Tuesday, March 11, 2014



Written by Muhammad Saefullah
Begitu  pintarnya jemari manusia untuk membuat pengaruh hipnotis. Rangkaian kata-kata yang tersusun hingga mencapai ribuan kata bisa dihasilkan untuk membolak-balikan hati dan pikiran manusia. Tak perlu diragukan lagi kekuatannya, banyak sejarah yang telah dihasilkan oleh perlengkapan pelajar ini (pulpen). Mereka terhipnotis dengan mantra-mantra yang berbau tipu muslihat, cahaya penerang, bahkan lubang hitam yang bisa menyesatkan kaum yang tak berdosa.

Satu detik itu adalah sejarah, bagi penulis kata-kata itu sangat tepat untuk menyadarkan manusia. Jangan sampai pengaruh tulisan-tulisan dari Jhon Titor terus mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk kembali ke satu detik itu dengan mesin waktunya. Kita tidak mungkin untuk mengulang masa lalu yang sudah menjadi sejarah, hanya bukti tertulislah yang akan mendampingi umat manusia untuk berimajinasi dengan masa lalu.
Sebagai seorang yang mendalami jurusan bahasa, kita wajib mengungkap sejarah lewat tulisan-tulisan yang ada. Diskursus hubungan sastra dan sejarah nampaknya salah satu kunci untuk mengawali imajinasi kita kali ini. Sejarah punya banyak keterkaitan dengan konsep-konsep ilmu lain.
Masih melekat dalam otak kita sosok seorang Howard Zinn yang sudah menyadarkan pengaruh hipnotis Columbus. Tipu daya yang selama ini meracuni masyarakat dunia mulai terungkap perlahan. Melihat sejarah Amerika yang ada, perlu adanya diskursus yang dititik beratkan pada sastra. Menurut Carr (1982:30) berpendapat bahwa  “history is a continuous process of interaction between the historian and his facts, and unending dialogue between the present and the past”. Dari pendapat Carr ini jelas bahwa sejarah itu proses yang berlanjut dan sesuai dengan kenyataan antara zaman sekarang dengan masa lalu.
Sejarah sebagai ilmu atau wawasan susunan pengetahuan tentang peristiwa dan ceritera yang terjadi dalam masyarakat manusia pada masa lampau yang disusun secara sistematis dan metodolotis berdasarkan asas-asas, prosedur, dan metode serta teknik ilmiah yang diakui oleh pakar sejarah. Orang yang pandai menulis pasti akan menguasai sejarah, jika sejarah yang belum diketahui oleh manusia itu diangkat dalam tulisan, maka akan punya pengaruh yang sangat besar. Bagi penulis, seorang Howard Zinn itu punya ambisi untuk mengungkap kekeliruan yang ada di Amerika. Sosoknya yang ambisius membuat  catatan yang ditulisnya menggemparkan warga Amerika dan umat sedunia.
Pengaruh positivisme dalam sejarah tidak bisa dihindarkan. Salah satu tokoh pencetus aliran modern dalam sejarah adalah Leopold Von Ranke (1795-1886). Ranke menulis sebuah buku yang berjudul “A Critique of Modern Historical Writers”, dalam bukunya ini beliau menjelaskan kritiknya dalam sejarah dan penulis pada saat sekarang. Ranke dianggap sebagai penumbuh histografi modern yang menganjurkan sejarawan menulis apa yang sebenarnya terjadi atau wie es eigentlich gewesen ist (Supardan, 2008) yang dikenal dengan sejarah kritis.
Tak diragukan lagi bahwa history yang ada pada zaman dahulu mempunyai banyak aspek. Sejarah di satu sisi berperan sebagai humaniora, perlu adanya kemampuan dalam berbahasa. Retorika yang digunakan oleh para penulis mendekatkan sejarah dengan sastra sejarawan akan menggunakan imajnasi bukan fantasi dalam merekonstruksi masa lalu.
