Saturday, March 8, 2014

11:09 PM
Reproduksi Teks dan Konteks dalam suatu sejarah (Class Review 5)

      Membuka lembaran baru untuk minggu ini, dengan berbagai suasana yang menegangkan, dan menyenangkan. Tepat saya merasakan untuk minggu ini terasa menantang, walaupun tugas tidak terlalu menumpuk seperti minggu yang lalu. Mengawali pembahasan yang saya unjuk sebuah sejarah yang memiliki interpretasi yang sangat baik, dengan peninggalan-peninggalan yang harus kita rawat apa yang dimiliki dalam sebuah sejarah. Ibarat sebuah pohon yang makin tumbuh dan berkembang, sejarah ini kita dapat umpamakan dalam sebuah pohon. Perihal pembahasan ini mengungkapkan, ketika waktu berlalu kita dapat menyebutkan itu adalah sejarah. Perihal sebuah materi yang banyak mengungkapkan dalam sebuah sejarah itu masa setelahnya, yang diutarakan dalam bentuk teks discourse maupun konteks discourse. Dalam class review saat ini akan melibatkan kearah tersebut.
      Letonen menyebutkan dalam bukunya yang berjudul “The Cultural Analysis of Texts”. Reproduksi teks berkembang sangat lambat, yang saat ini terdapat keberadaan teknologi yang sangat meluas. Pada abad pertengahan, produksi budaya yang semakin memburuk seperti artefak budaya individu. Dalam teks itu tidak ada sedikitpun disebut-sebut tentang selisih paham atau adanya perpecahan diantara koloni-koloni, selain itu melihat surat itu sebagai seruan. Menurut Jack hali ini yang terpenting bukan apa kata teks, akan tetapi apa yang dilakukan teks itu. Disini bahwa teks adalah suatu makna yang tersembunyi dan laten, subteks dokumen sejarah dapat dibagi kedalam dua kelompok : teks sebagai artefak retorika dan teks sebagai artefak manusia.
      Pertama, teks sebagai artefak retorika sejarawan mencoba merekontruksi maksud, niat, dan tujuan penulis. Bahkan jika yang sebenarnya banyak subteks yang memasukkan elemen-elemen yang bertentangan dengan maksud penulis, yang membawa ke permukaan keyakinan-keyakinan yang secara tidak sadar dipegang oleh penulis. Kedua, teks sebagai artefak manusia yang member kerangka kepada realitas dan memberikan informasi tentang asumsi, pandangan hidup, dan keyakinan penulis untuk menuangkan hal yang sebenarnya. Interpretasi seperti ini mengacu kata-kata yang digunakan penulis termasuk, interpretasi yang melihat teks bukan sebagai cara menggambarkan dunia tetapi sebagai cara membangun dunia. Roland Barthes (1915-1980), saya menggunakan kata “pembaca” sebagai makna yang luas dalam kata “text”. “pembaca” adalah semua pengguna yang membentuk makna dari teks dalam berbagai bentuk.
    Konteks sebuah gagasan yang digunakan dalam ilmu bahasa, hal tersebut dapat mempengaruhi parameter konteks pada penggunaan bahasa atau wacana.
Letonen menyebutkan bahwa konteks mencakup dalam 8 hal, yaitu :
1.     Substansi
Berupa materi fisik yang membawa atau relay dalam teks tersebut,
2.    Musik dan gambar
3.    Paralanguage
Perilaku yang termasuk dalam bahasa, seperti kualitas suara, gerak tubuh, ekspresi wajah dan sentuhan (dalam sebuah kecepatan), dan pilihan dari jenis huruf dan ukurang huruf dengan secara tertulis.
4.    Situasi
Sifat tersebut terdapat hubungan objek dan orang-orang yang disekitar teks, yang dapat kita rasakan saat membacanya.
5.    Co-teks
Teks yang mengikuti untuk analisis, dan peserta tersebut dapat menilai dengan wacana yang sama.
6.    Intertext
Peserta beranggapan jika teks sebagai milik wacana lain, akan tetapi mereka persekutukan dengan teks sedang dipertimbangkan dan dapat mempengaruhi interpretasi mereka.
7.    Peserta
Niat dan interpretasi mereka, dengan pengetahuan dan keyakinan, sikap interpersonal, afilasi dan perasaan.
8.    Fungsi
Apa teks dimaksudkan untuk melakukan oleh pengirim dan adressers, atau dianggap dilakukan oleh penerima dan adressers.

