Friday, March 21, 2014

12:47 AM


Tidak boleh terlupakan ataupun terlewatkan untuk mengaplikasiakn peraturan yang sudah disampaikan sejak semester kedua yaitu paragraf pertama adalah segalanya. Akan teringat kembali pada konsep prima facie prinsiple yang sangat menentukan dalam memberikan kesan kepada pembaca untuk membaca suatu tulisan sampai selesai.  So, make something best in first paragraph, please !!! Hal lain yang juga tidak boleh terlupakan yaitu selalu cantumkan nomor halaman pada tulisan yang lebih dari satu lembar. Itulah sedikit ulasan dalam mengawali pertemuan ke enam ini dan tetap gunakan ilmu yang sudah didapat untuk diterapkan dalam academic writing.
Dalam persembahan quote of the day, disitu  highlight nya “Meniru adalah bagian penting dari menemukan lalu menciptakan”, dari memahami affordance dan meaning potential tanda tanda yang terserak, yang dibaca dengan teori ini dan itu. Dengan adanya proses meniru (emulate) diharapkan akan terjadi proses menemukan (discover) lalu menciptakan (create). Meniru disini jangan diartikan sebagai plagiat tapi hanya meniru untuk mengeksplor pengetahuan. Namun, proses meniru saja tidak cukup apalagi sampai berlaku sombong dan mengklaim segala sesuatu salah atau benar tanpa suatu pendalaman terhadap hal yang ditanggapi. Begitu banyak yang harus dipelajari, dipahami lalu dimaknai; lebih banyak dari alasan menjadi sombong sebab apa yang baru sedikit diketahui.
Proses membaca juga tidak bisa diabaikan begitu saja karena membaca merupakan suatu proses yang wajib atau tidak boleh absen ketika ingin memahami tulisan. Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama surat Al-Alaq: 1-5 yaitu yang  berisi lafad ‘iqra !’ yang berarti bacalah. Jadi, dalam agama islam pun membaca adalah hal yang sngat penting bahkan membaca bisa jadi sebagai salah satu bagian dari kegiatan spiritual / keimanan seseorang (wallahu'alam bishawab).  
Menurut Fowler (1996: 10): “Like the historian critical linguist aims to understand the values which underpin social, economic, and political formations, and diachronically, changes in values and changes in formaitons.” Menulis terkait dengan pemahaman terhadap nilai-nilai dan perubahan bentuknya, baik yang terkait sosial, ekonomi, maupun politik.
Suatu tulisan akan selalu terkait dengan pandangan dari penulisnya. Tidak heran jika Bapak Alwasilah (2001; 2012) mengatakan bahwa “Literacy is NEVER neutral”. Didalam tulisan berisi ideologi-ideologi dari penulisnya termasuk mengenai sejarah karena sejarah merupakan salah satu aspek yang dalam perkebangannya sangat didukung oleh literasi. Menurut Fowler (1996: 12): “Ideology is of course both a medium and an instrument of historical processes.” Berbicara ideologi tidak akan terpisah jauh dari kepercayaan penulisnya (sets of believes) sebagai suatu media dalam proses penyampaian informasi tetrmasuk sejarah. Unsur subjektivitas dalam tulisan merupakan sesuatu yang tidak dapat di pisahkan juga, karena penulis tidak mungkin bisa lepas dari nilai-nilai atau ideologi yang  di yakininya. Mereka tidak bisa lepas dari nilai politik dan etnis dimana penulis tersebut berada. Jadi, membaca maupun menulis selalu didorong oleh ideologi dari penulisnya.
Pada dasarnya, menulis mempunyai sifat persuasif, berusaha meyakinkan pembaca untuk tertarik pada pendirian logis yang sedang dipelajari. Persuasi ini selalu dilakukan secara rutin dalam kegiatan sehari-hari. Tulisan mempunyai sifat mempengaruhi pembacanya agar terbawa dalam atmosfir yang sedang dibicarakannya. Contohnya, para penulis buku akan selalu mengharapkan pembaca untuk mengikuti atau meyakini apa yang dia tuliskan dalam bukunya yang secara langsung ataupun tidak didalam buku tersebut terdapat unsur subjektivitas dari penulis.
