Sunday, March 23, 2014


Pembentuk Konteks
Pada class review kelima ini, berbagai pembahasan akan dibahas disini. Pembahasan diawali mengenai  ke issues yang berpengaruh dalam memahami writing. Dalam buku Teaching and Researching Writing oleh Ken Hyland (2002;2009), terdapat key issues yang mana berpengaruh dalam memahami writing, yaitu context, literacy, culture, technology, genre dan identity.

·         Context
Menurut Van Dijk (2008:viii), context bukan situasi sosial yang berpengaruh pada discourse, tetapi cara partisipan mendefinisikan situasi. Sehingga, menurutnya context merupakan konsepsi/gagasan partisipan.
Konteks dipandang sebagai tandan yang berubah secara statis yang mengelilingi bahasa yang digunakan, juga dipandang sebagai sesuatu yang didasari oleh ssial, interaktif secara terus menerus dan batas waktu (Duranti dan Goodwin, 1992).
Cutting (2002:3), berpendapat bahwa terdapat 3 aspek utama dalam menafsirkan konteks:
1. Situational context, yaitu apa yang orang ketahui tentang apa yang mereka dapat ihat disekeliling mereka.
2. Background knowledge context, yaitu apa yang orang ketahui tentang dunia, apa yang merekka ketahui tentang dunia, apa yang mereka ketahui tentang aspek hidup dan apa yang mereka ketahui satu sama lain.
3. Co-textual context, yaitu apa yang orang ketahui tentang apa yang mereka telah katakan.
            Untuk memahami konteks itu dimulai dengan teks. Systemic Functional Linguistic mencoba menunjukan bagaimana konteks berangkat yang diusut dalam pola language use. Halliday mengembangkan analisis konteks berdasarkan gagasan/ide beberapa teks sebagai hasil dari pilihan bahasa penulis dalam context of situation (Malinowski, 1949).
            Menurut Halliday (1985), terdapat 3 dimensi konteks, yaitu field, tenor dan mode.
1. Field, yaitu menunjukkan apa yang terjadi, mdel tindakan sosial, atau apa yang teks maksud.
2. Tenor, yaitu menunjukkan siapa yang menjadi bagian, peranan dan hubungan partisipan.
3. Mode, yaitu menunjukkan atas bagian apa bahasa digunakan, apa yang partisipan harapkan untuk dilakukan untuk mereka.
            Dengan kata lain, bahasa yang kita gunakan membutuhkan kecocokan dengan situasi yang mana kita gunakan, dan mengkharakteristikan bentuk tulisan yang penuis buat akan membuat situasi. Context of situation dijalankan dalam konteks yang ebih luas dan lebih abstrak. Yang mana Halliday menyebutnya sebagai context of culture. Halliday memandang context of culture sebagai pengungkapan yang lebih spesifik atas context of situation, sehingga kita gambarkan situasi sosial sebagai bagian yang lebih luas yaitu culture.
            Fairclough (1992), memandang discourse sebagai link antara context of situation dengan context of culture. Hal ini karena dalam discourse, urutan discourse dijalankan untuk menegakan adanya hubungan antara power dan authority.
            Dalam buku Cultural Analysis of Texts (Mikko Lehtonen, hal. 114), Guy Cook menyebutkan 8 parameter konteks, yaitu:
1.      Subtance, yaitu materi fisik yang membawa teks.
2.       Music dan Picture
3.      Paralanguage, yaitu perilaku yang berarti bahasa yang menyertainya, seperti kualitas suara, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sentuhan (dalam kecepatan), dan pilihan dari jenis huruf dan ukuran huruf (secara tertulis).
4.      Situation, yaitu sifat dan hubungan objek dan orang-orang disekitar teks, seperti yang dirasakan oleh partisipan.
5.      Co-text, yaitu teks yang mendahului atau mengikuti di bawah analisis dan yang mana partisipan menilai discourse yang sama.
6.      Intertext, yaitu teks yang partisipan anggap sebagai milik discourse lain, tetapi mereka mengasosiasikan teks di bawah pertimbangan yang mana berpengaruh pada interpretasi mereka.
7.      Participant, yaitu niat dan interpretasi mereka, pengetahuan dan keyakinan, sikap interpersonal, afiliasi dan perasaan.
8.      Function, yaitu apa yang text maksud untuk dilakukan oleh pengirim dan addressers, atau dianggap dilakukan oleh penerima dan adressess.
