswa, guru dan masyarakat umum.
Rendahnya budaya literasi di Indonesia membuat pendidikan di Indonesia tertinggal dari negera-negara tetangga. Dikutip dari m.okezone.com menurut Badan Penelitian  dan Pengembangan Kemendikbud, kemampuan membaca anak usia 15 tahun hanya 37,6 persen anak membaca tanpa bisa menangkap makna. Dalam persoalan menulis, Indonesia hanya mampu menghasilkan 8.000 buku per tahun, tertinggal dari Vietnam yang mampu menghasilkan 15.000 buku per tahun.
Budaya literasi juga sangat membantu program pemerintah tentang kewajiban membuat makalah yang dimuat di jurnal ilmiahsebagai syarat kelulusan bagi sarjana S-2 berdasarkan surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 tanggal 27 Januari 2012. Karena menurut Mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Djalal jurnal ilmiah Indonesia yang terakreditasi oleh Ditjen Dikti hanya 121 buah. Berdasarkan data, selama kurun waktu 1996–2010 Indonesia memiliki 13.047 jurnal ilmiah, Tertinggal jauh dibandingkan negeri tetangga Malaysia (55.211) dan Thailand (58.931).
Kesimpulan
Pola pengembangan budaya literasi dapat dilakukan sedini mungkin dan dari aspek mana saja. Budaya postif ini juga dapat diimplementasikan di ekstrakuliler bidang penalaran seperti Karya Ilmiah Remaja (KIR) dan Lembaga Kajian Mahasiwa atau melaui penuluhan media sosial dan pemaksimalannya untuk mendongkrak budaya literasi para siswa. Demikian pentingnya budaya literasi bagi sebuah negara sehingga budaya literasi merupakan barometer kualitas pendidikan sesungguhnya.




[1] Jinggamedia.org, diunduh pada 21 februari 2014
[2] Madingsekolah.net, diunduh pada 21 februari 2014

visit : http://haidarism.wordpress.com/

0 comments:

Post a Comment