Saturday, February 22, 2014






“Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.”
Albert Einstein



“If we are to reach real peace in this world we shall have to begin with

the children.”

Mahatma Gandhi



Ibarat sebuah orkestra, alat musiknya banyak dan berbeda-beda namun dapat menghasilkan sebuah simfoni yang indah. Itulah mungkin analogi yang tepat untuk digunakan dalam menggambarkan keadaan keberagaman yang (seharusnya) terjadi di negeri ini. Keberagaman budaya, bahasa, dan agama, adalah aset bangsa. Sehingga sekalipun kita  berbeda agama,  itu merupakan anugerah bagi bangsa ini, karena ihwal tersebutlah yang membuat wajah bangsa ini “tidak monoton”. Namun, persoalanya adalah apakah bisa kita menjadi individu yang seimbang? seperti para musisi di dalam orkestra yang mempunyai tugasnya sendiri-sendiri seperti pemain piano, biola, atau saxophone. Yang tahu kapan harus memainkan perannya dan tidak. Mereka sangat menjaga harmoni satu sama lain, sehingga sampai terbentuknya sebuah alunan nada yang indah.  Wajah bangsa Indonesia yang sangat bervariasi sering kali justru menjadi malapetaka dan munculnya sebuah konflik. Seperti dalam keberagaman umat beragama; kepentingan individu, kelompok agama, dan kepentingan nasional yang sering kali meletupkan api-api yang harus terus diwaspadai demi keutuhan bangsa.  Agama adalah sebuah ahli  waris yang sah di Nusantara ini, wajar jika setiap agama minta untuk diperlakukan ‘fair’ dalam menjalankan fungsi dan misi kegamaannya.
Kelompok musisi yang memainkan orkestra sangat menjaga keseimbangannya dalam memainkan alat-alat musik dengan para musisi lainnya. Inilah hal yang patut kita pelajari dari sebuah orkestra. Seyogianya, segala perbedaan yang ada menciptakan toleransi dan terjalinnya kerukunan. Unity in Diversity, itulah yang harus kita lakukan dalam Negara yang majemuk ini. Hidup berdampingan dengan 6 agama yang di akui Negara seharusnya menciptakan kita sebagai manusia yang paling siap untuk bertenggang rasa. Menurut hasil sensus tahun 2010, 87,18% dari 237.641.326 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 6,96% Protestan, 2,9% Katolik, 1,69% Hindu, 0,72% Buddha, 0,05% Kong Hu Cu, 0,13% agama lainnya, dan 0,38% tidak terjawab atau tidak ditanyakan. Dengan semua keberagaman ini konflik antar agama sering tak terelakkan memang. 
Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa kuno dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Diterjemahkan per patah kata, kata bhinneka berarti "beraneka ragam" atau berbeda-beda. Kata neka dalam bahasa Sanskerta berarti "macam" dan menjadi pembentuk kata "aneka" dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti "satu". Kata ika berarti "itu". Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Semua umat beragama wajib menyadari bahwa lahirnya berbagai agama di Indonesia ini karena sejarah yang berbeda-beda. Sehingga kekayaan religius ini menumbuhkan  rasa tenggang rasa yang tinggi, sosial interaksi yang bervariasi, dan pemikiran-pemikiran yang sangat dinamis.
Jika keanekaragaman ini tidak dirajut melalui solidaritas sosial maka akan muncul ancaman perpecahan dan konflik agama. Seperti konflik agama yang terjadi di Poso yang klimaksnya terjadi diantara beberapa tahun silam. Konflik Poso telah memakan korban ribuan jiwa serta meninggalkan trauma psikologis yang sulit diukur, dan sebenarnya bukan hanya agama yang menjadi latar belakanganya, tetapi melibatkan latar belakang etnis, suku, politik, birokrat, ekonomi dan kelompok sosial. Oleh karena konflik inilah, beberapa waktu lalu media online mengabarkan ada sesuatu yang menarik yang dilakukan oleh seorang perempuan bernama Lian Gogali, perempuan 35 tahun ini mendirikan Sekolah Perempuan Mosintuwu untuk merekatkan kembali hubungan Muslim-Kristen. Kenapa mendirikan sekolah perempuan? Menurut Lian, kebanyakan lembaga yang berperan menjembatani perdamaian hanya sementara dan menempatkan perempuan hanya sebagai korban. Bukan agen perdamaian. Mereka (perempuan) adalah penjaga kehidupan saat laki-laki sibuk membangun strategi perang. Tantangan yang dihadapi Lian Gogali datang dan pergi. Wanita satu anak ini sempat kebingungan mempertemukan para ibu yang masih bernoda trauma. Sebagian menolak berada dalam satu ruangan bersama dengan mereka yang berbeda agama. Lian pun membuat delapan “mata pelajaran” di Sekolah Perempuan itu. Semuanya dititikberatkan pada agama, toleransi, dan perdamaian. Pelajaran tak hanya dipraktekkan di kelas, tapi juga dengan berkunjung ke masjid dan ke gereja. Dalam sebuah video terlihat bahwa seorang ibu bertanya kepada ustad tentang makanan dalam pesta pernikahan umat Kristen yang tak boleh dimakan umat Islam. Sang ustad menjelaskan, tak jadi masalah menyantap makanan pemberian kaum Nasrani sepanjang halal. Perjuangan Lian membuahkan penghargaan Coexist Prize dari Yayasan Coexist asal Amerika Serikat. Dia mendapatkan penghargaan untuk pengembangan dialog serta perdamaian antar-agama dan keyakinan.