·         Literacy
Writing dan reading merupakan aksi dari literasi, yang mana literasi itu merupakan bagaimana kita biasanya menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Seperti Scribner dan Cole (1981:235) berkata, bahwa literasi tidak sesederhana hanya mengetahui bagaimana membaca dan mennulis, tetapi tentang menerapkan pengetahuan yang lebih ke tujuan khusus dalam konteks khusus yang digunakan.
      Dalam pandangan sekolah tradisional, menganggap literasi sebagai kemampuan belajar yang mana difalisitasi dengan berfikir logis, mengakses informasi, dan berpartisipasi dalam peranan di masyarakat modern. Sehingga, pandangan ini melihat literasi sebagai psikologis dan textual, sesuatu yang mana dapat dipertimbangkan dan ditaksir.
      Barton (2007:34-35), menyebutkan beberapa pandangan sosial mengenai literasi, diantaranya:
-          Literasi merupakan aktivitas sosial dan dilukiskan dalam istilah people’s literacy practices.
-          Orang-orang memiliki perbedaan literasi yang mana diasosiasikan dengan perbedaan wewenang hidup.
-          Orang yang praktek literasi disituasikan dalam hubungan sosial yang lebih luas, dengan menggambarkan keadaan dari peristiwa literasi.
-          Literasi berdasarkan sistem simbol sebagai cara untuk mempresentasikan dunia kepada orang lain dan kepada diri kita sendiri.
-          Sejarah hidup kita berisi kejadian literasi yang mana kita belajar dan  besar sekarang.
-          Peristiwa literasi juga mempunyai sejarah sosial yang membantu menciptakan arus praktek.
Barton dan Hamilton (1998:6), mendefinisikan praktek literasi sebagai cara umum kebudayaan dalam memanfaatkan bahasa tulisan yang mana orang-orang lukis pada hidup mereka. Praktek literasi tidak hanya berkenaan mengenai reading dan writing, tetapi juga hasil, perasaan dan konsepsi cultural/ kebudayaan yang memberi makna atas penggunaanya (Street, 1995:2). Dengan kata lain, literasi termasuk membagi pemahaman, ideologi dan identitas sosial maupun peraturan sosial yang mengatur akses dan distribusi teks. Lebih nyatanya, praktek tersebut adalah kelompok atas apa yang Heath (1983) sebut sebagai Literacy Events.
Literasi events merupakan peristiwa yang tampak di mana literasi mempunyai peranan. Biasanya terdapat teks sebagai pusat aktivitas, dan disana semakin berbicara disekitar teks. Event merupakan peristiwa yang tampak muncul dari praktek atau dibentuk oleh mereka. Gagasan dari penekanan peristiwa disituasikan literasi pada dasarnya, itu selalu hidup dalam knteks sosial (Barton dan Hamilton, 1998:2).
Menurut Baynham (1995:1) dalam penelitian literasi melibatkan human activity, tidak hanya apa yang orang lakukan dengan literasi, tetapi juga apa yang mereka buat atas apa yang mereka lakukan, hasil dari mereka ditempatkan di dalamnya dan ideologi yang berada disekitarnya. Sehingga praktek literasi merupakan peristiwa dalam kehidupan orang sehari-hari.
·         Culture
Culture secara umum dimengerti sebagai sejarah yang dipanjarkan dan jaringan sistematis dari makna yang mana mengharuskan kita untuk memahami, mengembangkan dan mengkomunikasikan pengetahuan kita dan kepercayaan tentang dunia (Lantolf, 1999). Sebagai hasilnya, bahasa dan belajar tak bisa lepas dari batasan culture (Kramsch, 1993). Hal ini karena nilai kebudayaan kita dicerminkan dan dibawa melalui bahasa, tetapi juga karena culture yang ada di kita diterima selalu benar sebagai cara mengorganisir persepsi dan dugaan kita, termasuk apa yang kita gunakan untuk belajar dan berkomunikasi di dalam writing. Dalam penelitian dan pengajaran writing, ini merupakan daerah dari contrastive rhetoric.
Menurut Connor, (1996:5), contractive rhetoric merupakan area penelitian dalam kemahiran second language yang mengidentifikasi masalah dalam komposisi ditemui dengan penulis second language dan dengan menunjuk ke strategi retoris pada first language, penjelasan untuk menjelaskan kepada mereka.... contrastive rhetoric menegaskan bahwa bahasa dan tulisan adalah fenomena kebudayaan. Secara langsung, setiap bahasa memiliki kaidah retorikal khusus. Praktek tulisan kita merupakan produk dari faktor sejarah dan kebudayaan daripada sebagai norma dari pola lain yang hanya sekedar penyimpangan.
