Thursday, March 6, 2014



Nama : Resa Novianti
Class    ; PBI_B
Nim    : 14121310343

Harmonisasi Interaksi

Pada pertemuan minggu lalu mr lala membahas tentang bagaimana kita membuat kritikal argument pada sebuah teks bacaan. Dalam teks tersebut kami di buat binggung hal apa saja yang harus di kritik.discourse analisis adalah istilah umum untuk sejumlah pendekatan untuk menganalisis tertulis, vokal , atau menggunakan bahasa isyarat atau acara semiotik signifikan. Discourse analisis antara lain menulis , percakapan , komunikatif event - waktu bervariasi didefinisikan dalam hal urutan yang koheren kalimat , proposisi , pidato. Bertentangan dengan banyak linguistik tradisional , discourse analisis tidak hanya menggunakan bahasa studi di luar batas kalimat , tetapi juga lebih memilih untuk menganalisis secara  alami  penggunaan bahasa , dan contoh tidak ditemukan . Teks linguistik yang terkait. Perbedaan penting antara discourse analisis dan linguistik teks adalah bahwa hal itu bertujuan untuk mengungkapkan karakteristik.
Discourse analisis telah diambil dalam berbagai disiplin ilmu sosial , termasuk linguistik , pendidikan , sosiologi, antropologi , pekerjaan sosial , psikologi kognitif , psikologi sosial , studi kawasan , kajian budaya , hubungan internasional , geografi manusia , studi komunikasi , dan studi penerjemahan , yang masing-masing tunduk pada asumsi sendiri , dimensi analisis , dan methodology.