Apa yang bisa kita petik dari kisah Lian diatas? Ya, dialog agama.  Dialog diberi batasan sebagai forum tukar menukar pemahaman dan pengalaman kofnitif, afektif, dan motorik. Tukar menukar gagasan inilah yang memperkenalkan satu sama lain, memahami satu sama lain, dan rukun satu sama lain. Sehingga terjalinlah sikap saling pengertian dan memperkaya pengalaman psikologis kegamaan bagi para pemeluk agama.  Prof. Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI, yang dinukil dalam buku pak Chaedar Politik Bahasa dan Pendidikan. Menyebut lima macam dialog antar-agama: dialog kehidupan, dialog kerja sosial, dialog antarmonastik, dialog untuk doa bersama, dan dialog diskusi teologi. Mungkin kelima macam dialog ini dapat disederhanakan menjadi dua jenis dialog, yaitu (1) dialog diskusi teologi, dan (2) dialog non-teologi. Dialog diskusi teologi adalah tugas mereka para ahli, pemikir, dan birokrat yang mengatur fatwa, dan khotbah mereka agar didengar para pengikutnya. Dengan kata lain, merekalah seharusnya yang harus ekstra hati-hati dalam menggunakan idiom-idiom agama, terutama dalam hal yang menyangkut pemeluk agama lain. Dialog antar-pemeluk agama mesti dilakukan dalam suasana yang komunikatif agar dialog itu tidak sia-sia. Sehingga menghindari adanya kesalahpahaman, dan terpahaminya materi yang dibicarakan. Di sinilah pentingnya setiap agama memilih dan menampilkan seorang figur atau pemimpin agama sebagai juru bicara, yang betul-betul menguasai bukan hanya ilmu agama, tapi juga perbandingan agama dan pengetahuan umum secara keseluruhan. Apa yang dilakukan oleh Lian seyogianya bisa dilakukan juga oleh seluruh penduduk negeri Bhinneka Tunggal Ika ini. Menjadi agen perdamaian. Sehingga, terwujudlah sebuah kerukunan hidup umat beragama. 