Menurut Hayden White dan Munslow (Sjamsuddin, 2007) menjelaskan pada salah satu poin bahasannya tentang adanya sejarah. Historis mempunyai nilai-nilai yang meliputi keseluruhan, totalitasm atau latar belakang, atau masa lalu itu sendiri. Konteks dari sejarah tersebut berfungsi untuk membuat masa lalu itu menjadi masuk akal, berari, signifikan, dan berarti. Dengan begitu sejarah akan dapat diterima kebenarannya.
Pemikiran Howard Zinn untuk mengupas Amerika lewat tulisan ini memang sudah benar. Hal ini didukung oleh White (Shuterland: 2008, 48) yang mengatakan bahwa sejarah itu sebuah narasi yang dikuasai oleh konvensi-konvensi estetika dan lebih dekat kepada sastra daripada ke ilmu pengetahuan. Jadi, untuk mengungkap sebuah cerita masa lalu lebih jelas ditulis oleh orang sastra karena cara berfikirnya yang kritis.
Sosok Columbus dalam tulisan dan literatur yang ada di Amerika itu banyak hal yang ditutupi, penuh dengan kiasan-kiasan dan bumbu-bumbu pentedap dalam penulisannya. Seperti yang dikatakan White (Sjamsuddin, 2007) bahwa “Sejarah disebut metahistory karena sejarah tidak bisa menolak masuknya kiasan-kiasan dalam penulisan sejarah”. Metahistory merupakan karya-karya sejarah yang tujuannya bukan untuk membuat informasi yang ada, mendiskusikan interpretasi yang sudah adam dan kemungkinan mengomentari asumsi-asumsi yang telah membuat interpretasi.
Tulisan-tulisan yang dihasilkan seperti Howard Zinn ini merupakan salah satu sastra. Hal ini telah membuktikan bahwa tulisan sebagai ilmu yang bukan hanya berbicara persoalan kreativitas dan rentetan imajinasi, tetapi dapat pula berfungsi sebagai dokumen sejarah (Susur, 2008). Zainuddin Fannanie berpendapat, dengan keluarnnya sastra dari krativitas imajiner ke wilayah sejarah, maka sastra secara  tidak langsung bisa diletakkan sebagia dokumen sejarah atau dokumen social yang kaya dengan visi dan tata nilai mayarakat.
Diteropong dari linguistik turn bahasa dalam bentuk budaya dan intelektual merupakan media pertukaran bagi hubungan antar kekuatan dan konstitutor terakhir dari kebenaran dalam penulisan dan pemahaman masa lalu (Purwanto, 2006: 3). Sejarawan akan lebih setuju terhadap pendapat yang menyatakan bahwa linguistik membedakan struktur masyarakat dan perbedaan sosial menstrukturkan bahasa sebagai salah satu fakta dalam sejarah umat manusia daripada pendapat yang menyatakan bahwa realitas sejarah tidak pernah ada, dan yang ada hanya bahasa yang berbentuk naratif sebagai representasi masa lalu.
Pengungkapan sejarah yang terbilang apresiatif melalui data empiris dan tulisan (narasi) tidak berbeda jauh dari pengungkapan karya sastra. Hanya saja dikhawatirkan jika sejarah terlalu dekat dengan seni maka sejarah akan kehilangan keakuratan dan keobjektivitasnya (Surur, 2008). Seperti yang terjadi pada saat ini nilai-nilai yang terkandung dan mempunyai historis sedikit berkurang karena sudah tercampur dengan unsur-unsur lain.
Seorang sejarawan seperti Howard Zinn dan penulis mempunyai cara pandang tentang tulisan sejarah dan tujuan yang berbedam akan tetapi keduanya setuju bahwa dalam menulis sejarah tidak boleh mengaburkan dan memanipulasi fakta sejarah untuk membuat tulisannya lebih menyenangkan dan laku terjual.
Menulis sebauh karya nampaknya perlu memperhatikan berbagai aspek. Howard Zinn sukses mendulang masa keemasan di bukunya ini karena paham tentang menulis. Paa bukunya Hyland dijelaskan bahwa key issues dalam memahami writing itu ada enam, yaitu context, literacy, culture, technology, genre, dan identity.