·         Technology
Menurut Hyland (2002;2009), efek-efek teknologi elektronik dalam menulis diantaranya:
-          Mengubah penciptaan, pengeditan, pengkoreksian cetakan dan memformat proses.
-          Mengkombinasikan tulisan teks dengan visual dan media audio lebih mudah.
-          Menentang gagasan tradisional dan kepengarangan (authorship, autority, dan sifat intelektual.
-          Mengijinkan penulis mengakses informasi lebih dan menghubungkan informasi tersebut dengan cara yang baru.
-          Memperluas jarak genre dan peluang jangkauan audience lebih luas.
-          Mengaburkan oral tradisi dan menyatakan saluran tulisan.
-          Memperkenalkan berbagai kemungkinan untuk membangun dan mengulur identitas sosial yang baru.
Menulis saat ini merupakan pemasangan teks dan gambardalam bentuk visual yang baru dan penulis seringkali butuh untuk mengerti cara khusus dalam mengatur dunia yang mana berbeda cara yang diusulkan. Menurut Kress (2003), perbedaan cara mempunyai perbedaan potensi dan pembatasan meaning.
Teknologi inovasi saat ini menjadi tantangan seorang penulis, mereka juga membuka identitas baru, genre dan komunitas. Komunitas dan popularitas yang tinggi di blogs, chatrooms dan list serves secara radikal mengubah praktek tekstual dengan mendukung tiruan bersifat gaya percakapan dalam menulis.
·         Genre
Genre dikenal sebagai model tindakan komunikatif, yang mana maksudnya untuk berpartisipasi dalam beberapa peristiwa sosial, individual harus dikenal dengan genre yang mereka hadapi. Oleh karena itu, genre merupakan salah satu konsep penting dalam pendidikan bahasa.
Terdapat 3 pendekatan genre (Hyon, 1996; Johns, 2002), yaitu:
a.       Pendekatan dengan tradisi Systemic Functional Linguistics
Genre dilihat sebagai stage tujuan orientasi dan proses sosial (Martin, 1992:505), menekankan dengan maksud tertentu dan pencontohan karakter pada perbedaan genre dan mencerminkan perhatian Halliday dengan cara bahasa secara sistematis berhubungan dengan konteks.
§  Genre sebagai proses sosial karena member dari interaksi budaya yang mereka jangkau.
§  Genre sebagai goal-oriented karena mereka telah meningkatkan sesuatu yang dijangkau.
§  Genre sebagai stages karena makna dibuat dalam tindakan dan itu biasanya diambil penulis lebih dari satu langkah untuk menjangkau tujuan mereka.
Ketika seperangkat teks dibagikan dengan tujuan yang sama, mereka akan sering membagi struktur yang sama dan genre yang sama. Tulisan yang sukses menuntut kesadaran struktur retorikal dan menguasai grammar. Grammar bukan merupakan nyawa tulisan sebagai objek pendekatan, tetapi satu jangkauan untuk tujuan khusus dari genre (Hyland, 2004b).
b.      English for Spesifik Purpose (ESP)
Orientasi ini mengikuti SFL dalam penekanan yang diberikan untuk properti formal dan tujuan komunikatif dari genre, tetapi itu berbeda dalam mengadopsi pembatasan konsep dari genre.
c.       The New Rhetoric
Pendekatan ini berbeda dengan pandangan genre sebelumnya. Menurut Miller (1984), new rhetoric kurang fokus pada bentuk genre daripada tindakan akan bentuk yang digunakan untuk menyempurnakan dan begitu cenderung untuk mengutamakan alat penelitian qualitatif yang mana mengeksplor koneksi antara text dan context daripada menjelaskan ketentuan retorical mereka.
·         Identity
Identity menunjukkan cara orang mempertunjukkan siapa mereka satu sama lain (Benwell dan Stokoe, 2006:6). Menurut Cherry (1988:269), identity terletak pada publik, secara institusional didefinisikan peranan orang dicipptakan dalam tulisan sebagai member komunitas, termasuk representasi mereka pada audience, bahan persoalan, dan elemen lain dari konteks.
Ivanic (1998), berpendapat bahwa identitas penulis adalah yang dibangun secara sosial dengan bentuk dasar dalam berbagai kemungkinan untuk kepribadian yang ada dalam kontek menulis. Menurut Ivanic (1998); Ivanic and Weldon (1999), terdapat identity penulis.