Selain itu, kerukunan hidup umat beragama juga mengandung tiga unsur penting: Pertama, kesediaan untuk menerima adanya perbedaan keyakinan dengan orang atau kelompok lain. Kedua, kesediaan memberikan orang lain untuk mengamalkan ajaran yang diyakininya. Dan Ketiga, kemampuan untuk menerima perbedaan selanjutnya menikmati suasana kekhidmatan yang dirasakan orang lain sewaktu mereka mengamalkan ajaran agamanya. Dalam hal ini, para pejabat pemerintahan ditantang untuk sensitif terhadap isu-isu keagamaan, netral, adil, dan bijaksana. Ketiga unsur diatas sebenarnya sudah hampir terpenuhi oleh negeri ini, di negeri dimana kita bisa melihat masjid bisa berdampingan dengan gereja. Bahkan, seperti natal tahun ini contohnya, ketika tempat parkir gereja katedral dipenuhi jamaatnya. Disana dipersilahkan untuk jamaat  memarkirkan kendaraannya di masjid Istiqlal. Kita juga memiliki Bukit Kasih (Hill of Love) terletak di Manado, Sulawesi Utara. Bukit ini disebut Bukit Kasih karena orang-orang dari agama yang berbeda dapat berkumpul dan berdampingan dalam beribadah sebagai simbol keharmonisan beragama. Terdapat lima rumah ibadah di sini, sebuah gereja Katolik, sebuah gereja Kristen, Kuil, Masjid dan Candi Hindu. Kelima tempat ibadah itu dibangun berdampingan, sehingga Bukit Kasih menjadi simbol cinta kasih dan perdamaian antar umat beragama dengan dibangunnya tempat ibadah kelima agama tersebut. Hanya di Indonesia juga pesantren berdiri di samping candi Hindu (Prambanan),  hanya di Indonesia juga banyak musolah dan masjid di bangun di dalam kantor untuk menghormati kegiatan ibadah, dan rumornya Indonesia (Jakarta) juga memiliki gereja yang terbesar di Asia. Dan yang terdekat, ketika kemarin DEMA SEMA kampus mengadakan bedah buku Jurnalisme Keberagaman, yang diundang adalah tokoh dari antar umat agama diantaranya adalah Dr. KH. Slamet Firdaus, MA (tokoh agama Islam), dan Dr. Pdt. Yohanes Muryadi (tokoh agama Kristen).
Agama adalah elemen fundamental hidup dan kehidupan manusia, oleh sebab itu, kebebasan untuk beragama (dan tidak beragama, serta berpindah agama) harus dihargai dan dijamin. Ungkapan kebebasan beragama memberikan arti luas yang meliputi membangun rumah ibadah dan berkumpul, menyembah; membentuk institusi sosial; publikasi; dan kontak dengan individu dan institusi dalam masalah agama pada tingkat nasional atau internasional. Kebebasan beragama, menjadikan seseorang mampu meniadakan diskriminasi berdasarkan agama; pelanggaran terhadap hak untuk beragama; paksaan yang akan mengganggu kebebasan seseorang untuk mempunyai agama atau kepercayaan. Termasuk dalam pergaulan sosial setiap hari, yang menunjukkan saling pengertian, toleransi, persahabatan dengan semua orang, perdamaian dan persaudaraan universal, menghargai kebebasan, kepercayaan dan kepercayaan dari yang lain dan kesadaran penuh bahwa agama diberikan untuk melayani para pengikut-pengikutnya.
Dalam ihwal Classroom Discourse atau merujuk pada bahasa yang guru dan siswa gunakan untuk berkomunikasi satu sama lain di dalam kelas. Indonesia sebagai  negeri multikultural mempunyai keberagaman agama (salah satunya) seperti yang telah dipaparkan diatas, memiliki tantangan yang harus dihadapi. Tentu keberagaman ini akan menjadi alat pemersatu atau sebaliknya menjadi konflik, namun kembali lagi bagaimana kita mengemasnya. Keberagaman ini akan sangat berpengaruh terhadap Classroom Discourse dalam pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan di Indonesia harus juga diatur sesuai dengan multicultural setting agar tidak ada kecemburuan sosial di dalamnya. Program-program dalam pendidikan harus berhati-hati dalam memfasilitasi kegiatan-kegiatan pendidikan. Agar tidak memantik api konflik dan salah paham. Seperti dalam UUD 1945 bahwasannya pendidikan di Indonesia disiapkan untuk mencerdaskan bangsa. Hampir semua Negara maju menyadari pentingnya sistem pendidikan yang baik, karena pendidikan merupakan penentu kemajuan suatu bangsa. Dan, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dilakukan sejak dini.
Pendidikan Sekolah Dasar (SD) seyogianya menyediakan siswa dengan kemampuan dasar untuk mengembangkan hidupnya sebagai individu, anggota sebuah komunitas, dan sebagai warga masyarakat. Di Sekolah Dasarlah penanaman karakter siswa diterapkan, bagaimana siswa dapat bertenggang rasa antar umat beragama, siswa dapat menghormati perbedaan-perbedaan yang ada dalam suatu komunitas, bagaimana siswa berhubungan dengan sebayanya, menghormati, membantu, membagi, dan sopan terhadap satu sama lain. Pendidikan seyogianya bukan untuk mengisi pemikiran siswa, namun untuk membentuk pemikiran siswa. Sehingga, pada masa Sekolah Dasar ini menjadi momen yang tidak boleh terlewatkan oleh seorang pendidik dalam mengajarkan interaksi yang baik bagi sesama, menjembatani siswa bagaimana mereka membentuk dan mengimplementasikan interaksi antar teman sebayanya. Dan mereka akan hidup dengan pemahaman yang benar akan keberagaman dan bisa menghormati keberagaman dalam interaksi mereka dengan teman-temannya.