Hal yang akan dikupas pertama ialah Writing and Context. Context akan selalu diperhatikan oleh seorang penulis dalam memulai perjuangannya, arti yang ada dalam teks dibagian dalam interaksi antara seorang penulis dan pembaca untuk membangun perasaan yang berbeda-beda. Faktor kontekstual sangat luas dalam melihat sebagai objektif variabel statis yang mengepung penggunaan bahasa, kita harus melihat context tulisan yang ditujukan untuk siapa. Ada 3 aspek dari context sendiri, yaitu:
1.    Situasional Context: Sesuatu yang diketahui oleh semua orang tentang apa yang mereka lihat di sekitarnya.
2.    The Background Knowledge Context: orang-orang tahu mengenai dunia, apa yang mereka tahu tentang aspek dan yang lainnya.
3.    The Co-textual Context: orang-orang tahu apa yang sudah mereka katakan.
Penawaran prinsip sebagai salah satu jalan untuk memahami bagaimana arti itu diproduksi dalam sebuah interaksi. Hal ini bisa dilihat dari waktu dan tempat yang umum seperti konteksnya di rumah, sekolah, tempat kerja, ataupun universitas. Secara linguistkik orientasi dari konteks ini berbeda dan memulainya dengan texts, dan gambaran umum dari systematic discourse.
Context yang diungkapkan oleh Halliday sebagai ahli lingustik itu ada tiga, yaitu field yang membahas apa yang sedang terjadi, kemudian tenor kembali kepada siapa yang terlibat dalam teks tersebut, dan mode yang mengatur penggunaan bahasa dalam menuliskan teks tersebut. Halliday juga mengungkapkan context dari situasi ada dalam sebuah wider dan konteks yang lebih abstrak menyebutnya sebagagai Context of Culture.
Kedua ialah Literacy and Expertise: Scribner dan Cole (1981: 236) menempatkan literacy itu tidak sederhana pengetahuannya bagaimana membaca dan menulis scrip yang umum tetapi menerapkan pengetahuan yang lebih spesifik dalam penggunaan context. Literacy sebagai psychological dan textual, sesuatu yang bisa diukur dan dinilai. Literacy dinilai dan dilihat sesbagai kumpulan dari sesuatu yang mempunyai cirri-ciri sendiri, nilai yang bebas kemampuan teknik termasuk kemampuan memecahkan kode (decoding and encoding), peralatan manipulasi menulis dan yang lainnya. Menulis dan membaca berarti menghubungkan orang-orang dengan yang lainnya di jalan yang membawa sosial meanings yang umum.
Barton dan Hamilton (1998: 6) mendefinisikan literacy practices sebagai budaya umum yang ditulis bahasanya dan orang-orang menggambarkan dalam hidup mereka. Arti yang dominan literacy practice dibangun dalam konteks yang sudah dipertimbangkan kekuatan perkumpulan kita seperti pendidikan dan hukum. Kemampuan menulis sekarang ditandai sebagai sebuah tanda keahlian di wide range aktifitas professional yang kembali ke orientasi penulis untuk jenis yang lebih spesifik.
Ketiga ialah ihwal Writing and Culture: budaya secara umum dipahami sebagai sebuah sejarah yang ditransmisikan dan jaringan sistematik meaning yang mengijinkan kita untuk memahaminya, perkembangan dan komunikasi pengetahuan kita dan keyakinan tentang dunia (Lantof, 1999). Walhasil, belajar dan bahasa itu berhubungan budaya yang dibawa oleh individu, karena suatu budaya itu bisa direpresentasikan dengan bahasa.
Sudah menjadi rahasia umum, mother tongue tidak bisa dipisahkan dari budaya seseorang. Bahasa ibu/L1 akan terus dibawa ketika kita berbicara dengan menggunakan L2, hal ini karena mother tongue sudah mendarah daging dan dipelajari sejak dini. Mother tongue tidak bisa dilupakan, karena dari hal inilah akan lahir budaya-budaya dalam L2 yang mempunyai accent unik dibawa olehnya. Seperti yang disebutkan oleh Connor dalam quotenya bahwa strategi retorika agar sukses di L2 maka langkah pertama harus bisa menguasai L1 terlebih dahulu.
