Saturday, March 8, 2014

11:14 PM

#4th Class Review


Pada pertemuan keempat ini, anak-anak pbi-b diminta untuk berangkat pagi-pagi sekali yakni pukul 07.00 harus sudah ada di kelas. Kedisiplinan memang sangat penting untuk diterapkan pada setiap hari-hari kita. Kebiasaan orang Indonesia memang terkenal dengan kebiasaan ngaret atau mengulur-ulurkan waktu. Mungkin hal teresbut pula lah yang menjadi suatu pertimbangan kenapa Mr. Lala Bumela meminta kita agar datang tepat waktu. Sebenarnya ini bukan suatu hal yang baru atau yang pertama kalinya, karna sebelumnya beliau pun pernah meminta mahasiswanya untuk masuk kuliah pukul 06.00 pagi. Menerapkan kedisiplinan itu memang terkadang berat, perlu adanya niat yang tulus dalam hati. Namun dalam hal ini paksaan pun juga penting demi menciptakan suatu kedisiplinan.
Materi pada pertemuan keempat ini sebenarnya lebih membahas kepada tugas critical review kemarin, yakni Classroom Discourse to Foster Religious Harmony yang merupakan karya Prof. A. Chaedar Alwasilah. Dalam critical review tersebut ternyata masih banyak yang keliru dalam menuliskan makna yang terkandung dalam wacana tersebut, karena kita tidak mengaitkannya dengan Classroom Discourse itu sendiri. Bahkan kebanyakan dari kita salah gerbong pemasukan dan salah pada pemetaan inti. Begitu banyak kritikan tertuliskan dalam blog kelas kita.
Dalam pembuatan critical review mengenai Classrooom Discourse to Foster Religious Harmony ini pastinya mempunyai banyak sekali kendala, karna sebelum memulai menulis, kita sudah terbayangkan oleh 2500 kata. Kita bingung akan menulis apa? Mungkin hal tersebut akan terasa pada saat memulai menulis di awal paragraf. Belum lagi kita harus bergelut dengan internet dan buku-buku sebagai tambahan informasi. Mr. Lala Bumela mengatakan bahwa guru atau dosen hanya menyediakan lahan, urusan pintar atau tidaknya tergantung pribadi masing-masing. Maka dalam hal ini yang diutamakan adalah sebuah prosesnya, ketika kita akan pintar atau tidak itu tergantung pada proses itu sendiri. Dan dalam hal ini proses pembuatan critical review juga sangat menunjang demi keberhasilan mahasiswa itu sendiri.
Sebenarnya apa maksud dari critical review yang bertemakan Classroom Discourse to Foster Religious Harmony? Dikatakan bahwa pada dasarnya wacana Classroom Discourse to Foster Religious Harmony menangkap dua fokus pembahasan yaitu Classroom Discoure dengan Religious Harmony. Namun sebelumnya dikatakan bahwa masih banyak yang keliru dalam hal ini. Classroom Discourse merupakan pengajaran yang terjadi di dalam kelas. Tentunya pengajaran di kelas banyak dipengaruhi oleh berbagai macam background dan kendala-kendala lainnya. Classroom Discourse ini merupakan jalan atau media untuk membangun sekaligus mengembagkan pemahaman dalam Religious Harmony. Memang kebanyakan dari perspektif kami terlalu mengarah pada Religious Harmonynya saja. Padahal sebelum jauh melangkah pada religious harmony, kita harus tahu terlebih dahulu tentang apa itu classroom discourse.
Berikut ini adalah buku yang akan menjadi bahan dalam class review kali ini, yaitu buku classroom discourse analysis karya Besty Rymes (2008). Tujuan Besty Rymes menuliskan buku tersebut adalah untuk menyediakan atau melengkapi guru-guru dengan peralatannya untuk menganalisis percakapan siswanya di kelas. Mengapa hal ini sungguh terbebani, padahal bergaji rendah, serta harus disibukkan dengan menganalisis pembicaraan. Dalam hal ini Besty Rymes menjelaskan setidaknya ada empat alasan untuk melakukan hal tersebut. Empat alasan tersebut diantaranya:
1.      Wawasan yang diperoleh dari analisis wacana kelas telah meningkatkan saling pemahaman antara guru dan siswa. Wawasan yang diperoleh dari analisis wacana kelas selama 20 tahun terakhir telah meningkatkan saling pengertian antara guru dan siswa. Hal ini karena mencermati pembicaraan dapat mengungkapkan pola umum perbedaan komunikasi antara kelompok orang yang berbeda. Pola dimana guru dan muridnya harus berbicara dalam satu ranah, pengenalan topik, menggunakan variasi bahasa atau bercerita dengan cara yang berbeda dapat menggambarkan bagaimana kesalahpahaman antara kelompok sosial yang berbeda dalam kelas dan bagaimana guru dan murid mengatasinya. Maka dari hal tersebut kita berfikir betapa pentingnya mutual understanding dalam classroom.
