Monday, March 3, 2014



Analysis Classroom Discourse
 
            Peperangan yang berujung memilukan bangsa ini, kurangnya persenjataan yang dibawa dengan bekal yang sedikit. Kurangnya wasasan, kurangnya latihan rutin yang seharusnya untuk memperkokoh pertahanan, harus menjaga kawasan agar tidak ada penyusup untuk menggoyahkan pertahanan. Diibaratkan dengan Classroom discourse, yang mana mencakup dengan menganalisis suatu kelas. Tapi, sebelum menjelaskan kesana, bahwa George Aditjondro menyatakan menurut beliau tidak hanya menganalisis kelas, kita juga harus mengerti soal etnis, gender. Peringatan seperti itu, karena orang yang menggunakan analisis kelas menganggap bahwa tersebut itu penting.
            Dalam suatu classroom discourse  terdapat pembagian, yang dimaksudkan yaitu dalam suatu kelas kita dapat membagi yang kata kuncinya dengan  berinteraksi, di sebuah ruangan yang mana dapat membahas untuk memperkuat suatu masalah yang harus dikaji bersama. Adapun paedagogy yaitu sebagai suatu ilmu dan seni dalam mengajar anak-anak. Dan dalam perkembangan selanjutnya istilah paedagogi berubah menjadi ilmu dan seni mengajar. Dan semuanya ini termasuk classroom discourse, kita dapat menganalisis, pembagian, berinteraksi dan paedagogy.
            Religious yang mampu menggugah semua pikiran, dengan pemikiran yang manusiawi dapat membawa suasana dimanapun menjadi tenang ataupun damai. Sebagai seorang manusia kita harus mempunyai pegangan yang kuat, yang mana bisa mengantarkan kita pada satu tujuan. Yang akan membawa kita kejalan lurus, yakni sebuah agamalah yang kita jadikan pedoman untuk melaksanakan sesuatu. Dengan dasar – dasar dan ketentuan dalam sebuah peraturan. Jadi agama sangatlah penting bagi kita.
Termasuk dalam penggambungan yang berada pada classroom discourse membagi pada 4 kata kunci, yaitu :
1.      Background,
2.      Communication strategy,
3.      Goal-driven, and
4.      Meaning-making practice.

