Sunday, February 23, 2014


 
Sistem Pendidikan Dan Keragaman agama
Setelah saya membaca sebuah artikel dari buku Prof. Chaedar yang berjudul   “ pokoknya rekayasa literasi ”. Masih membahas tentang literasi yang mana literasi berarti mengajarkan keterampilan membaca dan menulis. Kemudian saya membaca lagi sebuah  artikel dengan judul  “ wacana kelas untuk mendorong kerukunan beragama ”. Yang mana tugas untuk mahasiswa terhadap teks tersebut untuk di kritisi. Kemudian setelah saya membaca dan saya akan mengkritisi teks tersebut dari segi sistem pendidikan dan keragaman agama. Jika kita mengetahui tentang kualiatas suatu bangsa, yang hanya kita ketahui dari segi kualitas dan sistem pendidikan.
Hampir semua di negara maju sudah membentuk sistem pendidikan yang baik. Contohnya pendidikan di Indonesia yang  berbeda dengan pendidikan pada negara maju. Kita lihat dalam cara pengajarannya, yang mana pendidikan di Indonesia masih menggunakan pengajaran yang tradisional, sehingga membuat tetinggalnya kita dari segi pengajaran yang diajarkan. Sedangkan di negara maju sudah menggunakan pengajaran yang modern dengan cara menggunakan teknologi, dan menggunakan pengajaran liberal.
Salah satu tujuan dari pendidikan adalah untuk memberikan keterampilan siswa dalam mengembangkan mereka sebagai individu dan warga Negara. Sebagai contoh kita bandingkan antara Negara firlandia dan di Indonesia. Dimana di firlandia untuk menjadi guru SD pun sangat sulit, karena harus menempuh pendidikan S2, tidak ada ujian dan tidak ada PR bagi siswa nya, gaji nya pun sangat besar. Apalagi di Negara Prancis dengan pengajaran bagi perempuan tidak boleh memakai krudung, dan kalung salib. Pendidikan liberal tidak hanya  mengajarkan tentang moral, kritis dan objektif. Jadi pendidikan liberal sangat penting dan diperlukan karena sangat baik untuk di ajarkan. Sedangkan liberalisasi pendidikan lebih pada materealitis.
Dalam penerapan sistem pendidikan di indonesia dan Amerika sangat jauh berbeda.  Disini saya akan membahas 2 topik inti, diantaranya :
·         Religious harmony
·         Class discourse
Dimana dalam Negara Amerika menerapkan sistem pendidikan yang lebih kepada asrama, dan peer interaction social serta pembentukan geng yang mana pemudanya tidak mau mematuhi peraturan yang sudah di buat. Tetapi di Indonesia lebih cenderung  pada pendidikan pesantren, karena dengan pesantren juga orang melihat nya sebagai pendidikan yang terbaik. Peer interaction menjelaskan di pesantren itu, yang mana laki-laki dan perenpuan harus di pisah, sedangkan di Amerika seperti single sex full sangat bebas dan akan berdampak pada efek negatif nya.
Kemudian pendidikan liberal tidak adanya unsur agama, mementingkan kognitif, moral dan emosi, intraction social. Pendidikan liberal juga tidak membeda-bedakan. Agama ada satu di setiap pesantren dan yang hanya membedakan adalah dari aliran masing-masing. Dengan keragaman agama yang mana sebagai aset bangsa.
Dengan banyaknya keragaman agama yang ada di Indonesia, maka akan muncul rasa toleransi kita terhadap agama yang berbeda. Dan dengan rasa toleransi itu muncul dari dalam diri sendiri untuk saling menghormati agama lain. Rasa toleransi itu penting, karena dengan bertoleransi mengajarkan kita untuk saling menghargai sebuah perbedaan. Untuk mewujudkan tujuan dalam kerukunan beragama harus dikembangkan dari sekolah awal (SD). Anak-anak usia sekolah lebih memilih untuk berinteraksi dengan teman sebaya, dan dalam konteks sekolah dengan menghormati teman ,berbagi ilmu, yang umumnya rasa sopan terhadap satu sama lain. Konsep interaksi dengan teman sebaya adalah komponen penting dalam teori pengembangan sosial.
Kemudian dalam pengajaran pun guru tidak hanya mengajarkan secara sentifik saja, tetapi juga harus mengajarkan tentang norma, moral dan karakter. Siswa pun  harus aktif  untuk menyumbangkan ide-ide yang relavan, dan dengan ide itu bisa dikembangkan dengan topik yang akan di diskusikan. Selain itu, guru juga berfungsi untuk mengawasi siswa setiap hari dalam berinteraksi dengan teman sebaya dengan benar dan benar.  