1.      The autobiographical self
Diri yang mana penulis bawa ke tindakan menulis, pembatas sosial dan membangun sejarah hidup penulis. Termasuk ideas, opinions, belief dan commitments.
2.      The discursal self
Jejak penulis dengan sadar atau tidak sadar menyampaikan diri mereka sendiri dalam teks.
3.      The authorial self
Menunjukkan diri itu sendiri dalam tingkat wewenang dengan tulisan yang penulis tulis.
            Dalam model interaktif sosial, makna diciptakan melalui configurationdan interaction antara reader dan writer dalam teks (Nystrand et al., 1993:299). Gagasan Bakhtin (1986) memandang bahasa sebagai dialog: percakapan antara writer dan reader dalam aktivitas yang terus menerus. Hyland (2002) menyebutkan bahwa menulis digambarkan jejak dari kegunaan sosial karena itu dihubungkan dan dibariskan dengan teks lain yang mana dibangun dan diantisipasi.
            Tulisan genre dipandang sebagai bagian dari pengulangan dan lambang situasi sosial, lebih dari bentuk khusus, dengan penulis berlatih mempertimbangkan dan kreatifitas dalam merespon kesamaan keadaan (Hyland, 2002). Salah satu metode utama mengenai hubungan antara teks dan konteks yaitu teori intelektuality. Dalam teori ini ditekankan bahwa setiap teks harus dibaca sehubungan dengan teks. Penulis selalu membaca teks pertama sebelum mereka memproduksi teks. Pengetahuan intelektual mengarahkan pembaca untuk menggunakan teks tertentu, untuk membaca beberapa makna. Semua penggunaan bahasa dianggap pasti interteks karena beberapa alasan, yaitu individu tidak menciptakan bahasa, dan makna tidak bisa ada tanpa bentuk yang sudah ada sebelumnya, konvensi dan codes. Oleh karena itu, konsep intelektuality dapat dilihat sebagai pengacu bagaimana hubungan antara teks diatur dalam membaca teks dalam keadaan tertentu.
            Kemudian, saya akan mengulas kembali sebuah artikel yang berjujdul “Speaking Truth to Power with Book” oleh Howard Zinn. Howard Zinn merupakan seorang sejarawan radikal amerikayang mana berani mencetuskan bahwa Cristoper Columbus, buka seorang hero. Melainkan, columbus merupakan seorang pembunuh dan maniak genosida yang mungkin menjadi kasus terburuk genosida yang dilakukan satu bangsa dan terhadap bangsa lain.
            Howard Zinn sebenarnya mengambil pilihan ideologis dalam menulis sejarah. Sehingga, ia menekankan fakta-fakta yang ia sukai dan melewatkan yang lain. Dalam artikelnya pun, Zinn hanya menyatakan kebusukan Columbus tanpa memberikan penjelasan yang kuat mengenai Columbus.
            Jika dilihat dari artikel Howard Zinn, itu memunculkan keterkaitan antara literasi dan sejarah. Ketika berbicara mengenai Zinn pasti berbicara tentang hystori. Literasi itu sebagai sosial praktik. Purwanto (2006:3-4) menjelaskan bahwa sejarah sebagai sebuah pengetahuan sangat bergantung pada wacana dan bentuk representasi antar teks pada konteks sosial dan institusional yang lebih luas di dalam atau melalui bahasa, karena realitas objek masa lalu telah berjarak dengan sejarah sebagai ilmu.
            Persinggungan antara sastra dan sejarah memang tidak bisa dielak karena memiliki medan yang sama. Sehingga, literasi dan sejarah saling berkaitan satu sama lain, karena hanya orang-orang yang berkiterasi lah yang dapat membuat sejarah. Hal ini karena sejarah tidak luput dari sastra dan mereka berada pada tataran yang sama.
            Jadi, Key issues yang erpengaruh dalam memahami writing yaitu context, literasi, culture, technology, genre dan identity. Konteks muncul disekitar teks yang mana konteks merupakan konsepsi/gagasan partisipan/ pembaca ketika membaca. Kemudian hubungan antara sejarah dan literasi yaitu sejarah tidak luput dari kegiatan literasi yang mana sastra dan sejarah tidak bisa dielak karena memiliki medan yang sama. Hanya orang literasi lah yang dapat membuat sejarah.




0 comments:

Post a Comment