Tuesday, February 18, 2014



ILUSI LITERAT DI INDONESIA

Akibat rekayasa literasi bahwasannya dari sebagian para ahli yang mendefinisikannya, Brockmeier, 1998 : kita akan mengkhawatirkan adanya theoretical and budaya karena dapat mempengaruhi dalam literasi, para pengajaran bahasa asing dalam metode dan pendekatannya terdapat lima kelompok besar.
Para ahli dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok besar, yaitu sebagai berikut :
Ø  Pendekatan structural dengan grammar translation methods. Penggunaan bahasa tulis dan penggunaan tata bahasa. Kelemahan dari metode ini, pendekatan ini tidak menjamin siswa mampu menganalisis persoalan social.
Ø  Pendekatan audiolingual atau dengar-ucap (1940-1960). Metode ini menggunakan dialog itu saat ini di komunikasikan secara spontan.
Ø  Pendekatan kognitif dan transformative. Metode ini berorientasi pada pembangkitan potensi berbahasa siswa sesuai kebutuhan lingkungannya.
Ø  Pendekatan communicative competence.
Ø  Pendekatan literasi atau pendekatan genre-based, sebagai implikasi dari studi wacana.
Definisi Literasi
            Secara sederhana, banyak diperbincangkan dalam metodologi pengajaran dikalangan guru bahasa, yaitu genre, wacana, literasi, teks, dan konteks. Adapun pengertian (lama) literasi adalah kemampuan membaca dan menulis (7th Edition Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 2005: 898). Dalam KBBI edisi ke-4 (2008), tidak mencantumkan lema literasi, istilah yang ada di situ adalah literator dan literer (hal. 836). Pada masa silam membaca dan menulis dianggap “cukup” sebagai pendidikan dasar (pendidikan umum) untuk membekali manusia kemampuan menghadapi tantangan zamannya. Dapat dipahami jika literate kadang diartikan sebagai educated. Literasi selama bertahun-tahun dianggap sekedar persoalan psikologis, yang berkaitan dengan kemampuan mental dan ketrampilan baca-tulis, padahal literasi adalah praktek cultural  yang berkaitan dengan persoalan social dan politik. Dan para pakar pendidikan berpaling kedefinisi baru yang menunjukkan paradigm baru dalam memaknai literasi.
            Terdapat beberapa ungkapan mengenai literasi, yaitu literasi computer, literasi matematika, literasi IPA, dan sebagainya. Atas tantangan zaman, Freebody & luke menawarkan model literasi sebagai berikut :
1.      Memahami kode dalam teks (breaking the codes of texts),
2.      Terlibat dalam memaknai teks (participating in the meanings of texts)
3.      Menggunakan teks secara fungsional (using texts functionally), dan
4.      Melakukan analisis dan mentransformasi teks secara kritis (critically analyzing and transforming texts).
Keempat peran literasi ini dapat diringkas menjadi lima verba : memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan  mentransformasi text. Adapula definisi yang ada perubahan makna literasi, yang sudah pasti mengalami perubahan pengajaran. Dalam perkembangannya literasi terus berevolusi, dan  maknanya semakin meluas, sedangkan rujukan linguistic dan sastra relative konstan. Dalam banyak hal obyek studi literasi bertumpang tindih dengan objek studi budaya, yang berfokus pada hubungan-hubungan antara variable social dan maknanya (O’Sulivan, 1994: 71). Literasi tetap berurusan dengan penggunaan bahasa, dan kini merupakan kajian lintas disiplin yang memiliki tujuh dimensi yang saling berkaitan, yaitu :
Ø  Dimensi geografis
Ø  Dimensi bidang
Ø  Dimensi ketrampilan
Ø  Literasi ini terlihat dalam kegiatan menulis, membaca, menghitung maupun berbicara. Kualitas pasti bisa bergantung pada apa yang telah di terimanya. Seorang sarjana pasti bisa membaca, tapi tidak semua sarjana bisa menulis bukan.
Ø  Dimensi fungsi
dalam dimensi ini, orang yang literat dia mampu menyelesaikan masalah, persoalan.
Ø  dimensi media
Ø  Dimensi jumlah (satu, dua, beberapa)
Dimensi jumlah ini dapat merujuk pada banyak hal, misalnya bahasa, variasi bahasa, peristiwa tutur, bidang ilmu, media, dan sebagainya. Orang multiliterat mampu berinteraksi dalam berbagai situasi. Kemampuan ini tumbuh karena proses pendidikan yang berkualitas tinggi.
Ø  Dimensi bahasa
Setelah mengkaji tujuh ranah literasi dan 10 fase kunci literasi, pendidikan bahasa berbasis literasi seharusnya dilaksanakan dengan mengikuti tujuh prinsip sebagai berikut :
1.      Literasi adalah kecakapan hidup (life skill) yang memungkinkan manusia berfungsi maksimal sebagai anggota masyarakat.
2.      Literasi mencakup kemampuan reseptif dan produktif dalam upaya berwacana secara tertulis maupun secara lisan.
3.      Literasi adalah kemampuan memecahkan masalah.
4.      Literasi adalah refleksi penguasaan dan apresiasi budaya.
5.      Literasi adalah kegiatan refleksi (diri).
6.      Literasi adalah hasil kolaburasi.
7.      Literasi adalah kegiatan melakukan interpretasi.
Literasi anak negeri di Indonesia
Data dari Association for the Educational Achivement (IAEA), mencatat bahwa pada 1992 Findlandia dan jepang sudah termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi didunia. Sementara itu, dari 30 negara Indonesia masuk pada peringkat dua terbawah. Ada tiga kategori besar masyarakat Indonesia. Perbandingannya dengan saat ini tidak terpaut jauh berbeda jika melihat indicator yang ada.  Suatu tingkat literasi yang sangat ironis bila kita bercermin pada negara-negara tetangga di ASEAN yang sudah terlebih dulu bangkit dari keterpurukan peradaban. Karena itu Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan memang menjadi tulung punggung kemajuan peradaban suatu bangsa.
Bahwa orang literat ialah orang yang terdidik  dan berbudaya. Rekayasanya dengan upaya sistematis, yang menyangkut dalam 4 dimensi, yaitu :
·         Linguistic atau focus teks,
·         Kognitif atau focus minda,
·         Sosialkultural atau focus kelompok, dan
·         Perkembangan atau focus pertumbuhan.
Jadi, kesimpulannya adalah tingkat literasi siswa Indonesia masih jauh tertinggal oleh negara-negara lain. Mulai sekarang dan kedepan kita sama-sama bangun budaya dan negara yang kaya literat. Kualitas literasi berkembang seiring dengan kematangan diri, tingkat pendidikan saat ini sangat mempengaruhi tingkat literasi seseorang.

0 comments:

Post a Comment