Pendidikan  dasar (SD) yang merupakan dasar untuk pendidikan lebih lanjut dan dengan adanya masalah sosial seperti tawuran pelajar, geng motor dan sebagainya. Kasus tersebut adalah indikasi dari penyakit sosial yaitu kurangnya sosialisasi terhadap kelompok yang berbeda, dan dengan melihat kasus konflik sosial dan ketidakharmonisan agama merupakan tantangan bagi pendidik. Dengan tantangan tersebut untuk melakukan yang terbaik dan kita siap untuk mempersiapkan generasi berikutnya sebagai warga Negara yang demokratis dan karakter yang baik.
Dalam penyelesaikan pendidikan formal, siswa harus berkemampuan untuk menjaga hubungan baik yang sangat penting untuk keberhasilan individu. Jika tidak menjaga hubungan baik maka akan menyebabkan konflik sosial dalam suatu masyarakat.
Kita buktikan dengan adanya banyak konflik, seperti konflik yang terjadi akibat kericuhan beragama. Terjadi di daerah Sumbas (2008), Ambon (2009), dan Papua (2010). Jika tidak ada langkah yang tepat untuk di ambil dalam konflik itu, maka akan terulang kembali dan bisa menimbulkan rasa tidak percaya terhadap kelompok sosial dalam bermasyarakat. Contoh lain dalam kasus bunuh diri dan pemboman di gereja, yang menyebabkan dendam dan serangan serupa terhadap masjid. Dengan kasus ini bisa meningkat menjadi keharmonisan dalam agama besar.
Dengan adanya opnum mengadu domba dari dua agama yang berbeda, yang menjadi konfik dan harus ada rasa toleransi dari setiap individu. Karena sikap toleransi akan muncul dari diri sendiri untuk bisa saling menghormati, dan menghargai perbedaan dengan lain agama. Kita lihat di Indonesia yang mempunyai rasa toleransi yang tinggi pada mana masa KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
 Pada tahun 2000-2001 yang mana pada masa Gus dur. Dalam pemikiran gus dur yang telah mendahului zaman, akan tetapi pemikiran tersebut menjadi kenyataan.  Negara yang paling baik toleransinya dari Negara lain adalah Indonesia. Kenapa ?  Karena pada masa pemerintahan gus dur dengan munculnya berbagai agama, salah satu agamanya adalah konghucu. Dengan adanya gereja terbesar di dunia dan berada didepan masjid istiqlal, dan masjid istiqlal tersebut berada di Jakarta. Ini merupakan bentuk toleransi.
Teori Gus dur adalah pluralisme. Pluralisme ini merupakan toleransi antar agama. Kemudian ada 3 teori agama yaitu :  
·         Ekslusif
·         Inklusif
·         Pluralis

Saya akan menjelaskan dari 3 teori agama tersebut. Dimana ekslusif me itu berarti bahwa agama islam adalah agama paling benar, dan inklusifme itu berarti bahwa semua agama islam itu benar, tetapi islam adalah agama paling benar. Sedangkan, pluralisme berarti semua agama itu benar karena semua bertuju ke satu titik yaitu menyebah kepada Allah SWT. 
Toleransi sama dengan pluralisme. KH. Abdurrahman Wahid (Gus dur) fanatisme yang membuat konflik di Indonesia. Zaman sekarang antar umat beragama lebih ke fanatisme yang membuat konflik antar umat beragama di Indonesia. Bagaimana cara berbuat baik dan bisa bertoleransi. Cara bertoleransi dengan sikap saling menghargai dan menghormati agama lain yang akan menghasilkan betapa pentingnya dalam bertolaransi. Tetapi toleransi harus muncul dari diri sendiri terlebih dahulu. Dalam permasalahan konflik antar agama adalah mereka terlalu fanatik.
Kemudian kembali pada pembahasan pendidikan, dengan adanya laporan penelitian oleh Apriliawati 2001 yang menyimpulkan bahwa: interaksi teman sebaya dalam dukungan teks wacana sipil yang positif dikalangan siswa. Interaksi rekan dalam studi sosial , kelas Indonesia dan pancasila tidak perilaku jika guru mengelola secara efektif. Ini bisa menjadikan bukti interaksi interaktif dan mencerahkan. Oleh karena itu, disarankan agar mempromosikan interaksi sebaya harus dilakukan kegiatan secara rutin di dalam kelas.