Berawal dari budaya kita bisa lebih mudah untuk menulis permulaan pada sebuah artikel. Di samping itu gambaran umum yang akan ditulis juga bisa lebih tersusun bersama, budaya seseorang bisa dilihat dari hasil text yang sudah ditulisnya. Bagaimanapun, pelajar itu mempaunyai identitas masing-masing yang tidak bisa lepas darinya yaitu bahasa dan budaya yang berbeda. Hal ini merupakan metode untuk mempersatukan mereka lewat sosialisasi di kelas mengenai norma, dan praktek sosial, dari hal kecil inilah akan tumbuh rasa memiliki bahasa ibu dan mereka bisa menerima perbedaan yang ada di dalam kelasnya.
Bagaimanapun, retorika antara native speaker dengan pelajar itu sangat dominan perbedaannya. Untuk bisa memahami second language kita bisa mengadopsi retorika yang digunakan oleh native speaker. Perbandingan sudut pandang juga membantu kita untuk melihat tulisan yang berasal dari sejarah dan faktor budaya. Dari perbandingan sudut pandang tersebut pelajar bisa mengambil poin penting yang digunakan oleh native speaker.
Skill issues yang kelima ialah Writing and Genre: hingga saat ini genre merupakan hal yang sangat penting dalam berpartisipasi maupun bersosialisasi dengan orang lain. Genre merupakan salah satu aksi komunikasi yang nyata, seseorang harus kenal dengan aliran genre yang ada. Menurut buku yang ditulis Ken Hyland ada tiga genre ((Hyon, 1996: Johns, 2002):
1.    Tradisi bekerja orang Australia pada systemic functional linguistic.
2.    Pengajaran bahasa Inggris untuk tujuan yang rinci.
3.    Belajar retorika baru dalam mengembangkan kompetensi context.
Systemic Functional Views: model genre ini terlihat seperti sebuah staged, tujuannya berorientasi pada proses (Martin, 1992: 505). Penekanan maksud dan urutan kejadian arakter dari genre yang berbeda dan direfleksikan dengan teorinya Halliday dalam konteks sistematis. Genre ini menganut system proses social karena anggota dari kelompok budaya berinteraksi untuk mencapai tujuannya. Meanings dibuat dalam beberapa cara dan biasanya diambil oleh penulis lebih dari satu cara untuk mencapai tujuannya. Ketika texts mempunyai maksud yang sama, umumnya akan sama pula strukturnya, oleh karena itu keduanya ini mempunyai genre yang sama.
English for Spesific Purpose (ESP): orientasinya mengikuti SFL yang menekankan pada pemberian kondisi yang formal dan genre yang bermaksud agar komunikatif, tapi di sini mengadopsi banyak konsep genre. Maksudnya ialah agar genre ini rasional dan membantu memprtajam jalan dari struktur genre dan pemilihan context dan gaya yang ada. Genre ini memandang bahasa termotivasi oleh aplikasi pedagogi dan deskripsi dari berbeda genre yang sudah digunakan sebagai metode di universitas dan yang lainnya (e.g Hylland, 2003; Johns, 1997; Swales and Feak, 2004).
The ‘New Rethoric’: penekanan yang diberikan lebih besar dari jalan genre jenis lainnya. Henre ini mempunyai peranan penting dalam pemahaman konsep (Freedman and Medway, 1994). Retorika baru lebih rendah fokusnya dari genre yang bersifat tindakan, hubungan text dengan context lebih dikembangkan kualitatif daripada mendeskripsikan retorika (Miller, 1984). Dalam konteks classroom pelajar harus diberikan kesempatan untuk mengobservasi genre dalam situasi actual yang digunakan oleh mereka. Siswa akan mengidentifikasi mereka dengan cara “mini-ethnographies”.
