Saturday, March 15, 2014

10:21 PM


Kebenaran sejarah haruslah terungkap sejelas-jelasnya tanpa adanya penyembunyian fakta sedikitpun di dalamnya, sehingga data sejarah tersebut tidak mengimplikasikan sejarah yang keliru, memihak, bahkan hanya merealisasikan kepentingan bagi si penulis sejarah. Artinya, data sejarah haruslah benar-benar murni peritiwa sejarah yang selaras dengan realitanya. Dengan melakukan telaah dan kajian ulang mengenai sejarah, serta dilandasi dengan berbagai bukti fisik yang jelas dan valid, seperti artefak sejarah dan dokumentasi yang lainnya, hal itu akan memungkinkan terealisasinya data sejarah yang valid meskipun realitanya setiap penulisan sejarah selalu tersisipkan motif ideologi si penulis sejarah.
Sejarah selalu berkaitan dengan kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk sejarah selalu melibatkan seluruh pengalamannya (segala aktifitas), ia berpartisipasi penuh dalam menjalankan proses kehidupannya  dari waktu ke waktu, yakni masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Sejarah bisa dibagi kedalam dua siklus, siklus individual dan siklus sosial. Secara individu, sejarah merupakan media untuk melakukan instrospeksi diri, semantara secara sosial sejarah merupakan media untuk melakukan reformasi. Itu lah mengapa manusia disebut sebagai makhluk sejarah, ia bersifat dinamis, berubah dan selalu melakukan evolusi dari waktu ke waktu. Teks pun seperti itu, dari waktu ke waktu ia akan terus dipoles dan dikonsep ulang oleh si pembacanya, paling tidak melakukan sedikit pembaharuan atau revitalisasi demi mempertahankan relevansi maknanya. Seperti halnya al-qur’an, meskipun masa turunnya sudah habis sejak 15 abad yang lalu, namun eksistensi maknanya tetap relevan hingga sekarang. Semua itu berkat kerja keras pembaca ( ahli tafsir, ta’wil, mujtahid, dan lain-lain ) yang selalu berpartisipasi secara mutawatir hingga sekarang, sehingga mereka mampu menjaga elastisitas atau kelenturtan makna alqur’an tersebut. Implikasinya, Teks akan mati jika tidak ada pembaca. Teks itu seperti alat, atau robot, ia akan berguna jika ada yang menjalankan atau menggerakannyanya. Dalam hal ini, eksistensi reader merupakan suatu kewajiban agar tidak terjadi kemandegan makna dalam teks. Itulah yang terjadi pada bibel atau injil kaum nashroni, substansi maknanya banyak yang menyimpang dari essensi ajaran tuhannya, yang disebabkan oleh ketidak-mutawatiran atau ketidak-konstanan sang rahib ( biarawan ) dalam menyampaikan teks suci tuhannya, sehingga mereka tidak dapat menjaga keotentikan kitabnya. Al-hasil, mereka akhirnya memanipulasi firman tuhannya.
Writing is a matter of lightening ourselves, bahwa menulis merupakan tindakan yang dapat mencerahkan diri kita. Kita tidak akan bisa membawa perubahan terhadap orang lain, jika diri kita sendiri belum mampu tercerahkan. Seseorang tidak akan bisa menulis sebelum ia meniru terlebih dahulu ( emulate ), karena meniru merupakan bagian terpenting dari menemukan, lalu menciptakan. So, Emulating => Discovering => Creating.
Penulisan sejarah selalu berkaitan dengan pemenuhan ideologi (sense of belief). Pemahaman mengenai sejarah dan literasi merupakan pemahaman tentang value atau nilai dari peristiwa sejarah tersebut. Jadi pada setiap teks ( penulisan apa saja ) syogyanya akan selalu terinterpolasi motif ideologi.
Tulisan sangat berpengaruh sekali terhadap cara berfikir dan cara bertindak seseorang. Pemahaman dan pemaknaan mengenai teks sangatlah beraneka ragam dengan berbagai style dan background pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing pembaca. Dengan memahami teks, Seseorang bisa menjadi radikal-fundamental (konservatif-konvensional), dan bisa juga menjadi liberal-plural. Hal itu tergantung  pada daya kritis dan pemikiran bijak yang munculkan oleh si pembaca. Karena bagaimana pun juga si pembaca akan merepresentasikan kembali hasil bacaannya melalui tulisan yang dikonsep ulang hingga dapat mengcover kepentingannya. Seperti interpretasi KH Husein Muhammad ( kiai NU Moderat