Saturday, March 8, 2014


Senin 24 Februari 2014 merupakan pertemuan keempat dalam mata kuliah Writing. Tidak seperti biasanya kelas PBI.B/4 harus masuk 30 menit lebih awal, yang biasanya jam perkuliahan dimilai pukul 07.30 namun hari itu sangat special. Mengapa dikatakan special? Alasan yang pertama yaitu karena hari saat itu adalah pertama kalinya kita melaksanakan progress test yaitu Critical Review. Alasan yang kedua adalah agar kondisi kita lebih fresh untuk menghadapi panasnya progress test pertama dalam mata kuliah Writing ini.
Kita tidak merasa kaget atas perpindahan mata kuliah tersebut, sebab pada semester 3 lalu ketika belajar mata kuliah Phonology pun kita pernah masuk lebih awal yaitu pukul 06.00. memang benar jika kita masuk kuliah lebih pagi akan terasa fresh dan penjelasan materi akan lebih mudah dipahami. Pada pertemuan minggu lalu, sebelum masuk pada pembahasan materi dan progress test 1 kita disuguhi puisi yang begitu indah milik Bpk. Budi Hermawan (dosen) Mr. Lala Bumela. Inilah bunyi puisi tersebut:
Berkariblah dengan sepi, sebab dalam sepi ada [momen] penemuan dari apa yang dalam riuh gelisah dicari. Dalam sepi ada berhenti dari menerima ramainya stimulus yang memborbardir indera kita. Stimulus yang harus dipilah dan dipilih satu satu untuk ditafakuri, lalu dimaknai, dan dijadikan berguna bagi kita. Bila tidak mereka hanya dengungan yang bising di kepala saja tak mengendap menjadi sesuatu yang mengizinkan kita memahami dunia di sekitar kita [sedikit] lebih baik.
Berkariblah dengan sepi, sejak dalam sepi kita menemukan diri yang luput dari penglihatan dan kesadaran ketika beredar dalam ramai; dalam sepi kita dapat melihat pendaran diri yang diserakkan gaduh, mendekat, lalu merapat, membentuk bayang jelas untuk dilihat tanpa harus memuaskan keinginan yang lain.
Berkariblah dengan sepi karena dalam sepi berlalu lalang inspirasi yang tak kita mengerti, atau tak dapat kita tangkapi ketika kita sibuk berjalan dalam hingar yang pekak.
Berkariblah dalam sepi sebab dalam sepi suara hati lebih nyaring terdengar jernih. (Budi Hermawan)
Maksud puisi tersebut adalah mengajak kepada pembaca agar senantiasa berkarib atau terbiasa dalam keadaan sepi dalam aktivitas menulis, sebab dalam sepi seseorang mudah menemukan inspirasi yang brilian untuk dituangkan dalam tulisan.
Pertama diperlihatkan puisi oleh Mr. Lala, saatnya kita memasuki progress test 1 (Critical Review). Sebenarnya Critical Review sudah kami kirim satu hari sebelumnya, namun kita juga diwajibkan untuk membawa tugas progress test dalam bentuk print out. Critical Review kelas kita pun telah dicomment oleh Mr. Lala satu hari sebelumnya. Critical Review milik saya di comment seperti ini (Artikel ini bercita rasa “wartawan” karena kamu memulainya dengan pertanyaan di awal. Keterhubungan antara kelas sebagai situs penting penyemai dan nilai-nilai dasar bagi kemanusiaan mestinya mandapat porsi lebih dulu). Saat itu critical review yang saya buat memang kurang memuaskan. Wajar, karena itu adalah kali pertama saya menulis mengenai mengenai kritikan terhadap suatu artikel. Mungkin comment dari Mr. Lala harus dijadikan cambuk untuk kedepannya agar lebih baik.
Bukan hanya saya, sebagian besar teman sekelas saya pun menurut Mr. Lala memasuki gerbong yang salah sebab terdapat banyak kekurangan dalam critical review baik dalam konten maupun generic structure-nya.
Menurut Mr. Lala kesalahan penulis dalam kontennya terletak pada penjelasan classroom discourse dan religious harmony yang kurang detail dan tidak konsisten. Bahkan dalam membuat suatu opini pun tidak didasari dengan bukti yang kuat. Sedangkan pada generic structure, penulis dalam pembahasannya tidak sesuai dengan aturan yang telah ada dalam silabus.
Wacana “Classroom Discourse to Foster Religious Harmony” memiliki dua pembahasan yaitu classroom discourse itu sendiri, sehingga terasa sekali kekurangannya dalam menulis Critical Review. Karena itu, kita harus memahami dulu apa pengertian atau definisi Classsroom discourse. Dalam TFL Glosary classroom discourse (wacana kelas) diartikan sebagai pertukaran koneksi verbal (lisan atau tertulis) yang digunakan untuk tujuan pengajaran dan pembelajaran. Menurut Lois dan Mariane (2002) wacana adalah proses bagaimana seseorang berbicara dan mengerti apa yang dibicarakan dan didengarnya mencakup semua aspek kata yang diucapkan. Sedangkan menurut Abdul chaer (2004) wacana yang termasuk ke dalam tindak tutur merupakan gejala individual , bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan berbahasa si penutur dalam situasi tertentu. Jadi secara garis besar wacana merupakan proses dimana seseorang menyampaikan ujaran untuk dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak terlepas dari sistem dan kaidah bahasa yang berlaku, untuk mengkaji dan memahami wacana maka digunakan analisis wacana atau discourse analisis.
Analisis wacana termasuk kedalam disiplin ilmu, sejak dasawarsa 1960-an.  Seiring dengan berkembangnya ilmu etnografi analisi wacana mulai ikut berkembang pesat, tidak lagi mencakup bentuk sapaan, mitos, dan interaksi tapi mrncakup ke bentuk percakapan dan interaksi verbal lainnya begitu yang diungkapkan Bambang (1995). Percakapan menjadi satu model wacana yang paling dekat dengan keseharian kita sehingga lebih mudah kita temui.
Percakapan dapat didefinisikan sebagai bentuk kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih, percakapan juga bisa disebut sebagai proses komunikasi. Proses komunikasi bisa terjadi dimana saja dengan wacana yang berbeda atau sesuai dengan kondisi yang ada. Interaksi pedagogis adalah wacana yang dapat kita temui di sekitar dunia pendidikan khususnya di ruang kelas yang merupakan tempat paling sering terjadi percakapan atau  interaksi antara pengajar dan pembelajar. Dalam wacana pedagogis banyak hal menarik yang dapat dikaji  dalam usaha memperbaiki kondisi dalam proses pembelajaran tersebut.
Percakapan terjadi dalam interaksi antara pengajar dan pembelajar dapat diamati secara kasat mata dan dikaji secara mendalam. Pada makalah ini  akan di gambarkan bagaimana proses interaksi atau percakapan tersebut terjadi dan mencoba memberikan pencerahan pada kedua belah pihak agar proses interaksi dapat dilakukan sesuai porsinya. Biasanya pengajar berusaha mengamati apakah pembelajar mengikuti apa yang dikatakanya.  Penelitian berikut bertujuan mendeskripsikan interaksi yang terjadi berdasarkan langkah langkah yang di lakukan dalam penelitian wacana oleh Stubbs (1984) yang terdiri dari:

  • Menarik perhatian pembelajar maksudnya, pengajar selalu berusaha menarik perhatian pembelajar.
  • Memantau jumlah perkataan dimana pengajar sering memantau apakah pembelajar berbicara atau tidak upaya memantau ini dapat dilakukan dalam bentuk perintah atau permintaan.
  • Memeriksa pemahaman, pengajar kadang-kadang memeriksa apakh dia dapat memahami para pembelajar.
  • Meringkas ialah dimana pengajar sering pula mringkas sesuatu yang dikatakan atu meringkas situasi yang dicapai dalam diskusi atau pelajaran.
  • Mendefinisikan adalah bagaimana si pengajar dapat mendefenisikan atau memberi penjelasan teentang sesuatu yang telah dikatakan.
  • Menyunting, pengajar juga terkadang memberi komentar tentang apa yang dikatakan oleh pembelajar yang menunjukan penilaian atau kritik.
  • Membenarkan, pengajar juga berusaha membenarkan apa yang dikatakan atau ditulis oleh pembelajar.
  • Menspesifikasikan topik, bagaimana si pengajar juga dapat memfokuskan pada sebuah topik pembahasan atau menentukan batas-batas yang relevan.
Classroom discourse adalah hal yang cukup complicated yang didalamnya mencakup beberapa hal di bawah ini:
1.    Background (latar belakang) => Adanya perbedaan background antara guru dengan siswa, atau siswa dengan teman lainnya. Baik berbeda suku, etnis, maupun agama.
2.    Communication => Dalam komunikasi ada strategi atau cara tertentu agar interaksi berjalan secara efektif.
3.    Goal- driven =>  -  Kognitif (berkaitan dengan kecerdasan intelektual)
-    Afektif (berkaitan dengan sikap dan nilai)
-    Psikomotorik (berkaitan dengan skill)
4.    Meaning- making practice => Perbedaan yang ada harus disikapi seperti apa.
Pertama membahas classroom discourse, mari beralih pada religious harmony (kerukunan umat beragama). Religious harmony yaitu hubungan antar umat beragama yang dilandasi dengan toleransi, saling penngertian, saling menghormati, dan bekerjasama dalam melakukan kehidupan bermasyarakat.
Jadi, kesimpulannya religious harmony akan tercipta dengan baik apabila pengajar dan pembelajar memahami dan menguasai classroom discourse dengan baik pula karena keduanya saling berkaitan satu sama lain.



0 comments:

Post a Comment