Friday, February 28, 2014


Pada pertemuan ketiga ini. Semakin banyak ilmu yang saya dapatkan. Materi yang diajarkan pun cakupannya semakin jauh, semakin menantang untuk dilalui. Apapun yang terjadi kedepan saya akan tetap menghadapinya. Walaupun harus melewati rintangan yang begitu tajam. Saya akan mencoba untuk terus melangkahkan kaki ini dan terus menatap kedepan dengan penuh semangat yang mmenggelora. Walaupun kaki ini terasa  lelah, tangan yang yang akan terus menulis bagaikan merajut sebuah kerajinan tangan yang indah. Mata yang harus tetap terbuka, otak yang harus terus berfikir kritis walaupun sebenarnya  sudah menemui jalan buntu, jari-jari tangan yang sering kram tetapi harus kuat seperti baja. Kadang kesehatan yang menurun drastis. Semuanya harus tetap dijalani.
Menelisik materi yang diajarkan bahwasannya literasi sangat berhubungan dengan sosial, politik, psikologi. Keempatnya ini akan membentuk peradaban yang baik. Contohnya apabila kita berkunjung ataupun menetap di negara australia. Maka kita akan menemukan rasa nyaman. Walaupun itu bukan tanah kelahiran kita tetapi akan terasa nyaman. Walaupun kita tinggal di negeri orang, namun kita akan merasakan kenyaman yang tinggi.
Australia adalah negara yang tingkat literasinya sudah lebih baik dibandingkan dengan indonesia. Pemerintah mebuat peraturan agar siswa berliterasi. Di sekolah para siswa dibekali semacam kelas untuk menuliskan judul buku yang dibaca. Catatan hasil membaca dan penilaian atas buku yang dibaca dilakukan setiap hari sebelum kelas dimulai. Guru menyuruh untuk setipa siswa menceritakan isi buku yabg telah dibacanya. Sistem ini juga diberlakukan juga di sekolah-sekolah indonesia yang berafiliasi dengan sekolah-sekolah Australia. Siswa yang bersekolah di Austarlia setiap minggunya rutin membaca buku dari yang mereka pinjam di perpustakaan sekolah. Tidak mengherankan setelah dewasa mereka tetap gemar membaca karena sejak dini sudah dilatih literasinya.
Menurut Michael Barbel pada abad ke-21 standar kelas dunia menuntut bahwa setiap orang harus berliterasi, ahli matematika, informasinya baik, mampu belajar terus menerus, percaya diri, mampu memainkam peran mereka sebagai warga masyarakat yang demokratis.
Bagian Appetizernya adalah academic writing. Disini akan mengungkap satu persatu dari 9 elemen tersebut.
1.      Kohesi : Gagasan kalimat atau paragrapnya harus nyambung.
2.      Kejelasan: Maksud dari apa yang ingin dikomunikasikan harus benar-benar jelas.
3.      Urutan yang logis : Mengacu pada urutan logis dari informasi. Dalam academic writing penulis cenderung menulis dari umum ke khusus.
4.      Konsistensi : Konsisten pada satu gaya penulisan
5.      Unity : Kesatuan merujuk pada pengecualian informasi yang mana tidak langsung menghubungkan pada topik di paragraf.
6.      Keringkasan : hemat dalam penggunaan kata. Penulisan yang baik itu berupa point-point dan tidak mengulang kata.
7.      Kelengkapan : Sementara pengulangan dan informasinya tidak harus dihilangkan.
8.      Ragam : Variasi membantu pembaca dengan menambahkan bumbu-bumbu pada teks.
9.      Formal : Academic writing adalah formal dalam bunyi. Maknanya kosakata yang tidak sederhana dan struktur grammar yang digunakan penggunaan kata ganti orang “I” dan penulisan singkatan dihindari.
Ketika menulis, kalian menargetkan tulisan seperti apa,  kemudia mengevaluasinya. Seperti Tipe pembaca apa yang ditargetkan penulis. Argument pentingnya tersimpan dimana. Fakta apa yang menyokong poin-poin yang kalian buat, buktinya cukup atau tidak. Apakah penulis membuat tulisan yang tidak didukung oleh fakta. Apakah faktanya cukup dalam bentuk artikel pada buku akademik.Ada tidak yang terkesan emosional.
Menurut Ken Hyland literasi adalah sesuatu yang kita lakukan dan lietasi dalah bentuk kegiatan yang terletak pada interaksi manusia. Academic literasi menekankan bhawa cara kita menggunakan bahsa disebut juga praktek literasi. Diatur oleh lembaga sosial. Keberhasilan academic berarti mempresentasikan diri anda dalam sebuah disiplin ilmu. Mengadopsi nilai-nilai, keyakinan dan identitas wacana yang academic.
Rekayasa literasi adalah merekayasa pengajaran membaca dan menulis dalam empat dimensi yaitu teks, mind, growth, group. Rekayasa literasi ini berhubungan dengan paradigma pembelajaran literasi yakni skill, whole language, decoding. Literasi selalu berhubungan dengan reading dan writing. Strategi dalam membaca harus diajarkan. Reading berarti harus banyak buku yang dibaca. Ketika diberikan sebuah artikel, maka cara merespon dari setiap orang akan berbeda dan tingkat pemahamannya pun berbeda.
Rekayasa literasi itu cara kita memahami teks, menyimpulkan sesuatu dan bagaimana caranya agar orang bercita rasa sastra. Bagi setiap orang bahwa mempelajari sastra itu sulit. Maka dari itu sastra seperti terpinggirkan. Pemerintah sebenarnya takut terhadap orang sastra karena orang sastra bisa mengkritiki kepemimpinannya lewat puisi, artikel dan karya ilmiahnya.
Jadi dapat disimpukan bahwa komposisi bahan mentah dari literasi semakin banyak. Tingkat memasaknya pun semakin rumit. Tinggal bagaimana kita bisa mengolahnya menjadi masakan yang lezat.

0 comments:

Post a Comment