Sebuah sekolah dasar di wilayah Osnabrück, Jerman, mengajarkan toleransi beragama sejak dini pada anak didiknya, dengan menerapkan konsep sekolah tiga agama. Murid sekolah dasar Johannis ini ada yang beragama Kristen, Islam dan Yahudi. Bedanya, di sekolah Johannis ini mereka bisa mengikuti pelajaran agama sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut. Ini yang pertama kalinya di Jerman, dimana para murid seperti biasa belajar bersama bahasa Jerman, matematika, musik dan ilmu pengetahuan. Namun, mereka dipisah saat pelajaran agama. "Kami ingin agar para murid memperluas kompetensi dialog beragama mereka. Mereka juga harus lebih memiliki kebebasan dalam menjalankan keyakinannya dan menghormati agama orang lain", kata Winfried Verburg perwakilan keuskupan Osnabrück, penanggung jawab sekolah tiga agama tersebut. (dinukil dari Koranfesbuk)
Bolehlah Jerman mempunyai sekolah tiga agama yang sangat mengajarkan toleransi kepada siswanya. Namun, Indonesia mempunyai keberagaman yang lebih dari itu. Seharusnya pula menjadikan kita sebagai manusia-manusia yang lebih kaya rasa toleransinya lebih dibandingkan Jerman. Lagi-lagi dialog agama, dan interaksi sebaya, adalah alat untuk menyampaikan sebuah pengertian akan perbedaan. Siswa harus diberi kesempatan untuk mempraktikkan, mendengarkan dengan penuh perhatian, menghormati pendapat, dan suara kompromis untuk menyiapkan mereka untuk hidup sebagai anggota masyarakat yang demokratis. 
Pendidikan perdamaian, mungkin inilah kata yang tepat untuk menggambarkan sistem pendidikan yang harusnya ada di negeri Bhinneka Tunggal Ika ini. Pendidikan pancasila tidak mempunyai cacat sedikitpun. Akan tetapi, dalam praktiknyalah pendidikan di negeri ini belum sempurna memiliki titik terang dalam  membentuk sebuah perdamaian. Apa yang kurang adalah, pendidikan di Indonesia belum menyediakan pendidikan yang mendorong pengalaman dalam interaksi antar siswa dengan latar belakang agama, etnis, suku, dan golongan yang berbeda. Pendidikan perdamaian bertujuan untuk mengajarkan individu informasi, sikap, nilai, dan perilaku. kompetensi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik tanpa kekerasan dan untuk membangun dan memelihara saling keuntungan sosial, dan hubungan yang harmonis. Ada banyak pendekatan untuk pendidikan perdamaian, banyak yang didasarkan pada ideologi, pengalaman praktis, dan niat baik.
            Menggunakan pedagogi toleransi dalam pendidikan sangat amat diperlukan. Bagaimana seorang guru menciptakan hubungan yang membuat siswanya mencintai perdamaian. Pertama, perdamaian adalah variabel hubungan, bukan suatu sifat. Perdamaian ada di antara individu, kelompok, dan negara-negara, melainkan bukan sifat atau kecenderungan dalam individu, kelompok, atau bangsa. Sebagai hubungan, perdamaian tidak bisa
dipertahankan oleh pemisahan, isolasi, atau bangunan penghalang antara pihak
yang berseteru, yang semuanya hanya sementara dapat mengurangi keharmonisan tetapi tidak akan membangun hubungan yang dibutuhkan untuk jangka panjang perdamaian. Kedua, perdamaian adalah dinamis, bukan proses statis. Tingkat perdamaian terus meningkat atau menurun dengan tindakan masing-masing pihak yang relevan. Ketiga, perdamaian adalah sebuah proses aktif, bukan pasif. Sehingga harus dijaga secara terus-menerus. Keempat, perdamaian sulit untuk membangun dan mudah untuk menghancurkan. Oleh karenanya, konsistensi dalam membangun perdamaian yang kokoh harus dilakukan, agar tidak cepat runtuh hanya dikarenakan hal-hal yang tidak penting. Disinilah peran pendidikan ditantang untuk menjadi agen perdamaian. Kebebasan beragama, menjadikan seseorang mampu meniadakan diskriminasi berdasarkan agama; pelanggaran terhadap hak untuk beragama; paksaan yang akan mengganggu kebebasan seseorang untuk mempunyai agama atau kepercayaan. Termasuk dalam pergaulan sosial setiap hari, yang menunjukkan saling pengertian, toleransi, persahabatan dengan semua orang, perdamaian dan persaudaraan universal, menghargai kebebasan, kepercayaan dan kepercayaan dari yang lain dan kesadaran penuh bahwa agama diberikan untuk melayani para pengikut-pengikutnya.