dari arjawinangun-Cirebon ) mengenai eksistensi Gusdur (alm), dalam bukunya yang berjudul “Sang Zahid, Mengarungi Sufisme Gusdur”. Di dalam buku tersebut, Buya husein selalu menyebut-nyebut, mengeluh-eluhkan kehebatan Alm. Gusdur, dan mengagung-agungkan tokoh yang disebut sebagai bapak pluralis tersebut, bahkan saat sang zahid meninggal, ia bersedih dan terus merindukan kembali kehadirannya. Sekelumkit gambaran tersebut merupakan contoh mengapa dalam tulisan atau teks selalu melibatkan pemenuhan ideologi penulis atau pembacanya, karena di dalamnya selalu melibatkan kepentingannya, baik kepentingan sosial, politik, ekonomi, agama dan lain-lain.
Bahasa merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan sejarah. Dalam penyampaiannya tersebut, sejarah tidak selalu merealisasikan keselarasan dengan realitanya, hal itu disebabkan oleh hadirnya subjektifitas atau pemenuhan ideologis sang penulis sejarah. Ideologi merupakan pandangan tentang individu atau kelompok. Fowler (1996: 12) mengatakan bahwa “Ideology is of course both a medium and an instrument of historical processes. Jadi ideologi itu merupakan media dan juga intrumen dari proses sejarah itu. Media disini realisasikan sebagai perantara, sementara instrumen direalisasikan  sebagai sikap kita dalam menulis.
Jika dikaitkan dengan apa yang dilakukan oleh Howard Zinn ( sejarawan Boston ) dan Morison ( sejarawan Harvard ) mengenai penceriteraan Christoper Columbus sebagai penemu benua amerika, mereka menulis sejarah mengenai hal tersebut tak lain karena berdasarkan pemenuhan ideologisnya, motif dalam diri, desakan-desakan, memenuhi permintaan seseorang atau sebagian mereka, sehingga meskipun benar akan tetapi tidak terlalu objektif. Artinya, Sebagai sejarahwan yang memenuhi kepentingannya, mereka hanya menekankan fakta-fakta yang mereka suka dan melewatkan yang lainnya. Morison memandang sejarah columbus dari pihak yang menang sehingga membuatnya selalu mengagung-agungkan kebesaran columbus, sementara zinn memandangnya dari pihak yang kalah, bahwa Columbus itu sebenarnya bukanlah sang hero melainkan pembunuh. Jadi, hal itu merupakan letak atau sisi pemilihan ideologis mereka dalam merepresentasikan ihwal penceritaan columbus. Imbasnya, membaca merupakan suatu motivasi untuk membangun ideologi.
Menurut Fowler (1996), Ideologi itu selalu hadir dalam setiap teks, baik dalam ranah lisan, tulisan, audio, visual atau kombinasi dari mereka. Lehtonen (2000), dan Fairclough (1989; 1992; 1995; 2000) menuturkan bahwa produksi teks itu tidak pernah netral. Terlebih Prof Chaedar Al-wasilah, ia juga menuturkan bahwa literasi itu tidak pernah netral, ia selalu memiliki cita rasa yang berbeda.
Selain itu, dituturkan pula bahwa “Writing in college often takes the form of persuasion—convincing others that you have an interesting, logical point of view on the subject you are studying”, jadi impliaksinya bahwa menulis dalam Kampus merupakan bentuk persuasif ( ajakan ) yang meyakinkan orang lain bahwa kita punya minat terhadap apa yang sedang kita pelajari. Persuasi adalah skill yang kita praktekkan secara regular dalam aktifitas kehidupan kita. Such as, in college, course assignments often ask us to make a persuasive case in writing.
Itulah eksistensi sejarah. Terkadang ia dipahami secara subjektif, berat sebelah, memihak, dan hanya memenuhi kepentingan ideologinya atau kaumnya. Ini dapat dilihat dalam tulisan howard zinn atau juga tulisan morison mengenai penceriteraan columbus. Mereka satu sama lain bertarung dalam pemenuhan ideologis atau kepentingannya, saling beraksi dalam ruang yang kontradiktif, yakni jika zinn hanya menyorot kebejatan columbus, maka morison mnyohor aksi heroiknya.
Eksistensi sejarah yang subjektif tentunya akan mempengaruhi pemikiran atau cara berfikir seseorang ( pembaca ) mengenai sejarah tersebut, seperti dari hal yang digambarkan secara elastis kemudian berubah menjadi sinis, atau hal yang digambarkan secara sinis dan kemudian berubah menjadi elastis.

0 comments:

Post a Comment