      Konteks bahwa discourse analisis merupakan untuk menganalisis baik lisan maupun tertulis, dalam hal ini discourse dalam konteks sosial. Pengertian lain konteks dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu situational konteks yaitu pengetahuan penutur oleh segala suatu yang mereka lihat disekitarnya. Background knowledge conteks, konteks pengetahuan dasar ini terdiri dari pengetahuan budaya dan pengetahuan interpersonal. Dan co-textual context yaitu pengetahuan penutur tentang apa yang telah diungkapkan. Selain itu  mengklarifikasi arti lain bahwa conteks itu mengacu pada unit linguistic lain yang mendampingi salah satu yang sedang dibicarakan. Dan konteks ini berada di dalam dan merupakan bagian dari teks yang dibicarakan. Konteks juga mengacu pada  sesuatu yang tertulis maupun terucap, konteks ini terdiri atas 3 bagian, yaitu :
1.    Situational context,
2.    Cultural context, dan
3.    Ideological context.
Hyland (2002)  saat ini current understandings of writing:
1.    Context
2.    Literacy
3.    Culture
4.    Technology
5.    Genre
6.    Identity
      Dalam sebuah sejarah merupakan discourse, yang termasuk hal tersebut adalah teks dan konteks. Dalam sebuah budaya yang kini semakin merunduk memburuk dalam sebuah teks  dan conteks, menyebutkan bahwa hal ini dalam sejarah untuk lebih correct tentang fakta kebenaran pada Columbus. Dalam sebuah penyataan tersebut adalah bahwa fakta-fakta tersebut untuk memperkuat mana yang tepat untuk dijadikan sebuah bukti dalam mengungkapkan sebuah kebenaran pada cerita Columbus itu. Menurut Howard Zinn bahwa christopher Colombus itu bukanlah pahlawan. dia adalah orang yang berfaham komunis. Dia juga bukan penemu benua amerika. Dia adalah penjahat, orang yang serakah, pembunuh, penindas kelompok ras hitam yang ada di benua amerika.
      Noam Chomsky, bahwa sebuah teks telah akan merubah kesadaran dalam satu generasi dan membuka jalan baru untuk lebih memahami suatu makna yang terpenting bagi kehidupan kita. Kita dapat memberikan contoh bagi yang menjadi seorang yang teladan dan kepercayaan. Dr. Zinn mengatakan bahwa pembokaran alamiah yang merupakan sebuah aktivisme bagi pembaharuan sejarah yang sudah di ajarkan. Perihal teks dan konteks itu saling berhubungan, tidak mungkin terpisah, karena akan mengisi satu sama lain.
      Hubungan analisis registrasi sebagai rekontruksi utama yang digunakan untuk menganalisis suatu konteks tertentu, melalui metafungsi dalam field, tenor and mode. Halliday, mengungkapkan pada sebuah konteks yang berarti teks adalah sebuah pemecahan dalam konteks tersebut yang mana saling mencakupi. Halliday memiliki 3 dimensi, yaitu :
1.    Field
Mengacu pada apa yang terjadi pada proses tertentu.
2.    Tenor
Mengacu pada siapa saja participant yang terlibat dalam suatu proses tersebut.
3.    Mode
Gaya bahasa yang digunakan didalamnya, atau sarananya.
       Jadi kesimpulan yang dapat diambil adalah sebuah reproduksi teks saling berhubungan dengan konteks, yang terjadi saat bersamaan. Konteks juga dapat menganalisis baik lisan maupun tertulis. Sebuah teks telah akan merubah kesadaran dalam satu generasi dan membuka jalan baru untuk lebih memahami suatu makna yang terpenting bagi kehidupan kita. Dengan membaca kita banyak tau tentang fakta yang sebenarnya, untuk memperkuat pemikiran kita, kita dapat menambah wawasan dengan membaca dalam bentuk teks dan conteks. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian sejarah pun mengalami perkembangan.

0 comments:

Post a Comment