Menurut MH Abrams dan GG Harpham, A Daftar Istilah Sastra, 2005 discourse analisis adalah studi tentang cara di mana bahasa digunakan dalam teks-teks dan konteks. Dikembangkan pada 1970-an, discourse analisis kekhawatiran itu sendiri dengan penggunaan bahasa dalam teks berjalan, terus selama beberapa kalimat, dan melibatkan interaksi speaker (atau penulis) dan auditor (atau pembaca) dalam konteks situasional tertentu, dan dalam kerangka konvensi sosial dan budaya.
Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.
Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti manusia, dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Para ahli mendefinisikan antropologi sebagai berikut:
William A haviland Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
David Hunter Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
Koentjaraningrat Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Sekitar abad ke 15 bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari afrika,amerika, asia hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku  yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan , susunan masyarakat , atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Dalam teks yang saya bahas kemarin di dalammya memiliki dua sudut pandang yang berbeda yaitu religious discourse dan classroom discourse. Religious analisis disini lebih menitik beratkan kepada bagaimana menghormati suatu perbedaan dalam keyakinan yang di anut oleh masing masing individu dan mengapa sering terjadi perpecahan antar etnis yang ada di Indonesia.
  Discourse terdiri dari dua elemen penting, yaitu text dan context. Text dapat berupa tulisan atau ujaran. Menurut Lehtonen (2000:72),"Texts are surely physical beings, but they exist in such forms in order to be semiotic beings. Conversely, texts can be semiotic beings only when they have some physical form." Sedangkan context menurut Lehtonen adalah "In traditional notions of texts and contexts, contexts are seen as separate ‘backgrounds’ of texts, which in the role of a certain kind of additional information can be an aid in understanding the texts themselves." (2000:110). Dapat dikatakan, text dan context di dalam classroom dicourse sangat berpengaruh terhadap masyarakat untuk menentukan meaning.
            Menurut Iguis Mariane (2002), "wacana (discourse) merupakan proses bagaimana seseorang berbicara dan mengerti apa yang dibicarakan dan apa yang didengarnya, yang mencakup semua aspek perkataan." Sedangkan menurut Abdul Khaer (2004), "Wacana (discourse) merupakan gejala individual yang bersifat psychologist dan berkelangsungannya di tentukan oleh kemampuan berbahasa si penutur dalam situasi tertentu." Dari ketiga definisi di atas tentang discourse, dapat di katakan bahwa discourse bersifat individual namun semua aspek yang ada di sekitarnya sangat berpengaruh dalam menentukan meaning.
            Sedangkan menurut Betsy Rymes (2008:12)dalam mengartikan discourse adalah sebagai ‘language-in-use’. Sangat sederhana namun cukup sulit untuk dapat mengartikannya. Menurutnya classroom discourse, yaitu "as aninvestigation into how discourse (language-in-use) and context affect each other, our framework comprises three ever-present dimensions of Language-in-Use: 1) Social context-faktor sosial di luar interaksi langsung yang mempengaruhi bagaimana kata-kata fungsi dalam interaksi itu (misalnya, bagaimana pengaruh konteks sosial apakah Anda atau siswa Anda menggunakan dude kata efek apa yang akan dimilikinya??); 2) interaksional konteks-pola sekuensial atau lainnya pembicaraan dalam sebuah interaksi yang mempengaruhi apa yang kita bisa dan tidak bisa mengatakan, dan bagaimana orang lain menafsirkannya dalam wacana kelas (misalnya, dalam apa urutan interaksi akan penggunaan dude Sebuah kata ucapan Sebuah pujian efek Apa yang akan ada di seluruh interaksi????), dan 3) lembaga-individu pengaruh seorang individu dapat memiliki pada bagaimana kata-kata yang digunakan dan diinterpretasikan dalam interaksi (misalnya, Kapan dan mengapa seseorang memilih untuk menggunakan Bung dan untuk tujuan apa? berapa banyak bisa kontrol individual dampaknya?) "(2008 :31-32).
Interaksi terdiri dari kata inter (antar), dan aksi (kegiatan). Jadi interaksi adalah kegiatan timbal balik. Dari segi terminologi “interaksi” mempunyai arti hal saling melakukan aksi; berhubungan; mempengaruhi; antar hubungan. Interaksi akan selalu berkait dengan istilah komunikasi atau hubungan. Sedang “komunikasi” berpangkal pada perkataan “communicare” yang berpartisipasi, memberitahukan, menjadi milik bersama. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.  Jadi, interaksi belajar mengajar adalah kegiatan timbal balik antara guru dengan anak didik, atau dengan kata lain bahwa interaksi belajar mengajar adalah suatu kegiatan sosial, karena antara anak didik dengan temannya, antara si anak didik dengan gurunya ada suatu komunikasi sosial atau pergaulan. Menurut Profesor Djaali ada empat interaksi pendidikan yaitu : Interaksi murid dengan murid, Interaksi murid dengan guru, Interaksi murid dengan sumber belajar, dan Interaksi murid dengan lingkungan.
Proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas selama ini seringkali satu arah dimana siswa hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru. Oleh karenanya, siswa lebih dilibatkan secara aktif untuk berinteraksi dengan guru atau antar siswa. Interaksi juga menjadi poin penting dalam kegiatan belajar mengajar karena tak hanya siswa saja yang mendapatkan manfaat, namun juga para guru juga memperoleh umpan balik (feedback) apakah materi yang disampaikan dapat diterima murid dengan baik. “Untuk itu, mendengar pengalaman para siswa dapat diaplikasikan dalam metode pembelajaran sebelum guru masuk ke dalam penjelasan teori.
Jadi kesimpulannya penjelasan di atas adalah guru dan peserta didik adalah dua subjek dalam berinteraksi pengajaran. Guru sebagai pihak yang berinisiatif awal untuk penyelenggaraan pengajaran, sedankan peserta didik sebagai pihak yang secara langsung mengalami dan mendapatkan manfaat dari peritiwa belajar mengajar yang terjadi. Guru sebagai pengarah dan pembimbing berdasarkan tujuan yang telah di tentukan, sedang peserta didik ialah sebagai yang menuju pada arah tujuan melalui aktifitas dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sebagai sumber belajar atas bimbingan guru. Jadi kedua pihak ( guru dan peserta didik) menunjukan sebagai dua subjek pengajaran yang sama-sama menempati status yang penting.



0 comments:

Post a Comment