            Dalam kehidupan sosial yang majemuk ini, anak-anak sejak dini harus diajarkan menghargai lingkungannya. Terutama disini adalah rekan sebayanya. Peer Interaction atau interaksi dengan rekan sebaya sangat penting untuk bahasa, kognitif, dan sosial. Ada aspek pembelajaran yang terjadi terbaik selama Peer Interaction, daripada interaksi dengan orang dewasa. Anak-anak memperoleh bahasa dan kosa kata selama interaksi dengan orang lain. Mereka belajar bagaimana untuk berdebat, bernegosiasi, dan membujuk. Mereka harus belajar untuk mengatakan hal-hal tanpa menyakiti perasaan. Mereka harus menyelesaikan konflik, meminta maaf, dan dukungan. Interaksi dengan rekan sebaya berfungsi sebagai landasan untuk banyak aspek penting dari perkembangan emosional seperti pengembangan konsep diri, harga diri dan identitas. Anak-anak belajar tentang diri mereka sendiri selama interaksi satu sama lain dan menggunakan informasi ini untuk membentuk rasa diri mereka sendiri dan siapa mereka. Sehingga sudah menjadi harga mati untuk Negara Bhinneka Tunggal Ika ini, menanamkan kepada generasi penerus bangsanya. Sebagai modal kehidupan yang harmonis. Sudah bukan zamannya lagi menginginkan kehidupan yang harmonis namun di tegakkan melalui kekerasan, perang, dan konflik. Ini saatnya, dimana kita mempunyai generasi yang mempunyai mental baja, namun hatinya selembut sutera. Mereka-mereka yang seimbang, netral, dan menjadi agen perdamaian untuk negeri ini. Menjaga hubungan sosialnya, saling bergotong royong, dan tidak egois.
            Sudah saatnya kita melihat Indonesia dengan kacamata baru, yaitu negeri yang penuh cinta kasih dan perdamaian. Mencetak manusia-manusia yang berpendidikan dan bertoleransi tinggi. Konflik yang pernah terjadi di negeri ini biar menjadi pembelajaran dan jangan sampai terulang lagi. Kini, Indonesia mempunyai wajah baru yang lebih segar dan sedap dipandang. Bagi penduduknya maupun bukan. Masyarakatnya senang bergotong-royong. Pendidikannya mencerminkan ideologi bangsa yaitu pancasila, yang mempunyai fitur lebih canggih dari pada pendidikan liberal. Perbedaan bukan lagi penghalang, justru sebagai fasilitator yang menjadikan generasinya generasi yang menghargai, menghormati, dan memiliki kohesi sosial yang tinggi. Menjaga interaksi dengan sesama, menjaga identitas bangsa. Pedagogi dalam pendidikannya, akan membuahkan pedagogi pendidikan yang berbasis toleransi. Bersyukurlah, karena kita hidup di Indonesia. Dimana masjid bisa berdampingan dengan gereja, dimana pesantren berdampingan dengan candi Hindu, dimana tempat peribatan semua agama bisa berdiri di satu tempat. Dan sejauh ini kesemuanya aman. Sejak dini (SD) pula, kita disuguhi dengan pendidikan agama, dan kewarganegaraan. Yang membentuk kita agar menjadi manusia yang paling bertenggang rasa. Kita harus belajar belajar dari orkestra. Memainkan peran kita dalam kemajemukan bangsa, berkolaborasi dengan sesama, hingga terwujudnya harmoni indah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan drijen di dalam tubuh orkestra ini bernama pendidikan, sebagai agen perdamaian bangsa.
           
           
           


DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_di_Indonesia diakses pada tanggal 18 Februari 2014 pukul 20.00 WIB
https://www.facebook.com/121994582490/posts/10151198806627491 diakses pada tanggal 20 Februari 2014 pukul 19.00 WIB
Alwasilah, A. Chaedar. 2004. Politik dan Bahasa Pendidikan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.



2 comments:

  1. You out such a great connection of ideas, Irma! and you develop a lot this semester in my writing class! Congrats, but please be careful in using "sehingga" as it functions well as the connector to the main clause (check again par 1); and be careful in using " as in "tidak monoton". You dont have to use it there anyway, and from the very beginning please write down the sources of the evidence (the statistical facts you used in par 2)...the example you used is brilliant! tulisannya cukup renyah untuk saya nikmati di malam minggu ini. Good job

    ReplyDelete
  2. Thank you sir..for have enjoyed my post. it's unpredictable comment for me. I will be more careful later

    ReplyDelete