Penekanan yang diberikan kesadaran jenis tekstual dari genre dan kelompok yang digunakannya (Bazerman, 1988: 323). Genre pengetahuan dari social contexts lebih penting daripada formal patterns. Genre itu didukung dengan sangat kuat keterekaitannya dan mengganti secara pelan, dan mengembangkan individu, umumnya pelajar, yang bias memanipulasi pembangunan yang terbatas. Itulah secercah seluk-beluk yang diambil dari buku Ken Hyland tentang writing and genre.
Dalam buku lehtonen, John Fiske menjelaskan genre sebagai sebuah cultural practice yang terstruktur darinya ke dalam jangkauan text yang sangat luas dan sirkulasi budaya dari produser dan audience. Genre biasanya merujuk pada spesies atau jenis teks, text itu diklasifikasikan sebagai poem, film horror, dan beberapa jenis lainnya. Genre sendiri berasal dari bahasa latin yaitu genus (descent, family, class species, group).
Skill issues yang terakhir ialah Writing and Identity: penekanan yang dekat dengan sebuah penulisan terletak pada hubungan antara writing dengan identitas pengarang. Identitas kembali lagi ke jalan yang ditunjukkan oleh banyak orang pada hal yang lainnya (Benwell and Stokoe, 2006: 6). Kita menampilkan identitas (identity work) lewat pembangunan diri kita sebagai anggota yang credible pada kelompok social. Jadi, identitas itu  sesuatu yang kita lakukan, bukan sesuatu yang kita miliki.
Ivanic memandang identitas itu ada tiga sudut pandang, pertama ialah the ao\utobiographycal self. Ide, opini, keyakinan, dan komitmen membangun sejarah jati diri penulis seperti contohnay kata-kata mutiara yang ditulis dalam textnya. Kedua ialah the discourse self: contohnya seperti penulis bergabung dengan komunitas atau yang sejenisnya, kemudian mengadopsi untuk mengklaim anggotanya. Ketiga yaitu the authorial self: kepemilikan tntang sebuaha artikel, bila kita mengambil beberapa kata maka harus mencantumkan nama pengarangnya sebagai bukti kepemilikan.
Bagaimanapun, text itu tidak bias lepa dari keenam key issues tersebut. Text merupakan semiotic yang tidak pernah ada tanpa pembaca, interetexts, situasi, dan fungsi, semaua itu terhubung dengan text. Bacaan yang ada menurut Lehtonen tidak semaunya jenis puzzle, satu teks punya berbagai pengertian tergantung dengan sudut pandang seseorang . konteks dari text harus melewati evaluasi ulang sebelumnya, karena konteks itu tidak pernah ada sebelum pengaram atau text.
Sebagai sajian penutup, delapan parameter context yang harus diingat memperindah class review yang kelima ini, parameter tersebut ialah:
1.    Subtence: materi fisik yang membawa (relay text).
2.    Music and pictures.
3.    Paralanguage: sikap yang ada dalam bahasa seperti kualitas suara gestures, ekspresi muka dan sentuhan, dan pemilihan typeface dan ukuran huruf (in writing).
4.    Situation: hubungan objek dengan text yang ada di sekitar.
5.    Co-text: text yang mendahului atau mengikuti di bawah analisis, dan participant yang menjadi penentu dalam discourse yang sama.
6.    Intertext: text yang mana perasaan participant mengikuti discourse yang lain, tapi berkumpul dalam satu text yang terfokus.
7.    Partisipasi: niat dan interpretasi mereka, pengetahuan dan keyakinan, sikap seseorang, affiliasi dan feelings.
8.    Function: text yang ada karena pengirim dan alamatnya, atau perasaan untuk melakukan dengan penerima dan alamatnya.
Lengkap sudah pembahasan class review kali ini. Akhirul kalam, sebagai penulis merangkum semua pembahasan bahwa sebuah text itu banyak unsur-unsur yang membangun seperti yang sudah disebutkan, ada context, literacy dan expertise, budaya, technology, genre, dan identitas. Malahan, artikelnya Howard Zinn tentang Columbus menjadi salah satu tulisan fenomenal karena issue tentang Columbus bisa diungkap lewat keenam unsur yang mendalam.

0 comments:

Post a Comment