Kemudian siswa juga harus bisa berinteraksi dengan teman sebaya melalui tugas kelompok, yang mana akan berlatih untuk mendengar dengan penuh perhatian. Berdebat hormat dan suara juga mengorbankan untuk mempersiapkan mereka untuk hidup sebagai anggota fungsional dari suatu masyarakat yang demokratis. Pondasi awal pembentukan karakter bangsa ada pada peran guru SD.  Guru juga yang idealnya sebagai model yang akan mengajarkan kepada siswanya.
Guru SD juga harus berfungsi mempersiapkan kesempatan bagi siswanya untuk mendorong pengalaman yang bermakna, yaitu adanya interaksi dengan siswa lain yang berbeda agama, etnis dari kelompok-kelompok etnis yang berbeda agar tidak terjadi kecemburuan sosial. Wacana kelas menjadi kerukunan berinteraksi yang mana guru harus memperhatikan setiap siswanya.
 Idealnya kebijakan harus ditegakkan di mana sekolah dikelola oleh seorang guru dan tenaga yang berbeda agama, etnis dari kelompok yang berbeda agama. Sekolah juga ikut serta yang mana harus berfungsi sebagai laboraturium sipil yang mana untuk latihan masyarakat sipil. Siswa SD yang belum mampu untuk mengekspresikan kesepakatan dan ketidaksepakatan  dengan cara yang sopan, tetapi siswa tetap percaya diri sehingga kompromi dan consensus dapat di capai dengan cara sipil.
Dalam studi apriliaswati yang mana mengajarkan kita bahwa pendididkan harus mengembangkan tidak dengan penalaran ilmiah, tetapi dengan wacana sipil sipil sangat dibutuhkan dalam mengembangkan warga intelektual. Kompetensi wacana sipil juga sangat penting karena untuk menciptakan Negara yang beradab. Sekarang coba kita lihat pada insiden tahun 2010, kejadian itu menunjukkan bahwa pendidikan politisi belum cukup untuk mmpromosikan kompetensi dalam wacana sipil. Ketika politisi dan birokrat gagal dalam mendidik masyarakat.
Interaksi yaitu horizontal dan toleransi antar pengikuti agama yang berbeda. Dalam konteks Indonesia , pendidikan liberal yang mencangkup pengetahuan etnis, agama, dan minoritas pada bahasa dan budaya. Dimana dalam pendidikan liberal itu bertujuan untuk membebaskan siswa dari sikap rabun dan provinsi terhadap orang lain. Tetapi pada dasarnya itu menempaan insane kamil , yaitu orang yang ideal yang menenuhi criteria untuk mengasumsi setiap pekerjaan atau penunjukkan setiap pekerjaan sebagai warga Negara yang demokratis.
Bagaimana dialog agama bisa berinteraksi dengan sosial ? yang mana dialog agama sebagai alat komunikasi untuk berinteraksi dengan orang lain lewat bahasa yang digunakan. Ragam agama di Indonesia sebagai aset bangsa dan bukan sebagai konflik. Kemudian dengan adanya dialog antar beragama untuk tukar kognitif, efektif, dan lain sebagainya. Sistem pendidikan di Indonesia menganut sistem pendidikan liberalis. Kemudian hubungan pendidikan dengan demokrasi adalah sama saja yang berada pada tangan rakyat. Kalau di Indonesia adanya perbedaan budaya dan keragaman budaya. Demokrasi yang harus lebih spesifik keharmonisan agama.
Dapat disimpulakan dari apa yang sudah saya tulis. Bahwa kita lihat dari segi sistem pendidikan dan keragaman agama dalam kualitas suatu bangsa. Adanya perbedaan yang sangat menonjol dari Negara yang maju dan Negara yang masih mengguanakan pengajaran tradisional. Contohnya Negara Indonesia dengan Amerika. Sehingga Indonesia jauh tertinggal dari sistem pengajarannya.
Kemudian kita menuju pada tujuan pendidikan terlebih dalulu, yang mana tujuan pendidikan dasar adalah untuk memberikan siswa dengan menggunakan latihan dan keterampilan dalam mengembangkan kehidupan mereka sebagai individu, dan warga Negara. Akan tetapi siswa juga harus diberikan kesempatan berinteraksi dengan teman dan mengorbankan suara untuk hidup sebagai anggota fungsional dari suatu masyarakat yang demokratis.
Pendidikan juga harus mengembangkan tidak hanya dalam penalaran ilmiah, tetapi juga wacana sipil yang positif. Penalaran ilmiah ini sangat di perlukan dalam pengembangan warga intelektual, sedangkan kompetensi wacana sipil penting untuk menciptakan warga Negara yang beradam. Dan pondasi awal pembentukan karakter bangsa ada pada Guru SD.