2.      Dengan menganalisis wacana kelas, guru telah mampu memahami perbedaan lokal dalam suatu pembicaraan di dalam kelas, akan melampaui stereotip atau generalisasi budaya lain. berlatih menganalisis wacana kelas adalah untuk dapat memahami apa yang menyebabkan moment-moment yang tak terduga terjadi atau timbul dari kelas itu sendiri dan mungkin mengesampingkan siswa tertentu. Dengan merekam, melihat, menyalin dan menganalisis contoh bicara di kelas, peneliti classroom discourse telah menunjukkan bagaimana perbedaan dalam gaya komunikasi yang mengarah pada penyimpangan seperti itu sering ditafsirkan untuk guru dan mekanis pengujian sebagai defisit atau lambang kurangnya kecerdasan, drive, atau kemampuan.
3.      Ketika para guru menganalisis wacana di kelas, akademik prestasi meningkat. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa manfaat classroom discourse adalah untuk memahami. Maka dalam hal ini bertujuan bagaimana pembelajaran di kelas tersebut dapat melengkapi dengan analisis metodenya. Dalam hal ini guru adalah situasi yang baik untuk belajar membatasi, menyetempatkan dan merubah pola percakapan dikelas mereka, dan ketika seorang guru memahami bentuk percakapan atau komunikasi di kelas, maka prestasi di sekolahnya juga akan meningkat.
4.      Proses melakukan analisis dapat menumbuhkan intrinsik dan cinta seumur hidup untuk praktek mengajar dan umumnya akan meneguhkan hidupnya berpotensi. Besty Rymes menjelaskan bahwa untuk mempelajari teknik wacana kelas adalah bahwa berlatih wacana kelas di kelas Anda dapat meningkatkan pengalaman keseluruhan mengajar, dan membuat Anda terlibat secara intrinsik dalam kegiatan profesional Anda sebagai seorang guru. Cerita dan penelitian dari para guru yang melakukan analisis wacana di kelas mereka sendiri menunjukkan bahwa analisis wacana kelas dapat menumbuhkan kecintaan seumur hidup mengajar. Guru / peneliti seperti Vivian Paley dan Karen Gallas biasa menganalisis wacana kelas, tinggal terus-menerus menyesuaikan diri dengan nuansa pembicaraan dalam kelas mereka. Analisis mereka beresonansi dengan antusiasme mereka untuk mengajar dan pada gilirannya membuat buku-buku mereka khususnya resonansi untuk guru. Mengumpulkan wacana kelas cara Paley dan Gallas lakukan juga menyediakan guru dengan media kolaboratif, hands-on, pemecahan masalah profesional. Dalam collaboratives penyelidikan guru yang berpusat pada data yang dikumpulkan di ruang kelas, rasa komunitas profesional dan dukungan dapat membuat pengajaran lebih mengisolasi dan mengajarkan kebiasaan yang secara eksponensial yang lebih bermanfaat.
Definisi paling sederhana dari wacana adalah language-in-use. Bahasa selalu digunakan, jadi mengapa tidak hanya menyebutnya "language"? Karena,
fitur "
discourse" mendefinisikan (in-use) adalah fitur yang sebagian orang percaya adalah bukan komponen penting dari bahasa. Sebaliknya, beberapa ahli bahasa berpendapat bahwa fitur bahasa mendefinisikan kemampuannya untuk de-contextualized. Sebagai contoh kata "pohon" tidak perlu "pohon" sekitar untuk dipahami . Seorang siswa akan memberitahu Anda ia melihat "pohon" hari ini dan Anda akan tahu apa yang dia maksud. Dia tidak perlu menunjuk pohon atau menggambar untuk Anda. Dalam hal ini, bahasa adalah de-contextualizable dan hal ini dapat menjadi fitur yang membuat unik bahasa manusia.
Dalam membangun permulaan pada classroom discourse analysis, terdapat tiga dimensi dalam penggunaan bahasa, diantaranya:
a.       Social context – faktor sosial yang ada dengan serta merta mempengaruhi fungsi kata-kata dalam interaksi (contoh bagaimana pengaruh konteks sosial ketika para siswa menggunakan kata “dude”? apa efek yang ditimbulkan?)
b.      Interactional context – percontohan atau pola percakapan pada interaksi yang mempengaruhi apa yang bisa dikatakan atau tidak dan bagaimana menerjemahkannya dalam wacana kelas. (contoh, dalam interaksi apa menggunakan kata “dude”? sebuah salam? Sebuah pijian?)
c.       Individual agency – mempengaruhi individu agar dapat menggunakan kata-kata untuk diinterpretasikan dalam interaksi. (contoh, kapan dan mengapa seseorang menggunakan kata “dude”? dan untuk apa tujuannya? Berapa individu yang mengendalikan pengaruh itu?). (2008:31-32)
Setelah mengetahui penjabaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa memahami wacana kelas selalu berkaitan dengan teks dan konteks. Hubungan antara guru dan murid itu cukup complicated, dikarenakan beberapa faktor yaitu perbedaan background, komunikasi, goal-driven, dan meaning-making. Suatu perbedaan di dalam kelas yang dipengaruhi oleh berbagai value dan berbagai macam ideologi ini diharapkan mampu membangun perbedaan tersebut melalui Religious Harmony, serta mutual understanding yang terjadi dalam classroom discourse ini diharapkan dapat melahirkan toleransi.

Referensi:
Ø  Rymes, B. (in press, 2008). Classroom Discourse Analysis: A Tool for Critical Reflection. Cresskill, NJ: Hampton Press.

0 comments:

Post a Comment