Bentuk dari persuasi berkaitan dengan meyakinkan pembaca tentang pandangan dari penulis atau yang sering disebut academic argument, mengikuti pola yang dapat diprediksi dalam tulisan. Setelah penyampaian ringkasan topik pada pengantar, pernyataan mengenai pandangan terhadap topik tersebut disampaikan secara langsung pada satu kalimat. Kalimat tersebut adalah ‘thesis statement’, dan didalamnya menyajikan sebuah ringkasan dari argumen atau alasan yang ingin dikemukakan oleh penulis dalam tulisannya.
Thesis dalam sebuah karangan bisa disebut juga sebagai ide pokoknya (main idea). Thesis statement dalam sebuah tulisan berisi satu atau dua kalimat pernyataan yang mengekspresikan ide pokok yang terkandung dalam tulisan. Pada thesis statement memperkenalkan topik dari penulis dan pendapat seorang penulis mengenai topik yang sedang dibicarakannya.
Adapun fungsi dari adanya thesis statement mencakup dua fungsi yaitu : pertama, penulis membuat thesis statement untuk memfokuskan pada hal atau permasalahan yang sedang dibahas dalam tulisan tersebut. Kedua, adanya kehadiran thesis statement yang bagus agar dapat membantu pembaca dalam memahami tulisan.
            Thesis statement memberitahu pembaca dalam hal bagaimana menafsirkan pentingnya materi permasalahan  yang sedang dibahas. Bisa diibaratkan thesis statement ini adalah sebagai peta jalan untuk tulisan tersebut.  Dengan  kata lain, ia memberitahu pembaca mengenai apa yang diharapkan dari sebuah tulisan agar pembaca dapat memahai isinya.  Tesis merupakan interpretasi dari pertanyaan atau subjek, bukan subjek itu sendiri. Subyek, atau topik dari sebuah karangan  contohnya seperti Perang Dunia II atau Moby Dick, maka tesis harus menawarkan cara untuk memahami perang atau novel yang bersangkutan  sesuai dengan alur yang dibicarakan.
Thesis statement biasanya terdapat dalam satu kalimat di suatu tempat di paragraf pertama yang menyajikan argumen  penulis  kepada pembaca. Sisa dan tubuh suatu tulisan  berguna untuk mengumpulkan dan mengatur bukti yang akan membujuk pembaca dengan logika penafsiran. Bisa dikatakan selain thesis statement, sisa tulisan yang lainnya digunakan sebagai penjelas atau informasi  pendukung untuk menguatkan thesis. Penguatan thesis tersebut bisa didukung dengan adanya pemaparan bukti-bukti ataupun informasi lain sebagai penunjang.
Sebuah thesis adalah hasil dari proses berpikir yang panjang. Bagaimana tidak ? dalam menentuka thesis harus mencakup keseluruhan dari tulisan yang dibuat sehingga dalam menentukannya pun butuh telaah dan pendalaman yang panjang. Sebelum membangun sebuah argumen pada topik pembahasan, seorang penulis harus mengumpulkan dan mengorganisir bukti. Tidak hanya itu, harus dicari pula mengenai hubungan dintara fakta-fakta yng diketahui (seperti mengungkapkan perbedaan dan persamaan), dan memikirkan mengenai hubungan yang penting dari pembahasan itu.
Dari penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar bisa dimulai dari tahap meniru dulu tetapi bukan berarti plagiat. Begitu banyak yang harus dipelajari, dipahami lalu dimaknai; lebih banyak dari pada alasan menjadi sombong sebab apa yang baru sedikit diketahui. Selain itu, diketahui pula bahwa setiap tulisan tidah pernah netral artinya  Suatu tulisan akan selalu terkait dengan pandangan dari penulisnya yang bersifat persuasif. Mengenai thesis statement, agar dapat membantu pembaca dalam memahami tulisan, biasanya terdapat dalam satu kalimat di suatu tempat di paragraf pertama yang menyajikan argumen  penulis  kepada pembaca.





0 comments:

Post a Comment