 Keterampilan dasar juga merupakan dasar untuk pendidikan lanjut. Kemudian dengan adanya masalah sosial contohnya seperti : tawuran pelajar, geng motor, ini merupakan indikasi dari penyakit sosial dan berdampak besar yang sangat merugikan. Masalah sosial tersebut ada karena kurangnya kepekaan sesorang dalam lingkungan yang di tempatinya, sehingga kasus ini yang harus cepat ditangani. Yang mana tugas dan tantangan bagi pendidik untuk mempersiapkan generasi berikutnya  sebagai warga Negara yang demokratis dengan karakter yang baik.
Kerukunan umat beragama harus dikembangkan disekolah pada usia dini, agar bisa mengembangkan melalui program kreatif dan inovatif untuk mendukung wacana sipil. Wacana kelas menjadi kerukunan dalam berinteraksi. Tentu yang menjadi subjek adalah guru. Konsep interaksi sosial denagn teman sebaya sangat penting karena akan membentuk komponen penting dalam teori pembangunan sosial. Siswa juga harus di latih untuk mendengarkan secara aktif dengan mempertahankan kontak mata secara langsung, dan di latih berbicara dan menulis juga. Siswa juga harus di ajarkan untuk mengemukakan ide-ide yang akan dijadikan topik pada sebuah diskusi.
Disini juga guru sangat berfungsi untuk mengawasi siswa di kelas dalam menjalankan interaksi dengan teman sebayanya, maka dengan interaksi tersebut siswa bisa mengembangkan wacana sipil yang positif . siswa juga harus berkemampuan untuk menjaga hubungan baik demi keberhasiaan individu, jika tidak sebaliknya maka akan terjadi konflik sosial dalam suatu masyarakat tertentu.
Pendidikan liberal, tidak adanya unsur agama, mementingkan kognitif, moral, dan interaksi sosial. Guru juga tidak hanya mengajarkan sentifik saja, tapi harus mengajarkan tentang moral, norma dan karakter. Tentu dengan banyaknya kejadian yang sudah terjadi di Indonesia, yang menjadi konflik dalam sebuah perbedaan agama, budaya dan bahasa.
Kemudian kita membahas tentang kericuhan beragama, dengan kejadian yang sangat banyak dan timbulnya konflik anteris dan agama besar yang terjadi di Ambon, Papua, dan Sambas. kejadian tersebut mengganggu kohesi sosial yang mana akan menimbulkan rasa tidak percaya antara antar kelompok sosial dalam bermasyarakat.
            Dari keragaman agama yang ada di Indonesia, sehingga muncul pada zaman KH. Abdurrahman Wahid (gus dur) dengan adanya sikap toleransi. Dan ketika ada agama konghucu yang masuk ke Indonesia itu adalah salah satu kebijakan Gus dur dalam bertoleransi. Indonesia adalah Negara yang paling tinggi toleransinya terhadap keragaman yang ada di Indonesia. Contoh bangunan terbesar di Asia, ada bangunan  gereja dan masjid istiqlal di Jakarta. Letaknya pun saling berhadapan antara masjid dan gereja tersebut.
            Jadi, dengan adanya perbedaan dalam segi sistem pendidikan dan keragaman agama. Mengajarkan kita sebagai generasi penerus harus bisa mencontohkan hal yang positif, dan sadar dengan tertinggalnya sistem pendidikan dari cara pengajaran. Kita lihat pada negara maju yang sudah menggunakan pendidikan literasi, sedangkan Indonesia masih dengan cara yang tradisional. Dari masalah tersebut kita bisa  merubahnya dengan cara banyak mencari informasi dari berbagai sumber, memanfaatkan teknologi yang ada, berfikir kreatif, inovasi, dan tentu harus belajar dengan rajin juga.
Guru yang menjadi pondasi awal pembentukan karakter bangsa yang ada peran guru SD. Pendidikan liberal juga sangat baik jika di terapkan dalam pembelajaran di sekolah. Pendidikan liberal juga tidak membeda-bedakan. Begitu pun dengan sikap toleransi. Sikap toleransi ini muncuk kelika masa KH. Abdurrahman Wahid (gus dur) dan kenapa sikap toleransi itu penting karena dengan bertoleransi kita bisa saling menghargai, dan menghormati terhadap  agama lain. Walaupun ragam agama di Indonesia sangat banyak dan sebagai aset bangsa  bukan sebagai konflik, sehingga muncul lah sikap toleransi. Dengan adanya agama konghucu, sikap toleransi itu muncul dan toleransi juga muncul dari diri kita sendiri.

0 comments:

Post a Comment