Classroom discourse       
                                               
 Interaction  -  Student -Teacher
 
Classroom discourse merupakan gabungan dari teks dan konteks, karena kata yang maknanya sudah menyatu dan tidak ditafsirkan dengan makna unsur yang membentuknya. Ungkapan terbentuk dari gabungan dua kata atau lebih, gabungan kata jika tidak ada konteks yang menyertainya. Dalam sebuah kata termasuk ungkapan atau tidak, harus ada konteks kalimat yang menyertainya.
            Mencanangkan sebuah perkara dalam ruangan yang mana mempunyai aura, bahwa dalam sebuah kelas harus dikelilingi oleh values dan ideologis. Dengan value dan ideology membuat suasana semakin hidup, ideologi merupakan sebuah kekuatan yang mampu menyemangati dan mendorong negara untuk melakukan kegiatannya dan mencapai tujuan.  Jelajah dengan pembaharuanya, menurut Betsy Rymes (2008), those of us who presume to “ teach” must not imagine that we know how each student begins to learn. Bahwasannya orang yang berani dalam mengajar tidak harus membayangkan bahwa kita tahu bagaimana setiap siswa mulai belajar.
            Disini kita lebih jauh untuk menerangkan sesuatu yang membuat kita terjenak pada class review kmren, karena kita lebih terpaku pada religious harmony, yang mana beliau berkata bahwa tulisan kita pada focus dengan religious. Kita merasa terjebak dalam situasi yang tidak diharapkan dengan masalah pada classroom discourse. Classroom discourse dibangun dengan adanya situasi yang memungkinkan, sebuah kelas yang mana hidup dengan atmosfir yang hidup dengan berinteraksi.
Saat kita diajukan pertanyaan kepada teman-teman, yaitu tentang apa yang difikirkan ketika seorang guru untuk memeriksa ulang contoh speak kelas. Untuk menjawabnya dengan fikirkanlah kembali dengan berinteraksi lebih hidup, lebih mengarah pada berinteraksi ini perjuangan kita dengan baik (baik pada guru atau seorang pelajar). Dan selanjutnya classroom discourse di bangun dengan adanya karakter yang dapat menuntun kita pada perilaku yang seharusnya, contohnya kita sebagai pelajar untuk menjadikan sebuah sekolahan yang berkualitas dengan mengutamakan karakter, seperti disiplin, disiplin waktu dan menumbuhkan disiplin diri.
            Disiplin diri dalam melakukan suatu tindakan yang dilakukan secara konsisten, akan manjadi suatu kebiasaan yang mengarah pada tercapainya keunggulan. Keunggulan membuat kita memiliki kelebihan yang dapat kita gunakan untuk  meraih tujuan hidup yang menentukan masa depan kita. Sebuah masalah pelajar yaitu sudah tidak asing lagi apalagi untuk mahasiswa, yang mana banyak menuntut atau kritisi dalam setiap isu-isu yang sedang terjadi dalam sebuah permasalahan. Termasuk dalam interaksi kita dapat membangun yang dimulai dari talk, karena itu kunci utama dalam berinteraksi yang baik, adapun contoh : mengajar di sebuah sekolah yang memiliki siswa/siswinya lebih mencukupi, akan terasa sulit jika dibandingkan dengan siswa yang mempunyai jumlah sedikit, karena lebih menilai dan akan terasa efektif untuk berinteraksi didalam kelas.
Hal ini berhubungan dengan interaksi siswa, baik sesama siswa maupun terhadap guru. Interaksi yang terjadi antara guru dan siswa mungkin bisa berjalan dengan baik dikarenakan guru adalah controller dan leader di kelas, jadi dengan tidak sengaja sudah bisa terjadi interaksi antara siswa dan guru. Lain halnya interaksi yang dilakukan antara sesama siswa, khususnya untuk pelajaran bahasa inggris sangat sulit melihat mereka bisa berinteraksi dengan baik, apalagi yang berhubungan dengan berbicara.
            The term classroom discourse merujuk pada bahasa guru dan siswa gunakan untuk berkomunikasi satu sama lain di dalam kelas. Berbicara, atau percakapan adalah media di mana sebagian besar mengajar berlangsung, sehingga the term classroom discourse adalah salah satu study tentang proses pengajaran di kelas. For example, untuk belajar ilmu pengetahuan dengan menjadi peserta semakin ahli dalam classroom discourse tentang sebuah prosedur, konsep, dan penggunaan bukti dan argument yang merupakan ilmu pengetahuan. Pendekatan ini di dukung oleh teori-teori psikolog Rusia, Lev Vygotsky yang berpendapat bahwa, who argued that the higher mental processes are acquired through the internalization of the structures of social discourse. Masih ada kebutuhan, namun, untuk ini analisis linguistik atau lainnya, yang mana dalam classroom discourse menyertakan bukti independen tentang bagaimana pengetahuan dan keyakinan siswa diubah oleh partisipasi mereka dalam wacana.
So, kewajaran dalam classroom discourse sudah didasari dengan analisis, pembagian, interaksi dan paedagogy. Adapun classroom discourse harus mempunyai kunci utama, yang mana harus diterapkan dalam sebuah wacana, adanya interaksi dengan berhubungan guru dan siswa. Dalam pengembangannya pula terdapat religious, yang seharusnya sebagai tolak ukur dalam belajar dengan keseriusan untuk focus. Lagi pula kita diibaratkan sebagai lokomotif dari sebuah kendaraan, yang disebutkan kita ambil menjadi pembaca yang baik seharusnya, reader – quality reader.









0 comments:

Post a Comment